
Setelah Annisa selesai sarapan dan menyuapi Rafa, Annisa membereskan meja. Tempat makanan yang masih ada isinya ia tutup kembali lalu ia susun rapih didalam goody bag. Sedangkan tempat makanan yang sudah kosong Annisa tumpuk dan langsung ia cuci. Setelah semuanya beres barulah Annisa bisa istirahat sambil menonton tv.
Sedangkan Toriq dan Roland terlihat sedang serius berbicara berdua. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Annisa memeriksa infus Rafa yang ternyata sudah kosong.
“Bang, infus Rafa sudah habis,” kata Annisa kepada Toriq.
“Abang panggilkan suster,” Toriq berdiri dari sofa lalu keluar dari kamar untuk memanggil suster.
Tak lama kemudian Toriq datang bersama dengan seorang suster. Suster mendekati tempat tidur Rafa.
“Rafa, suster pinjam tangannya, ya?!” suster memegang tangan Rafa lalu membuka perban yang melilit tangan Rafa, kemudian suster mencabut selang infus.
“Tahan sedikit, ya. Ini agak sakit,” suster membuka plester yang menempel pada punggung telapak tangan Rafa lalu mencabut jarum infus. Rafa meringis menahan sakit. Dengan cepat suster menutupi luka bekas jarum infus dengan kapas dan plester.
“Sudah beres. Cuma sakit sedikit kan?” kata suster kepada Rafa.
Suster membereskan bekas infus Rafa.
“Terima kasih suster,” ucap Annisa kepada suster.
“Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu,” lalu suster pergi meninggalkan kamar Rafa sambil membawa bekas infus Rafa.
Rafa memandangi tangan mungilnya yang baru saja terbebas dari jarum infus.
“Lihat Mamah, tangan Rafa bisa di gelak-gelakin ajih,” Rafa menunjukkan ke Annisa telapak tangan mungilnya.
Annisa tersenyum melihat Rafa menggerakkan jari jemarinya yang mungil.
“Alhamdulillah jari-jari Rafa sudah bisa di gerakkan lagi,” ucap Annisa.
“Iya Mamah, Alhamdulillah,” ucap Rafa mengikuti ucapan Annisa.
Pukul delapan pagi Toriq pamit ke poliklinik karena sudah waktunya Toriq untuk praktek di poliklinik.
Tinggal Annisa bertiga dengan Roland dan Rafa. Nampak Roland yang mulai lagi untuk mengoda Rafa batita kecil itu tertawa terkekeh-kekeh mendengar candaan Roland.
“Aa, Annisa titip Rafa, ya. Annisa mau beli minum dulu,” kata Annisa ke Roland mengingat persediaan air mineral kemasan mulai menipis.
“Biar Aa saja yang belikan,” jawab Roland ke Annisa.
“Ya sudah, kalau Aa yang mau membelikan,” Annisa membuka tasnya dan memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah kepada Roland.
“Nggak usah, Aa ada uangnya kok,” Roland menolak uang yang diberikan Annisa.
“Pakai uang ini aja, A. Uang dari Ua Elly dan Bang Toriq belum pernah Annisa pakai,” kata Annisa kepada Roland.
“Udah simpan saja uangnya,” ujar Roland.
“Om Lolang Rafa ikuk,” sahut Rafa sambil mengangkat kedua tangannya minta digendong.
“Memang boleh Rafa dibawa keluar?” tanya Roland kepada Annisa.
“Nggak tau, A. Annisa tanya suster dulu,” jawab Annisa ke Roland lalu keluar dari kamar untuk menemui suster.
Tak lama kemudian Annisa kembali sambil membawa kursi roda untuk Anak-anak.
__ADS_1
“Boleh kata suster, tapi jangan terlalu lama karena sekitar jam sepuluh waktunya dokter visit,” kata Annisa ke Roland.
“Ayo Rafa waktunya kita jalan-jalan,” ajak Roland kepada Rafa.
Rafa senang mendengar perkataan Roland, ia tertawa sambil bertepuk tangan.
“Annisa ikut aja, mau ngapain di kamar sendiri? Barang-barang berharga dibawa aja,” kata Roland kepada Annisa
“Iya, Aa,” jawab Annisa sambil memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas.
Roland mengangkat tubuh Rafa lalu di dudukkannya Rafa di atas kursi roda.
“Udah siap, Nis?” tanya Roland kepada Annisa.
“Sudah, A,” Annisa menyelempangkan tasnya.
“Ayo Rafa, kita kemon,” Roland mendorong kursi roda keluar dari kamar. Annisa mengikuti dari belakang.
Ketika melewati ruang suster Annisa pamit dulu kepada suster.
“Suster, kami mau ajak Rafa jalan-jalan,” kata Annisa kepada suster yang sedang jaga.
“Iya, boleh,” jawab suster.
“Terima kasih, suster,” ucap Annisa kepada suster.
“Ya, Bu,” jawab suster.
Roland kembali mendorong kursi roda menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Sesampainya di lantai dasar Roland menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Ke minimarket A,” kata Annisa sambil berjalan mencari minimarket. Roland mengikuti dari belakang sambil mendorong kursi roda.
Akhirnya mereka sampai di sebuah minimarket. Annisa membukakan pintu minimarket untuk mempermudah Roland mendorong kursi roda.
Annisa mengambil sebungkus pospac untuk Rafa dan dimasukkan ke dalam keranjang. Lalu Annisa mengambil sepuluh botol air mineral kemasan dimasukkan ke dalam keranjang. Rafa batita kecil itu menunjuk semua snack dari yang manis sampai yang asin.
“Om Rafa mau icuu, sama icuu, sama icuu, sama icu,” kata Rafa kepada Roland.
“Rafa belum boleh makan itu semua. Nanti Om Toriq marah,” jawab Roland ke Rafa.
“Tapi Rafa mau, Om,” Rafa merengek kepada Roland.
Annisa menghampiri Rafa yang sedang merengek.
“Rafa nanti beli kue aja, ya. Jangan yang ini,” kata Annisa kepada Rafa.
“Mau Mamah, Rafa mau ueh,” Rafa merengek ke Annisa.
“Iya, nanti kita beli kue di toko depan,” jawab Annisa ke Rafa.
“Acikkkkk,” Rafa kesenangan sambil bertepuk tangan.
“Sekarang Mamah mau bayar ini, ya,” kata Annisa menuunjuk ke keranjang yang penuh dengan belanjaan.
“Iya,” jawab Rafa dengan senang.
__ADS_1
Annisa membayar semua barang-barang yang dibelinya. Sedangkan Roland dan Rafa menunggu di luar.
Roland melihat belanjaan yang dibawa Annisa cukup berat.
“Biar Aa yang bawa belanjaannya, Annisa yang dorong kursi roda,” kata Roland pada Annisa sambil mengambil belanjaan dari tangan Annisa.
Annisa menurut lalu memberikan belanjaannya kepada Roland dan ia yang mendorong kursi roda Rafa. Setelah itu mereka pergi ke toko kue di depan minimarket.
“Rafa mau kue apa?” tanya Annisa kepada Rafa.
“Rafa mau inyih, mau inyih, mau inyih dan inyih,” jawab Rafa menunjuk semua kue tart.
“Rafa kalau mau kue tart, beli satu saja. Itu harganya mahal,” kata Annisa ke Rafa.
“Mahal, ya Mamah? Tapi Rafa mauuuu,” Rafa merayu Annisa.
“Rafa beli kue coklat yang biasa aja,” kata Roland ke Rafa.
“Ndak mau Rafa mau ueh yanig inyih,” Rafa protes ke Roland.
“Nggak apa-apa A, kita beli saja yang Rafa mau. Annisa ada uang dari Bang Toriq,” kata Annisa ke Roland.
Annisa memanggil pelayan toko kue.
“Mbak saya mau ini,” kata Annisa kepada pelayan toko.
“Ini kue barukan?” tanya Annisa ke pelayan toko.
“Masih baru, Bu. Baru di anterin tadi pagi,” jawab pelayan toko.
“Ya, saya mau,” kata Annisa kepada pelayan toko.
Pelayan toko mengambil kue yang ditunjuk oleh Annisa lalu dimasukkan ke dalam dus kue.
“Mbak bayarnya di kasir,” kata pelayan toko setelah memasukkan kue ke dalam dus.
Annisa berjalan menuju kasir. Lalu Annisa memberikan uang sebesar dua ratus lima puluh ribu kepada kasir.
“Uangnya pas, ya Bu,” kata kasir kepada Annisa lalu kasir memberikan struk pembayaran dan kue yang dibeli Annisa.
“Terima kasih, Bu,” ucap kasir kepada Annisa.
Lalu Annisa menghampiri Rafa dan Roland yang sedang menunggunya.
.
.
Hai readers,
Seperti biasa Deche mau promo novel teman Deche yang berjudul Jodohku Mantan Suami Ibuku milik author Muh Igram Ridwan.
Mampir, ya. Dan jangan lupa like dan komentarnya.
__ADS_1