
Annisa sedang asyik berbicara dengan Arya, Sesekali Annisa tertawa mendengar omongan Arya. Mereka terlihat akrab seperti teman lama. Namun ketika mereka asyik berbincang tiba-tiba Rafa keluar menghampiri Annisa kemudian memeluk kaki Annisa dan kepalanya menengadah menatap Annisa.
“Mamah….Rafa mau cucu,” kata Rafa dengan manja.
“Susu? Susu Rafa dimana? Barang-barang Rafa belum dikeluarin dari mobil. Rafa bilang ke Om Toriq supaya barang-barang Rafa dikeluarkan dari mobil,” kata Annisa.
Kemudian Rafa kembali masuk ke dalam rumah.
“Siapa tuh, Nis?” tanya Arya pada Annisa.
“Keponakan. Anak kakak sepupuh,” jawab Annisa.
Tak lama kemudian Toriq keluar dari rumah sambil memegang kunci mobil. Toriq melewati Annisa dan Arya dengan muka yang tidak bersahabat. Toriq berjalan menuju mobil.
“Siapa tuh, Nis?” tanya Arya pada Annisa.
“Saudara,” jawab Annisa.
Annisa tau Toriq tidak suka Annisa berbicara akrab dengan Arya. Tak lama kemudian Toriq balik lagi ke rumah sambil membawa tas Rafa dan tas milik Toriq. Annisa memperhatikan barang yang dibawa Toriq.
Setelah Toriq masuk Annisa melanjutkan pembicaraannya dengan Arya. Namun Rafa kembali keluar menghampiri Annisa sambil membawa kotak susunya.
“Mamah bibimin Rafa cucu,” kata Rafa dengan manja.
“Minta dibikinin sama Ate Aisyah. Mamah lagi ada tamu,” kata Annisa.
“Ndak mau cama Ate Aicah. Maunya cama Mamah,” kata Rafa sambil merengek.
Melihat Rafa merengek Annisa langsung menggendong Rafa.
“Udah buatkan susunya dulu, nanti ngobrol lagi,” kata Arya melihat Rafa yang rewel.
“Maaf ya, A. Rafa kalau udah ngantuk memang rewel,” kata Annisa.
“Ya, nggak apa-apa,” jawab Arya sambil mengusap kepala Rafa.
“Aa pamit dulu. Assalamualaikum,” ucap Arya.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.
Kemudian Arya pergi meninggalkan rumah Annisa.
“Ayo kita bikin susu. Rafa sudah ngantuk, ya?” kata Annisa lalu mengambil kotak susu yang dipegang Rafa.
__ADS_1
Annisa masuk ke dalam rumah melewati Ibu Titien, Ibu Elly dan Ibu Delima yang sedang berbicang-bincang. Sedangkan Pak Syamsul dan Pak Supardi sedang berbicang-bincang di teras samping.
“Barusan siapa, Nis?” tanya Ua Elly ketika Annisa lewati ruang tamu.
“Aa Arya, tetangga sebelah rumah, Ua,” jawab Annisa pada Ibu Elly.
“Oh….,’ kata Ua Elly.
“Annisa permisi dulu mau bikin susu untuk Rafa,” kata Annisa lalu berjalan menuju dapur.
Ternyata benar saja Rafa sudah mengantuk. Setelah minum susu Rafa minta di gendong dan tertidur dipelukan Annisa. Annisa memindahkan Rafa ke kamar Annisa.
Ketika Annisa keluar dari kamarnya Toriq sudah berdiri di depan kamar Annisa.
“Bisa kita bicara berdua?” tanya Toriq yang menghadang jalan Annisa.
Annisa menghela nafas lalu menganggukan kepalanya.
“Kita bicara di luar jangan di sini,” kata Toriq.
Annisa menjawab dengan mengangguk.
Toriq menghampiri Aisyah yang sedang menonton tv.
“Aisyah, Abang titip Rafa, ya. Abang sama Teteh mau keluar dulu,” kata Toriq.
“Teteh sama Abang ada perlu sebentar,” jawab Toriq.
“Jangan lama-lama. Nanti Rafanya nangis,” kata Aisyah.
“Iya, sebentar aja,” kata Toriq,
Toriq dan Annisa berjalan melewati Ibu Elly, Ibu Titien dan Ibu Delima.
“Tante, Toriq mau keluar dulu dengan Annisa,” Toriq pamit kepada Ibu Titien.
“Mau kemana?” tanya Ibu Titien kaget.
“Ada perlu sebentar, Tante,” jawab Toriq.
“Annisa, nanti siapa yang masak?” tanya Ibu Titien pada Annisa sambil menunjuk ke dapur.
Annisa dan Toriq saling berpandangan.
__ADS_1
“Udah nggak usah masak. Kita order online saja,” kata Ibu Elly menengahi.
“Biar mereka menyelesaikan urusan mereka,” kata Ibu Elly lagi.
“Ya, sudah. Hati-hati di jalan, ya,” kata Ibu Titien.
Lalu Toriq dan Annisa mencium tangan Ibu Titien, Ibu Elly dan Ibu Delima.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq dan Annisa.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Titien, Ibu Elly dan Ibu Delima.
Toriq dan Annisa keluar dari rumah menuju ke mobil Toriq. Toriq membukakan pintu untuk Annisa. Annisa masuk ke dalam mobil, lalu Toriq menutup pintu mobil dan memutar masuk ke bagian kemudi. Kemudian mobil Toriq meluncur meninggalkan rumah Annisa.
Toriq menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tempat yang nyaman untuk berbicara.
“Abang sebenarnya kita mau kemana, sih?” tanya Annisa yang bingung kenapa Toriq mencari tempat untuk berbicara jauh sekali dari rumah.
“Cari tempat yang nyaman untuk berbicara,” jawab Toriq sambil fokus ke jalan.
“Apa kita check in aja ke hotel? Kan enak berbicara berdua di kamar hotel,” kata Toriq.
Annisa kaget Toriq berbicara seperti itu.
“Abang!!!!! Kok ngomongnya seperti itu? Annisa ngak suka!!!” Annisa menoleh dan marah kepada Toriq.
Toriq yang sedang menyetir kaget mendengar Annisa marah.
“Nggak, Nis. Jangan marah dong,” kata Toriq dengan wajah yang menyesal.
“Abang sering, ya check in ke hotel-hotel sama perempuan?” tanya Annisa dengan kesal.
“Nggak. Abang nggak pernah check in ke hotel dengan perempuan lain. Abang ngomong begitu juga cuma sama Annisa, nggak pernah ngomong begitu dengan perempuan lain. Abang pernah tidur sekamar dengan perempuan juga cuma sama Annisa waktu Rafa di rawat di rumah sakit,” jawab Toriq.
“Apa Abang anggap Annisa wanita murahan yang bisa di ajak check in?” Annisa melirik Toriq dengan kesal.
“Nggak Nis, Abang tidak pernah menganggap Annisa seperti itu,” jawab Toriq dengan menyesal.
“Bagi Abang, Annisa itu Mamahnya Rafa, bahkan Abang berharap Annisa menjadi Mamah adik-adiknya Rafa,” ucap Toriq.
Annisa diam mendengar ucapan Toriq.
.
__ADS_1
.
Cukup sekian untuk hari ini. Besok kita lanjutkan lagi.