Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
54. Kangen


__ADS_3

Setelah kepergian Toriq rumah terasa sepi, walaupun di rumah masih ada Roland dan Rafa. Sore harinya Annisa duduk termenung di teras rumahnya.


“Lagi ngapain, Nis?” tanya Roland.


“Nggak masak?” tanya Roland lagi.


“Beli aja, A. Lagi malas masak,” jawab Annisa dengan tidak semangat.


“Baru ditinggal beberapa jam aja sudah tidak semangat, apalagi ditinggal 2 minggu bisa-bisa seperti mayat hidup tidak ada tanda-tanda kehidupan,” kata Roland sambil mencibir.


Annisa hanya menoleh ke arah Roland sebentar lalu memandang lurus ke depan sambil melamun lagi.


Roland menghela nafas.


“Ayo Aa antar,” kata Roland.


Annisa menoleh ke Roland sambil mengerutkan keningnya.


“Mau ngantar kemana?” tanya Annisa bingung.


“Antar beli makanan. Tadi katanya mau beli makanan,” jawab Roland.


“Oh…,” Annisa tidak beranjak dari tempat duduknya.


Roland menghela nafas melihat Annisa yan tidak juga beranjak dari duduknya.


“Annisa, kalau Annisa melamun terus kapan jalannya?” tanya Roland.


“Iya A, Annisa ambil dompet dulu,” jawab Annisa lalu masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian Annisa kembali dengan membawa dompet dan ponsel.


“Jauh nggak? Kalau jauh naik mobil saja,” tanya Roland.


“Lumayan jauh, A,” jawab Annisa.


“Sebentar Aa ambil kunci mobil dulu,” kata Roland lalu masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Umar melihat Roland membawa kunci mobil dari kamar.


“Aa mau kemana?” tanya Umar.


“Mau antar Teteh beli makanan,” jawab Roland.


“Umar mau ikut,” sahut Umar.


“Iya boleh,” jawab Roland.


“Rafa juga icut, Om,” kata Rafa.


“Rafa ambil dulu sepatunya,” kata Roland.


Dengan sigap batita itu masuk ke kamar Annisa, lalu keluar lagi sambil membawa sepatunya.


Rafa membawa sepatunya keluar rumah lalu sepatu itu diberikan kepada Annisa.


“Mamah pakein cepatunya,” kata Rafa.


“Rafa  mau kemana pake sepatu?” tanya Annisa bingung.


“Rafa dan Umar mau ikut,” kata Roland.


“Biarkan mereka ikut, biar kamu nggak melamun terus,” kata Roland.


Lalu Annisa memakaikan Rafa sepatu. Dan merekapun masuk ke dalam mobil Roland yang sudah menunggu di depan rumah Annisa.

__ADS_1


“Beli satenya dimana?” tanya Roland sambil fokus menyetir.


“Di dekat situ Ciburuy,” jawab Annisa.


Ternyata Annisa membeli sate yang lumayan jauh dari rumahnya.


“Jauh amat, Nis beli satenya,” kata Roland sambil memarkirkan mobilnya di depan penjual sate.


“Di sini satenya enak, A. Tongseng dan gulainya juga enak,” jawab Annisa sambil membuka seat beltnya.


Annisa langsung turun dan membukakan pintu belakang. Umar langsung turun dari mobil sedangkan Rafa digendong Annisa.


Mereka masuk ke dalam kios penjual sate. Annisa memesan sate dan tongseng dalam jumlah yang cukup banyak. Karena Toriq memberikan uang yang cukup banyak, Annisa dapat membelikan makanan yang banyak untuk keluargannya.


Tidak seperti biasanya mereka hanya bisa makan dengan alakadarnya, bahkan membeli sate pun hanya bisa beli sedikit dan dibagi rame-rame untuk sekeluarga.


****


Pukul delapan malam Annisa sudah berbaring di kamarnya. Karena Rafa sudah tidur dengan lelap, sehingga Annisa bisa beristirahat. Di luar kamar terdengar suara Pak Ernawan dan Roland yang sedang menonton pertandingan bola Indonesia melawan Malaysia.


Annisa memeriksa ponselnya barangkali ada pesan yang masuk. Namun tiba-tiba terdengar suara dering panggilan masuk dari ponselnya. Dilayar tertera nama Abang Toriq. Annisa menarik nafas panjang baru menjawab teleponnya.


“Assalamualaikum,” ucap Annisa.


“Waalaikumsalam. Belum tidur?”


“Ini baru mau tidur.”


“Abang ganggu Annisa, ya?”


“Nggak kok, Bang.”


“Rafa mana? Kok tidak kedengaran suaranya?”


“Sudah tidur.”


“Rafa kekenyangan habis makan sate ayam.”


Annisa terbayang waktu Rafa makan sate ayam sendiri. Mulut dan pipinya belepotan bumbu kacang.


“Rafa tadi makan sendiri atau disuapin Mamahnya?”


“Makan sendiri. Rafa nggak mau disuapin. Tapi Annisa lepaskan dulu tusuk satenya takut nusuk ke Rafa.”


Tiba-tiba terdengar suara teriakan “GOLLLLLLLL,” dari ruang tv.


“Suara siapa tuh?”


“Suara Bapak dan Roland yang sedang nonton pertandingan sepakbola.”


“Abang tidak nonton pertandingan sepak bola?”


“Ini Abang lagi nonton di kamar. Tapi karena kangen sama Annisa, Abang nontonnya sambil nelepon Annisa. Takut Annisa keburu tidur,”


“Abang tadi sampai ke rumah jam berapa?”


“Sampai jam empat.”


“Kok cepet, sih? Abang nyetirnya nggak pake rem, ya?”


“Ya pake dong. Kalau nggak pake rem nanti Abang nabrak.”


“Abang nyetirnya ngebut, ya?”


“Nggak, Annisa, Abang kecepatannya sedang saja. Memang kebetulan saja jalanannya kosong.”

__ADS_1


“Jangan suka ngebut, bahaya.”


“Iya Annisa, Abang tidak akan ngebut.”


“Insya Allah minggu depan Abang ke rumah Annisa lagi. Kalau diijinkan Bapaknya Annisa Abang menginap di rumah Annisa. Kalau tidak dijinkan menginap Abang tidur di hotel saja.”


“Iya, Bang.”


“Kok cuma jawab “Iya, Bang”.”


“Terus Annisa harus jawab apa?”


“Mestinya jawab “Iya, Bang. Annisa tunggu kedatangan Abang”.”


“Iya, Bang. Annisa tunggu kedatangan Abang.”


“Besok Abang cuti aja, deh. Mau nyusul Annisa ke Padalarang. Denger Annisa ngomong begitu Abang jadi kangen.”


“Eh….jangan Bang. Nanti kasihan pasien Abang kalau Abang nggak masuk kerja.”


“Tapi Abang kangen.”


“Kan minggu depan Abang mau ke sini, nanti bisa ketemu sama Annisa.”


“Tapi nunggunya terlalu lama. Nanti Abang keburu kena penyakit malarindu.”


“Kalau sakit makan obat, Bang. Abang kan dokter.”


“Tapi obat sakit malarindunya jauh di Padalarang.”


“Abang kan bisa nelepon atau video call sama Annisa.”


“Iya deh. Tapi Abang setiap hari boleh nelepon Annisa, ya?”


“Iya, Abang.”


“Udah dulu, ya. Annisa pasti sudah mengantuk, Abang juga sudah mengantuk.”


Terdengar suara Toriq menguap.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Annisa mematikan ponselnya lalu di letakkan di atas meja belajar. Annisa berbaring di sebelah Rafa lalu tidur sambil memeluk Rafa.


******


Keesokan paginya Annisa kembali ceria seperti biasa. Ia melakukan aktifitasnya seperti biasa yaitu membantu Mamahnya memasak dan membersihkan rumah. Hari ini semua orang kembali ke aktifitas rutin yaitu bekerja dan sekolah. Pagi-pagi Roland sudah mengantar Aisyah dan Umar sekolah dengan menggunakan mobilnya.


Namun ketika Roland menawarkan diri untuk mengantar Pak Ernawan berangkat kerja, Pak Ernawan menolaknya dengan alasan nggak enak kalau dengan Pak Camat karena Pak Camat orangnya sederhana, tapi bawahannya datang diantar dengan mobil mewah. Memang mobil Roland bukanlah mobil sejuta umat. Sebagai anak seorang pengusaha Roland dibelikan mobil dengan harga yang fantastis.


“Kan cuma sekali-sekali diantar pake mobil Roland. Mumpung Roland ada di sini,” bujuk Roland.


“Terima kasih, tidak usah. Bapak mau berangkat naik kukut aja,” ucap Pak Ernawan sambil menunjuk ke motor bebek keluaran tahun 2000.


“Udah A, Bapak mah memang begitu terlalu cinta sama si kukut,” sahut Annisa.


Akhirnya Rolandpun mengalah dan membiarkan Pak Ernawan pergi menggunakan si kukut motor bebek kesayangannya.


.


.


Hari ini up nya 1 Bab, saya lagi tidak sehat. Ini juga maksa untuk bisa up.

__ADS_1


Tetap terus bersama dengan Annisa dan Toriq, ya.


__ADS_2