Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
42. Toriq Lapar.


__ADS_3

“Aa, mau ngapain ke sini?” tanya Annisa.


“Mau ambil jus,” jawab Roland.


“Sebentar Aa biar buatnya bareng dengan jus Abang Toriq.” kata Annisa sambil memasukkan strawberry ke dalam blender lalu memblendernya.


Tak lama kemudian jus selesai di blender dan Annisa memindahkan isinya ke dalam dua gelas. Satu untuk Roland dan satu lagi untukToriq. Lalu Annisa memberikan kepada Roland dan Toriq.


“Terima kasih, Annisa,” ucap Roland dan kemudian pergi meninggalkan dapur.


“Terima kasih, Annisa,” ucap Toriq tapi tetap saja belum beranjak dari tempat duduknya.


“Abang tidak pindah ke dalam?” tanya Annisa.


“Nggak di sini saja nemenin kamu,” jawab Toriq sambil menikmati jusnya.


Annisa hanya menghela nafas dan melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian jus untuk Ibu Elly dan Ibu Delima sudah selesai dibuat.


“Ayo Bang, kita pindah ke dalam,” ajak Annisa sambil membawa nampan yang berisikan dua gelas jus.


Toriqpun beranjak dari kursi dan mengikuti Annisa. Namun baru saja beberapa langkah Roland sudah kembali lagi ke dapur sambil menggendong Rafa yang sedang menangis sesegukan.


“Annisa, anaknya nangis nih,” kata Roland sambil hendak memberikan Rafa ke Annisa.


“Mamah mau pipis,” Rafa merengek.


“Tolong pegangin dulu, A. Annisa mau mengantarkan jus dulu ke dalam,” kata Annisa.


Annisa melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga, sambil diikuti Roland yang menggedong Rafa dan Toriq yang membawa segelas jus.


Ibu Delima dan Ibu Elly menghentikan perbincanganya ketika melihat Annisa datang sambil membawa nampan. Tapi mereka terkejut ternyata Annisa diikuti dari belakang oleh Roland dan Toriq.


“Terima kasih, Annisa,” ucap Ibu Delima ketika Annisa memberikan segelas jus kepada Ibu Delima.


“Terima kasih, Annisa,” ucap Ibu Elly sambil mengambil segelas jus dari atas nampan.


Setelah nampannya kosong Annisa baru mengambil Rafa dari tangan Roland lalu membawanya ke lantai atas menuju ke kamarnya. Roland mengikuti Annisa dari belakang.


Karena Toriq ditinggalkan sendiri akhirnya Toriq memilih duduk di sebelah Mamahnya.


“Toriq kapan kamu datang?” tanya Ibu Delima kepada Toriq.


“Udah dari tadi, Ma. Tadi nemenin Annisa di dapur,” jawab Toriq.

__ADS_1


“Kok Mamah nggak lihat kamu masuk ke dalam?” tanya Ibu Delima.


“Toriq masuk lewat garasi, Ma,” jawab Toriq.


“Oh…pantesan Mamah tidak melihat kamu masuk ke dalam rumah,” ujar Ibu Delima.


Toriq kembali membuka ponselnya sambil menikmati jus buatan Annisa. Sedangkan Ibu Delima dan Ibu Elly melanjukan pembicaraannya.


Seperapat jam kemudian Toriq melihat Annisa turun dari tangga sambil menuntun Rafa. Annisa sepertinya sudah mandi karena bajunya berbeda dengan yang tadi di pakai.


Annisa membawa Rafa ke ruang makan lalu mendudukan Rafa di kursi makan.


“Rafa tunggu di sini, ya. Mama ambilkan makanannya,” kata Annisa lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan untuk Rafa.


Toriq menghampiri Rafa dan duduk di sebelah Rafa.


“Hei boy belum salam sama Om,” sapa Toriq sambil mengulurkan tangannya.


Rafa mencium tangan Toriq. Tak lama kemudian Annisa datang membawa makanan untuk Rafa.


“Kok jam segini Rafa sudah dikasih makan, Nis?” tanya Toriq.


“Kalau dikasih makan agak malam nanti Rafa keburu tidur. Biasanya sehabis magrib Rafa sudah mengantuk,” jawab Annisa.


Kemudian Rafa membaca doa sambil terbata-bata. Setelah Rafa membaca doa Annisa menyuapi Rafa.


“Abang mau makan?” tanya Annisa ke Toriq.


“Boleh kalau tidak merepotkan Annisa,” jawab Toriq.


“Sebentar, ya Bang. Makanannya sedang dipanaskan sama Bi Minah,” jawab Annisa sambil menyuapi Rafa.


“Abang ikut sholat dulu, Nis,” kata Toriq.


“Musolahnya ada di teras belakang. Tempat wudhu ada di sebelahnya,” kata Annisa lalu menunjuk ke taman belakang.


Kemudian Toriq beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ke musolah yang ditunjuk oleh Annisa.


Seorang ART datang menghampiri Annisa.


“Non, makanannya sudah dipanaskan,” kata ART.


“Tolong bawa ke sini, Mbak. Bang Toriq mau makan,” ucap Annisa.

__ADS_1


“Baik, Non,” jawab ART lalu kembali lagi ke dapur.


Tak lama kemudian ART itu kembali dengan membawa makanan dan di taruh di atas meja makan serta piring untuk makan.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Annisa kepada ART setelah selesai menyediakan makanan.


Setelah selesai sholat Toriq kembali menghampiri Annisa di ruang makan, Toriq duduk di sebelah Rafa.


“Makan dulu, Bang. Makanannya sudah siap,” kata Annisa melihat Toriq sudah selesai sholat.


“Terima kasih Annisa. Abang jadi merepotkan Annisa,” ucap Toriq.


“Sama-sama, Bang. Annisa tidak merasa direpotin kok,” ucap Annisa.


“Rafa duduk di sini sama Om, ya. Mama mau buatkan jus untuk Rafa,” kata Annisa setelah selesai menyuapi Rafa.


“Iya,” jawab Rafa.


“Bang, titip Rafa sebentar. Annisa mau buat jus untuk Rafa,” kata Annisa kepada Toriq.


“Iya Annisa,” jawab Toriq.


Kemudian Annisa beranjak menuju ke dapur. Toriq makan sambil memperhatikan Rafa.


Tiba-tiba datang Ibu Elly dan Ibu Delima yang hendak ke musholah.


“Astaga Toriq! Mamah kirain kamu lagi ngapain, ternyata kamu lagi makan di sini. Kamu pasti ngerepotin Annisa,” seru Ibu Delima.


“Tadi di tawari makan sama Annisa,” jawab Toriq.


“Sudah biarkan saja Toriq makan. Kasihan dia cape pulang kerja. Lagi pula Annisa dibantu sama ART jadi tidak merepotkan,” ujar Ibu Elly.


“Ayo kita sholat dulu, Nek,” Ibu Elly mengajak Ibu Delima ke musolah.


.


.


Niatnya sih hari ini mau up 3 bab. Mudah-mudahan bisa terlaksanakan.


Jangan lupa beri dukungan untuk Ibu Untuk Keponakanku berupa vote, hadiah, like dan komentar.


Pembaca yang masih malu-malu kucing belum mau menampakkan wajahnya, ayo tampakkan wajahmu dengan memberikan dukungan untuk Ibu Untuk Keponakanku.

__ADS_1


__ADS_2