Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
75. When You Tell Me That You Love Me.


__ADS_3

Suara alarm dari ponsel membangunkan Annisa. Ia berusaha untuk menggapai ponselnya diatas nakas namun terasa sulit, ada tangan yang memeluk pinggangnya dengan erat. Annisa menoleh ke samping, suaminya sedang tidur dengan nyenyak sambil memeluk pinggangnya. Pelan-pelan Annisa berusaha menyingkirkan tangan suaminya dari pinggangnya, namun ternyata sulit. Semakin ia berusaha melepaskan diri semakin erat Toriq memeluknya. Namun harus mematikan alarm ponselnya  yang terus saja berbunyi. Karena sulit menyingkirkan tangan suaminya, mau tidak mau Annisa terus berusaha untuk menggapai ponselnya.


“Mau ngapain?” tanya Toriq.


Annisa menoleh ke samping suaminya masih memejamkan mata.


“Mau mematikan alarm,” jawab Annisa.


Toriq mulai mengendorkan pelukannya. Merasa Toriq mengedorkan pelukannya cepat-cepat Annisa mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan mematikan alarm di ponselnya. Setelah Annisa menaruh kembali ponselnya Toriq kembali mengeratkan pelukannya.


“Pah, lepasin. Mamah mau mandi sebentar lagi adzan subuh,” kata Annisa membangunkan suaminya.


Annisa teringat semalam setelah pulang dari makan malam mereka langsung sholat Isya berjamaah. Setelah selesai sholat isya suaminya langsung menuntaskan hasratnya yang tertunda tanda memberi jeda pada Annisa sedikitpun. Entah sampai jam berapa mereka melakukannya, untung sebelum sholat isya Annisa sempat menyalakan alarm di ponselnya jadi ia tidak bangun kesiangan.


Annisa terus mencoba membangunkan suaminya agar melepaskan pelukannya.


“Pah, bangun. Sebentar lagi adzan subuh,” kata Annisa sambil menepuk-nepuk pangkal lengan suaminya.


“Tapi mandinya berdua, ya,” kata Toriq dengan mata yang terpejam.


Annisa menghela nafasnya.


“Kalau mandi berdua, kapan sholat subuhnya?” tanya Annisa.


Ia tau kalau mandi berdua suaminya pasti akan melanjutkan kegiatan yang semalam.


“Mamah tau aja,” kata Toriq sambil mencium-cium istrinya.


“Pah, jangan cium-cium Mamah. Mamah bau belum mandi,” kata Annisa sambil kegelian karena suaminya terus terusan menciumnya.


“Nggak kok, Mamah wangi keringat dan liur Papah,” jawab Toriq sambil terus mengeplor tubuh istrinya dengan menggunakan hidung dan mulutnya.


“Sudah atuh, Pah. Nanti lagi dilanjutkannya. Sekarang kita mandi dan siap-siap untuk sholat,” Annisa berusaha berontak  agar suaminya menghentikan kegiatannya.


Mendengar ucapan istrinya Toriq langsung menghentikan kegiatannya dan memandang wajah istrinya.


“Benar, ya. Nanti dilanjutkan lagi?” tanya Toriq


Annisa menjawab dengan mengangguk.

__ADS_1


“Bebas terserah Papah mau berapa kali dan kapan saja, ya?” tanya Toriq.


Mendengar pertanyaan suaminya Annisa menghela nafas.


“Iya. Tapi kalau waktunya sholat harus berhenti,” jawab Annisa.


“Iya. Setelah sholat lanjutkan lagi,” kata Toriq dengan senyum menggodanya.


Annisa lagi-lagi menghela nafas. Terbayang oleh Annisa kalau sehari dia harus mandi lima kali. Tapi hendak apa dikata permintaan suami untuk dilayani tidak boleh ditolak, ia akan berdosa jika menolaknya.


“Iya Papah, Iya. Terserah Papah aja deh. Mamah pasrah aja,” jawab Annisa dengan pasrah.


“Jangan cuma pasrah aja, dong. Mamah juga harus menikmatinya,” ujar Toriq.


Bagaimana dia harus menikmati? Sehari dia harus mandi dengan berkeramas selama lima kali. Kebayang yang ada ia bakalan masuk Annisan dan kepalanya akan terasa berat. Tapi mau bagaimana lagi, demi menyenangkan hati suami, Annisa harus menjalaninya.


“Bagaimana Mamah mau menikmati, kalau harus sering mandi dan berkeramas. Yang ada Mamah bakalan sakit masuk angin dan kepala Mamah akan terasa berat,” kata Annisa yang membayangkan masalah yang akan dihadapinya.


“Kalau sering mandi karena melayani suami pasti nggak akan sakit,” kata Toriq.


“Terserah Papah aja deh. Sudah ah Mamah mau mandi,” kata Annisa sambil menyingkirkan tangan Toriq.


Annisa cuma bisa pasrah ketika Toriq menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


“Mah, daerah kewanitaan Mamah sakit nggak?” tanya Toriq usai sholat subuh.


“Masih sedikit sakit,” jawab Annisa.


“Coba Papah periksa,” kata Toriq sambil melipat sajadah dan sarungnya.


“Ha???” Annisa kaget mendengarnya.


“Papah mau ngapain?” tanya Annisa.


“Mau lihat saja, takutnya ada luka nanti jadi infeksi,”  jawab Toriq dengan santai.


“Nggak usah, nanti juga sembuh sendiri,” ujar Annisa sambil melipat mukenah dan sajadahnya.


“Cuma mau lihat aja,” kata Toriq.

__ADS_1


“Tapi jangan macam-macam, ya!!!” seru Annisa.


“Iya,” jawab Toriq.


Akhirnya Annisa mengikuti perkataan suaminya, membiarkan suaminya memeriksa daerah kewanitaannya.


“Sepertinya selapur darah Mamah tebal,” kata Toriq dengan serius memperhatikan daerah kewanitaan istrinya.


“Jadi darah masih banyak yang keluar, karena pembuluh darahnya lebih banyak,” kata Toriq lalu menyudahi pemeriksaannya.


“Memang selaput darah berbeda-beda, ya tingkat kekebalannya?” tanya Annisa.


“Iya. Ada yang elastis, ada juga tidak,” jawab Toriq.


“Mamah haid terakhir kapan?” tanya Toriq.


“Hari pertama haidnya atau hari terakhir haid?” tanya Annisa.


“Hari pertama haid,” jawab Toriq.


“Waktu kita lagi ke Jatiluhur,” jawab Annisa.


“Hmm berarti sekitar tiga minggu yang lalu, ya?” tanya Toriq sambil berfikir.


“Iya,” jawab Annisa.


“Ya sudah, sekarang Mamah istirahat saja. Biar cepat kering darahnya,” kata Toriq.


Ternyata Toriq tidak lagi mengganggunya. Ia hanya memeluk dan mencium istrinya. Sarapan pagipun Toriq minta diantar ke kamar. Bahkan ketika Ibu Elly dan Ibu Delima pamit pulang ke Jakarta hanya Toriq yang menemui mereka di lobby hotel. Annisa tidak diperbolehkan keluar dari kamar benar-benar harus istirahat.


Keesokan harinya mereka sudah waktunya untuk check out dari hotel dan pulang ke Jakarta karena lusa Toriq harus kembali bekerja. Tapi sebelumnya mereka mampir ke rumah Pak Ernawan untuk menjemput Rafa dan Mbok Sarmi. Setelah berpamitan dengan mertuanya Toriq membawa istri dan anaknya pulang ke rumah orang tua Toriq.


Sepanjang perjalanan Rafa tidak berhenti berceloteh. Batita itu gembira akhirnya bisa berkumpul lagi dengan Mamah dan Papahnya.


“Mah. Nggak apa-apa kan kalau untuk sementara ini kita tinggal di rumah Mamah dan Papa?’ tanya Toriq sambil menoleh ke istrinya dan kemudian kembali fokus lagi ke depan.


“Nggak apa-apa, Pah. Namanya juga kita baru menikah, jadi wajar kalau kita menumpang dulu di rumah orang tua,” jawab Annisa sambil mengusap punggung Rafa yang sedang asyik menikmati pemandangan di jalan tol.


“Terima kasih ya, Mah. Sudah mau mengerti keadaan Papah,” ucap Toriq.

__ADS_1


Memang mereka menikah terlalu cepat, sehingga mereka belum mempersiapkan apa-apa untuk tempat tinggal mereka. Toriq terlalu fokus untuk kuliah Annisa dan mengkhitbah Annisa, sehingga ia lupa memikirkan untuk tempat tinggal mereka.


__ADS_2