Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
63. Rencana Menikah.


__ADS_3

“Sekarang Bapak mau bertanya kepada Annisa, apakah kamu sudah siap untuk dilamar oleh Nak Toriq?” tanya Pak Ernawan.


Annisa menoleh ke Toriq seolah Annisa meminta pendapat Toriq, Toriq membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


“Annisa siap, Pak,” jawab Annisa.


“Alhamdullilah,” ucap Pak Ernawan.


“Bagaimanapun juga niat baik harus di segerakan. Apalagi kalian terlalu sering bersama,” kata Pak Ernawan.


“Nak Toriq, kira-kira rencana menikahnya kapan?” tanya Ibu Titien.


“Toriq inginnya dua minggu dari lamaran, Tante,” jawab Toriq.


Annisa terkejut mendengar jawaban Toriq.


“Abang,” ujar Annisa.


Toriq menoleh kepada Annisa.


“Kenapa Annisa? Bukankah niat baik harus di segerakan? Jika kita sering bersama tanpa ikatan pernikahan nanti jatuhnya akan menjadi fitnah,” kata Toriq.


“Nak Toriq berkata benar Annisa. Lebih cepat memang lebih baik,” kata Pak Ernawan.


“Tapi, Pak. Untuk kita tidaklah mungkin, Pak. Keuangan kita tidak memungkinkan,” seru Ibu Titien.


Pak Ernawan menghela nafas. Benar apa yang dikatakan istrinya, keuangan mereka tidak memungkinkan untuk mengelar acara pernikahan. Bahkan untuk akad nikah sekalipun mereka tidak memiliki dananya. Dan mereka juga tidak mungkin meminta bantuan kakak sepupuh istrinya yaitu Ibu Elly, mereka sudah banyak hutang budi kepada kakak sepupuh istrinya.


“Tante tidak usah khawatir, biar Toriq yang menanggung semua biayanya,” kata Toriq.


“Tapi Nak Toriq sudah mengeluarkan banyak biaya, terutama untuk membayar kuliah Annisa,” kata Ibu Titien.


“Tidak apa-apa Tante. Toriq ingin Tante dan Om tidak merasa terbebani dengan pernikahan Toriq dan Annisa,” jawab Toriq.


“Nak Toriq semestinya biaya pernikahan menjadi tanggung jawab kami sebagai orang tua Annisa,” kata Pak Ernawan.


“Toriq tau Om. Tapi biar Toriq yang menanggung semua biayanya, Om dan Tante tinggal mengatakan kepada EO konsep pernikahan seperti apa yang Om dan Tante inginkan,” ujar Toriq.


Pak Ernawan dan Ibu Titien saling berpandangan.

__ADS_1


“Nak Toriq biar untuk biaya pernikahan, saya berembug dulu dengan Mamahnya Annisa,” ujar Pak Ernawan.


“Iya, Om tidak apa-apa. Tapi nanti untuk biaya lamaran Toriq akan berikan kepada Annisa karena waktunya sudah mepet,” jawab Toriq.


Pak Ernawan menghela nafas. Ia tau jika calon menantunya tidak ingin membebaninya selaku orang tua Annisa. Namun sebagai orang tua Annisa ia tidak ingin terlihat lemah di depan calon menantunya. Bagaimanapun juga ia masih mempunyai harga diri.


“Maaf bukannya Toriq meremehkan Om dan Tante, hanya saja Toriq ingin semuanya berjalan dengan lancar. Om, Tante dan Annisa tidak merasa cape ketika menerima keluarga Toriq,” ucap Toriq.


“Iya, Bapak mengerti maksud Nak Toriq,” jawab Pak Ernawan.


Lalu Pak Ernawan beralih ke Annisa.


“Gimana Annisa, kamu setuju nggak dengan semua usulan Nak Toriq?” tanya Pak Ernawan.


“Annisa terserah Abang saja. Kalau memang itu yang terbaik,” jawab Annisa.


“Alhamdullilah,” ucap Toriq.


“Terima kasih, Anissa sudah mau mengertiin Abang,” ucap Toriq.


“Berarti hari Minggu Annisa tidak ikut ke Jakarta, ya?” tanya Pak Ernawan kepada Toriq.


“Iya, Om. Mangkanya saya bawa Mbok Sarmi biar bisa bantu-bantu di sini. Tadi malah Mamah menyuruh membawa ART satu lagi buat bantu-bantu di sini. Tapi Toriq tolak, takutnya malah membuat rumah Om dan Tante menjadi sempit karena kebanyakan pembantu,” jawab Toriq.


“Iya, Tante. Yang penting Tante dan Annisa tidak kecapean,” ujar Toriq.


“Ya sudah, sekarang sudah malam sudah waktunya istirahat. Kasihan Nak Toriq sudah cape karena menyetir dari Jakarta ke sini,” kata Pak Ernawan.


“Iya, Om.”


“Annisa, kepalanya masih sakit nggak?” tanya Pak Ernawan kepada Annisa.


“Sudah agak mendingan, Pak,” jawab Annisa.


“Memang beda kalau diobati dengan ahlinya, langsung sembuh,” kata Pak Ernawan.


Wajah Annisa langsung memerah karena malu.


“Udah Pak, jangan digodain aja anaknya,” seru Ibu Titien.

__ADS_1


“Loh, kan memang bener. Dari subuh minum obat tapi nggak sembuh-sembuh. Tapi kalau minum obat dari Nak Toriq langsung sembuh,” kata Pak Ernawan.


“Udah ah Pak, Ayo kita tidur. Kasihan Nak Toriq nggak jadi-jadi istirahatnya,” kata Ibu Titien lalu menarik tangan Pak Ernawan agar segera masuk ke kamar.


Akhirnya mereka masuk ke kamarnya masing-masing.


Keesokan paginya Annisa tetap saja belum diperbolehkan membantu di dapur. Untung ada Mbok Sarmi yang membantu Ibu Titien di dapur. Untungnya Rafa mengerti kalau Mamahnya masih sakit, jadi kalau mau apa-apa minta sama Mbok Sarmi.


“Assalamualaikum,” ucap seseorang sambil mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam,” jawab Mbok Sarmi yang sedang membersihkan ruang tamu.


Mbok Sarmi membukakan pintunya. Seorang wanita separuh baya dan perempuan muda berdiri di depan pintu.


“Pak Dokter ada?” tanya wanita itu.


Mbok Sarmi mengerut keningnya.


“Maksud Ibu, Den Toriq?” tanya Mbok Sarmi.


“Iya, yang punya mobil itu,” wanita itu menunjuk ke mobil milik Toriq yang terparkir di halaman rumah Pak Ernawan.


“Ada, Bu. Sedang sarapan dengan Non Annisa dan orang tua Non Annisa,” jawab Mbok Sarmi.


“Tolong panggilkan bilang Ibu Ika istri Pak Didin mau ketemu,” kata Ibu Ika.


“Baik, Bu,” jawab Mbok Sarmi lalu masuk ke dalam rumah.


“Eh…Bu,” Ibu Ika  memanggil Mbok Sarmi.


Mbok Sarmi kembali menghampiri Ibu Ika.


“Ya, Bu?’


“Ibu siapa? Kok saya baru lihat,” tanya Ibu Ika yang penuh rasa ingin tau.


“Saya Mbok Sarmi pengasuhnya Den Rafa anak Non Annisa dan Den Toriq,” jawab Mbok Sarmi.


“Memangnya Annisa sudah punya anak?” tanya Ibu Ika.

__ADS_1


“Sudah sana panggilkan Pak Dokter,” perintah Ibu Ika.


“Ya, Bu,” Mbok Sarmipun masuk ke dalam rumah.


__ADS_2