Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
19. Rafa Sakit.


__ADS_3

Tiba-tiba….


“Kalian sedang apa kalian di sini?” tegur seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping meja mereka.


Roland dan Annisa menoleh ke samping mereka. Terlihat Toriq sedang memandangi mereka berdua.


“Rafa mana?” tanya Toriq sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang.


“Rafa nggak ikut, Bang. Rafa sudah pulang ke rumah Abang,” jawab Roland.


“Kapan? Tadi pagi saya tidak lihat Rafa,” tanya Toriq dengan pandangan curiga.


Roland menarik nafas panjang.


“Tadi pagi, Bang. Setelah Roland nganterin Annisa ujian, Roland sama Mamah nganter Rafa pulang ke rumah Abang. Abang sudah berangkat ke rumah sakit,” jawab Roland dengan sabar.


“Mana Tante Elly kok nggak kelihatan?” tanya Toriq mencari Ibu Elly.


“Mama sudah Roland antar pulang, setelah dari rumah Abang,” jawab Roland.


“Terus ngapain kalian di sini? Kalian tidak sedang pacaran kan?” tanya Toriq lagi.


“Nggak, Bang Kami lagi makan siang. Setelah jemput Annisa pulang ujian Roland ajak Annisa ke sini,” jawab Roland sambil menahan kesal.


Annisa dari tadi hanya diam sambil memperhatikan kedua laki-laki.


“Annisa kamu ujian apa?” sekarang Toriq bertanya pada Annisa.


“Ujian masuk perguruan tinggi, Bang,” jawab Annisa.


“Oh…dimana?” tanya Toriq lagi.


“Di kampus Aa Roland,” jawab Annisa.


“Ngambil jurusan apa?”


“Jurusan ekonomi, Bang,” jawab Annisa.


Mendengar jawaban Annisa, Toriq mengerutkan dahinya.


“Ngapain kamu masuk universitas yang mahal tapi cuma ngambil jurusan ekonomi? Kenapa nggak kedokteran atau arsitek atau tehnik atau design?” tanya Toriq.


“Bang, Annisa maunya kuliah dijurusan ekonomi,” jawab Roland.


“Annisa tidak pintar seperti Bang Toriq dan Aa Roland, jadi Annisa ambil jurusan ekonomi saja,” Annisa terus terang.


Mendengar jawaban Annisa, Toriq berpikir sebentar.


“Iya juga, sih. Kalau kamu nggak pintar ntar repot mengambil jurusan yang susah,” kata Toriq.


“Kalian terusin makanannya. Abang mau kembali lagi ke teman-teman Abang,” kata Toriq lalu meninggalkan Roland dan Annisa.


Roland dan Annisa memandangi Toriq yang meninggalkan meja mereka.


“Ganggu orang makan aja,” kata Roland dengan kesal.


“Ayo, Nis. Dimakan lagi makanannya. Bang Toriq memang begitu, orangnya ngeselin,” kata Roland.


“Iya A,” Annisa melanjutkan makan siangnya.


Setelah selesai makan Roland dan Annisa pulang. Tapi sebelum pulang mereka pamit dulu ke Toriq.


“Bang, kami pulang duluan,” pamit Roland ketika menghampiri meja Toriq dan teman-temannya.

__ADS_1


“Hmm ya. Hati-hati nyetirnya,” jawab Toriq.


“Ya, Bang. Assalamualaikum," ucap Roland lalu Roland dan Annisa meninggalkan meja Toriq.


"Waalaikumsalam, " jawab Toriq.


Roland seperti biasa merangkul bahu Annisa sambil berjalan keluar dari café.


Toriq memperhatikan keduanya.


“Itu bukannya adik iparnya Meisya dan Mamah Rafa?” tanya Reno yang ikut memperhatikan Roland dan Annisa yang meniggalkan café.


“Iya,” jawab Toriq.


“Mereka pacaran?” tanya Reno.


“Nggak tau,” jawab Toriq yang belum mengalihkan pandangannya dari Roland dan Annisa.


“Elo nggak sedang cemburukan?” tanya Reno sambil melirik ke arah Toriq.


“Nggaklah,” jawab Toriq.


“Kok ngeliatinya gitu banget?” tanya Reno.


“Biasa aja.”


“Kalau mereka pacaran, elo nggak keberatan?” tanya Reno lagi.


“Menurut elo mereka pacaran?” Toriq balik bertanya.


“Nggak tau, kan elo saudaranya,” jawab Reno.


“Kenapa? Elo beneran cemburu ngeliat mereka berdua?” tanya Reno sekali lagi.


“Heh….! Saudara sepupu itu bukan mahrom, jadi mereka bisa pacaran dan menikah,” kata Reno.


“Begitu, ya?” Toriq langsung  berpikir.


Keesokan harinya ketika Toriq hendak berangkat ke rumah sakit, Ibu Delima menghampiri Toriq di kamarnya.


“Toriq, Rafa sakit panas,” kata Ibu Delima.


“Panas? Dari kapan? Kemarin Annisa tidak bilang kalau Rafa sakit,” tanya Toriq.


“Kamu bertemu Annisa? Dimana?” tanya Ibu Delima.


“Di café, dia lagi makan siang berdua dengan Roland,” jawab Toriq.


“Dari kemarin sore Rafa tidak mau makan dan minum. Dia selalu menanyakan Annisa. Rafa hanya mau makan dan minum dengan Annisa,” kata Ibu Delima.


“Dari kemarin sore? Siang Rafa mau makan nggak?” tanya Toriq.


“Siang Rafa mau makan, itupun mau makan sayur sop yang dibawakan Annisa,” jawab Ibu Delima dengan sedih.


“Kenapa Mamah baru bilang sekarang?” tanya Toriq dengan kesal.


“Mamah tau, Rafa bisa dehidrasi kalau tidak minum sama sekali,” kata Toriq.


“Mamah bingung Toriq. Mamah tidak tau harus berbuat apa? Rafa sama sekali tidak mau makan dan minum,” Ibu Delima menangis.


“Sekarang Rafa mana? Bilang sama Mbok Sarmi suruh siapkan baju Rafa. Dan telepon Annisa suruh menyusul ke rumah sakit. Jangan lupa suruh Annisa bawakan bubur buat Rafa,” kata Toriq sambil tergesa-gesa ke kamar Rafa.


Toriq membuka kamar Rafa. Di lihatnya Rafa terbaring lemah di tempat tidur. Toriq mendekati Rafa. Di sentuhnya kening Rafa.

__ADS_1


Panas sekali, kata Toriq dalam hati.


Dipegangnya nadi Rafa yang berdenyut lemah.


Tiba-tiba Rafa bangun, dilihatnya mata Rafa bengkak sepertinya batita ini habis menangis seharian.


“Hai boy,” sapa Toriq sambil mengusap kepala Rafa.


“Rafa mau cama Mamah,” kata Rafa dengan lemah.


“Oke kita nanti kita ke Mamah. Tapi sekarang Rafa buka dulu mulutnya yang lebar. Om mau lihat mulut Rafa,” kata Toriq.


Rafa membuka mulutnya. Toriq memeriksa mulut Rafa.


“Oke, sudah,” kata Toriq.


Pintu kamar Rafa dibuka Mbok Sarmi masuk ke kamar Rafa.


“Mbok, tolong gantikan pospaknya dan baju Rafa sekarang. Rafa harus ke rumah sakit sekarang juga,” kata Toriq.


“Iya, Den,” Mbok Sarmi menghampiri Rafa lalu mengganti baju Rafa.


Tak lama kemudian Ibu Delima masuk ke kamar Rafa sambil membawa ponsel.


“Annisa,” kata Ibu Delima sambil memberikan ponselnya kepada Toriq.


“Assalamualaikum, Annisa.”


“Waalaikumsalam, Bang.”


“Annisa sekarang juga pergi ke rumah sakit tempat Abang praktek. Langsung ke UGD , bilang mau ke dokter Toriq.”


“Ya, Bang.”


“Sekalian bawakan Rafa bubur. Rafa hanya mau makan makanan yang Annisa bawa.”


“Tapi Annisa nggak sempat masak, Bang.”


“Beli aja. Yang penting Rafa mau makan dulu.”


“Baik, Bang.”


“Jangan lupa bawa baju ganti. Nanti kamu yang nemani Rafa di rumah sakit.”


“Iya, Bang.”


“Oke, kita ketemu di sana. Asalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Toriq mematikan teleponnya dan memberikan kembali ke Ibu Delima.


“Toriq, Mamah ikut ke rumah sakit,” kata Ibu Delima.


“Mamah, nanti nyusul, bawa baju Rafa. Selama Rafa di rumah sakit biar Annisa yang mengurus,” kata Toriq lalu meninggalkan kamar Rafa untuk bersiap-siap ke rumah sakit.


Di depan kamar Rafa, Toriq berpas-pasan dengan Pak Syamsul.


“Maafkan Papah, Toriq. Papah tidak tau kalau Rafa sakit. Kemarin Papah pulang malam, habis seminar di hotel,” kata Pak Syamsul.


“Tidak ada yang perlu disesali, Pah. Semuanya sudah terjadi.”


“Toriq siap-siap dulu, Pah. Mau bawa Rafa ke rumah sakit,” kata Toriq lalu berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2