
Setelah dari supermarket mereka langsung menuju ke hotel yang dituju. Dan sekarang mereka sudah berada di kamar yang di booking oleh Ibu Elly yaitu suite room.
Annisa duduk di memandangi kamar hotel tempat ia menginap. Kamar sebesar ini dan seluas ini hanya di tempati oleh mereka berdua. Bahkan tempat tidurnya luas bisa untuk tidur bertiga dengan Rafa. Annisa beranjak menuju ke kamar mandi kemudian membuka pintu kamar mandi, kamar mandinya cukup luas seluas kamar Annisa di rumah Ibu Elly. Annisa menghela nafas.
Buat apa kamar mandi seluas ini, pikir Annisa.
Kamar mandi di rumahnya kecil tapi digunakan oleh banyak orang.
Toriq menghampiri Annisa yang sedang memandangi kamar mandi.
“Kenapa?” tanya Toriq.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Annisa.
Annisa menutup kembali pintu kamar mandi lalu kembali duduk di pinggir tempat tidur.
“Kenapa? Kok kelihatan lesu begitu?” tanya Toriq melihat wajah istrinya yang tidak bersemangat.
“Jadi ingat Rafa. Dia pasti senang jika kita membawa menginap di sini,” jawab Annisa dengan sedih.
“Nanti kapan-kapan kita ajak Rafa menginap di hotel. Sekarang kita menikmati waktu kita berdua,” kata Toriq.
“Ingat Rafa menginginkan adik,” bisik Toriq di telinga Annisa.
Toriq mencoba untuk membuka kerudung Annisa, nsamun ia kesusahan karena Toriq tidak tau cara membukanya. Akhirnya Annisa membuka sendiri kerudungnya.
Toriq menggeser bahu Annisa agar menghadap kerarahnya. Toriq memandangi wajah Annisa.
“Mamah cantik, sangat cantik. Benar-benar bidadari surga untuk Papah,” bisik Toriq.
Kemudian Toriq mencium kening Annisa begitu dalam. Lalu turun mencium hidung Annisa dan kemudIan mendorong dengan lembut tubuh Annisa hingga terlentang diatas tempat tidur. Toriq mencium bibir Annisa dengan lembut. Ini adalah pengalaman pertama kali bagi Annisa sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Toriq tau ini adalah pengalaman pertama bagi istrinya sehingga istrinya tidak membalas atau menolak ciumannya. Bagi Toriq itu tidak masalah, tapi ia begitu bahagia karena ia lah yang pertama mencium bibir istrinya.
Allaahu akbar Allaahu akbar…..terdengar kumandang adzan magrib dari ponsel Toriq.
Toriq langsung menghentikan kegiatannya dan langsung menggeletak di tempat tidur dengan wajah yang putus asa.
Annisa menoleh ke samping lalu tersenyum melihat wajah suaminya yang putus asa karena harus menghentikan kegiatan yang menurut suaminya menyenangkan. Annisa memiringkan badannya sehingga menghadap suaminya.
“Sabar, ya Pah. Masih ada waktu untuk meneruskan lagi,” kata Annisa sambil mengelus wajah suaminya.
Annisa mencium pipi suaminya, lalu ia bangun dan beranjak menuju ke kamar mandi.
******
Toriq dan Annisa baru saja menyelesaikan sholat magrib berjamaah, tiba-tiba ponsel Annisa berdering. Terlihat dilayar ponselnya nomor yang tidak ia kenal, Annisa mengerutkan dahinya. Dengan ragu-ragu ia menjawab teleponnya.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap Annisa.
“Waalaikumsalam. Lama amat jawab teleponnya? Lagi tanggung, ya?” terdengar suara seorang wanita diseberang.
Annisa tidak menjawab, ia hanya mengerut keningnya bingung siapa wanita itu?
“ini Teteh, Nis. Teh Elsa,” kata wanita itu.
“Oh, Teteh. Ada apa, Teh?” tanya Annisa.
“Ditunggu Ua Elly makan malam keluarga di dinning room nanti jam tujuh,” kata Elsa.
“Jangan sampai nggak datang, ya!! Ada mertua Annisa juga. Indehoinya diterusin nanti lagi!!” seru Elsa.
“Iya, Teh,” jawab Annisa.
“Ditunggu ya, Nis. Assalamualaikum,” ucap Elsa.
“Waalaikumsalam,” Annisa menutup teleponnya.
“Pasti Elsa, ya?” tanya Toriq.
Toriq sangat hafal adik ipar almarhum Meisya itu sangat cerewet.
“Ah itu sih akal-akalan Elsa, ngeganggu orang yang sedang bulan madu,” kata Toriq.
“Tapi ada Mamah dan Papah juga,” sahut Annisa.
Toriq menghela nafas.
“Bisa nggak kali ini kita absen tidak ikut acara kumpul keluarga?” tanya Toriq dengan putus asa.
Annisa mendekati suaminya lalu mengecup bibir suaminya.
“Diteruskannya nanti kalau sudah makan malam, ya!! Sekarang kita luangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga,” kata Annisa dengan lembut.
“Bener, ya? Setelah makan malam, nggak ada jeda, ya!!!” tanya Toriq untuk meyakinkan.
“Iya, sayang,” jawab Annisa.
“Okeh kalau begitu. Ayo kita siap-siap,” kata Toriq.
*****
Toriq dan Annisa berjalan menuju ke dinning room. Toriq berjalan sambil merangkul pinggang Annisa. Entah mengapa ketika Toriq dan Annisa ketika memasuki dinning room mendengar suara Rafa yang sedang berceloteh. Terdengar juga suara Umar yang sedang mengajak ngobrol Rafa. Benar saja ketika mereka mendekati meja mereka melihat Rafa dan Umar, bahkan mereka melihat Ibu Titien dan Pak Ernawan serta Aisyah.
__ADS_1
“Nah ini dia pengantin yang kita tunggu-tunggu,” sahut Elsa ketika melihat Toriq dan Annisa datang.
“Lama amat sih jalannya? Cuma turun dari atas ke bawah aja lama. Keburu keduluan sama keluarga Tante Titien,” Elsa menggerutu.
“Mamah Bapak, naik apa ke sini?” tanya Annisa sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“Dijemput Roland,” jawab Ibu Titien.
Toriq dan Annisa juga mencium tangan Ibu Delima, Pak Syamsul dan juga mencium tangan Ibu Elly dan Pak Supardi.
“Mamah,” Rafa memeluk Annisa.
“Sayang Mamah,” Annisa membalas pelukan Rafa dengan penuh rasa rindu.
“Rafa dong nggak nangis dan nggak nakal,” kata Rafa ketika dalam pelukan Annisa.
“Pintar anak Mamah,” puji Annisa sambil mengucup pipi Rafa.
“Gimana, sudah berapa ronde?” tanya Elsa menghampiri Annisa dan Toriq.
Annisa cuma menjawabnya dengan tersenyum.
“Bang Toriq, istri Abang masih kecil tapi kalem, ya,” kata Elsa pada Toriq.
“Iya dong. Istri siapa dulu,” jawab Toriq.
“Sudah jangan ngobrol melulu. Sekarang sebelum makan kita berdoa dulu untuk mengucap syukur karena Toriq dan Annisa sudah menemukan tambatan hatinya, dan semoga rumah tangga mereka sakinah, mawadah dan warohmah. Dan segera dikaruniai momongan,” kata Ibu Elly.
“Aamiin,” ucap semuanya.
Setelah selesai berdoa merekapun makan malam bersama penuh kekeluargaan. Setelah selesai makan malam ketika Ibu Titien dan Pak Ernawan hendak pulang Rafa pun tidak rewel ketika di suruh ikut pulang bersama Enin Titien dan Aki Ernawan. Seolah ia tau kalau kedua orang tuanya perlu waktu untuk berdua saja.
“Mamah dan Papah macih ada ulucan, ya?” tanya Rafa ketika digendong Annisa.
“iya, sayang,” jawab Annisa.
“Jangan nakal, ya,” pesan Toriq sambil mengacak rambut Rafa dengan lembut.
“Iya, Papah,” jawab Rafa.
Ketika lift terbuka Annisa menurunkan Rafa, lalu Ibu Titien menggendong Rafa dan membawa Rafa masuk ke dalam lift.
“Dadah Mamah, dadah Papah,” Rafa melambaikan tangannya hingga pintu lift tertutup.
Annisa sedih melihatnya, Toriq merangkul pundak istrinya sambil mengusap-usap istrinya. Kemudian pintu lift menuju ke lantai ataspun terbuka, Toriq membawa masuk istrinya ke dalam lift untuk kembali menuju ke kamar mereka.
__ADS_1