
“Tapikan dia sudah menikah tadi sore,” kata Annisa.
“Oh ya? Berarti siap-siap saja,” sahut Roland.
“Siap-siap apa, A?” tanya Annisa bingung.
“Siap-siap Tante Delima melamar kamu untuk Bang Toriq,” jawab Roland dengan tenang.
“Aa, jangan nakut-nakutin deh,” kata Annisa dengan kesal.
“Aa nggak nakut-nakutin. Tapi kenyataannya begitu Annisa,” sahut Roland.
“Kenapa harus Annisa, sih? Kan di luar banyak perempuan cantik dan pintar yang mau jadi istri Bang Toriq,” seru Annisa dengan kesal.
“Ya, tanya saja sama Tante Delima. Kenapa tanya sama Aa?” kata Roland.
“Udah ah, Annisa sudah ngantuk mau tidur,” kata Annisa sambil mendorong Roland agar keluar dari kamarnya. Annisa benar-benar kesal mendengar omongan Roland.
“Eh….dikasih tau malah marah. Kalau tidak percaya tunggu saja tanggal mainnya,” kata Roland sambil keluar dari kamar Annisa.
Annisa menutup pintu kamarnya, sambil bersandar pada pintu kamar Annisa memikirkan perkataan Roland.
Bagaimana kalau perkataan Aa Roland benar? Kata Annisa dalam hati.
Tapi tidak akan mungkin. Mana mau Tante Delima mempunyai calon menantu miskin seperti Annisa. Tante Delima pasti akan memilih calon menantu dari keluarga yang berada, kata Annisa dalam hati.
“Ah…sudahlah daripada mikirin yang tidak-tidak mendingan juga sikat gigi terus sholat Isya,” kata Annisa lalu berjalan menuju ke kamar mandi yang ada berada di dalam kamarnya.
******
Keesokan harinya Annisa melupakan perkataan Roland. Terlebih Ibu Delima tidak meneleponnya untuk menanyakan keadaan Rafa.
Namun dua hari kemudian Ibu Delima datang ke rumah Ibu Elly.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Delima yang tiba-tiba muncul di dapur.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa menoleh ke arah Ibu Delima.
“Tante, kenapa masuknya lewat garasi?” tanya Annisa lalu cepat- cepat mencuci tangannya lalu mencium tangan Ibu Delima.
“Nggak apa-apa sama saja lewat depan atau lewat garasi,” jawab Ibu Delima.
“Bi. Tolong terusin, ya,” kata Annisa kepada Bi Minah.
“Iya, Non,” jawab Bi Minah yang langsung mengambil alih masakan yang sedang dimasak oleh Annisa.
“Ayo Tante kita ke dalam,” Annisa mengajak Ibu Delima masuk ke dalam rumah.
“Rafa mana?’ tanya Ibu Delima.
“Ada sedang nonton sama Ua Elly,” jawab Annisa sambil berjalan menuju ke ruang keluarga.
Terdengar suara film anak-anak dari ruang keluarga.
“Ua, ini ada Tante Delima,” Annisa memanggil Ibu Delima yang sedang asyik menonton bersama dengan Rafa.
Ibu Elly menoleh ke Annisa.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Delima dengan tersenyum kepada besannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Elly yang langsung berdiri dan menghampiri besannya.
Ibu Elly memeluk besannya sambil cipika cipiki.
“Apa kabar, Nin?” tanya Ibu Delima.
__ADS_1
“Alhamdullilah, Enin baik-baik saja. Bagaimana kabarnya Nenek?” jawab Ibu Elly.
“Alhamdullilah, Nenek baik-baik saja,” jawab Ibu Delima.
“Rafa, salam dulu sama Nenek,” kata Annisa.
Rafa menghampiri Ibu Delima kemudian mencium tangan Ibu Delima. Ibu Delima langsung memeluk Rafa penuh kerinduan.
“Rafa nggak kangen sama Nenek?” tanya Ibu Delima kepada Rafa.
“Kangen,” jawab Rafa dengan polos.
“Kenapa nggak pernah ke rumah Nenek lagi?” tanya Ibu Delima kepada Rafa.
“Rafa mau di cini cama Mamah,” jawab Rafa.
“Rafa ajak Mamahnya ke rumah Nenek dong,” kata Ibu Delima.
“Iya,” jawab Rafa yang kembali menonton tv.
“Non,” Pak Maman memanggil Annisa dari ruang makan.
“Ada apa, Pak Maman?” tanya Annisa sambil menghampiri Pak Maman.
“Ini taruh dimana?” tanya Pak Maman sambil menunjukkan goody bag di tangan kanan dan kirinya kepada Annisa.
“Dari siapa ini, Pak? tanya Annisa.
“Dari Ibu Delima, Non,” jawab Pak Maman.
“Taruh saja di meja makan, Pak,” jawab Annisa.
Pak Maman menyimpan tas itu di meja makan.
“Saya permisi dulu, Non,” pamit Pak Maman.
Pak Maman kembali ke dapur.
“Tante…itu…,” Annisa belum melanjutkan perkataannya Ibu Delima sudah memotong.
“Itu kue dan makanan buat di sini,” kata Ibu Delima.
“Atuh Nenek meni repot bawa segala macem,” sahut Ibu Delima.
“Nggak kok, Nin. Bukan saya yang masak tapi Mbok Sarmi dibantu ART yang lain,” jawab Ibu Delima.
“Kata Toriq, Annisa suka sama makanan yang dibawanya Toriq waktu di rumah sakit,” kata Ibu Delima.
“Kata Toriq dimakan sama Annisa sampai habis,” kata Ibu Delima lagi.
Abang Toriq ngarang cerita aja. Memang Annisa makan, tapi kan Annisa nggak bilang apa-apa, bisik Annisa dalam hati.
“Bener begitu kan Annisa?” tanya Ibu Delima mengagetkan Annisa.
“Eh…I…iya, Tante,” jawab Annisa dengan terbata-bata.
Ibu Elly memandangi Annisa dan Ibu Delima.
Sepertinya Nenek ada niat tertentu datang ke sini, bisik Ibu Elly dalam hati.
“Tante, Annisa permisi dulu mau ke dapur. Mau lihat makanan untuk Rafa udah matang atau belum,” ujar Annisa kepada Ibu Delima.
“Oh….silahkan,” jawab Ibu Delima.
Ketika Annisa hendak ke dapur, Rafa memanggil Annisa.
__ADS_1
“Mamahhhh, Rafa mau cucu,” teriak Rafa.
“Iya,” jawab Annisa lalu jalan ke dapur.
Tapi baru saja selangkah maju terdengar suara Roland memanggilnya.
“Annisa.”
Annisa menghentikan langkahnya.
“Ya, A,” jawab Annisa lalu naik ke lantai atas.
“Tolong buatkan Aa kopi seperti biasa,” kata Roland.
“Ya, A,” jawab Annisa yang kemudian turun kembali dari tangga dan kembali ke dapur.
Ibu Delima memperhatikan Annisa yang mundar mandir dari tadi.
“Beginilah di sini mah, Nek. Apa-apa Anniisa. Rafa dan Roland sama-sama manja sama Annisa. Apa-apa harus Annisa yang buatin. Nggak mau dibuatin sama Bi Minah atau ART yang lain,” kata Ibu Elly kepada Ibu Delima.
“Nggak apa-apa, Nin. Annisa jadi belajar mengurus anak dan suami,” jawab Ibu Delima.
“Annisa masih kecil baru delapan belas tahun, masih lama untuk menikah. Dia masih harus kuliah dulu,” kata Ibu Elly.
“Tapi kan masih bisa kuliah, walaupun sudah menikah,” ujar Ibu Delima.
“Tapi mana ada anak muda yang baru menikah sanggup membiayai kulahnya Annisa? Sudah punya pekerjaan saja sudah alhamdullilah,” kata Ibu Elly.
“Toriq sanggup,” jawab Ibu Delima.
“Toriq?” tanya Ibu Elly kaget.
“Iya, kita nikahkan saja Toriq dengan Annisa. Demi cucu kita Rafa,” usul Ibu Delima sambil tersenyum.
“Tapi Annisa masih keci, Nek. Lagi pula bukannya Toriq ingin menikah dengan Poppy,” ujar Ibu Elly.
“Poppy sudah menikah hari sabtu kemarin. Annisa juga tau. Sabtu kemarin Toriq mengajak Annisa menjenguk Poppy melahirkan,” jawab Ibu Delima.
“Oh…jadi kemarin mereka pergi menengok Poppy?” tanya Ibu Elly.
Tiba-tiba Annisa datang sambil membawa susu Rafa.
“Rafa ini susunya,” kata Annisa lalu memberikan susu ke Rafa.
“Ah….kebetulan, Annisa sini ada yang ingin Tante bicarakan,” panggil Ibu Delima.
“Sebentar Tante, Annisa mau mengantarkan kopi untuk Aa Roland,” jawab Annisa.
“Ya, Tante tunggu,” kata Ibu Delima.
Kemudian Annisa kembali ke dapur untuk mengambil secangkir kopi dan diantarkan ke kamar Roland.
.
.
.Para pembaca yang budiman,
Deche tidak janji bisa up sehari 2 kali.
Karena kehidupan RL cukup menyita waktu.
Memiliki 1anak yang beranjak dewasa dan 1 anak remaja, bukan berarti bisa bebas tidak terlalu cape. Tetap saja mereka ingin diperhatikan oleh emaknya.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya vote, hadiah, like dan komennya, ya!