Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
76. Kegiatan Dini Hari.


__ADS_3

Setelah dua jam lamanya perjalanan Padalarang Jakarta akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Toriq. Kedatangan mereka disambut oleh Ibu Delima dan Pak Syamsul yang berdiri di depan teras rumah.


Annisa turun dari mobil sambil menggendong Rafa yang sedang tidur.


“Assalamualaikum,” ucap Annisa.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Delima dan Bapak Syamsul.


Annisa menghampiri Ibu Delima lalu mencium tangan Ibu Delima.


“Apa kabar Annisa? Sehat?” sapa Ibu Delima sambil mencium kedua pipi Annisa.


“Alhamdullilah sehat, Mah,” jawab Annisa.


Kemudian Annisa menghampiri Pak Syamsul dan mencium tangan Pak Syamsul.


“Ayo masuk,” ajak Ibu Delima sambul merangkul punggung Annisa.


Annisa mengikuti mertuanya masuk ke dalam rumah. Ibu Delima membawa Annisa ke lantai atas. Sampai di lantai atas Ibu Delima menuju ke sebuah kamar dan membuka pintu kamar itu.


“Ini kamar Rafa,” kata ibu Delima.


Kemudian Ibu Delima masuk ke dalam kamar.


“Tidurin Rafa di sini, Nis,” kata Ibu Delima.


Annisa menurut lalu masuk ke dalam kamar dan menidurkan Rafa di atas tempat tidur. Annisa mengusap kepala Rafa lalu mencium pipi Rafa.


“Ayo kita ke kamarmu dan Toriq,” ajak Ibu Delima.


Kemudian Ibu Delima dan Annisa keluar dari kamar Rafa dan tidak lupa menutup kembai pintu kamar Rafa. Ibu Delima mengajak Annisa ke kamar yang berada di seberang kamar Rafa.


“Ini kamar tidur kalian,” kata Ibu Delima lalu membuka pintu kamar itu.


Sebuah kamar yang cukup luas. Pada dinding diatas kepala tempat tidur terpampang foto Toriq dan Annisa ketika menikah. Dan di sebelah kiri tempat tidur dipasang foto Toriq dan Annisa ketika mencium Rafa sewaktu ulang tahun Rafa yang ke dua. Annisa mengikuti Ibu Delima masuk ke dalam kamar itu.


“Itu kamar mandinya,” kata Ibu Delima menununjuk ke arah pintu yang berada di sebelah kanan kamar itu.


Toriq memasuki kamar mereka dengan membawa tas dan barang-barang lainnya. Dan di belakang Toriq ada ART yang membantu Toriq membawa tas yang lainnya. Toriq menyimpan semua barang-barang itu di lantai sebelah kiri tempat tidur. Setelah itu Toriq langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur lalu memejamkan matanya.


“Kalian pasti cape, istirahat dulu. Nanti kalau sudah lapar makan siang sudah tersedia di meja makan,” kata Ibu Delima.


“Iya,” jawab Annisa.

__ADS_1


Kemudian Ibu Delima keluar dari kamar Toriq dan Annisa.


“Pah, jangan tidur, kita sholat dzuhur dulu,” Annisa membangunkan Toriq yang sedang tidur-tiduran di atas tempat tidur.


“Iya nanti dulu, baru adzan,” jawab Toriq dengan mata terpejam.


Annisa membuka tas travelingnya dan mengambil daster panjang dari dalam tas. Annisa menuju ke kamar mandi untuk ganti baju. Setelah keluar dari kamar mandi Toriq masih dalam posisi semula dan terdengar suara dengkuran halus.


“Yah, malah tidur,” gumam Annisa.


Kemudian Annisa membangunkan Toriq untuk sholat dzuhur.


“Pah…..bamgun Pah…..,” kata Annisa sambil menepuk-nepuk pangkal kaki Toriq.


Setelah beberapa kali membangunkan Toriq, barulah Toriq bangun.


“Ada apa, Mah?” tanya Toriq dengan suara ciri khas orang bangun tidur.


“Bangun, terus wudhu. Kita sholat dzuhur dulu,” jawab Annisa.


Dengan malas Toriq beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju ka kamar mandi. Setelah Toriq berwudhu merekapun sholat duzhur berjamaah.


*****


Suara adzan pembangun membuat Toriq bangun dari tidurnya. Dilihat di sampingnya istrinya sudah tidak ada di tempat tidur. Toriq membuka pintu kamar mandi namun nihil, istrinya tidak ada di sana. Toriq langsung memakai bajunya yang tergeletak di lantai usai menyetubuhi istrinya. Ketika Toriq membuka pintu kamarnya ia mencium aroma bumbu dapur. Ia sekarang tahu kemana ia harus mencari istrinya. Cepat-cepat Toriq turun ke lantai dasar menuju ke dapur. Toriq melihat Annisa yang sedang meracik bumbu.


“Mamah lagi apa?” tanya Toriq melihat istrinya sedang sibuk berkutat di dapur.


“Lagi membuat sarapan,” jawab Annisa sambil sibuk meracik bumbu.


“Udah biari saja itu pekerjaan Mbok Sarmi dan ART di sini ,” kata Toriq menyuruh Annisa menghentikan memasaknya.


Annisa menoleh ke arah suaminya. Ia melihat tampang suaminya acak-acakan karena baru bangun tidur dengan menggunakan kaos terbalik. Annisa menghampiri suaminya.


“Papah pakai kaosnya terbalik,” bisik Annisa.


Toriq melihat koas yang ia pakai memang terbalik.


“Sekarang Papah mandi dulu, sebentar lagi adzan subuh,” bisik Annisa takut kedengaran oleh ART.


“Mau mandi sama Mamah,” Toriq merengek mengikuti gaya Rafa.


“Mamah sudah mandi,” jawab Annisa sambil meneruskan pekerjaannya.

__ADS_1


Toriq masih saja berdiri di dapur.


“Papah, cepet mandi!!! Nanti telat ke mesjidnya,” bisik Annisa.


Akhirnya dengan langkah gontai Toriq meniggalkan dapur dan kembali ke kamarnya. Setengah jam kemudian Toriq sudah rapih dan siap untuk berangkat sholat subuh di masjid. Toriq duduk di meja makan sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Sesekali ia melihat ke dapur untuk melihat istrinya yang sedang memasak. Akhirnya terdengar suara adzan subuh.


“Mah, Papah ke masjid, ya. Assalamualaikum,” ucap Toriq lalu pergi ke masjid bersama dengan Pak Syamsul.


Annisapun menghentikan kegiatan memasaknya untuk melaksanakan sholat subuh.


Pukul lima kurang seperempat Toriq sudah kembali dari masjid. Toriq melihat ke dapur istrinya masih berkutat di dapur.


“Mamah,” panggil Toriq dari pintu dapur.


“Apa?” tanya Annisa yang hanya menoleh sebentar ke Toriq.


“Sini,” panggil Toriq.


“Sebentar, sedikit lagi,” jawab Annisa.


Mbok Sarmi mendekati Annisa.


“Sini Mbok terusin, Non,” kata Mbok Sarmi mengambil alih peralatan masak dari tangan Annisa.


“Terima kasih, ya Mbok,” ucap Annisa.


“Nasi gorengnya sudah saya bumbui. Tinggal tunggu matang,” kata Annisa kepada Mbok Sarmi.


“Iya, Non,” jawab Mbok Sarmi.


Kemudian Annisa mendekati Toriq.


“Papah kenapa?” tanya Annisa ketika mendekati Toriq.


Tanpa aba-aba Toriq langsung menggendong Annisa.


“Astagfirullohalazim. Papah,” Annisa kaget langsung memukul bahu suaminya.


“Ayo ke kamar, mumpung Rafa masih tidur,” kata Toriq sambil menggendong Annisa ke kamarnya.


Ketika melewati kamar Ibu Delima, Ibu Delima kaget karena begitu membuka pintu Toriq lewat sambil menggendong Annisa.


“Astagfirullohalzim. Toriq bikin Mamah kaget saja,” seru Ibu Delima.

__ADS_1


Toriq membawa Annisa ke kamar guna menuntaskan keinginannya untuk memeluk dan mencium istrinya.


__ADS_2