Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
40. Makan Siang.


__ADS_3

Setelah mengantarkan kopi untuk Roland, Annisa kembali ke ruang keluarga.


“Sini Annisa, duduk dekat Tante. Ada yang mau Tante bicarakan,” kata Ibu Delima sambil menepuk-nepuk sofa.


Annisa menurut duduk di antara Ibu Elly dan Ibu Delima.


“Annisa kan sudah mengenal Toriq?” tanya Ibu Delima.


“Iya, Tante,” jawab Annisa.


“Bagaimana pendapat Annisa tentang Toriq?” tanya Ibu Delima.


“Bang Toriq orangnya baik dan sayang serta perhatian pada Rafa,” jawab Annisa.


Ibu Elly hanya diam dan memperhatikan percakapan antara Ibu Delima dengan Annisa. Ia tahu kalau besannya sudah memiliki keinginan pasti akan terus berusaha sampai keinginannya tercapai.


“Bagaimana jika Annisa menikah dengan Toriq? Tante lihat kalian berdua sudah dekat,” kata Ibu Delima.


“Menikah dengan Bang Toriq?” tanya Annisa.


“Iya, menjadi istri Toriq dan otomatis menjadi Mamahnya Rafa,” jawab Ibu Delima.


Annisa menoleh ke Ibu Elly lalu kembali lagi ke Ibu Delima.


“Apakah untuk menjadi Mamahnya Rafa harus menikah dengan Bang Toriq?” tanya Annisa.


“Iya. Kalau Annisa menikah dengan orang lain berarti Annisa harus berpisah dengan Rafa. Kasihan Rafa jika harus berpiasah dengan Annisa,” jawab Ibu Delima.


“Tapi Annisa belum ingin menikah, Tante. Annisa masih ingin sekolah,” kata Annisa.


“Setelah menikah Annisa masih bisa kuliah. Bahkan secara finansial Toriq sanggup membiayai kuliah Annisa,” jawab Ibu Delima.


“Toriq memang berkeninginan untuk membiayai kuliah Annisa dan memenuhi semua kebutuhan Annisa,” sela Ibu Elly.


Ibu Delima kaget dan menoleh ke arah Ibu Elly.


“Toriq bilang begitu? Kapan? Kok saya tidak tahu,” tanya Ibu Delima.


“Dia bilang ke Annisa sewaktu di rumah sakit. Lalu mengatakan kepada saya sewaktu mengantar Annisa dan Rafa pulang dari rumah sakit. Tapi saya dan Annisa sudah menolaknya. Toriq tetap memaksa dengan alasan sebagai tanda terima kasih karena sudah mau menjadi Mamahnya Rafa,” jawab Ibu Elly.


“Anak itu, kenapa tidak bilang dulu ke saya? Saya kan jadi tidak tau perkembangan hubungannya dengan Annisa,” kata Ibu Delima dengan kesal.

__ADS_1


“Mereka tidak ada hubungan apa-apa, Nek,” ujar Ibu Elly.


“Tapi dengan memaksa untuk memenuhi kebutuhan Annisa dan membiayai kuliah Annisa itu menandakan Toriq serius dengan Annisa,” seru Ibu Delima.


“Makanya Annisa dan saya menolaknya, karena Annisa belum mau menikah. Annisa ingin fokus kuliah dulu,” kata Ibu Elly.


“Begini aja, Tante kasih Annisa waktu untuk berpikir,” kata Ibu Delima.


Ibu Elly menghela nafas.


Anak sama Ibu sama-sama keras kepala, tidak mau mengerti dengan perasaan orang lain, kata Ibu Elly di dalam hati.


“Non, makan siangnya sudah siap,” kata seorang ART tiba-tiba.


“Iya, terima kasih, Mbak,” jawab Annisa.


“Ayo Tante kita makan dulu,” ajak Annisa.


“Nien, saya jadi ngerepoti,” kata Ibu Delima kepada Ibu Elly.


“Nggak ngerepotin kok, Nek. Hanya hidangan ala kadarnya. Ayo kita makan dulu,” Ibu Elly mengajak Ibu Delima ke ruang makan.


“Rafa, ayo kita makan dulu,” Annisa mematikan tv.


“Eh....makannya di meja makan sama Enin dan Nenek,” jawab Annisa.


“Engngng….,” Rafa merengek.


“Nanti kalau sudah makan nonton lagi,” kata Annisa.


Akhirnya sambil cemberut Rafa mengikuti Annisa. Rafa duduk di sebelah Annisa.


“Rafa kenapa mukanya cemberut?” tanya Ibu Elly.


“Ngambek tv nya Annisa matikan. Dia mau makan sambil nonton. Tapi Annisa larang, makannya harus bareng sama Nenek dan Enin,” jawab Annisa.


“Bener kata Mamah, masa Nenek datang tapi Rafa tidak mau nemenin Nenek,” sahut Ibu Delima.


“Nanti pilemnya kebuyu udahan,” seru Rafa sambil merengek.


“Kan masih bisa nonton yang lain. Sekarang Rafa baca doa dulu sebelum makan,” kata Annisa dengan lemah lembut.

__ADS_1


Dengan muka ditekuk Rafa membaca doa sebelum makan dengan terbata-bata.


“A..,” Rafa membuka mulutnya minta disuapi makanan.


Annisa menyuapi Rafa dengan hati-hati dan telaten.


Ibu Delima memperhatikan Annisa yang memperlakukan Rafa dengan baik seperti memperlakukan anaknya sendiri.


Tidak salah lagi dia memang cocok menjadi istri Toriq, bisik Ibu Delima di dalam hati.


Ibu Delima menyantap makanan yang disediakan oleh Ibu Elly. Secara kasat mata tidak ada yang istimewa dengan makanan itu. Hanya makanan rumahan, bahkan dapat dikategorikan makanan yang terlalu sederhana. Tapi rasanya lumayan enak.


“Makanannya enak, Nin. Siapa yang masak?” tanya Ibu Delima sambil menyicipi makanan satu persatu.


“Annisa yang masak,” jawab Ibu Elly.


“Wah Annisa pinter masak juga, ya,” puji Ibu Delima.


“Annisa hanya bisa masak makanan kampung saja, Tante. Kalau makanan yang modern Annisa tidak bisa,” kata Annisa.


“Tapi ini makanan sehat semua, gizinya lengkap,” sahut Ibu Delima.


“Annisa memang begitu, Nek. Dia selalu mengatur menu yang bergizi,” ujar Ibu Elly.


“Bahkan makanan Rafa, Annisa yang menentukan. Annisa selalu mengganti menunya setiap hari agar Rafa tidak bosan, namun gizinya tetap seimbang,” lanjut Ibu Elly.


“Annisa kamu memang pantas menjadi istri dokter. Walaupun kamu masih muda tapi sudah tau menu sehat untuk keluarga,” puji Ibu Delima.


“Annisa hanya mengikuti menu yang bisa Mamah masak di rumah,” kata Annisa.


“Keuangan kami pas-pasan, jadi Mamah berusaha bagaimana caranya uang belanja yang sedikit tapi gizi kami mash bisa tetap terpenuhi,” kata Annisa lagi.


“Kapan-kapan Tante mau bertemu dengan Mamah kamu,” kata Ibu Delima.


“Untuk apa Tante?” tanya Annisa dengan curiga.


.


.


Nanti siang di terusin lagi. Sekarang Deche mau masak dulu.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, hadiah dan komentarnya untuk Ibu Untuk Keponakanku.


__ADS_2