
Setelah mengantarkan Rafa pulang dari rumah sakit Toriq tidak pernah menghubungi Annisa lagi. Ibu Elly pun tidak mengatakan apa-apa tentang pembicaraan Ibu Elly dengan Toriq. Hanya saja Ibu Delima sering menelepon Annisa untuk menanyakan keadaan Rafa. Terkadang Ibu Delima video call Annisa untuk melihat Rafa secara langsung. Namun pada sabtu sore Toriq menelepon Annisa.
“Assalamualaikum, Annisa.”
“Waalaikumsalam, Bang.”
“Boleh tidak Abang minta tolong?”
“Minta tolong apa, Bang?”
“Temani Abang menjenguk adik teman Abang yang melahirkan.”
“Baleh, Bang. Tapi bagaimana dengan Rafa?”
“Rafa dibawa saja. Ruangannya VVIP kok, jadi bebas masuknya.”
“Kalau begitu Annisa siap-siap dulu, Bang.”
“Abang jemput setelah sholat magrib,”
“Baik, Bang.”
“Terima kasih Annisa.”
“Sama-sama, Bang.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Annisa menutup teleponnya.
Annisa mulai bersiap-siap untuk pergi. Seperti biasa jika Annisa pergi membawa Rafa tas Annisa penuh dengan baju ganti, pospak, handuk kecil, tissue dan tissue basah.
“Mamah mau ana?” tanya Rafa melihat Annisa memasukkan barang-barang ke dalam tas.
“Mamah mau pergi sama Om Toriq. Mau lihat ade bayi,” jawab Annisa.
“Rafa icut,” kata Rafa dengan merengek.
“Iya, Rafa ikut Mamah,” jawab Annisa sambil mengusap rambut Rafa.
“Sekarang Rafa makan dulu, ya,” kata Annisa kepada Rafa.
“Ya,” jawab Rafa turun dari tempat tidur dan ikut Annisa keluar dari kamar menuju ruang makan.
******
Annisa sedang menyisir rambutnya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar diketuk.
“Ya,” jawab Annisa sambil membuka pintu.
“Ada Bang Toriq tuh dibawah,” kata Roland.
Roland melihat Annisa dan Rafa sudah berpakaian rapih.
“Mau pergi kemana?” tanya Roland.
“Mau nengok adik temannya Bang Toriq yang baru melahirkan,” jawab Annisa sambil mengambil tas dan kain gendongan yang ditaruh di atas tempat tidur.
“Ayo Rafa kita pergi,” Annisa memanggil Rafa yang sedang tidur-tiduran di tempat tidur.
Rafa buru-buru bangun dari tempat tidur dan menghampiri Annisa.
“Rafa mau kemana? Rafa jangan ikut, anak kecil dilarang ikut besuk ke rumah sakit,” ujar Roland.
Rafa langsung memeluk Annisa.
__ADS_1
“Rafa mau icut Mamah,” kata Rafa sambil merengek.
“Iya, Rafa ikut Mamah,” jawab Annisa.
“Rafa di rumah saja sama Enin, sama Aki dan sama Om Roland,” sahut Roland.
Mendengar perkataan Roland, Rafa langsung menangis.
“Hengngngng…..Rafa mau icut Mamah,” kata Rafa sambil menangis.
“Ah….Aa mah, jadi nangis Rafanya,” kata Annisa dengan kesal.
“Cup…cup….sayang, iya Rafa ikut sama Mamah,” kata Annisa sambil mengusap rambut Rafa.
“Ayo kita turun, kasihan Om Toriq sudah menunggu lama,” Annisa menuntun Rafa menuju ke lantai bawah.
Di ruang tamu ada Ibu Elly dan Pak Supardi yang sedang menemani Toriq. Ketika Annisa datang semua menoleh ke Annisa dan Rafa.
“Rafa mau kemana?” tanya Pak Supardi.
“Mau liat dede bayi,” jawab Rafa.
“Rafa habis menangis, Nis?” tanya Ibu Elly melihat Rafa yang seperti habis menangis.
“Biasa Ua, Aa Roland ngegangguin Rafa terus,” jawab Annisa.
“Memang anak kecil nggak boleh ikut besuk ke rumah sakit,” sahut Roland.
“Boyeh,” kata Rafa.
“Nggak,” balas Roland.
“Mamah Om Lolang nakal,” Rafa merengek.
“Aa…!” seru Annisa sambil melotot ke Roland.
“Sudah cepat sana pergi, nanti keburu malam,” kata Pak Supardi.
“Toriq permisi dulu, Om Tante. Assalamualaikum,” pamit Toriq.
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan,” kata Pak Supardi.
Toriq menggendong Rafa ke mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Annisa. Setelah Annisa masuk ke dalam mobil barulah Toriq menurunkan Rafa di pangkuan Annisa. Setelah menutup pintu di sebelah Annisa, Toriq masuk ke mobil bagian kemudi. Kemudian mobil yang dikemudikan Toriq meninggalkan halaman rumah Pak Supardi.
Sepanjang perjalanan Toriq lebih banyak diam. Sedangkan Rafa sibuk menunjuk ke segala arah dan bertanya segala macam kepada Annisa. Annisa melirik ke arah Toriq sepertinya Toriq sedang banyak pikiran karena dari tadi hanya diam.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit yang dituju. Rafa begitu antusias ketika sampai di rumah sakit.
“Tunggu dulu, biar Abang yang bukakan pintu,” kata Toriq ketika Annisa hendak turun dari mobil.
Toriq turun lebih dahulu dari mobil dan membukakan pintu di sebelah Annisa. Toriq langsung menggendong Rafa dari pangkuan Annisa dan sabar menunggu sampai Annisa keluar dari mobil baru menutup pintu mobil. Annisa dan Toriq jalan berdampingan menuju ke rawat inap bersalin VVIP.
Toriq mengetuk pintu kamar rawat inap. Seorang laki-laki muda membuka pintu.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq.
“Waalaikumsalam,” jawab laki-laki muda itu.
“Boleh kami menengok Poppy?” tanya Toriq kepada laki-laki muda itu.
“Oh boleh, silahkan masuk,” jawab laki-laki dengan ramah.
Toriq masuk ke dalam bersama dengan Annisa dan Rafa.
“Silahkan duduk,” kata laki-laki itu.
Toriq dan Annisa duduk di sofa. Seorang wanita cantik berkerudung sedang duduk di tempat tidur pasien. Toriq menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Annisa merasa ada sesuatu antara Toriq dengan wanita itu. Annisa hanya diam melihat itu semua. Akan tetapi Rafa tidak bisa diam karena tidak sabar ingin melihat ade bayi.
__ADS_1
“Om, mana dede bayinya?” tanya Rafa.
“Oh…mau melihat adik bayi? Sini…,” kata wanita cantik itu sambil memanggil Rafa.
“Cama Mamah lihatnya,” kata Rafa dengan manja.
“Iya, Mamah temani,” Annisa langsung berdiri lalu menuntun Rafa menuju box bayi.
Karena box bayinya agak tinggi terpaksa Annisa menggendong Rafa. Rafa nampak senang melihat bayi.
“Mamah, dede bayinya lutu pipinya endut,” celoteh Rafa.
“Iya,” jawab Annisa.
“Kapan melahirkannya, Mbak? Tanya Annisa kepada wanita itu.
“Tadi siang,” jawab wanita itu.
“Bayinya laki-laki atau perempuan, Mbak?” tanya Annisa.
“Laki-laki,” jawab wanita itu.
“Adik bayinya laki-laki,” kata Annisa ke Rafa.
“Belalti boy sepelti Rafa,” celoteh Rafa.
“Ciapa namanya, Mah?” bisik Rafa.
“Tanya sama Tante dong,” kata Annisa.
“Tante ciapa nama dedenya?” tanya Rafa kepada wanita itu.
“Namanya Firas Randi Rahardian,” jawab wanita itu.
“Namanya badus, ya Mamah,” kata Rafa kepada Annisa.
“Rafa, sudah ya lihat dede bayinya? Sudah malam kita pulang, yuk,” Toriq memanggil Rafa.
“Ntal duyu, Om. Rafa masih mau lihat dede bayi,” jawab Rafa yang tidak mau beranjak dari box bayi.
Toriq mendekati Annisa.
“Baby boy, ya bayinya?” tanya Toriq kepada Rafa.
“Iya. Lutu Om, pipinya enut,” kata Rafa.
“Rafa, kita pulang, yuk. Sudah malam, Om dan Tantenya mau bobo,” Toriq membujuk Rafa.
“Tapi puyangnya beli baby boy, ya Om,” kata Rafa.
“Iya, tapi nanti ya kalau Rafa sudah besar,” jawab Toriq sambil mengelus rambut Rafa.
“Sekarang Rafa pamit dulu sama Om dan Tante,” kata Annisa lalu menurunkan Rafa.
Rafa menghampiri wanita itu lalu mencium tangannya.
“Tante, Rafa puyang duyu. Acalamualaikom,” ucap Rafa.
“Waalaikumsalam,” jawab wanita itu.
Lalu Rafa menghampiri laki-laki muda itu dan mencium tangannya.
“Om, Rafa puyang duyu. Acalamualaikom,” ucap Rafa.
“Waalaikumsalam,” jawab laki-laki itu.
“Kami permisi dulu, assalamualaikum,” ucap Toriq lalu menuntun Rafa keluar dari kamar.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap Annisa lalu menyusul Toriq dari belakang.
“Waalaikumsalam,” jawab laki-laki dan wanita itu.