Ikatan Rantai Besi Sang CEO

Ikatan Rantai Besi Sang CEO
Episode 75


__ADS_3

'Aachhh..' ******* davied yang menggebu menggerakkan pinggul nya.


'Ctas ctas'


Davied menamparan kecil pipi jelita karena istri nya itu mulai terpejam.


Membuat mata wanita cantik itu yang sayup mulai terbuka lagi, memperhatikan wajah tampan suami nya yang tengah terbakar gelora di atas tubuh nya.


Namun sekian detik kemudian mata sayup nya mulai terpejam kembali. Tubuh nya benar-benar terasa remuk karena di hujam berkali-kali.


'Emmmhhh..' jelita kembali tersadar saat davied mulai menses4p dan menggigit bibir nya.


Lama ses4pan itu membuat jelita berusaha memukul punggung davied sekuat tenaga.


'Hoss.. hoss..'


Nafas jelita yang tersengal setelah davied melepas ciuman nya.


"Mas, please.. stop.. Aku gak kuat.." rengek jelita.


"Mas, please.. please.." 'Hikss.. hikss..'


Rintihan wanita cantik itu di bawah kungkungan suami nya.


Davied seolah tuli, ia sudah terlalu terbakar oleh nafsu. Sama sekali tak memperdulikan jelita yang lemas tak bertenaga.


Dua jam pergulatan itu baru selesai.


Nampak jelita yang tertidur bergelung di bawah selimut putih. Dan davied terduduk puas memandangi jelita dari kursi sudut kamar.


___________________


Sementara di Rumah Sakit Chevani. Rumah Sakit tempat Sekretaris Coky di rawat.


"Dok, pasien C menggerak kan jari telunjuk nya" Ucap perawat yang memeriksa rutin sekretaris coky.


Dokter berjalan cepat kearah pembaringan sekretaris coky, memeriksa detail keadaannya.


"Hubungi keluarga pasien" titah dokter yang menangani sekretaris coky.


"Pasien di bawa oleh Dokter Brian dok" jelas perawat lagi.


"Kalau begitu, hubungi Dokter Brian" titah dokter lagi.


"Baik dok" jawab suster sopan.


_________________


Di sofa ruang keluarga lantai dua, mansion Davied Gaozhan.


Terduduk kakek tama dengan segelas wine dengan kadar alkohol rendah di tangan.


Sementara asisten doni berdiri di samping sofa kakek tama, terus memperhatikan kakek tama yang bercakap dengan serius.


'Drrttt.. drrttt...'

__ADS_1


Ponsel kakek tama bergetar di atas meja.


Dengan pelan ia melihat nama orang yang menelepone.


"Hallo" ucap kakek tama.


"Selamat sore tuan besar. Saya mau menyampaikan kalau sekretaris coky sudah ada peningkatan, ia sudah bisa menggerakkan jari nya. Dan kalau metode pengobatan yang kita gunakan ini benar-benar berjalan lancar, maka 2 minggu kedepan bisa di pastikan sekretaris coky akan sadarkan diri" Jelas dokter brian di balik telepone.


Kakek tama terdiam, beberapa detik baru lah ia bercakap,


"Aku tak memerlukan nya lagi. Habisi saja dia" titah kakek tama datar.


"M.. maaf tuan besar" Dokter brian tergagap. "Apakah tuan serius? Bukan kah sekretaris coky sangat berjasa pada tuan" dokter brian tak habis pikir.


"Dia sudah tidak berguna lagi. Cucuku sudah tidak percaya padanya, dan itu akan sangat sulit" Jelas kakek tama santai. "Lakukan saja apa yang ku perintah kan dokter brian!" tegas kakek tama.


"Baik lah tuan besar" jawab dokter brian pasrah.


"Ingat, semua nya harus kau kerjakan dengan rapih. Pastikan tak ada bekas yang merugikan aku nanti!" peringat kakek tama serius.


"Saya mengerti tuan besar" jawab dokter brian sopan.


'Tutt.. tutt..'


Panggilan di putus kakek tama.


Kakek tama memberikan ponsel nya pada asisten doni dengan wajah datar tanpa menoleh. Dan di sambut sopan oleh asisten nya itu.


"Dimana cucu ku?" tanya kakek tama.


"Tuan mudah sedang di kamar nya tuan" jawab asisten doni sopan.


_____________


Sekarang sudah pukul 17.30 sore.


Di kamar tamu lantai dua, terlihat shilla yang berdandan di cermin.


Sangat kelihatan kalau shilla baru selesai mandi.


Wanita itu memutar tubuh nya yang sudah buncit di cermin.


"Gara-gara anak sialan ini body ku jadi jelek sekarang. Sialan!" maki shilla terdengar pelan.


'Tok.. tok..'


Pintu kamar nya di ketuk dari luar.


Membuat shilla seketika menoleh.


"Siapa? Masuk" titah nya di ujung kalimat.


"Saya nona" jawab kepala maid riza di ambang pintu, setelah membuka pintu.


"Ada apa?" tanya shilla cuek.

__ADS_1


"Tidak usah begitu, setatus kita sama di mansion ini, sama-sama numpang" sindir kepala maid riza.


"Jaga bicara mu! Setelah anak ini lahir aku akan menjadi nyonya di mansion ini!" bantah shilla ketus.


Membuat kepala maid riza tergelak kecil.


"Ya.. ya.. ya calon nyonya shilla" 'Hahahahahhh' gelak tawa kepala maid riza terdengar seperti ejekan di telingah shilla.


"Kau terlalu berbasa-basi riza! Cepat katakan ada apa?!" sergah shilla.


'Ehmm..' riza berdehem untu menetral kan mimik nya sehabia tertawa.


"Kau di panggil tuan besar. Beliau ada di ruang keluarga sebelah" jelas kepala maid riza.


Mata shilla menyipit, begitu banyak pertanyaan di benak nya.


"Ada emang riza?" Akhir nya terlontar juga pertanyaan di benak nya itu.


"Saya tidak tahu nona, datangi saja atau nanti kau akan mendapat masalah jika tak menuruti nya" jelas kepala maid riza lagi serius.


"Hmm.. Baiklah" jawab shilla seadanya. Dan pergi melangkah melewati kepala maid riza yang masih terdiam di ambang pintu kamar nya.


Sesampai nya di ruangan keluarga tempat kakek tama terduduk.


"Tuan besar" sapa shilla pelan.


"Shilla. Ada yang mau aku bicarakan padamu. Duduk lah" persilahkan kakek tama menunjuk sofa dengan lirikan mata nya.


Tanpa menjawab shilla mendudukkan diri nya di sofa berhadapan dengan kakek tama.


"Aku.. Akan menghabisi coky. Apa kau keberatan?" tanya kakek tama secara gamlang.


'Haa' shilla tercengang seperti tak percaya.


"M.. maksud tuan besar? tuan besar serius?" tanya shilla lagi karena tak percaya.


"Apakah saya pernah bermain saat mengambil keputusan?" tanya kakek tama mengintimidasi.


'Aa... eee...' shilla gugup, ia bingung hendak memjawab apa.


"Bukan kah kau tak menyukai nya" sambung kakek tama lagi.


"I.. itu benar tuan, tapi saya hanya tak habis pikir" jawab shilla jujur.


"Tak perlu berfikir jauh. Yang perlu kau jawab ya atau tidak?!" tegas kakek tama.


"T.. tentu saja ya tuan, saya setuju" balas shilla sedikit menunduk.


"Bagus lah. Kalau begitu pergilah ke Rumah Sakit" titah kakek tama.


'Haa' shilla lagi-lagi tercengang.


"Tidak usah tunjukkan wajah bodoh mu itu! Pergilah ke rumah sakit! Dokter brian telah menunggu!" bentak kakek tama.


Membuat shilla gelagapan,

__ADS_1


"Baik tuan besar" jawab shilla pasrah. Kemudian membangkit kan tubuh nya dan keluar dari ruangan yang terasa mencekam itu.


Bersambung🖤🖤🖤🖤🖤


__ADS_2