Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
68. Acara Lamaran.


__ADS_3

Annisa deg-degan menunggu kedatangan Toriq. Sesekali ia memperhatikan riasan wajahnya di cermin.


“Masih cantik kok, belum luntur make up nya,” sahut Fitri melihat Annisa yang terus bulak balik bercermin.


Sekarang ini Annisa sedang ditemani oleh teman-temannya di dalam kamar menunggu ke datangan Toriq. Padahal baru pukul sembilan pagi, sedangkan Toriq janji akan datang pukul sepuluh.


Tiba-tiba Aisyah masuk ke dalam kamar Annisa.


“Teteh, Abang Toriq sudah datang,” sahut Annisa.


Semua teman-teman Annisa keluar dari kamar Annisa menuju ke ruang tamu. Mereka penasaran seperti apa calon suami Annisa.


Ibu Delima dan Pak Syamsul beserta keluarga yang lainnya turun dari mobil. Diantara semua rombongan yang turun dari mobil tidak terlihat Toriq sama sekali.


“Aisyah mana calon suami Annisa?” tanya Fitri yang penasaran.


“Mungkin Abang Toriq sedang memarkirkan mobilnya,” jawab Aisyah.


Pak Syamsul, Ibu Delima beserta keluarga lainnya di sambut oleh Pak Supardi dan Pak Ernawan. Sedangkan Ibu Titien dan Ibu Elly menunggu di ruang tamu. Dan Roland mendapat tugas sebagai seksi dokumentasi. Dari tadi teman-teman Annisa curi-curi pandang ke Roland. Mereka tidak percaya jika Annisa memiliki saudara setampan itu.


Setelah semua rombongan keluarga Toriq duduk barulah Toriq datang masuk ke dalam halaman rumah Annisa. Toriq terlihat tampan menggunakan kemeja batik lengan panjang dan rambutnya sepertinya baru saja dicukur dengan rapih. Toriq tersenyum pada semua orang yang menyapanya. Sampai ia masuk ke dalam rumah Annisa.


“Assalamualaikum,” Toriq mengucapkan salam kepada semua orang yang berada di ruang tamu.


“Waalaikumsalam,” semua orang membalas salam Toriq.


“Papah,” kata Rafa lalu memeluk kaki Toriq.


Toriq tersenyum pada Rafa lalu menngusap-usap rambut Rafa. Lalu Toriq menuntun tangan Rafa dan duduk di sebelah Ibu Delima dan Pak Syamsul.


“Berhubung Nak Toriq sudah datang kita mulai saja acaranya,” kata Pak Yayat kakak dari Pak Ernawan.


Sementara acara lamaran di mulai, sedangkan di kamar Annisa teman-teman Annisa sibuk memuji calon suami Annisa.


“Masya Allah Annisa, calon suami kamu ganteng banget,” puji Tati.


“Ketemu dimana Annisa?” tanya Fatim.


“Abang Toriq kakaknya almarhumah Mamahnya Rafa,” jawab Annisa.


“Jadi Uanya Rafa dong,” ujar Ela.


“Iya,” jawab Annisa.


“Wah beruntung sekali Rafa. Ua dan pamannya ganteng-ganteng. Pantesan saja Rafa kecil-kecil wajahnya ganteng dan lucu,” ujar Fitri.


Tiba-tiba Roland membuka kamar Annisa.


“Annisa di suruh keluar. Abang mau melihat wajah Annisa. Kangen katanya,” sahut Roland.


Annisa langsung keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu di temani oleh teman-temannya.

__ADS_1


“Ini dia Annisa,” kata Pak Yayat memperkenalkan Annisa kepada para tamu.


“Sini Annisa duduk di sebelah Bapak dan Mamah,” panggil Pak Yayat.


Annisa menghampiri kedua orang tuanya. Semua mata menatap Annisa. Begitu juga dengan Toriq, matanya tak lepas menatap pujaan hatinya.


Ketika Annisa mengangkat wajahnya yang terlihat adalah wajah Toriq yang sedang tersenyum kepadanya.


“Annisa, Nak Toriq beserta keluarganya datang jauh dari Jakarta ke Padalarang karena ingin melamar Annisa. Sekarang bagaimana jawaban Annisa diterima atau tidak lamaran Nak Toriq?” tanya Pak Yayat.


Semua mata menatap Annisa menunggu jawaban dari Annisa.


“Iya, Ua,” jawab Annisa.


“Alhamdullilah,” ucap semua orang.


Toriq merasa lega mendengar jawaban Annisa.


Setelah itu Ibu Delima memasangkan cicin di jari manis Annisa, kemudian Annisa langsung mencium tangan Ibu Delima.


Annisa diam-diam memperhatikan cincin pemberian Toriq. Lagi-lagi kekasihnya mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk cincin lamaran ini. Annisa menghela nafasnya.


Setelah pemasangan cincin para tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan. Ibu Delima mendekati Annisa.


“Gimana sekarang Annisa sudah sembuh?” tanya Ibu Delima.


“Alhamdullilah Tante, sekarang Annisa sehat,” jawab Annisa.


“Iya dong, Mah. Toriq kerjanya mengobati orang sakit. Tapi calon istri sendiri sakit masa nggak Toriq obati,” sahut Toriq yang tiba-tiba sudah duduk di samping Annisa sambil memangku Rafa.


“Eh… Rafa belum salam sama Nenek,” tegur Ibu Delima.


Rafa langsung mencium tangan Ibu Delima.


Ibu Elly dan Ibu Titien ikut bergabung dengan mereka.


“Bagaimana dengan persiapan nikahnya? Sudah beres semuanya?” tanya Ibu Elly.


“Gedung sudah dapat, event organizir sudah dapat. Segala sesuatunya biar mereka yang menangani,” jawab Toriq.


“Wah….Toriq kamu bergerak cepat,” puji Ibu Elly.


“Dia sudah nggak sabar pengen cepat-cepat menikahi Annisa. Katanya takut Annisa direbut orang,” kata Ibu Delima.


“Siapa yang mau merebut Annisa, Nak Toriq?” tanya Ibu Titien.


“Itu tetangga sebelah,” jawab Toriq.


“Oh…Arya makksud Nak Toriq?”


“Nak Toriq tenang saja. Toh biarpun rumah Arya di sebelah, tapi Annisa lebih memilih Nak Toriq yang rumahnya jauh di Jakarta,” kata Ibu Titien.

__ADS_1


Toriq membenarkan perkataan Ibu Titien. Walaupun Arya dekat tapi Annisa tidak menjalin hubungan dengan Arya. Annisa lebih memilih kuliah di Jakarta sehingga bertemu dengannya.


“Tuh dengerin. Abang mah tidak percaya dengan omongan Annisa. Sampai nyuruh Rafa ngejagain Annisa” ujar Annisa.


“Abang kan takut kalau Arya ngedeketin kamu terus,” jawab Toriq.


Annisa hanya menghela nafas.


 “Tante, nanti malam Toriq boleh menginap di sini lagi?” tanya Toriq kepada Ibu Titien.


“Boleh Nak Toriq,” jawab Ibu Titien.


“Maaf, ya Bu Titien, Toriq jadi sering menginap di sini. Kata Toriq kalau menginap di hotel tidak puas menatap wajah Annisa,” kata Ibu Delima.


“Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula Nak Toriq tidurnya di kamar Umar,” jawab Ibu Titien.


“Kalau kamu mau menginap di sini, nanti malam kita rapat persiapan pernikahan kalian,” kata ibu Elly.


“Siap Tante,” jawab Toriq.


“Ibu Delima, Ceu Elly ngobrolnya sambil makan,” ajak Ibu Titien.


“Ayo Rafa, makan sama Enin,” ajak Ibu Elly.


Rafa turun dari pangkuan Toriq lalu ikut dengan Ibu Elly yang keluar bersama dengan ibu Titien dan Ibu Delima yang menuju ke meja prasmanan yang berada di halaman rumah.


Tinggal Annisa berdua dengan Toriq.


“Kamu cantik sekali,” puji Toriq.


“Terima kasih,” ucap Annisa.


“Abang terima kasih cincinnya cantik sekali. Pasti mahal harganya,” ucap Annisa sambil memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


“Kamu suka modelnya? Bukan Abang yang beli. Mamah yang beli,” kata Toriq.


“Annisa suka modelnya,” jawab Annisa.


“Abang tidak makan?” tanya Annisa.


“Nanti saja,” jawab Toriq.


“Atau mau Annisa ambilkan makanannya?” tanya Annisa lagi.


“Eh….jangan. Lebih baik Annisa temani Abang makan,” jawab Toriq.


“Ayo Annisa temani,” kata Annisa lalu beranjak dari tempat duduknya.


Toriq langsung berdiri dan mengikuti Annisa menuju ke halaman depan rumah Annisa.


Setelah selesai menikmati hidangan para tamu kembali berkumpul di ruang tamu untuk mengumumkan tanggal pernikahan yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.

__ADS_1


Kemudian Pak Syamsul dan Ibu Delima beserta rombongan pamit pulang. Hanya Toriq yang tidak ikut pulang.


__ADS_2