
Hari Sabtu pagi Toriq mengajak Annisa dan Rafa jalan-jalan
“Kita mau kemana,Pah?” tanya Annisa ketika mobil yang di kemudikan Toriq meninggalkan rumah Pak Syamsul.
“Nanti juga Mamah akan tau sendiri,” jawab Toriq sambil fokus mengemudikan mobil.
“Papah, kica mau lenang, ya Pah?” tanya Rafa.
“Bukan berenang, tapi kita mau jalan-jalan,” jawab Toriq.
“Jalan-jalan ka ana?” tanya Rafa.
“Ada aja, rahasia,” jawab Toriq sambil mendekatkan badannya ke Rafa namun matanya fokus ke jalan.
“Rahacia?” tanya Rafa sambil berpikir.
Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Toriq memasuki kawasan perumahan. Rafa memperhatikan rumah yang dilewatinya.
“Mamah, lumahnya badus-badus,” kata Rafa sambil menujuk ke rumah-rumah yang dilewati.
“Iya, sayang,” jawab Annisa.
“Papah, beli lumah tiga di cini,” kata Rafa.
“Banyak sekali. Untuk apa rumah sebanyak itu?” tanya Toriq.
“Catu buat Rafa, catu ajih buat Mamah dan catu ajih buat Papah,” kata Rafa sambil menghitung dengan jari-jarinya yang mungil.
“Pinter anak Papah,” kata Toriq sambil mengacak-acak rambut Rafa.
Sampailah mereka di sebuah rumah. Toriq memarkirkan mobilnya di depan rumah itu. Sebuah rumah yang berukuran sedang dan memiliki halaman tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.
“Kita mau ke rumah siapa?” tanya Annisa bingung.
“Turun, yuk,” kata Toriq tanpa menjawab pertanyaan Annisa.
Toriq turun dari mobil, namun Annisa dan Rafa masih diam di dalam mobil. Toriq membukakan pintu mobil dari luar.
“Turun, yuk,” ajak Toriq.
“Ini rumah siapa?” tanya Annisa bingung.
“Nanti juga Mamah tau. Ayo turun,” kata Toriq.
Toriq mengangkat Rafa dari pangkuan Annisa lalu Rafa di gendong oleh Toriq. Annisa pun keluar dari mobil. Toriq menutup pintu mobil lalu mengunci mobil dengan menggunakan remote.
Toriq berjalan menuju ke pintu pagar rumah tersebut.
“Rafa turun dulu. Papah mau buka gembok pintu dulu,” kata Toriq lalu menurunkan Rafa.
__ADS_1
Annisa bingung darimana suaminya mempunyai kunci gembok rumah itu.
“Papa...," belum selesai Annisa bicara Toriq sudah membuka gembok rumah itu.
Toriq membuka semua slot pintu pagar lalu membuka pintu pagarnya.
“Masuk, yuk,” ajak Toriq.
“Papah, ini rumah siapa?” tanya Annisa yang kebingungan.
Annisa jadi ragu untuk masuk. Namun Rafa langsung masuk ke halaman rumah itu.
“Ayo masuk,” Toriq merangkul pinggang Annisa dan membawanya masuk ke halaman rumah.
Kemudian Toriq menutup kembali pintu pagar rumah itu menslot pintunya.
“Papah…,” belum Annisa selesai bicara Toriq langsung menyela.
“Takut Rafa keluar ke jalan,” ujar Toriq.
Toriq merangkul pinggang Annisa dan membimbingnya ke teras. Toriq melepaskan rangkulannya dan membuka kunci pintu rumah itu. Rafa dan Toriq langsung masuk ke dalam rumah itu.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq ketika masuk rumah itu.
“Acalamualacom,” ucap Rafa mengikuti Toriq.
itu.
Annisa melihat dalam rumah itu dari depan pintu. Rumah itu bukan rumah kosong, namun lengkap ada kursi, meja dan lemari. Hanya semuanya ditutupi oleh kain.
“Ayo masuk, Mah,” kata Toriq.
Namun Annisa tetap saja diam di depan pintu. Toriq menghampiri Annisa lalu merangkul bahunya dan membawa Annisa masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Annisa ketika masuk ke dalam rumah.
Annisa melihat keadaan dalam rumah itu.
“Ini rumah milik mendiang orang tua Rafa,” kata Toriq.
“Dulu sewaktu orang tua Rafa meninggal, Papah sempat mengutarakan niat untuk membeli rumah ini kepada Mamah dan Tante Elly. Eh…. salah Ua Elly. Papah udah biasa manggil Tante Elly,” kata Toriq.
“Namun kata Mamah dan Ua Elly bilang kalau rumah ini adalah haknya Rafa. Mamah dan Ua Elly tidak berhak untuk menjualnya. Mereka hanya berkewajiban untuk menjaga harta milik Rafa hingga Rafa besar nanti,” lanjut Toriq.
Annisa hanya diam dan mendengarkan suaminya berbicara.
“Dan karena kita yang menjadi walinya Rafa, kita diperbolehkan menempati rumah ini hingga Rafa besar nanti. Jika Rafa sudah besar, ia berhak menentukan dijual atau tidak rumah ini. Sertitikat rumah ini disimpan di safe deposite box di sebuah bank,” kata Toriq lagi.
“Jadi selama kita menabung untuk membeli rumah, kita numpang tinggal di rumah Rafa.”
__ADS_1
“Tapi nggak enak sama Mamah dan Ua Elly. Nanti disangka kita mau menguasai harta milik Rafa ,” ujar Annisa.
“Justru Mamah dan Ua Elly yang menyuruh kita menempati rumah ini,” kata Toriq.
“Bagaimana, Mamah mau tidak pindah ke rumah ini?” tanya Toriq.
“Sebelumnya siapa yang menempati rumah ini? Kelihatannya rumahnya bersih terawat tidak di biarkan begitu saja,” tanya Annisa.
“Sebelumnya ditempati oleh Pak Maman dan keluarganya. Ketika kita berniat untuk menikah, Ua Elly menyuruh Pak Maman kembali ke rumahnya. Karena rumah ini akan kita tempati.”
“Papah aja baru tahu beberapa hari yang lalu, Ua Elly yang menelepon Papah,” kata Toriq.
Mereka keasyikan berbicara sehingga mereka tidak menyadari jika Rafa asyik memperhatikan rumah itu. Iya keluar masuk ke dalam ruangan di rumah itu.
Annisa baru sadar jika Rafa tidak berada di dekat mereka.
“Pah, Rafa mana?’ tanya Annisa dengan panik.
“Rafa,” panggil Annisa sambil mencari Rafa.
Kemudian Rafa keluar dari salah satu kamar.
“Rafa di cini,” jawab Rafa sambil brerlari menghampiri Toriq dan Annisa.
“Rafa lagi apa? Mamah cari-cari Rafa,” tanya Annisa.
“Mamah, lumahnya badus,” puji Rafa.
“Rafa suka nggak?” tanya Annisa.
“Suka,” jawab Rafa.
“Kalau Rafa suka nanti kita pindah ke sini. Karena rumah ini punya Rafa,” kata Annisa.
“Ini lumah Rafa?” tanya Rafa.
“Iya, ini rumah milik Rafa,” jawab Annisa.
“Hole Rafa punya lumah,” seru Rafa sambil loncat-loncat kegirangan.
“Jadi Mamah setuju kita pindah ke sini?” tanya Toriq.
“Rafa berhak untuk tinggal di sini. Dan kita sebagai walinya harus terus menemani dan mendampingi Rafa,” jawab Annisa.
“Kalau begitu minggu depan kita pindah ke sini,” kata Toriq.
“Nanti Papah suruh orang bersih-bersih rumah ini sebelum kita pindah.”
Annisa memperhatikan sekeliling rumah itu. Mulai minggu depan Annisa dan keluarga kecilnya akan memulai hidup baru di rumah itu. Rumah penuh kenangan ketika Rafa masih bayi.
__ADS_1