
'Ktubbb' pintu ditutup kuat oleh jelita.
Dengan nafas tersengal dan air mata yang tergenang jelita bersender dipintu kamar. Rasanya ia sangat menyesali perbuatannya.
'Hikss.. hikss.. hikkss...' jelita menangis tersedu-sedu sembari melihat kedua telapak tangannya yang ada terkena bercak darah davied.
'Tap.. tap.. tap..' dengan berlari tergesa-gesa jelita menuju kamar mandi dan berdiri didepan wastafel. Dengan nafas yang memburu dan ingatan selalu terbayang perkataan davied menyebutnya pembunuh, jelita dengan gerakan cepat menghapus jejak darah di tangannya.
"Aku bukan pembunuh.. aku tidak sama dengannya.. aku tidak pembunuh.." 'hikss.. hikss.. hikss'
Jelita terus merancau seperti orang gila sembari terus mencuci tangannya dengan kuat.
Ditengah-tengah kekacauan dihati, tiba-tiba dengan samar jelita mendengar ada yang masuk kedalam kamar.
Dengan takut ia mengintip dari balik pintu kamar mandi.
'Deg' ia melihat davied masuk kedalam kamar dengan langkah tegas, diikuti oleh sekretaris coky.
"Silahkan masuk dok" ucap coky sopan.
'Tap.. tap.. tap..' nampak seorang dokter yang masuk kedalam kamar dan terduduk dikursi disamping davied yang tengah bersender diranjang dengan kaki terlunjur.
Jelita terus mengintip apa yang dilakukan para bedebah yang membuatnya depresi itu.
Namun keberadaannya yang sedang mengintip cepat diketahui davied. Tetapi jelita memperhatikan ekspresi davied yang dingin, seolah tak perduli pada keberadaan jelita.
"Kenapa tidak ditutup luka nya tuan, sembari menunggu saya tadi" ucap dokter dengan nada sopan.
Davied tak perduli dengan pertanyaan maupun ocehan dokter. Ia membuang pandangan nya kearah rooftop kamar yang menyuguhkan langit sore yang indah menampakkan sinar kejinggahan.
Karena merasa tak di tanggapi oleh sang tuan, dokter melirik kearah davied sekilas.
10 menit dokter siap mengobati dan menutupi luka davied dengan perban.
"Tuan coky, saya akan memberikan resep tuan davied kepada kepala maid" jelas dokter pribadi davied itu.
"Baik dokter brian" jawab sekretaris coky dengan sopan.
"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter brian bangkit dari duduk nya. "Semoga anda cepat pulih tuan" sambung dokter brian lagi dengan sopan dan langsung beranjak keluar diikuti sekretaris coky.
Jelita yang tahu kalau dikamar tinggal ia dan davied seketika langsung bersender di dinding kamar mandi pasrah.
Ia bingung harus apa, hati nya amat sangat takut berhadapan dengan davied. Terlihat ketara wajah pucat jelita. Ia memejamkan mata nya untuk menetralisirkan rasa takut nya.
'Hufffttt..' hembusan nafas jelita berat.
Dengan hati yang bimbang dan langkah pelan ia keluar kamar mandi, berjalan kearah davied dengan wajah menunduk.
Saat sampai di samping kasur, jelita merasa gugup, jemari nya terus meremas ujung baju yang dikenakan.
"Mas, a.. a ku.." jelita gugup, ia bingung harus bagaimana caranya menebus kekhilafan yang dilakukannya tadi. "A.. aku minta maaf mas" ucap jelita lagi pelan dengan wajah takut.
Davied tak merespon, ia tak memperdulikan ucapan jelita. Bak manekin dingin davied tak menoleh sedikitpun pada jelita.
Jelita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lentik nya. Ia frustasi amat sangat frustasi.
'Dugg' jelita menjatuhkan tubuh nya, dengan di topang oleh kedua lutut. Dengan wajah penuh penyesalan ia meraih jemari davied dan menggenggam nya.
"Maafkan aku suami ku.. aku khilaf.. aku menyesal mas" 'hikss.. hikss.."
Davied menepis tangan nya, seolah seperti tak ingin disentuh jelita.
"Tusukanmu tak membuat ku mati!, jadi berhentilah menangis" davied bersuara dengan dingin.
"Tapi mas, ak___"
__ADS_1
"Sudahlah jelita!, aku tak ingin membahas hal itu lagi!" sergah davied.
Jelita tercengang, jelita tak menyangkah davied akan membentaknya disaat ia sudah berulang kali minta maaf.
Dengan kecewa jelita membangkitkan tubuh nya hendak pergi namun,
'Greeb' davied menangkap jemari lentik jelita.
"Mau kemana?" tanya davied yang mulai melembut. "Aku hanya tidak mau membahas hal tadi, kemarilah" ajak davied dengan menarik tubuh jelita mengajaknya duduk diatas kasur.
Dengan sigap jelita menaiki kasur dan terduduk disamping davied, tubuh nya reflek memeluk davied erat, menumpahkan segala kegundahan dihati.
Di dadah davied, jelita terus terisak pelan, wajahnya bersembunyi di ceruk leher davied, mencium lama wangi tubuh suami nya itu.
Sesungguh nya davied tak tega melihat istrinya terus menangis seperti orang yang frustasi akibat ulah nya. Ia mengelus punggung jelita yang bergetar karena sesegukan. Dan mencium puncak kepala istri nya dalam.
#POV Davied,
Ntah kenapa hati ini begitu mencintai dia, rasa ingin memiliki seutuh nya tanpa terbagi oleh siapapun selalu membuatnya kalap dan lupa untuk menahan diri. Sungguh, davied benar-benar jatuh dalam pesona jelita sejak dulu, tak pernah berubah sedikit pun.
#POV end.
Tak terasa getaran sesegukan ditubuh jelita mulai berhenti, dan nafas nya pun mulai teratur, pertanda ia sudah tertidur dalam pelukan davied.
Davied menunduk, melihat wajah jelita yang terpulas. Sungguh cantik dan teduh, tetapi ada guratan kesedihan dan kelelahan terlihat juga diwajah istri nya.
Dengan pelan davied menggeletakan tubuh ramping istrinya, membenarkan rambut yang menutupi wajah jelita dengan lembut. Dengan gerakan pelan ia juga ikut menidurkan tubuh nya, membawa jelita dalam pelukan, sampai mereka benar-benar melewati cakrawala mimpi.
___________
Pada pukul 19.30 jelita terbangun dari tidur nya. Dengan mata yang masih kabur ia melihat davied yang keluar kamar dengan wajah segar seperti baru habis mandi.
Dengan mata menyipit ia seperti merasakan kejanggalan di hati.
Perlahan jelita mendudukkan tubuh nya, ia mencoba menetralkan pusing dikepala dan tubuh nya yang terasa sakit.
'Hufffttt..' hembusan nafas jelita berat.
20 menit jelita menyelesaikan mandi nya, ia bergegas ke walk in closet untuk mengenakan pakaian.
Setelah selesai, ia langsung kemeja hias, mengenakan beberapa alat tempur agar wajah nya tak terlihat pucat, karena memang jelita sedang tidak enak badan sekarang.
'Tap.. tap.. tap..' langkah jelita keluar kamar menuju lantai dasar.
Ia ingin menemui davied, ntah mengapa hati nya sangat ingin menemui suami gila nya itu.
"Riza, apa kau melihat suamiku?" tanya jelita saat sudah sampai dilantai bawah dan bertemu kepala maid riza.
Tampak wajah kepala maid riza yang merasa bingung, ia berdehem pelan untuk menutupi kegugupan.
"Saya tidak melihat tuan nyonya" jawab kepala maid riza sopan.
Jelita menelisik, ia melihat ada kegugupan diwajah kepala maid. Namun seketika pandangan jelita beralih ke empat bodyguard yang berjalan dengan tergesa menuju belakang mansion.
"Hmm.. baiklah.. aku akan mencarinya sendiri" ucap jelita.
"Akan lebih baik jika nyonya menunggu tuan dikamar saja, mungkin sebentar lagi tuan akan kembali ke kamar"jelas kepala maid riza.
Jelita terus menelisik netra kepala maid, tidak sudi rasanya ia menuruti perkataan srigala berbulu domba ini.
"Kau tak berhak mengatur" balas jelita dengan wajah jengah, dan bergegas pergi dari hadapan kepala maid riza.
Dengan mengendap-ngendap jelita berjalan menuju belakang mansion. Ia menangkap sebuah pintu, hati nya merasa bimbang, apakah ia harus masuk untuk mencari tahu atau tidak.
Namun niat jelita bulat, ia memutuskan untuk masuk kedalam tempat yang ia anggap menjijikkan itu.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga jelita berlari menuju pintu dan menekan pin yang sudah ia ketahui.
'Kreeekk..' pintu terbuka.
Dengan melihat kanan kiri jelita bergegas masuk dan melangkah pelan. Ia takut akan ketahuan oleh anak buah davied. 'Kalau ketahuan tamatlah riwayat nya' pikir nya.
Sekarang jelita sedang berdiri, di depan pintu rumah kecil yang mempunyai ukiran kapak itu.
Dengan pelan jelita membuka, tubuh nya terdorong untuk masuk. Kaki jenjang jelita terus melangkah.
Melihat lorong yang penuh dengan pajangan berbahan manusia itu hati jelita kembali mengingat sosok orangtua yang dihabisi dengan kejam oleh davied.
Dengan langkah yang gemetar jelita terus berjalan, air mata nya menitik jatuh kepipi, namun dengan cepat ia menghapus nya.
Samar-samar jelita mendengar suara rintihan, suaranya seperti tidak asing. Dengan langkah yang semakin cepat jelita berjalan, bau anyir darah pun semakin terasa di indra penciumannya.
Jelita gemetar melihat bodyguard davied yang begitu banyak, mungkin ada 15 orang menjaga sang tuan nya yang sedang menghabisi seseorang.
'Degg' seketika mata jelita membulat.
Ia menyadari siapa yang disiksa oleh suaminya. 'Kak regar' batin jelita lemas.
Davied mengangkat kapak nya, hendak mencatuk orang yang tergeletak tak bertenaga didepannya.
"Davied!" jelita menghentikan tangan davied yang mengayun hendak menebas regar. "Aku mohon hentikan mas" sambung jelita dengan pelan tak bertenaga.
Davied tergelak, ia membuang wajah nya ke samping.
"Kak regar..." 'hikss.. hikss.. hikss..' jelita menangis bergegas memangku kepala regar dengan lembut, dan menepuk-nepuk pelan pipi regar untuk menyadarkan.
"Je.. li.. ta.." regar memanggil terbata, karena tenaga ia sudah sama sekali terasa tidak ada.
'hikss... hikss... hikksss....' jelita menangis sedih.
Davied yang melihat kemesraan mereka mulai tersulut emosi. Ia dengan kasar menarik lengan jelita kuat, menyeret nya dan menghempaskan jelita di dekat coky. 'Auuuuccchhhh' ringisan jelita.
"Baguslah kau disini!, sekalian kau saksikan bagaimana caraku menghabisi pria kesayanganmu ini" ucap davied dengan santai, sembari mengeluarkan senyum sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya, sungguh sangat tampan namun tidak dengan pandangan orang disitu, mereka bergidik ngeri melihat senyum itu.
Davied mulai mengangkat kapak nya lagi.
"Tidaaaakkkk..." jelita menjerit, saat ia hendak berlari menghalangi namun lengannya dicekal kuat oleh coky.
"Lepaskan aku brengsek!" teriak jelita sembari meronta-ronta untuk dilepaskan.
'Ctuuukkk' kapak kesayangan davied sudah mendarat dileher regar.
Jelita menegang, dunia nya terasa berhenti. Tenaga nya mendadak lemas, hati nya mendadak nyilu teriris.
'Hikkss.. hikkss.. ' isakan jelita begitu menyedihkan.
Berbeda dengan davied, ia malah tersenyum senang sembari mencatuk habis tubuh regar di depannya.
Selesai dengan kesenangannya, davied menoleh dengan wajah yang penuh cipratan darah, ia tersenyum devil kearah jelita.
Jelita yang melihat itu seketika gemetar, ia berusaha mundur dari cekalan cyko.
"Kau sudah melihat nya jelita, ini pelajaran kedua mu, setelah pelajaran pertama saat kau menusuk ku" ucap davied tanpa bersalah. Davied tergelak sendiri sembari membangkitkan tubuh nya. "Aku sangat membenci nya, ia sudah mengambil milikku, maka dari itu aku memotong setiap incih tubuh nya" sambung nya lagi.
"A.. a aku tak pernah bermimpi akan hidup dengan iblis gila seperti mu" jawab jelita dengan terisak. "Seandai nya waktu bisa di ulang, aku tak kan sudi!" lanjut jelita lagi dengan tatapan kebencian.
Bukannya marah, lagi-lagi davied tergelak menampakkan deretan gigi putih nya, ia meski dalam keadaan begini pun terlihat amat sangat tampan.
"Tapi nyata nya kau sudah menjadi milikku!, apa yang sudah menjadi milikku akan tetap menjadi milikku!" sergah davied dingin.
Wajah nya seketika berubah, membuat suasana disitu menjadi menakutkan.
__ADS_1
Jelita tidak sadar akibat perkataannya, ia telah membangunkan amarah psikopat di depannya ini.
bersambung 🖤🖤🖤🖤🖤