
Seorang laki-laki lanjut usia masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap laki-laki itu.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Elly dan Annisa.
“Kakek,” teriak Rafa menghampiri laki-laki itu lalu mencium tangan kakeknya.
Laki-laki lanjut usia itu adalah Pak Syamsul, Kakeknya Rafa.
“Eh….Eninnya Rafa sudah datang,” kata Pak Syamsul ketika melihat Ibu Elly.
“Baru pulang, Kek?” tanya Ibu Elly sambil menyalami besannya.
“Iya, Nin. Baru pulang mengajar,” jawab Pak Syamsul.
“Kakek-kakek,” panggil Rafa sambil menepuk-nepuk kaki Kakeknya.
“Apa, Rafa?” tanya Pak Syamsul.
“Ada Mamah,” jawab Rafa.
Pak Syamsul mengerut kening.
“Ada siapa?” tanya Pak Syamsul sekali lagi.
“Ada Mamah,” jawab Rafa.
“Mamah? Mana Mamahnya?” tanya Pak Syamsul bingung.
“Ini Mamah,” Rafa menunjuk ke Annisa.
Annisa menjadi kikuk sewaktu Rafa menunjuk ke arahnya.
“Ini siapa, Nin?” tanya Pak Syamsul ke Ibu Elly.
“Ini kemenakan saya, baru datang dari Padalarang,” jawab Ibu Elly.
Annisa menyalami tangan Pak Syamsul.
“Oh….ada Tante,” kata Pak Syamsul.
“Bukan Tante, tapi Mamah,” ralat Rafa.
Pak Syamsul jadi bingung.
“Rafa maunya panggil Mamah,” Ibu Elly mencoba menerangkan.
“Oh…..iya, nggak apa-apa,” kata Pak Syamsul.
“Saya masuk dulu, Nin,” Pak Syamsul pamit.
“Oh…silahkan, Kek,” kata Ibu Elly.
Kemudian Pak Syamsul masuk ke dalam rumah.
“Ua, Annisa jadi nggak enak dengan keluarganya Teh Meisya,” kata Annisa.
Ibu Elly menoleh ke Annisa.
“Nggak enak kenapa?” tanya Ibu Elly.
“Rafa bilang ke semua orang kalau Annisa ini Mamahnya Rafa,” cicit Annisa sambil menunduk.
Ibu Elly tersenyum.
“Nggak apa-apa, Nisa. Namanya juga anak kecil, dia belum mengerti,” jawab Ibu Elly.
“Tapi Annisa nggak enak aja, seolah-olah Annisa yang mau dipanggil Mamah,” kata Annisa.
“Mereka juga mengerti kok, Nis. Sudah jangan terlalu Annisa pikirkan,” Ibu Elly menggemgam tangan Annisa.
Tak lama kemudian para tamu datang. Mereka adalah anak-anak dari lingkungan sekitar rumah Rafa, anak-anak sepupu Meisya dan anak-anak rekan sejawat Toriq.
Rafa telihat senang banyak teman yang datang. Namun tetap saja Rafa selalu minta di temani oleh Annisa. Apa-apa sama Mamah.
Sekarang waktunya tiup lilin. MC menyuruh Rafa untuk ke depan.
__ADS_1
“Tiup lilinnya sama Mamah,” kata Rafa sambil menarik-narik Annisa.
“Tiup lilinnya nggak sama Papah juga?” tanya MC.
Annisa kaget sewaktu MC menanyakan itu ke Rafa. Dia bingung mau bilang apa ke MC.
“Papah?” tanya Rafa sambil mengedarkann pandangannya mencari seseorang.
“Mana Papah Rafa? Ke sini Papah Rafa, Rafa mau tiup lilin,” panggil MC
“Papa Rafa.”
“Mana Papah Rafa? Maju ke depan. Rafa mau tiup lilin,” panggil MC sekali lagi.
“Mamah Rafa mana Papahnya Rafa?” tanya MC
Annisa bingung siapa yang dimaksud dengan Papah Rafa. Dia bener-bener nggak bisa ngomong apa-apa.
“Papah Rafa, kemana Papah Rafa?” panggil MC untuk ke sekian kali.
“Ya, ini Papah Rafa,” jawab seseorang menghampiri Annisa dan Rafa.
Annisa melihat seseorang yang berdiri di sampingnya ternyata orang itu adalah Toriq.
“Ini dia Papah Rafanya sudah datang,”
“Ayo Pah, kita menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Rafa,” kata MC.
Selamat ulang tahun
Kami ucapkan
Selamat panjang umur
Kita kan doakan
Selamat sejahtera
Sehat sentosa
Selamat panjang umur dan bahagia.
Tiup lilinya
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya sekarang juga
Sekarang juga
Sekarang juga.
“Tiup lilinya Rafa,” kata MC.
Rafa meniup lilinya sampai padam.
“Sekarang Mamah dan Papah Rafa mencium pipi Rafa,” kata MC
“Berbarengan ya! Cium pipinya.”
“Bagian dokumentasi siap, ya! Tolong diabadikan ketika Mamah Papah mencium Rafa,” perintah MC.
Dengan kikuk dan kaku Annisa dan Toriq mencium Rafa.
“Kok kaku gitu sih ciumnya? Kan sudah ada Rafa, masa masih kaku aja ciumnya?” MC protes.
Semua orang tertawa mendengar perkataan MC. Mereka tau Annisa dan Toriq bukanlah Mamah dan Papahnya Rafa. Hanya MC saja yang tidak tahu.
“Ulang lagi ya, Mah Pah. Cium Rafanya dengan penuh kasih sayang,” kata MC.
Ketika MC memberi aba-aba, tiba-tiba seseorang menyeletuk,
“Annisa, yang dicium Rafa bukan Papahnya,” celetuk Roland.
Sontak Annisa kaget, dilihatnya Roland sedang senyum-senyum melihat ke Annisa.
“Aa….,” seru Annisa sambil melotot.
__ADS_1
Entah dari kapan kakak sepupunya itu datang. Tiba-tiba menggodanya.
“Mas…tolong jangan diganggu dulu adiknya. Kita mau membuat dokumentasi,” tegur MC pada Roland.
“Iya,” jawab Roland sambil senyum-senyum menggoda Annisa.
“Oke Mah Pah sekali lagi ya cium Rafa,” kata MC.
Kemudian Annisa dan Toriq bersama-sama mencium Rafa. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Annisa menunduk malu.
“Oke, selesai,” kata seksi dokumentasi.
“Sekarang waktunya potong, kue. Rafa potong kue dibantu sama Mamahnya,” kata MC.
“Bagian dokumentasi foto Rafa dan Mamahnya potong kue,” kata MC.
Ibu Elly dan Ibu Delima terharu melihat Rafa bisa merayakan ulang tahunnya seperti anak-anak yang lain yaitu di damping Mamah dan Papahnya.
Ibu Elly dan Ibu Delima menghapus air mata yang mengalir di pipi mereka.
“Saya jadi terharu melihat Rafa bisa merayakan ulang tahunnya walau hanya di damping Om dan Tantenya. Tapi paling tidak Rafa bisa merasakan seperti anak-anak lain rasakan,” kata Ibu Delima.
“Saya juga terharu, Nek. Semoga Rafa bisa merasakan kebahagiaan seperti anak-anak seumurannya,” ucap Ibu Elly.
“Aamiin ya robi alamin,” ucap Ibu Delima sambil mengusap mukanya dengan kedua tangannya.
Setelah potong kue dan di bagikan ke teman-teman Rafa, para tamu dipersilahkan untuk menyicipi hidangan yang tersedia.
Toriq menghampiri Reno yang sedang duduk sendiri dan memberikan sepotong kue ulang tahun kepada Reno.
“Tadi siapa?” tanya Reno sambil memakan kue ulang tahun.
“Siapa yang mana?” tanya Toriq dengan tidak mengerti.
“Itu yang jadi Mamahnya Rafa,” kata Reno.
“Oh….itu. Dia Annisa adik sespupu Bang Rilandi,” jawab Toriq.
“Tapi kelihatannya dekat, ya dengan Rafa,” kata Reno.
“Rafa memanggilnya Mamah,” kata Toriq.
Reno menoleh ke Toriq sambil mengerut keningnya.
“Kok bisa?” tanya Reno.
“Entahlah, mungkin karena wajah Annisa agak mirip dengan Bang Rilandi sehingga Rafa mengira Annisa Mamahnya,” jawab Toriq.
“Dan wajah loe mirip Meisya sehingga Rafa mengira elo Papahnya?” tanya Reno.
“Nggaklah, Rafa tetap memanggil gue Om,” kata Toriq.
“Kenapa tidak elo halalin saja Annisa? Biar dia bisa menjadi Mamahnya Rafa,” Reno memberikan ide.
“Gile loe! Annisa itu masih kecil. Baru lulus SMA,” seru Toriq.
“Nggak apa-apa, asal jangan elo bikin dia hamil dulu,” kata Reno.
“Nggak ah. Gue masih penasaran sama adik loe,” jawab Toriq.
“Udah elo lupain aja adik gue, dia sudah ada yang punya. Udah tidak bisa pindah kelain hati,” nasehat Reno.
“Adik loe kan belum lihat gue. Dia pasti mau sama gue,” kata Toriq dengan yakin.
“Belum tentu,” Reno menyangkal.
“Emangnya apa sih hebatnya tuh orang? Diakan cuma staf biasa,” tanya Toriq penasaran.
“Menurut elo, dia nggak ada apa-apanya. Tapi menurut almarhum Rangga, dia itu orang yang bisa dipercaya untuk melindungi dan mendampingi adik gue,” jawab Reno.
“Ah….Ren, elo mah memang tidak berpihak ke gue,” kata Toriq dengan kecewa.
“Tapi kenyataannya memang begitu, Toriq. Bahkan sampai Poppy ngidam makan siang sama Budi. Kalau Budi lagi ke Bandung, Poppy sampai nggak mau makan kalau tidak dengan Budi. Bahkan sampai Poppy masuk rumah sakit,” kata Reno.
“Ah Reno, loe mah ngadi-ngadi. Gue nggak percaya,” Toriq protes.
“Ya sudah kalau elo nggak percaya. Tapi kalau elo kecewa jangan salahin gue,” kata Reno lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Toriq.
__ADS_1
“Eh….Ren, elo mau kemana?” tanya Toriq.
“Mau makan, lapar gue,” jawab Reno sambil melangkah ke meja prasmana.