
“Annisa, terus yang membiayai Rafa siapa? Annisa kan mau kuliah,” tanya Fitri yang penasaran.
“Abang Toriq,” jawab Aisyah yang datang sambil membawa gelas yang berisikan minuman segar dan toples yang berisikan camilan.
Aisyah menaruh gelas-gelas beserta toples di atas meja. Lalu teman-teman Annisa mendekati Aisyah.
“Abang Toriq siapa, Aisyah?’ tanya teman-teman Annisa penasaran.
“Calon suami Teteh,” jawab Aisyah.
“Tuh kan bener, pasti ada yang diumpetin,” kata Fitri.
“Indri beberapa kali melihat Umar ke sekolah diatar pakai mobil mewah. Ela melihat Annisa pulang dari pasar dibonceng cowok ganteng, tapi bukan Aa Arya,” kata Fitri dengan semangat.
“Oh…yang nganterin Umar sekolah mah, Aa Roland,” jawab Aisyah.
“Pacar Aisyah?” tanya Fitri.
“Bukan, Aa Roland anak kakak sepupuh Mamah. Kebetulan lagi liburan di sini,” jawab Aisyah.
“Terus sekarang kemana orangnya?” tanya Tati.
“Udah pulang ke Jakarta tadi pagi,” jawab Aisyah.
“Ah…sayang kita nggak bisa kenalan sama saudaranya Annisa yang tajir,” ujar Tati kecewa.
“Jadi yang membonceng Annisa pulang dari pasar juga Aa Roland?” tanya Fatim.
“Bukan. Itu mah Abang Toriq,” jawab Aisyah.
“Indri, ganteng nggak cowok yang membonceng Annisa?” tanya Fatim pada Indri.
“Ganteng, pokoknya Aa Arya kalah,” jawab Indri.
“Wah, ini mah harus dirayakan dengan makan-makan. Pokoknya traktir kita-kita makan bakso!!!” sahut Fitri.
Aisyah buru-buru masuk ke dalam takut dimarahi Annisa, karena membocorkan rahasianya.
“Boleh, tadi pesan online aja, ya,” kata Annisa.
“Sip,” jawab teman-teman Annisa dan langsung membuka ponsel masing-masing untuk order online.
*****
Malam harinya seperti biasa Toriq menelepon Annisa.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Annisa.”
__ADS_1
“Lagi apa, Annisa?”
“Lagi tunggu Abang nelepon.”
“Kangen ya, sama Abang?”
“Iya.”
“Haduh, Abang rasanya mau pergi ke Padalang malam ini juga. Nggak tahan ingin ketemu dengan pujaan hati Abang.”
“Eh….jangan, Bang. Ini sudah malam, berbahaya kalau Abang ke Padalarang malam-malam.”
“Tapi kemarin juga Annisa pergi malam-malam ke Padalarang.”
“Tapi Annisa menyesal, Bang. Nggak lagi-lagi deh seperti itu.”
“Janji, ya?”
“Iya, Bang. Annisa janji.”
“Bagus. Rafa lagi apa?”
“Baru mau tidur.”
“Oh, Rafa belum tidur?”
“Bang, ada yang Annisa mau bicarakan.”
“Ada apa? Bicara saja.”
“Annisa mau minta maaf, kalau hari ini Annisa banyak menghabiskan uang Abang.”
“Nggak apa-apa. Kurang nggak uangnya? Kalau kurang Abang tambah lagi.”
“Jangan, masih ada sisanya kok.”
“Hari ini Annisa belanja kebutuhan Rafa, kebutuhan di rumah dan jajanan untuk Aisyah dan Umar.”
“Annisa beli apa?”
“Annisa nggak beli apa-apa, Bang.”
“Kenapa Annisa tidak beli apa-apa? Beli saja yang Annisa mau. Kalau kurang nanti Abang transfer.”
“Nggak usah, Bang. Terima kasih. Sewaktu beli kado untuk Rafa, Ua Elly membeli banyak barang untuk Annisa.”
“Oh, ya sudah. Nanti kalau Annisa perlu apa-apa, pakai saja uangnya.”
“Tadi Annisa mengajak Aisyah dan Umar makan di restaurant di seberang supermarket. Makanannya mahal-mahal seperti di café yang waktu Annisa bertemu dengan Abang.”
__ADS_1
“Iya, nggak apa-apa.”
“Terus tadi teman-teman Annisa ke sini. Dan Aisyah bilang kalau Annisa punya calon suami. Jadi aja minta ditraktir makan. Tapi Annisa suruh pesan onlinr saja, karena Annisa cape baru datang belanja.”
“Iya tidak apa-apa, Annisa.”
“Annisa jadi tidak enak sama Abang. Abang kerja siang malam mencari uang, Annisa Cuma bisa menghabiskan uang Abang.”
Suara Annisa terdengar murung.
“Tidak apa-apa, Annisa. Abang cari uang buat siapa lagi kalau bukan buat Rafa dan Annisa.”
“Terima kasih, Bang. Atas semua yang telah Abang berikan untuk Annisa dan keluarga Annisa.”
“Sama-sama Annisa.”
“Sekarang Annisa istirahat. Sepertinya Annisa sudah cape, seharian mengurus Rafa.”
“Iya, Bang.”
“Selamat malam Annisa, mimpikan Abang dalam tidur Annisa. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Annisa mematikan ponselnya dan tidur sambil memeluk Rafa.
*****
Hari demi hari berlalu tak terasa sudah hari Jumat. Namun ketika Annisa bangun ssebelum subuh kepala Annisa terasa berat dan sakit. Perlahan Annisa bangun dari tempat tidur. Lalu mengambil minyak kayu putih yang berada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Lalu di oleskan ke pelipis dan tengkuk lehernya. Setela agak mendingan Annisa berjalan keluar kamarnya. Annia mengambil kotak obat yang berada di lemari tv.
“Cari apa, Nis?” tanya Ibu Titien yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Cari obat penghilang sakit kepala, Mah. Kepala Annisa sakit,” jawab Annisa.
“Nanti kalau mau minum obat makan kue dulu, biar tidak sakit maagnya,” kata Ibu Titien lalu pergi menuju dapur.
“Iya, Mah,” jawab Annisa.
Setelah menemukan obat penghilang rasa sakit kepala, Annisa memakan satu potong kue sebelum meminum obat. Setelah kue habis barulah Annisa meminum obat penghilang rasa sakit kepala. Setelah itu Annisa kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya. Annisa menoleh ke samping, Rafa sedang tidur dengan nynyak.
“Kasihan Rafa tidak ada yang mengurus kalau Annisa sakit,” bisik Annisa.
Annisa memejamkan matanya sambil menunggu adzan subuh.
.
.
Dilanjutin besok.
__ADS_1