
Dengan ragu Annisa memasuki kamar tidur tersebut.
“Ini kamar siapa Mbok?” tanya Annisa sambil melihat ke sekeliling kamar.
“ini kamarnya Den Rafa. Dulu ini kamarnya Non Meisya,” jawab Mbok Sarmi.
Oh…..pantas tidak seperti kamar anak, kata Annisa dalam hati.
“Ayo Rafa kita mandi dulu,” kata Annisa sambil menurunkan Rafa dari gendongannya.
“Mbok tinggal dulu, ya Non,” kata Mbok Sarmi.
“Iya, Mbok,” jawab Annisa sambil membuka baju Rafa.
Mbok Sarmipun keluar dari kamar meninggalkan Annisa dan Rafa berdua.
Di luar kamar Mbok Sarmi berpas-pasan dengan Toriq.
“Rafa mana, Mbok?” tanya Toriq.
“Lagi mandi, Den,” jawab Mbok Sarmi.
“Mandi dengan siapa? Kok nggak dimandiin Mbok?” tanya Toriq.
“Anu, Den. Den Rafa mandi dengan Non Annisa,” jawab Mbok Sarmi.
“Annisa?”
“Annisa kemenakannya Tante Elly?” tanya Toriq.
“Iya, Den,” jawab Mbok Sarmi.
“Saya mau lihat,” kata Toriq sambil membuka kamar Rafa.
Dilihatnya Annisa sedang membuka baju Rafa.
“Hai, boy. Yang ulang tahun sudah mandi belum?” sapa Toriq yang menongolkan kepalanya ke kamar Rafa.
“Belum. Rafa mau mandi cama Mamah,” jawab Rafa.
“Sama Mama?” Toriq mengerutkan keningnya.
Lalu Toriq mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Rafa.
“Mana Mamanya?” tanya Toriq dengan bingung.
“Ini Mamahnya, Mamah Rafa,” jawab Rafa sambil memeluk Annisa.
“Itu Tante Annisa, bukan Mamah,” kata Toriq.
“Ini Mamah, bukan Ate,” Rafa menyangkal.
Lalu Toriq memandangi ke Annisa dan bertanya dengan kode gerakan kepala. Annisa hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Ayo Rafa mandi dulu, nanti masuk angin,” kata Annisa sambil menuntun Rafa masuk ke kamar mandi.
Toriq menutup pintu kamar Rafa, lalu menyusul Mbok Sarmi yang turun ke bawah.
“Mbok!” panggil Toriq sembil berjalan cepat menuruni tangga menyusul Mbok Sarmi.
Mbok Sarmi mendengar pangggilan Toriq langsung berhenti dan membalikan badan.
“Ya, Den?” jawab Mbok Sarmi.
“Mbok, kenapa Rafa memanggil Annisa dengan sebutan Mama?” tanya Toriq.
“Mbok juga nggak tau, Den. Den Rafa tiba-tiba saja panggil Mama ke Non Annisa,” jawab Mbok Sarmi dengan bingung.
“Mbok mau ke belakang dulu, itu orang-orang catering sudah datang,” Mbok Sarmi pamit.
__ADS_1
“Iya, Mbok,” kata Toriq.
Lalu Mbok Sarmi pergi ke dapur.
Ibu Delima kebetulan aja lewat di dekat Toriq dan Mbok Sarmi.
“Ada apa, Bang?” tanya Ibu Delima yang penasaran dengan pembicaraan Toriq dan Mbok Sarmi.
“Itu Rafa, Mah,” Toriq ragu untuk mengatakannya.
“Rafa? Rafa kenapa?” tanya Ibu Delima sepertinya takut ada apa-apa dengan Rafa.
“Rafa, panggil Annisa dengan sebutan Mama,” jawab Toriq dengan hati-hati.
“Masa sih? Sekarang Rafanya mana?” tanya Ibu Delima dengan tidak percaya.
“Ada di kamar, sedang mandi,” jawab Toriq.
“Mandi? Mandi dengan siapa?” tanya Ibu Delima kaget.
Karena ia melihat Ibu Elly di samping sedang mengawasi EO dan Mbok Sarmi barusan turun ke bawah, terus Rafa dengan siapa?
“Dengan Annisa, Mah,” jawab Toriq.
“Mamah tau Annisa kan?” tanya Toriq.
“Mamah tau. Dia kemenakannya Ibu Elly,” jawab Ibu Delima.
“Toriq, kamu tau Annisa darimana?” tanya Ibu Delima penasaran.
“Kemarin dikenalkan Ibu Elly waktu ketemu di Mall,” jawab Toriq.
“Kamu ke Mall dengan siapa?” tanya Ibu Delima curiga.
“Dengan Reno. Makan siang bareng dengan Reno,” jawab Toriq.
“Makan siang dengan Reno atau dengan adiknya? Siapa namanya?” tanya Ibu Delima dengan curiga.
“Nah itu tau, Tapi kenapa masih saja ngejar-ngejar Poppy?”
“Kan penasaran, Mah. Selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan untuk merebut Poppy,” jawab Toriq dengan santai.
“Cckkk. Mamah jadi penasaran seperti apa yang namanya Poppy. Bikin anak Mamah jadi tergila-gila,” kata Ibu Delima.
“Beeeuuuuhhhh cantik, Mah,” Toriq mengacungkan kedua jempol tangannya.
“Apalagi sekarang tambah besar kehamilannya tambah keluar aura kecantikannnya,” puji Toriq.
“Cantikan mana dengan Annisa?” tanya Ibu Delima.
Toriq diam sebentar.
“Beda cantiknya, nggak bisa disamakan. Mereka itu punya kecantikan tersendiri,” jawab Toriq.
“Alah kamu, bisa aja ngejawabnya. Sudah, Mama mau ke Rafa,” kata Ibu Delima lalu naik tangga menuju lantai atas.
Ibu Delima membuka pintu kamar Rafa, Ibu Delima tidak melihat Rafa. Namun di kamar mandi terdengar suara perempuan sedang menyanyi yang diikuti oleh Rafa dengan terbata-bata.
Mandi ayo mandi
Pakai sabun wangi
Jangan tunggu-tunggu
Perintah Ibumu.
Toriq mengikuti Ibu Delima masuk ke dalam kamar Rafa.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Rafa keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk diikuti Annisa dari belakang.
__ADS_1
“Eh….cucu Nenek sudah mandi,” kata Ibu Delima.
“Rafa mandi sama siapa? Mandi sama Tante, ya?” tanya Ibu Delima.
“Mandi cama Mamah, Nek,” jawab Rafa.
“Loh kok Mamah? Tante!” kata Ibu Delima yang berusaha untuk mengingatkan Rafa.
“Bukan Ate, tapi M-a-m-a-h,” kata Rafa.
Annisa yang merasa tidak enak berusaha untuk keluar dari kamar.
“Rafa, pakai bajunya sama Nenek, ya,” kata Annisa.
“Nggak mau cama Nenek. Mau cama Mamah,” rengek Rafa.
“Tante mau ke bawah, bantuin Enin,” Annisa berusaha mencari alasan.
“Nggak boleh, Mamah nggak boleh ke Enin,” rengek Rafa.
Perasaan Annisa tambah tidak enak.
Ibu Delima melihat gelagat Annisa yang tidak enak hati terhadapnya.
“Tidak apa-apa Rafa pakai bajunya sama Annisa saja,” kata Ibu Delima lalu mengambil baju Rafa dari dalam lemari dan di taruh di atas tempat tidur.
“Rafa pakai baju ini,” kata Ibu Delima lalu ia duduk di atas tempat tidur dan memperhatikan interaksi Rafa dengan Annisa.
Sedangkan Toriq berdiri di samping pintu kamar dan juga memperhatikan Rafa dengan Annisa.
Dengan pelan-pelan Annisa memberikan minyak kayu putih dan bedak ke badan Rafa.
Selama itu Rafa terus saja mengajak Annisa ngobrol sambil menanyakan sesuatu pada Annisa, dan Annisa menjawab dengan sekedarnya sambil memakaikan Rafa baju. Akhirnya selesai sudah Annisa memakaikan baju Rafa. Lalu dengan pelan-pelan Annisa menyisirkan rambut Rafa.
“Sekarang Rafa sudah ganteng,” puji Annisa.
“Bilang apa sama Mamah?” tanya Ibu Delima.
“Ma acih, Mamah,” ucap Rafa lalu mendekati Annisa mencium pipi Annisa satu persatu.
“Ayo kita ke depan. Sebentar lagi teman-teman Rafa datang,” ajak Ibu Delima.
“Ke depannya cama Mama,” kata Rafa sambil menempel ke Annisa.
“Iya, ke depannya sama Mamah. Nenek mau ganti baju dan dandan dulu,” kata Ibu Delima.
“Ini juga Om Toriq baru pulang dari rumah sakit belum mandi dan anti baju. Sana Om mandi dulu!!!” tegur Ibu Delima sambil mendorong Toriq keluar dari kamar Rafa.
Annisa mengajak Rafa turun ke bawah, dengan hati-hati Annisa menuntun Rafa menuruni tangga.
Di depan mereka disambut oleh Ibu Elly.
“Wah…cucu Enin sudah wangi dan sudah ganteng,” puji Ibu Elly.
“Sini, duduk sini sama Enin, sebentar lagi teman-teman Rafa datang,” kata Bu Elly.
Dengan manis Rafa duduk diantara Ibu Elly dan Annisa sambil menunggu para tamu datang.
.
.
.
.
.
.Wah…..ternyata Toriq memang nggak boleh lihat cewek cantik.
__ADS_1
Yang ingin tau siapa itu Poppy, cari saja di novel saya yang berjudul Duhai Wanitaku