
“Oh iya, tadi Mamah bilang Mama tidak bisa ke sini. Mama kecapean karena kemarin kelamaan di rumah sakit,” kata Toriq kepada Annisa.
“Nggak apa, Bang. Kan sudah ada Annisa yang menunggu Rafa,” jawab Annisa kepada Toriq.
Rafa yang sedang asyik menonton tv menoleh ke arah Toriq dan Annisa.
“Apa cuh, Mah?” tanya Rafa kepada Annisa sambil menunjuk makanan di meja.
“Makanan Rafa. Om dan Mamah mau sarapan,” jawab Annisa kepada Rafa.
“Rafa mau calapan, Rafa lapel,” kata Rafa sambil menunjuk perutnya.
“Rafa nanti dikasih sarapan dari rumah sakit,” kata Toriq kepada Rafa.
Annisa memperhatikan makanan yang disajikan di atas meja barangkali saja ada yang bisa dimakan oleh Rafa. Ketika Annisa sedang memperhatikan makanan, tiba-tiba…
“Assalamualaikum,” ucap Roland masuk ke dalam kamar inap Rafa.
“Waalaikumsalam,” jawab Toriq dan Annisa bersama-sama.
Roland datang dengan membawa beberapa goody bag.
“Wah sudah keduluan sama Bang Toriq,” kata Roland melihat banyak makanan di atas meja.
Annisa menghampiri Roland dan mengambil goody bag dari tangan Roland.
“Apa ini, A? Banyak sekali?” tanya Annisa kepada Roland.
“Termos, gelas Rafa, susu Rafa, sarapan untuk Aa dan Annisa dan makan siang untuk Annisa,” jawab Roland sambil mengabsen isi goody bag satu-persatu.
“Banyak sekali,” kata Annisa kepada Roland.
Roland duduk di sebelah Toriq.
“Wah lagi pada sarapan,” sahut Roland ketika melihat banyak makan yang tersaji di meja.
“Ayo Land kita sarapan dulu,” Toriq mengajak Roland sarapan.
“Iya, Bang terima kasih. Roland juga bawa sarapan dari rumah,” jawab Roland sambil menunjuk ke goody bag yang di pegang Annisa.
Annisa menyimpan goody bag yang dibawa Roland ke atas meja yang masih kosong. Lalu membuka tempat makanan satu-persatu dan ditaruh diatas meja. Roland mengambil salah satu kotak makan yang berisi nasi goreng.
“Abang mau nasi goreng? Ini masih ada dua porsi lagi,” tanya Roland kepada Toriq.
Toriq melihat nasi goreng yang di bawa Roland sungguh menggugah selera.
“Mau kalau masih ada lebihnya,” jawab Toriq.
“Ada kok, Bang. Memang sengaja Mamah membawa lebih untuk Bang Toriq,” kata Roland.
Roland memberikan Toriq satu tempat makan yang belum dibuka.
“Terima kasih,” ucap Toriq.
Annisa menemukan roti tawar yang diberi berbagai macam rasa.
“Bang, Rafa boleh makan roti nggak?” tanya Annisa ke Toriq.
“Boleh, tapi jangan yang pakai selai, ya. Yang isi coklat saja,” jawab Toriq sambil menikmati nasi goreng yang dibawa Roland.
Annisa mengambil kotak makan bersih yang ia simpan di dalam nakas lalu ia isi dengan beberapa roti tawar isi Nutella dan meses.
__ADS_1
“Rafa makan roti aja, ya,” kata Annisa ke Rafa.
“Iya,” jawab Rafa dengan senang.
“Bisa makan sendiri nggak?” tanya Annisa.
“Bica,” jawab Rafa.
Kebetulan tangan kiri Rafa yang dipasang infus, sehingga Rafa bisa memakan roti dengan tangan kanan.
Rafa memakan rotinya dengan lahap.
“Annisa sarapan dulu,” ajak Roland.
“Iya A,” Annisa duduk di sebelah Toriq.
Annisa tertegun memandangi makanan yang begitu banyak di atas meja.
“Ini bagaimana cara menghabiskannya?” tanya Annisa yang kebingungan.
“Kan bisa buat makan siang dan makan malam,” jawab Roland lalu menyuap satu sendok nasi goreng.
“Tenang, nanti siang Abang bantuin makan. Kalau dimakan malam takut keburu basi,” sahut Toriq sambil mengunyah nasi goreng.
“Benar juga ya, Bang,” ujar Roland sambil mengunyah.
“Nanti siang Aa udah ada janji dengan teman. Jadi tidak bisa makan siang di sini,” kata Roland ke Annisa.
“Masih cari bahan untuk nyusun skripsi?” tanya Toriq ke Roland sambil mengunyah nasi goreng.
“Iya, Bang. Biar begitu masuk kuliah tinggal megajukan judul dan bab satu,” jawab Roland ke Toriq.
“Ceritanya ngebut, nih?” Toriq menggoda Roland.
“Mau buru-buru nikah, ya?” Toriq menggoda Roland lagi.
“Nggak, Bang. Belum punya calon istri. Mau kerja dulu biar nanti nggak malu-maluin di depan calon mertua,” jawab Roland sambil membuka air mineral kemasan yang disediakan Annisa.
“Bagus, laki-laki memang harus begitu. Harus mandiri dan mapan, jadi orang tua perempuan tidak ragu untuk menikahkan anaknya dengan kita,” kata Toriq ke Roland.
“Abang sudah punya calon istri?” tanya Roland kepada Toriq.
“Dulu pernah ngincer adik teman. Tapi kurang gerak cepat, keburu dilamar orang,” jawab Toriq dengan tenang.
“Wah…..pasti cantik banget sampai jadi rebutan,” puji Roland.
“Itu sudah pasti,” kata Toriq ke Roland.
Pintu kamar terbuka seorang petugas catering rumah sakit masuk.
“Selamat pagi,” sapa petugas catering.
“Wah… lagi pada sarapan, ya?” tanya petugas catering melihat banyak makanan di meja.
“Iya, Mbak. Ayo Mbak ikut sarapan, ini makanannya banyak kok,” kata Annisa ke petugas catering.
“Terima kasih, Bu. Saya sudah sarapan,” ucap petugas catering itu.
Petugas catering mendekati tempat tidur Rafa untuk menyimpan makanan di atas nakas yang berada sebelah tempat tidur.
“Wah….ade juga lagi sarapan?” tanya petugas catering itu melihat Rafa yang sedang asyik makan roti.
__ADS_1
“Rafa lapel,” jawab Rafa ke petugas catering.
“Aduh, kasihan udah lapar,ya?” tanya petugas catering ke Rafa.
Rafa menjawab dengan anggukan.
“Sekarang makanannya sudah datang habiskan, ya. Biar cepat sembuh,” kata petugas catering.
“Iya,” jawab Rafa.
Setelah menyimpan makanan petugas cateringpun pergi dari kamar Rafa.
“Mamah lotinya habis,” kata Rafa.
“Habis?” Annisa mendekati Rafa.
Muka Rafa belepotan coklat.
“Waduh pinternya anak soleh, mamamnya belepotan,” Annisa mengambil tissue basah dan mengelap muka dan tangan Rafa yang belepotan coklat.
“Mau makan lagi? Tuh ada bubur ayam,” Annisa menunjuk ke makanan yang berada di atas nakas.
“Mau loti lagi, Mamah,” pinta Rafa.
“Rotinya buat nanti siang. Sekarang makan sama bubur ayam, ya?!” kata Annisa ke Rafa.
“Iya deh,” jawab Rafa.
Annisa duduk di sebelah tempat tidur Rafa dan mulai menyuapi Rafa dengan bubur.
“Annisa habiskan makannya,” sahut Roland.
“Sebentar A, Annisa nyuapi Rafa dulu,” jawab Annisa sambil menyuapi Rafa.
“Kamu kan bisa menyuapi Rafa sambil makan,” ujar Toriq kepada Annisa.
Toriq berdiri dari duduknya dan mengambil tempat nasi goreng Annisa lalu diberikan kepada Annisa.
“Nyuapinnya sambil makan. Nanti kamu sakit karena telat makan,” kata Toriq.
“Iya, Bang,” Annisa menyimpan tempat makannya di atas nakas.
“Dimakan!” peintah Toriq kepada Annisa.
“Iya, Bang,” Annisa mendekatkan kepalanya ke tempat makan lalu ia mengambil sesendok nasi goreng lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.
“Nah, gitu dong. Habiskan, ya!” seru Toriq kepada Annisa.
Annisa menjawab dengan mengangguk-angguk kepala karena mulutnya penuh dengan makanan.
Toriq tersenyum melihat Annisa yang menyuapi Rafa tapi mulutnya sibuk mengunyah makanan. Sedangkan Roland hanya menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan Toriq yang memaksa Annisa untuk menghabiskan makanan.
.
.
.Hai readers seperti biasa Deche mau promo novel teman Deche
yang berjudul Story in Pesantren milik
author green_tea. Mampir, ya dan jangan lupa like dan komentarnya.
__ADS_1