
Setelah selesai berbelanja Annisa tidak langsung pulang. Annisa mampir dulu ke penjual serabi. Beruntung tukang serabi masih kosong belum ada yang mengantri.
“Abang serabinya isi apa?” tanya Annisa kepada Toriq.
Toriq memperhatikan penjual surabi yang sedang memasak serabinya di atas kayu bakar.
“Ada isi apa saja?” tanya Toriq kepada Annisa.
“Ada oncom, telor, gula merah, meses dan serabi polos,” jawab Annisa.
“Isi oncom dan gula merah,” jawab Toriq.
“Yang isi oncom pake telor dan cabe rawit, nggak?” tanya Annisa lagi.
“Boleh deh,” jawab Toriq.
Kemudian Annisa memesan serabi. Karena di rumahnya sedang banyak orang Annisa memesan dalam jumlah yang banyak.
Setelah serabi pesanannya selesai Annisa dan Toriq kembali ke rumah Annisa.
Kedatangan Annisa dan Toriq disambut oleh Rafa.
“Mamah, Rafa dong ndak nanis,” kata Rafa.
“Aduh pinter anak Mamah nggak nangis,” puji Annisa.
“Tadi Rafa pipis cama Ate Aicah,” kata Rafa.
“Udah pakai pospak lagi, belum?” tanya Annisa.
“Udah,” jawab Rafa.
“Mama mau naruh belanjaannya ke dapur,” kata Annisa lalu masuk ke dalam rumah.
“Lama sekali ke pasarnya, Nis,” tegur Ibu Titien.
“Tadi beli serabi dulu, Mah,” jawab Annisa sambil mencuci tangannya.
“Sana sarapan dulu, ajak Nak Toriq sarapan,” kata Ibu Titien.
Annisa menaruh serabi di atas piring lalu membawanya ke meja makan. Annisa menghampiri Toriq yang sedang fokus dengan ponselnya.
“Abang, ayo kita sarapan dulu. Yang lain sudah pada sarapan,” ajak Annisa.
Toriq mengikuti Annisa menuju ke meja makan. Toriq duduk di sebelah Annisa. Annisa mengambilkan Toriq nasi goreng dan telor ceplok. Toriq langsung memakan nasi goreng yang diberikan Annisa. Toriq mengunyah nasi goreng buatan Annisa sambil berpikir.
“Kenapa? Nggak enak, ya?” tanya Annisa melihat Toriq yang tidak langsung menelan nasi gorengnya.
“Enak, kok. Masakan Annisa selalu enak. Abang jadi tidak salah pilih calon istri,” jawan Annisa.
“Mulai deh ngegombalnya,” kata Annisa.
“Abang sedang tidak ngegombal, tapi memang kenyataannya begitu,” kata Toriq lalu melanjutkan makannya.
Roland menghampiri Annisa dan Toriq. Lalu mengambil satu potong serabi dan memakannya.
“Annisa bikinkan Aa kopi,” kata Roland sambil mengunyah serabi.
“Annisa sedang makan, Roland. Sana minta dibikinkan kopi sama Aisyah,” kata Toriq.
“Abang posesive banget sama Annisa. Sampai disuruh bikin kopi aja nggak boleh,” ujar Roland.
__ADS_1
“Bukannya posesive, orang lagi makan jangan diganggu. Kalau mau dibikinkan kopi sama Annisa nanti kalau Annisa sudah selesai makan,” kata Toriq.
Kebetulan Aisyah lewat meja makan, Roland langsung memanggil Aisyah.
“Aisyah sini,” panggil Roland.
Aisyah menghampiri Roland.
“Ada apa, A?” tanya Aisyah.
“Tolong buatkan Aa kopi,” kata Roland.
“Kopi apa? Kopi hitam atau kopi susu?” tanya Aisyah.
“Kopi susu,” jawab Roland.
“Baik, A,” Aisyah langsung ke dapur untuk membuat kopi.
Tak lama kemudian Aisyah datang dengan secangkir kopi.
“Terima kasih, Aisyah,” ucap Roland.
Aisyah pun kembali menuju dapur. Umar dan Rafa menghampiri Annisa.
“Teteh, Umar mau serabi,” kata Umar ke Annisa.
“Ya boleh, ambil saja,” jawab Annisa.
Umar mengambil serabi meses. Rafa melihat Umar memngambil serabi, jadi ikutan minta serabi.
“Mamah, Rafa mau celabi sepelti Om Umal,” kata Rafa.
Annisa menaruh serabi meses di atas piring lalu membawanya ke ruang tv. Rafa mengikuti Annisa dari belakang.
Rafa lalu duduk dan memakan serabi yang diberikan Annisa.
Pak Ernawan masuk ke dalam rumah sambil membawa koran lalu menghampiri Annisa yang sedang sarapan.
“Annisa, tolong buatkan Bapak kopi,” kata Pak Ernawan pada Annisa.
“Ya, Pak,” Annisa langsung berdiri.
“Eh…. kamu mau kemana?” tanya Pak Ernawan melihat Annisa yang langsung berdiri ketika disuruh membuat kopi.
“Mau buatkan Bapak kopi,” jawab Annisa.
“Nanti saja buat kopinya. Habiskan dulu makannya,” kata Pak Ernawan.
Annisa kembali duduk dan melanjutkan makannya.
Rafa menghampiri Annisa sambil membawa piringnya.
“Ajih,” kata Rafa.
Annisa memberikan Rafa serabi isi mesis. Batita itu kembali ke ruang tv sambil membawa piring.
Setelah Annisa selesai makan, Annisa membuatkan kopi untuk Pak Ernawan.
“Abang mau kopi?” tanya Annisa pada Toriq.
“Mau. Kopi hitam, ya,” jawab Toriq.
__ADS_1
“Ya,” jawab Annisa.
Lalu Annisa ke dapur untuk membuat kopi untuk Pak Ernawan dan Toriq. Tak lama kemudian Annisa kembali dengan membawa dua cangkir kopi.
******
Pukul dua siang Toriq pamit untuk pulang ke Jakarta. Namun sebelum pulang Toriq memberikan sejumlah uang kepada Annisa untuk keperluan Annisa dan Rafa selama di Padalarang. Annisa memandangi uang pemberian Toriq.
“Bang, ini kebanyakan,” kata Annisa.
“Nggak apa-apa. Itu uang untuk beli pospak Rafa, susu Rafa, untuk makan dan untuk kamu jajan,” jawab Toriq.
“Tapi ini namanya pemborosan, Bang. Nanti uang gaji Abang habis,” kata Annisa.
“Tidak, Annisa. Gaji Abang cukup untuk membiayai hidup kita bertiga, bayar kuliah kamu dan juga menggaji Mbok Sarmi,” jawab Toriq.
Annisa menghela nafas.
“Kalau begitu Annisa tidak akan memakainya secara berlebihan,” kata Annisa.
“Abang percaya Annisa bisa mengaturnya dengan baik,” ucap Toriq.
“Ayo temani Abang pamit pada Bapak dan Mamah Annisa,” ujar Toriq.
Annisa menghampiri kamar orang tuanya kemudian mengetuk pintunya. Pak Ernawan membuka pintu kamarnya.
“Ada apa Annisa?” tanya Pak Ernawan.
“Abang Toriq mau pamit pulang kepada Bapak dan Mamah,” jawab Annisa.
“Ma….ini Nak Toriq pamit mau pulang ke Jakarta,” panggil Pak Ernawan kepada Ibu Titien.
Ibu Titien keluar dari kamar mengikuti Pak Ernawan yang menghampiri Toriq di ruang tamu.
“Om, Toriq pamit pulang,” kata Toriq lalu mencium tangan Pak Ernawan.
“Hati-hati di jalan,” kata Pak Ernawan.
“Ya, Om.”
“Toriq pamit pulang, Tante,” kata Toriq lalu mencium tangan Ibu Titien.
“Hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut nyetirnya,” kata Ibu Titien.
“Iya, Tante.”
“Land, Abang titip Rafa dan Annisa,” kata Toriq kepada Roland.
“Ya, Bang,” jawab Roland.
Lalu Toriq menghampiri Annisa.
“Abang pulang, ya. Jaga diri baik-baik,” kata Toriq kepada Annisa.
“Iya, Bang,” jawab Annisa sambil menahan rasa sedihnya.
“Rafa, jaga Mamah, ya,” kata Toriq kepada Rafa sambil mengusap-usap kepala Rafa.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.
__ADS_1
Toriqpun masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Pak Ernawan.
Annisa masih berdiri di pinngir jalan memandangi mobil Toriq menunggu sampai mobil Toriq tidak terlihat lagi.