Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
55. Tidak Bisa Datang.


__ADS_3

Malam harinya seperti biasa setelah Rafa tidur, Annisa baru bisa beristirahat. Annisa membuka email, ia baru ingat kalau hari ini pengumuman penerimaan mahasiswa baru universitas X. Ada satu email masuk kemudian Annisa membacanya. Ternyata sebuah pemberitahuan kalau Annisa diterima di universitas X.


“Alhamdullilah,” ucap Annisa.


Namun Annisa bingung, ia harus memberitahukan kepada siapa tentang diterimanya Annisa di universitas X. Ketika ia sedang bingung tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselnya. Tertulis nama Abang Toriq di layar ponselnya.


“Assalamualaikum,” ucap Annisa.


“Waalaikumsalam. Belum tidur, Nis?”


“Ini baru mau tidur.”


“Abang lagi apa?”


“Abang masih di tempat praktek lagi istirahat dulu sebentar. Hari ini pasiennya lumayan banyak.”


“Pulangnya jangan terlalu larut malam, jaga kesehatan Abang.”


“Iya, Annisa. Abang senang sekarang ada yang memperhatikan dan mencemaskan Abang.”


“Pengumumannya sudah keluar belum?”


“Sudah. Annisa baru sempat buka emailnya.”


“Bagaimana hasilnya diterima nggak?”


“Diterima, Bang. Tapi……”


“Tapi apa Annisa?”


“Annisa bingung, siapa yang akan membayar kuliah Annisa?”


“Abang yang bayar. Kenapa? Annisa meragukan kemampuan Abang?”


“Bukan begitu, Annisa merasa tidak enak sama Abang. Annisa belum menjadi istri Abang tapi Abang sudah dibebani dengan membiayai kuliah Annisa.”


Terdengar suara Annisa berubah menjadi murung.


Toriq menghela nafas.


“Annisa, Abang kan sudah janji akan membiayai kuliah Annisa. Annisa jangan memikirkan macam-macam. Sekarang Annisa kirim emailnya ke Abang. Mudah-mudahan besok Abang ada waktu untuk pergi ke bank.”


“Terima kasih, Bang. Semoga amal kebaikan Abang diganti dengan yang lebih besar lagi.”


“Aamiin ya robi alamin.”


“Sudah, ya Nis. Waktu istirahat Abang sudah habis. Jangan lupa kirim emailnya ke Abang. Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam.”


Annisa menutup teleponnya.


“Ya Allah, semoga ini yang terbaik,” kata Annisa.


Annisa tidur di sebelah Rafa lalu menutup matanya sambil memeluk anak angkatnya.


Keesokan harinya Annisa beraktifitas seperti biasa membantu Mamahnya dan mengurus Rafa. Siang harinya ketika Annisa sedang sholat dzuhur terdengar suara notifikasi pesan masuk. Setelah selesai sholat Annisa membuka pesan yang masuk. Sebuah foto bukti setoran bank sebesar empat puluh juta rupiah. Annisa menahan nafasnya membaca pesan itu.


Abang Toriq


Abang sudah bayar uang kuliah Annisa. Selamat ya, sekarang Annisa sudah resmi menjadi mahasiswa. Semoga sukses.


Annisa


Terima kasih, Abang. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih besar.


Aamiin yra.


Annisa menempelkan ponselnya ke dadanya lalu di dekap dengan erat.


“Terima kasih ya Allah atas rejeki yang engkau berikan,” ucap Annisa.


Tiba-tiba Rafa mengetuk pintu kamar Annisa.


“Iya sayang,” jawab Annisa.


Annisa cepat-cepat melipat mukenahnya lalu  membuka pintu kamarnya dan membawa Rafa menuju ke kamar mandi.


******


Tak terasa hari Jumat, besok Toriq akan datang mengunjungi Annisa. Ada perasaan senang di hati Annisa karena besok Toriq akan datang ke rumahnya. Annisa akan memasak makanan special untuk laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya. Namun malam hari Toriq menelepon Annisa.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, Annisa.”


“Annisa, Abang minta maaf kalau besok Abang tidak bisa datang ke Padalarang. Abang lupa kalau Abang ada webinar. Abang sudah daftar webinar dua minggu yang lalu.”


Toriq terdengar menyesal.


“Tidak apa-apa, Bang. Kan minggu depan Annisa sudah kembali ke Jakarta.”


“Akan Abang usahakan minggu depan bisa menjemput Annisa ke Padalarang.”


“Kalau tidak bisa menjemput juga tidak apa-apa, Annisa bisa naik kereta atau naik travel.”

__ADS_1


“Eh….jangan!! Pokoknya Annisa tunggu di situ sampai Abang  jemput!!! Mudah-mudahan minggu depan Abang bisa menjemput Annisa.”


“Aamiin yra.”


“Annisa lagi apa?”


“Baru saja tidurin Rafa.”


Annisa menepuk-nepuk bagian belakang badan Rafa.


“Ya sudah sekarang Annisa juga tidur. Annisa pasti cape seharian sudah bantu Mamah dan mengurus Rafa. Tidur yang nyenyak ya, dan jangan lupa mimpikan Abang, ya. Selamat malam. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Annisa mematikan teleponnya lalu menyusul Rafa ke alam mimpi.


Keesokan harinya Roland pamit untuk pulang ke Jakarta karena ia hendak kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Roland mengajak Annisa untuk ikut ke Jakarta.


“Annisa, mau ikut Aa ke Jakarta nggak?” tanya Roland.


“Nggak A, Annisa ke Jakarta minggu depan dijemput sama Bang Toriq,” jawab Annisa.


“Bang Toriq sibuk, banyak pasiennya. Sekarang webinar, minggu depan bisa-bisa ada operasi,” ujar Roland.


“Nggak apa-apa, kalau Abang Toriq sibuk Annisa bisa pulang naik kereta atau kalau nggak naik travel,” jawab Annisa.


“Eh….jangan naik kendaraan umum. Kamu itu sudah tidak sendiri lagi, tapi sudah ada Rafa. Begini saja kalau Abang Toriq sibuk Annisa telepon Aa! Nanti Aa yang jemput,” kata Roland.


“Nanti Annisa jadi ngerepotin Aa,” ujar Annisa.


“Nggak ngerepotin, kok. Annisa kan adiknya Aa, jadi sudah tugas Aa untuk mengantar dan menjemput Annisa,” jawab Roland.


“Pokoknya ingat ya, kalau Pak dokter sibuk langsung telepon Aa!!!” seru Roland.


“Iya Aa, iya,” jawab Annisa.


“Ya sudah, Aa mau pamit dulu ke Om dan Tante,” Rolang menghampiri Ibu Titien dan Pak Ernawan yang sedang duduk di ruang tamu.


“Om Tante, Roland pamit mau pulang ke Jakarta,” kata Roland.


“Annisa nggak mau diajak ke Jakarta. Mau tunggu di jemput Abang Toriq,” ujar Roland.


“Sudah biarkan aja Annisa di sini dulu. Nanti kalau sudah sibuk kuliah tidak bisa pulang ke Padalarang,” kata Pak Ernawan.


“Ya sudah kalau begitu Roland pamit pulang sekarang. Assalamualaikum,” Roland mencium tang Pak Ernawan dan Ibu Titien.


“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan! Nyetir mobilnya jangan ngebut!!” ucap Pak Ernawan.

__ADS_1


“Iya, Om,” jawab Roland lalu keluar dari rumah menuju ke mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah Pak Ernawan.


__ADS_2