
'ceklek..' suara pintu ruangan kerja davied terbuka, tanpa diketuk terlebih dahulu.
"kau pastikan tak ada kendala nantinya coky" peringatan sang tuan untuk si sekretaris yang jelita dengar samar.
jelita masuk dengan nampannya, berjalan pelan kemeja kerja kebesaran davied.
pintu masuk dengan meja kebesaran davied dibatasi oleh partisi putih, sehingga membuat dua manusia yang sejak tadi berada didalam nya tak menyadari akan kedatangan jelita.
"suamiku" panggil jelita lembut dan anggun begitu melihat batang hidung davied yang sedang duduk di singgasana nya, sembari membolak-balikkan kertas laporan dari coky.
davied menoleh kesumber suara.
"mengapa tidak ketuk pintu terlebih dahulu jelita?!" ucap davied kesal.
coky juga memandang tajam sosok perempuan di depannya.
jelita tidak menjawab ucapan davied, ia malah ikut memandang tak suka sekretaris coky yang lebih dulu memandangnya tak suka.
"berani kau memandangku seperti itu coky" sarkas jelita menantang coky di depan tuannya.
coky yang sedari tadi duduk disofa seketika berdiri tegak dan membungkukkan tubuh, hormat kepada jelita.
"maafkan saya nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya terkejut dengan kedatangan nyonya yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu" ucap coky, dengan pandangan mata masih menatap tajam jelita.
"kau terkejut?" ulang jelita. "kau masih tergolong mudah sekretaris coky, seharusnya tidak gampang terkejut seperti itu, bagaimana mungkin sekretaris pribadi dari seorang ceo ternama didunia mempunyai jantung yang tidak sehat, segera periksalah kedokter sebelum terlambat" jelas jelita dengan nada sewot. "atau ke orang pintar, siapa tahu kau begini karena karma dan sumpah serapah dari orang yang kau sakiti" sambung jelita lagi.
coky hanya menatap datar jelita yang sewot dengannya.
"baik nyonya, saran ada sangat bermanfaat untuk saya" balas coky.
wajah jelita menoleh kearah suaminya, yang duduk nyaman bersandar di kursi kebesaran, bak seorang raja yang sedang asyik menonton pertunjukan para kurcaci sedang berdebat.
jelita melangkah pelan kesamping meja davied, dan meletakkan teh beserta buah keatas meja.
davied tak berbicara, ia hanya memandangi wajah jelita.
jelita dengan berani duduk di pangkuan suaminya, melingkarkan tangan di leher davied.
"suamiku, bisakah kau mengganti sekretaris mu? aku tidak suka dengannya, dia itu penyakitan" ucap jelita dengan wajah yang dibuat sedih.
"benarkah?, lalu apakah kau mau menggantikannya, menjadi sekretarisku?" tanya davied menggoda, dengan mengulum senyum nya.
__ADS_1
jelita termangu sebentar mendengar pertanyaan davied.
"ya, kalau kau perintahkan begitu maka aku akan melakukannya" jawab jelita dengan bibir mengerucut. sungguh sangat menggemaskan.
davied terkekeh melihat wajah menggemaskan jelita.
"no no no, aku tak mau membuat beban hidup mu semakin berat, cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku dengan baik, itu sudah cukup" ucap davied sembari membelai pipi jelita lembut.
mata davied tak lepas dari pandangan mata dan bibir jelita bergantian, jelita tahu kalau sudah begini davied pasti menginginkan hak nya dari jelita.
jelita mencoba menerima dan memantapkan hati. bersikap menurut tidak melawan adalah cara terbaik bisa hidup tenang dimansion terkutuk ini, sampai tiba saat nya ia akan meninggalkan manusia tak punya hati ini dengan tenang juga.
'kau tak boleh mundur jelita' batin jelita menyemangati diri.
davied menekan tengkuk jelita, dan menyatukan lembut bibir mereka, mensesap bibir istrinya. jelita membalas ci*man davied yang semakin lama semakin menuntut.
'hhmm..hhmm..' suara jelita yang mencoba melepaskan ci*mannya sembari menjambak kera baju davied, tetapi siraja gila tidak memperdulikan, sampai jelita sendiri kewalahan atas permainan davied.
'huusss... huusss...' suara nafas jelita ngos-ngosan setelah davied melepaskan ciumannya.
davied menatap jelita dengan smirk sembari mengelap ujung bibir nya yang basah, menggunakan jari jempol.
"baik tuan, saya permisi" ucap coky sembari menunduk hormat, dan melangkah keluar. 'pembahasan belum selesai, malah mau berc*nta' batin coky kesal.
'tuubbb...' pintu ruang kerja davied tertutup, pertanda coky sudah keluar.
"mas, aku... aku..." ucap jelita gugup dan bingung, rasanya walau dipaksa pun ia tak sanggup untuk melayani davied.
"kau, menolak lagi jelita?" tanya davied tajam dan mengintimidasi.
melihat tatapan davied jantung jelita berdetak dengan cepat, bahkan hanya untuk menelan air ludah saja terasa sulit.
"bu.. bu-kan begitu" jawab jelita pelan. "hanya saja mas terlalu kasar, dan itu menyakitkan" jelita menjeddah lagi ucapannya. "aku bukan j*l*ng mas yang kemarin, aku tidak suka diperlakukan seperti itu" lanjut jelita.
"kau memang bukan j*l*ng ku, kau istriku, dan selamanya akan tetap seperti itu" balas davied santai.
'tidak selamanya, secepatnya aku akan pergi dari mu' balas jelita dalam hati.
davied berdiri,mengangkat punggung jelita dan mendudukkan nya di meja kebesaran davied.
'buupp..' davied mendudukkan tubuh nya lagi dikursi sembari bersandar memperhatikan jelita.
__ADS_1
"kau selalu membuatku tergila-gila sayang" ucap davied dengan smirk nya.
"ohya... aku jadi tahu sekarang, bahwa mas hanya terobsesi pada tubuhku" jelita menjeddah ucapannya. "aku bisa mencarikan wanita dengan bentuk tubuh yang sama untuk memuaskan mas" ucap jelita pelan, dengan genangan air mata. mencoba menjelaskan dengan memberanikan diri.
"apa, sekarang kau menentangku?" tanya davied tajam tak terima.
jelita membuang wajah nya kesamping, ia tak sanggup menatap netra davied yang menajam.
"a.. aku hanya memberi saran... aku minta maaf" balas jelita pelan dan menunduk, mengalir sudah air mata nya dengan hanya melihat tatapan mengintimidasi davied.
"kau istriku, sudah kewajiban mu melayani ku" davied mentap tajam jelita. "aku tahu kau yang paling mengerti keinginan ku" sambung davied kembali santai.
"ya, kewajibanku memang seperti itu...aku dituntut untuk selalu mengerti keinginan mas... tidak perduli suka ataupun tidak.. selalu mengabaikan keinginan diri sendiri, demi suamiku" jelas jelita dengan mata yang berair.
davied tergelak, menampakkan deretan gigi putih nya.
"tidak perlu bersedih.. kau nampak semakin menggemaskan kalau seperti itu" ucap davied santai.
jelita membuang wajah nya kesamping dan menghembuskan nafas kasar. 'ayolah, kau harus kuat jelita' batin jelita dengan hati menangis.
davied tersenyum puas melihat jelita, ia begitu menikmati wajah frustasi istri nya, yang membuat kepemilikan davied dibawah sana mulai menegak.
"kemarilah jelita" panggil davied dengan suara berat, sembari menepuk-nepuk pelan paha nya.
jelita menurut, ia turun dari meja dan duduk dipangkuan davied.
belum sempat jelita bernafas dengan baik, davied sudah menyambar b*bir jelita dengan rakus, tanpa henti dan kasar, sama sekali tidak ada kelembutan yang jelita rasakan. bahkan sekarang tubuh jelita sudah habis dengan tanda kepemilikan dari davied.
davied sudah tidak tahan, nafas nya keluar semakin berat, ia menyatukan kening nya dengan kening jelita, amat sangat dekat jarak wajah mereka.
jelita hanya bisa pasrah dengan perbuatan davied.
dan terjadilah pergulatan panas dengan suara d*s*h*n n*kmat yang terus keluar dari sepasang suami istri di ruangan itu...
hy.. hy.. hy... dear... 😘😘😘😘😘
aku up lagi... 😍😍😍😍
tolong dukungannya ya dear.. 💋💋💋💋
dan terus pantengin karya ku❤❤❤❤
__ADS_1