Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
31. Ada Apa Dengan Rafa?


__ADS_3

Toriq duduk di sofa menunggu Annisa selesai sholat. Annisa selesai sholat tidak langsung menghampiri Toriq, Annisa berzikir dan berdoa terlebih dahulu. Setelah selesai barulah Annisa membuka mukenahnya dan menyimpan dengan rapih. Barulah Annisa menghampiri Toriq.


“Abang sudah makan?” tanya Annisa kepada Toriq.


“Belum,” jawab Toriq.


“Annisa siapkan dulu, ya Bang,” kata Annisa kepada Toriq.


“Ya,” jawab Toriq.


Annisa mengeluarkan semua yang tadi pagi di bawa Toriq dan Roland. Sementara itu Toriq menyalakan tv sambil menunggu Annisa menyediakan makanan.


“Rafa belum makan, Nis?” tanya Toriq sambil memindah-mindahkan  channel tv.


“Belum, Bang. Tadi Rafa kenyang habis makan kue tart,” jawab Annisa sambil membuka tutup tempat makanan satu persatu.


“Beli kue tart dimana?” tanya Toriq ke Annisa.


“Di depan minimarket di lantai dasar,” jawab Annisa sambil membuka nakas untuk mengambil tempat makan dan sendok yang bersih lalu ditaruh di atas meja.


“Annisa sudah makan?” tanya Toriq kepada Annisa.


“Belum, Bang,” jawab Annisa kepada Toriq lalu duduk di sofa.


“Ayo makan dulu bareng Abang. Mumpung Rafa sedang tidur,” kata Toriq ke Annisa.


“Iya, Bang,” jawab Annisa.


Toriq mengambil nasi beserta dengan lauk pauknya.


“Makan yang banyak, Nis. Nanti kamu sakit,” kata Toriq ketika melihat Annisa makannya hanya sedikit.


“Iya, Bang. Ini juga sudah banyak. Tadi Annisa makan kue, jadi masih kenyang,” jawab Annisa kepada Toriq.


“Kamu pasti habis pesta makan kue dengan Rafa, ya?” tanya Toriq kepada Annisa.


“Annisa hanya makan dua potong saja,” jawab Annisa kepada Toriq.


“Masih ada kuenya, Nis?” tanya Toriq kepada Annisa.


“Masih banyak, Bang. Mau Annisa taruh di kulkas tapi tidak cukup,” jawab Annisa sambil menunjuk kue yang ia simpan di sebelah nakas.


“Abang, mau?” tanya Annisa kepada Toriq.


“Nanti saja, Nis. Nanti sore Abang ke sini lagi,” jawab Toriq kepada Annisa.


“Nanti malam Abang tidur di sini,” kata Toriq kepada Annisa.


Annisa hanya diam sambil mengunyah makanannya.


“Besok subuh Abang ada operasi, jadi Abang pikir Abang lebih baik tidur di sini,” kata Toriq kepada Annisa.


Annisa masih diam mendengar perkataan Toriq. Toriq melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Abang sudah pesan 2 extra bed untuk Abang dan Annisa. Kemarin Abang benar-benar lupa pesan extra bed untuk Annisa. Pasti tadi malam Annisa tidak bisa tidur nyenyak karena harus tidur di sofa.”


“Nggak kok, Bang tadi malam Annisa bisa tidur nyenyak walaupun di sofa,” jawab Annisa kepada Toriq.


“Abang takut nanti Annisa sakit karena kurang tidur. Makanya malam ini Abang pesankan extra bed untuk Annisa dan Abang,” kata Toriq ke Annisa.


“Sekalian ada hal yang harus Abang bicarakan dengan Annisa,” sambung Toriq.


Annisa merasa Toriq membicarakan sesuatu yang penting.


“Apa itu Bang?” tanya Annisa penasaran.


“Nanti saja kita bicarakan. Ini tentang Rafa,” kata Toriq ke Annisa.


“Apa Rafa….,” Annisa belum meneruskan perkataannya sudah dipotong oleh Toriq.


“Bukan, Annisa. Nanti saja kita bicakan lagi. Sekarang Abang mau mencoba kue tart Rafa,” sahut Toriq kepada Annisa.


Tanpa Annisa sadari Toriq sudah melahap habis makannya. Sekarang Toriq minta desert yaitu kue tart milik Rafa.


Annisa meletakkan tempat makannya lalu berdiri untuk mengambil kue. Annisa meletakkan kue di atas meja, kemudian ia mengambil tempat makan dan sendok yang bersih untuk tempat kue. Annisa memberikan sepotong kue kepada Toriq. Lalu Annisa melanjutkan makan siangnya.


“Hmmm enak juga kuenya,” puji Toriq ketika baru sekali suap.


“Berapa harganya?” tanya Toriq kepada Annisa.


“Dua ratus lima puluh ribu rupiah. Annisa membelinya dengan uang dari Abang,” jawab Annisa.


“Pantes enak, harganya mahal,” kata Toriq.


“Rafa yang pilih. Ia menujuk ke semua kue tart yang ada di estalase,” jawab Annisa.


“Memang Rafa suka sekali dengan kue,” ujar Toriq sambil melahap suapan yang terakhir.


“Boleh minta lagi, nggak? Tanya Toriq menyodorkan tempat makan yang sudah kosong.


“Boleh, masih banyak, kok,” jawab Annisa lalu mengambil tempat makan yang Toriq sodorkan dan diisi kue lagi lalu diberikan kembali ke Toriq.


“Habiskan makanannya! Takut Rafa keburu bangun. Nanti kamu tidak bisa makan dengan tenang,” seru Toriq menunjuk ke tempat makanan Annisa yang isinya masih banyak.


“Iya, Bang,” jawab Annisa sambil menyantap makanannya.


Sesungguhnya Annisa menjadi tidak berselera makan ketika Toriq mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan. Sebenarnya apa yang terjadi? Membuat isi kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pikiran.


“Ayo makan! Kenapa jadi melamun?” kata Toriq yang membuyarkan pikiran Annisa.


“Mikirin apa, sih? Mikirin pacar, ya?’ Tanya Toriq sambil menggoda Annisa.


“Bukan, Bang. Lagi pula Annisa tidak punya pacar,” jawab Annisa kepada Toriq.


“Bagus dong kalau tidak punya pacar,” kata Toriq dengan spontan.


Annisa langsung menoleh ke arah Toriq dengan wajah bingung.

__ADS_1


“Maksud Abang tidak ada yang cemburu kalau dipanggil Mamah oleh Rafa,” jawab Toriq ke Annisa.


“Kok sama anak kecil saja cemburu?” sahut Annisa.


“Iyalah, nanti disangka kamu lagi dekat dengan duda,” kata Toriq ke Annisa.


Annisa berpikir sejenak.


“Iya juga, ya Bang,” ujar Annisa.


“Kata Abang juga apa,” kata Toriq ke Annisa.


“Udah sekarang jangan kebanyakan melamun. Habiskan makannya. Abang mau kembali ke poliklinik. Nanti sore abang kembali ke sini,” Toriq pamit kepada Annisa lalu berdiri dari sofa.


“Abang nanti malam praktek, nggak?” tanya Annisa yang ikut berdiri dari sofa.


“Kenapa memangnya?” tanya Toriq kepada Annisa.


“Nggak hanya nanya saja,” jawab Annisa ke Toriq.


“Nanti malam Abang libur tidak praktek. Abang prakteknya hanya seminggu tiga kali,” kata Toriq kepada Annisa.


“Sudah, ya. Abang di tunggu pasien,” sahut Toriq lalu berjalan menuju pintu kamar.


“Assalamualaikum,” ucap Toriq lalu keluar dari kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.


Setelah Toriq pergi Annisa melanjutkan makannya. Setelah menghabiskan makanannya dan mencuci tempat makanan yang kotor, barulah Annisa beristirahat. Baru saja seperempat jam Annisa beristirahat tiba-tiba terdengar suara Rafa memanggilnya.


“Mamah….., Rafa mau pipis,” Rafa memanggil Annisa.


Annisa bangun dari sofa dan menghampiri Rafa.


“Mau pipis? Ayo bangun,” kata Annisa kepada Rafa.


Rafa bangun dari tidurnya sambil merentangkan kedua tangannya. Annisa menurunkan Rafa dari tempat tidur. Kemudian Rafa jalan ke masuk ke kamar mandi di temani Annisa.


“Habis ini makan, ya,” kata Annisa ketika memakaikan Rafa pospak dan celana.


“Mamam cama uweh?” tanya Rafa ke Annisa.


“Makan sama nasi pakai rolade,” jawab Annisa sambil menunjuk ke piring di atas nakas.


“Rafa mau mamam uweh,” kata Rafa sambil merajuk.


“Makan kuenya nanti kalau sudah makan nasi,” kata Annisa dengan sabar.


“Kalau udah mamam naci boyeh mamam uweh?” tanya Rafa.


“Boleh sayang,” jawab Annisa.


“Aciiikkkk,” sorak Rafa sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


Akhirnya Rafa mau disuapi makan nasi sambil menonton tv.


__ADS_2