
Annisa menghampiri Ibu Titien dan Rafa yang sedang berada di ruang tv. Ibu Titien sedang mengajari Rafa menggambar.
“Sudah mendingan, Nis?” tanya Ibu Titien melihat Annisa keluar dari kamarnya.
“Masih sakit kepalanya,” jawab Annisa.
“Mamah mau makan siang dengan apa? nanti Annisa pesankan,” tanya Annisa.
“Nggak usah, tadi Mamah sudah beli makanan di warung nasi Bu Surya. Sekalian ajak Rafa jalan-jalan, kasihan Rafa di rumah terus,” jawab Ibu Titien.
“Annisa jadi merepotkan Mamah,” kata Annisa.
“Tidak Annisa. Rafa kan cucu Mamah juga. Lagi pula Rafa anaknya penurut. Jadi Mamah tidak merasa repot dititipkan Rafa,” jawab Ibu Titien.
“Annisa mau makan? Tuh sudah Mamah siapkan di meja,” kata Ibu Titien sambil menunjuk ke meja makan.
“Rafa tadi sudah makan. Rafa datang-datang minta makan. Cape mungkin sudah jalan kaki.”
Annisa tersenyum lalu mengusap-usap rambut Rafa.
“Tapi nggak rewelkan, Mah?” tanya Annisa.
“Rewel sih, nggak. Cuma ya gitu, ada kucing berhenti lihat kucing dulu. Ada bebek berhenti lihat bebek dulu. Ada kambing berhenti lihat kambing dulu. Terus aja begitu jadi jalannya nggak sampai-sampai,” jawab Ibu Titien.
“Syukurlah kalau tidak rewel,” ucap Annisa sambil mengusap kepala Rafa.
“Annisa makan dulu ya, Mah,” kata Annisa lalu beranjak menuju meja makan.
Annisa hanya mengambil sedikit nasi serta kuah sayur. Annisa berharap kali ini ia tidak memuntahkan lagi makanannya. Annisa makan dengan perlahan hingga nasinya habis. Setelah selesai makan Annisa meminum obat penghilang rasa sakit kepala.Obat itu berhasi ditelannya tanpa menimbulkan reaksi yang membuat isi perutnya terasa diaduk-aduk.
Annisa duduk sebentar menunggu reaksi yang akan terjadi. Ternyata semuanya aman, Annisa tidak memuntahkan makanannya. Kemudian Annisa bersiap-siap untuk mandi dan sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur Annisa mulai mengantuk dan Annisapun tertidur.
Entah berapa lama Annisa tertidur, namun ia merasa terusik ketika ada seseorang menyentuh keningnya. Dan iapun mencium bau parfum yang khas, bau parfum seseorang yang ia kenal, seseorang yang selalu memperhatikannya. Sekarang tangan itu beralih ke pergelangan tangannya, tangan itu menyentuh jalur nadinya. Pelan-pelan Annisa membuka matanya. Seorang laki-laki sedang serius memandangi jarum jam dipergelangan tangannya.
“Abang…..,” dengan lemah Annisa memanggil laki-laki itu.
__ADS_1
Laki-laki itu telah selesai memeriksa denyut nadinya. Lalu memandangnya sambil tersenyum.
“Hai, sudah bangun? Abang periksa dulu, ya,” Toriq memasangkan sfigmomanometer yaitu alat pengkur tensi di lengan Annisa. Lalu memeriksa Annisa dengan menggunakan stethoscope tanpa Annisa harus membuka pakaiannya. Annisa hanya memperhatikan apa yang Toriq lakukan. Kemudian Toriq mengetuk-ketuk jari tangannya diatas perut Annisa dengan dialasi punggung telapak tangannya. Lalu menekan sedikit perut bagian atas Annisa.
“Ini sakit nggak?” tanya Toriq.
“Sedikit,” jawab Annisa dengan lemah.
“Annisa punya penyakit maag?” tanya Toriq.
“Nggak tau, Bang. Annisa belum pernah merasakan perih di perut,” jawab Annisa pelan.
“Hindari makanan yang menimbulkan naiknya asam lambung!!” kata Toriq.
“Dan tekanan darahnya rendah sekali. Annisa kenapa? Apa ada yang Annisa pikirkan?” tanya Toriq dengan khawatir.
“Nggak ada, Bang. Memang tensi Annisa kadang segitu,” jawab Annisa.
Toriq menarik nafas panjang.
Annisa kaget mendengarnya.
“Mau apa ke sini, Bang?” tanya Annisa.
“Mau melamar calon istri Abang yang cantik ini,” jawab Toriq.
“Tapi tenang saja, sudah Abang larang, kok,” kata Toriq.
“Habis Annisa sakitnya mirip seperti ibu-ibu yang sedang hamil muda, muntah-muntah, sakit kepala dan mukanya pucat begini. Nanti disangkanya Abang ngelamar kamu karena kamu sedang hamil,” kata Toriq lagi.
“Annisa memang sering sakit seperti ini, Bang. Apalagi kalau bulan puasa selesai haid suka nggak bisa puasa lagi. Pasti deh sakit kepala dan muntah-muntah,” kata Annisa.
“Sakit kepala, mual dan muntahl sebelum dan sesudah haid disebabkan oleh banyak factor bisa dari factor keturunan dan bisa juga ketidakseimbangan hormon. Nanti Abang kasih obat penghilang rasa sakit,” kata Toriq.
“Terima kasih. Abang sudah mau jauh-jauh ke sini demi Annisa,” ucap Annisa.
__ADS_1
“Sama-sama, Annisa,” balas Toriq.
Tiba-tiba Rafa masuk ke dalam kamar sambil berlari dengan tidak menggunakan baju.
“Rafa kenapa kamu tidak pakai baju?’ tanya Annisa dengan kaget.
Tak lama kemudian Mbok Sarmi datang sambil ngos-ngosan sambil membawa handuk Rafa.
“Mamah, Rafa udah mandi,” kata Rafa.
“Aduh pinter anak Mamah,” puji Annia.
“Sekarang Rafa pakai baju dulu, ya. Nanti masuk angin,” kata Annisa.
Annisa beranjak dari tempat tidurnya.
“Eh….mau kemana?” tanya Toriq melihat Annisa bangun dari tempat tidur.
“Mau bikinkan Abang air panas untuk mandi,” jawab Annisa.
“Eh…nggak usah!! jangan!! Biar nanti Abang bikin air panas sendiri,” Toriq melarang Annisa untuk bangun.
“Air panas untuk Den Toriq sudah Mbok buatkan,” kata Mbok Sarmi.
“Kalau begitu Annisa buatkan Abang minuman, ya?” tanya Annisa.
“Jangan Non, biar Mbok aja yang buatkan untuk Den Toriq. Non istirahat saja,” sahut Mbok Sarmi.
“Annisa dengarkan kata Mbok Sarmi? Sekarang Annisa istirahat saja,” kata Toriq.
“Annisa sudah agak mendingan kok. Dari pagi Annisa tidur terus,” kata Annisa.
“Sudah sekarang Annisa berbaring aja di tempat tidur. Nanti kalau mau apa-apa panggil Abang, ya! Sekarang Abang mau mandi dulu,” ujar Toriq lalu keluar dari kamar Annisa.
Ya Allah, mudah-mudahan dia jodoh yang terbaik untukku, bisik Annisa dalam hati sambil memandang Toriq keluar dari kamarnya.
__ADS_1