Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
15. Akurnya Roland Dan Rafa.


__ADS_3

Setelah Rafa tidur Annisa juga ikut tidur sejenak untuk melepas lelah. Pukul 10.00 WIB Annisa terbangun dari tidurnya. Ia ingat waktunya untuk membantu Bi Minah menyiapkan makan siang. Ia juga hendak memasak makan siang untuk Rafa. Annisa pelan-pelan turun dari tempat tidurnya agar Rafa tidak terbangun. Perlahan Annisa membuka lalu menutup kembali pintu kamarnya.


“Mau ngapain, Nis?” tanya Roland yang keluar dari kamarnya dan menghampiri Annisa.


“Mau masak buat Rafa makan siang,” jawab Annisa sambil berjalan menuju tangga.


“Kok cuma Rafa aja yang dimasakin? Aa nggak?” tanya Roland yang mengikuti Annisa dari belakang.


“Kan ada Bi Minah yang masakin buat Aa,” jawab Annisa sambil menuruni anak tangga.


“Aa juga mau dimasakin sama Annisa,” pinta Roland.


“Aa mau di masakin apa?” tanya Annisa.


“Apa aja. Terserah Annisa,” jawab Roland.


“Ya sudah, nanti kalau Annisa sudah masak buat Rafa baru Annisa masak buat Aa,” kata Annisa.


“Ma kasih ya, Nis,” tiba-tiba Roland mencium pipinya.


“Aa, iiihhh. Geli tau nggak,” kata Annisa sambil mengusap pipinya yang dicium Roland dengan lengan baju.


“Kok dihapus sih, Nis?” tanya Roland melihat Annisa mengelap pipi yang dicium Roland.


“Aa cium lagi, ya?” kata Roland.


“Nggak mau,” kata Annisa yang langsung berlari ke dapur.


Roland mengikuti Annisa ke dapur.


“Aa mau ngapain ke sini?” tanya Annisa melihat Roland masuk ke dapur.


“Mau lihat Annisa masak, bosen di kamar terus,” jawab Roland.


“Ya sudah, tapi jangan ganggu Annisa, ya!” kata Annisa.


“Iya, nggak akan ganggu,” jawab Roland sambil duduk di pojok dapur.


Ibu Elly masuk ke dalam dapur sambil membawa belanjaan dari supermarket.


“Ngapai kamu di sini?” tanya Ibu Elly melihat Roland yang sedang duduk di kursi di pojokan.


“Mau lihat Annisa masak,” jawab Roland.


“Tumben ngelihatin orang masak,” kata Ibu Elly.

__ADS_1


“Lagi pengen aja. Bosen di kamar terus,” jawab Roland.


“Jangan lihatin aja, nih bantuin kupas bawang. Biar cepet masaknya,” Ibu Elly memberikan beberapa suing bawang merah dan bawang putih untuk di kupas.


“Mamah, kan Roland mau lihat Annisa masak masa malah disuruh lagi,” Roland protes.


“Udah jangan manja, cepet kupas bawangnya. Biar Annisa cepat masaknya. Kamu pasti sudah lapar,” kata Ibu Elly.


“Biar sama saya saja, Bu,” kata Bi Minah yang sedang membersihkan ikan.


“Biarin, Bi. Biar Roland belajar masak. Bibi terusin aja pekerjaan Bibi,” kata Ibu Elly.


Akhirnya Roland mau mengupasi bawang. Namun belum lama berselang terdengar sayup-sayup tangisan Rafa.


“Seperti suara Rafa nangis,” kata Ibu Elly.


“Roland, udah tinggalin bawangnya. Kamu ke kamar Annisa, lihat barangkali Rafa sudah bangun,” perintah Ibu Elly.


“Siap,” Roland langsung bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan dapur.


“Hei….Roland!” panggil Ibu Elly.


Roland berhenti dan balik lagi ke dapur.


“Cuci dulu tangan kamu, kotor bekas pegang bawang,” jawab Ibu Elly.


Roland melihat tangannya dan mencium jari tangannya.


“Yakk! Bau bawang!” teriak Roland lalu ke wastafel mencuci tangannya dengan sabun.


“Kamu tuh, udah tau tangan kamu bekas ngupas bawang malah dicium,” kata Ibu Elly.


“Udah sana, lihatin Rafa. Takut ada apa-apa,” seru Ibu Elly.


Roland langsung ke lantai atas menuju ke kamar Annisa. Setelah beberapa menit Roland tidak turun ke bawah.


“Roland kok lama, ya?” tanya Ibu Elly dengan khawatir.


“Mungkin Rafa bobo lagi, Ua,” jawab Annisa sambil mengupas bawang yang tidak jadi dikupas Roland.


“Iya, ya? Udah biarkan saja. Yang penting Rafa tidak menangis,” kata Ibu Elly lalu melanjutkan pekerjaannya.


Akhirnya selesai sudah memasaknya. Semua makanan sudah tersedia di meja makan.


“Annisa coba kamu lihat ke atas. Kenapa Roland nggak turun-turun?” seru Ibu Elly.

__ADS_1


“Iya, Ua,” Annisa langsung naik ke lantai atas.


Terdengar suara Rafa tertawa dari kamar Annisa. Cepat-cepat Annisa membuka pintu kamarnya.


Telihat Rafa yang sedang duduk di atas perut Roland sambil tertawa terkekeh-kekeh. Annisa melihat sekeliling kamarnya yang berantakan.


“Aduh…..Om dan keponakan ngacak-ngacak kamar,” kata Annisa sambil memungut barang yang berserakan di lantai.


“Mamah, Rafa lagi main cama Om,” kata Rafa lalu melanjutkan lagi bercandanya dengan Roland.


“Rafa udah pipis, belum? Pipis dulu, yuk,” ajak Annisa.


“Rafa sudah pipis, Nis,” kata Roland dengan tenang.


“Sudah pipis? Kapan?” Annisa cemas jangan-jangan Rafa pipis dimana-mana.


“Tadi, Aa yang ngajak Rafa pipis,” jawab Roland.


“Sudah pakai pospak lagi, nggak?” tanya Annisa dengan cemas takut Rafa ngompol.


“Sudah pakai pospak lagi. Malah Aa ganti yang baru,” kata Roland.


“Rafa, coba sini Mamah lihat,” kata Annisa menyuruh Rafa menghampirinya.


Rafa mendekati Annisa. Lalu Annisa membuka celana Rafa dan memeriksa apakah pospak terpasang dengan baik.


“Nggak percaya sama Aa, ya?” Roland protes.


“Bukan nggak percaya, kalau pasangnya nggak bener nanti pipisnya kemana-mana,” kata Annisa lalu memakaikan lagi celana Rafa.


“Benerkan pasangnya? Siapa dulu dong, Roland,” kata Roland dengan bangga.


“Iya deh Aa Roland hebat,” puji Annisa.


“Nis, udah mateng belum masakannya?” tanya Roland.


“Sudah dari tadi Aa. Sudah siap di atas meja makan,” jawab Annisa.


“Asyik…makan, ah,” kata Roland sambil bangun dari tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamar Annisa.


Rafa yang mendengar Omnya mau makan jadi ikut-ikutan minta makan.


“Mamah, Rafa juga mau emam,” kata Rafa dengan manja.


“Iya, ayo kita makan,” jawab Annisa lalu menuntun Rafa keluar dari kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2