Ikatan Rantai Besi Sang CEO

Ikatan Rantai Besi Sang CEO
Episode 68


__ADS_3

'Tap tap tap'


Langkah tegas kakek tama keluar dari lift menuju sofa ruang tamu.


Di sofa ruang tamu sudah terduduk dokter brian dan kepala maid riza yang menemani sembari berdiri di samping sofa.


"Tuan besar" Sapa dokter brian berdiri dan menunduk hormat.


"Hmm.. Bagaimana keadaan coky?" tanya kakek tama menduduk kan diri nya di sofa bersebrangan dengan dokter brian.


"Kondisi nya benar-benar buruk tuan. Sangat di sayang kan bila saya terlambat sedikit saja, sekretaris coky tak kan bisa di tolong karena kehabisan darah. Pukulan-pukulan di tubuh nya juga membuat sebagian besar syaraf rusak. Tetapi saya akan memberikan yang terbaik untuk sekretaris coky" jelas dokter brian.


"Emosi cucu ku itu memang tidak bisa terkendali" balas kakek tama pasrah.


"Bagaimana kalau kita membawa sekretaris coky kerumah sakit tuan? Karena alat medis yang lebih lengkap dan penyembuhan nya akan semakin cepat" usul dokter brian serius.


"Tidak masalah. Asalkan berita nya tidak ke publik" jawab kakek tama santai. "Tutupi identitas coky" titah kakek tama.


"Baik tuan" jawab dokter brian menunduk sopan.


Sementara di dalam kamar ezeel, terlihat jelita yang sedang berbaring di samping anak semata wayang nya itu.


Tangan mungil jelita mengelus lembut surai ezeel yang tertidur, netra nya terus menatap mata terpejam ezeel.


Sampai pada akhir nya tuan muda itu terganggu dan membuka sedikit mata nya, menyesuai kan cahaya.


"Mommy.." suara serak ezeel.


"Mommy menggangu mu yaa?" 'Hehehh' Tanya Jelita sembari tergelak manis.


"Dimana daddy momm?" ezeel malah balik bertanya.


"Daddy ada, di ruang kerja nya. Anak mommy tumben bangun tidur langsung tanya daddy?" balas jelita.


"Ya, aku mau kerumah kakek lagi. Suruh daddy besok tidak usah bekerja" titah ezeel ngawur ngidul.


"Daddy tidak usah bekerja?" ulang jelita tergelak menggemas kan.


Ezeel mengangguk mantap dengan pertanyaan mommy nya itu.


"Disana enak momm, ada hewan-hewan yang lucuk. Ada burung, harimau, ular juga ada momm" jelas ezeel serius.


"Oh ya? mommy kok tidak lihat" ucap jelita dengan wajah heran.


"Mommy sedang bersama daddy dan kakek. Aku di bawa jalan-jalan oleh nany" jelas ezeel seadanya.


"Hmm.. yasudah, anak mommy mandi dulu ya. Ini sudah sore, selesai mandi baru temui daddy, oke?" balas jelita dengan mengacungkan jempol nya.


"Yess momm" jawab ezeel tersenyum.


"Anak pintar" puji jelita dengan mengelus surai ezeel.


"Sindi, tolong kau mandikan putra ku" titah jelita menatap nany sindi yang sedari tadi berdiri tak jauh dari kasur.


"Baik nyonya" jawab nany sindi sopan.


Jelita langsung bergegas membangkit kan tubuh nya dari kasur, dan berjalan keluar kamar ezeel.


'Ceklek'


Pintu kamar ezeel tertutup, pertanda jelita telah keluar kamar.


Jelita melangkah kan kaki nya hendak ke kamar utama. Saat ini yang ada di pikiran nya adalah menyegar kan tubuh dengan wewangian dan lilin aroma therapy.


'Ceklek'


Pintu kamar utama di buka jelita dan kembali di tutup.


Jelita terus berjalan santai mengambil handuk di almari, dan melangkah lagi ke arah kamar mandi.


30 menit wanita cantik itu menyelesaikan ritual mandi nya, membuat ia keluar dengan wajah benar-benar fresh.


Langkah kecil jelita berjalan ke walk in closet, memakai baju oversize warnah hitam sebatas pangkal paha. Menampil kan paha putih mulus.


Sekarang jelita tengah mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan cermin. Lalu setelah kering ia mencepol surai itu hingga menampakkan leher jenjang nya, sungguh membuat hasrat orang mendidih melihat ibu anak satu ini.


'Krukk krukk' bunyi cacing di perut jelita.


Reflek wanita cantik itu memegang perut rata nya yang ingin minta di isi.


Sekarang masih pukul 18.30 waktu setempat. Akan sangat lama jika ia harus menunggu makan malam.


Dengan langkah cepat ia keluar kamar hendak mencari makanan di dapur.


'Ting' pintu lift di lantai bawah terbuka.


Jelita keluar dari lift dan mengedar pandangan nya, sungguh ramai bodyguard yang berlalu lalang. Lalu tidak lama terdengar suara dari kejauhan.


'Kreeekkk....'


Suara brankar di dorong dua bodyguard dan di ikuti juga oleh dokter brian.


Jelita penasaran, ia sangat ingin tahu siapa yang ada di brankar itu. Seperti orang yang sedang sekarat saja, batin jelita mulai kepo.


Saat jelita mulai mendekat, tiba-tiba


"Jelita!" kakek tama menghentikan. Dan berjalan angkuh kearah jelita.

__ADS_1


"Masuk lah ke kamar mu kalau tidak ada keperluan disini!" ucap kakek tama sinis.


"K.. kakek" jelita tergagap melihat monster di depan nya. "Aku hanya ingin ke dapur, tidak mencampuri urusan kalian" jelas jelita berusaha tenang.


Kakek tama tak menjawab, ia menatap datar cucu menantu nya itu.


Karena tak di respon jelita pergi begitu saja melanjutkan langkah nya ke dapur.


Bertemu para maid yang berbisik bercerita menyebut nama sekretaris coky. Namun di acuh kan oleh jelita karena tak mau mendapat masalah.


Tangan lentik nya membuka kulkas yang berisi cemilan di dapur, lalu mengambil semangkok salad buah. Jelita membawa salad buah nya ke meja makan, dan makan dengan khusyuk di dalam kebisingan mansion.


Saat salad buah nya sudah tandas, ia meletakkan mangkok kotor nya di wastafel, dan berjalan keluar dapur. Namun tiba-tiba netra nya menangkap sesosok pria tegas yaitu suami nya.


Davied berdiri tegak dengan memasukkan kedua tangan nya di saku celana, sementara di samping kanan dan kiri ada kakek tama dan dokter bria juga seperti sedang membahas sesuatu.


"Mas.." sapa jelita pelan.


Davied membalikkan tubuh dan melihat istri kecil nya yang menyapa.


Dokter brian juga menatap jelita tanpa kedip, ia seolah terpesona dengan istri tuan nya itu.


Davied yang tahu tatapan dokter brian langsung membawa jelita dalam pelukan nya.


Seketika dokter brian sadar dari lamunan nya, membuat ia tersenyum canggung.


"Kau kerjakan apa yang ku titahkan!" bariton davied bersuara menatap tajam dokter brian.


"Baik tuan" jawab dokter brian sopan.


Langsung davied bergegas membawa jelita pergi dari situ meninggalkan kakek tama yang terus menatap punggung mereka memasuki lift.


Di dalam lift davied menelisik penampilan jelita dari atas ke bawah, membuat istri nya itu berdiri takut.


Sepanjang menuju kamar utama, davied terus memegang tangan jelita, membuat wanita cantik itu mengikuti dengan pasrah.


'Bamm' davied mendudukkan jelita di atas kasur king size lalu berkecak pinggang.


"Kenapa pakai baju seperti ini?!" tanya davied tak senang.


"Emang nya kenapa sama baju ku?" jelita balik bertanya dengan suara pelan dan membuang wajah nya.


Davied menghembuskan nafas jengah.


"Kau mengenakan baju yang membangkit kan hasrat pria!" tekan davied.


Netra jelita yang mulai berembun menatap davied.


"Baju aku semua nya memang seperti ini! Dari dulu juga aku pakai baju-baju ini" jawab jelita kesal.


"Ini, ini rambut mu tak perlu di ikat! di ginakan saja!" kesal davied sembari melepas cepolan rambut jelita membuat nya terurai.


Dengan kesal jelita menjauh dari suami nya itu dan berbaring menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.


Membuat davied menghembuskan nafas berat.


Perlahan tangan kokoh itu menanggalkan t-shirt yang di pakai dan berjalan ke kamar mandi.


20 menit davied menyelesaikan mandi, pandangan nya langsung menatap jelita yang masih setia bergelung di bawah selimut.


Namun saat davied berada di walk in closet, jelita menyibakkan selimut nya.


Kaki jenjang nya melangkah ke arah rooftop. Jelita berdiri disitu menikmati pemandangan, banyak lampu-lampu terlihat sungguh indah menyinari malam yang gulita.


'Grebb' davied memeluk istri nya dari belakang, membuat jelita reflek menoleh ke samping.


"Lepaskan mas" rengek jelita pelan sembari berusaha melepaskan lilitan tangan kokoh davied di perut nya.


Davied membalik kan tubuh jelita, menatap mata teduh dan bibir pink istri nya bergantian.


Wangi paper mint menyeruak masuk di indra penciuman jelita, membuat nya tanpa sadar memejamkan mata.


Davied mencumbu jelita lembut, mensesap dan menggigit pelan bibir wanita nya.


'Hos.. hos..' nafas jelita tersengal saat davied melepas ciuman.


Tak sampai disitu davied membawa jelita ke bangku rooftop dan mendudukan wanita cantik itu di pangkuan nya.


Kembali lagi davied mencium dan memberikan tanda di leher jenjang jelita, membuat wanita dalam pangkuan itu menggelinjang kegelian.


Jelita menahan dada bidang davied saat hendak mencumbu nya lagi, karena ia belum bisa menetralkan nafas nya yang ngos-ngosan seperti lari maraton.


Davied tak memperdulikan, ia bangkit dan menggendong jelita ala bayi koala sembari mensesap paksa bibir manis istri nya.


'Bammm' tubuh jelita di tidurkan diatas kasur, namun kaki nya tetap melingkar di pinggul davied.


Dengan nafas berat davied terus mencumbu istri cantik nya yang sudah mulai terbawa suasana dan menginginkan lebih.


'Aachhhh..' ******* jelita lolos saat davied memberikan tanda di leher nya.


'Tok tok tok'


Bunyi ketukan pintu menyadarkan dua sejoli yang mulai hanyut dalam percumbuan itu.


Davied menegakkan tubuh nya sembari berkecak pinggang kesal, sementara jelita terduduk kaku di atas kasur.


'Ceklek'

__ADS_1


Pintu kamar utama di buka, masuk lah kepala maid riza menunduk hormat.


"Tuan besar memanggil tuan untuk makan malam" jelas kepala maid riza menunduk hormat.


Davied tak menjawab, ia melihat kesal kepala maid itu.


Kepala maid riza mengerti, ia memundurkan tubuh nya dan menunduk sopan lagi.


"Maaf telah mengganggu waktu tuan. Saya akan undur diri" pamit kepala maid riza dan menghilang di balik pintu.


'Ceklek' pintu di tutup kepala maid riza.


'Hufffttt' Barulah jelita bisa menghembuskan nafas legah.


Davied melihat istri nya dan beralih ke leher jenjang yang sudah penuh dengan maha karya nya. Membuat smirk nya mengembang.


"Ayo kita turun" ajak davied menggandeng tangan jelita.


Jelita yang di gandeng hanya bisa pasrah mengikuti langkah orang yang menggandeng nya.


'Ting'


Pintu lift lantai bawah terbuka, menampakkan tuan dan nyonya yang saling menautkan jari.


Mereka berjalan memasuki ruang makan.


Sudah ada kakek tama dan shilla yang terduduk tanpa suara.


Masing-masing maid membuka kan kursi untuk tuan dan nyonya.


"Sudah hampir setengah jam kakek menunggu mu davied" kakek tama bersuara dingin.


Membuat davied menatap nya acuh.


Jelita yang merasakan suasana menjadi panas menjadi gugup, begitu juga dengan shilla.


"Mas, kamu mau pakai lauk apa?" tanya jelita pelan.


"Terserah saja" balas davied santai.


"Mas, kamu makan ini yaa" Shilla meletakkan aneka seafood di piring davied. "Ini buatan ku mas" sambung shilla dengan tersenyum manis.


"Seharus nya kau juga begitu jelita! Atur dan perhatikan makanan suami mu!" tambah kakek tama sinis.


Tangan yang tadi nya hendak meletakkan lauk untuk davied di tarik lagi oleh jelita. Tak bisa di pungkiri hatinya sakit saat di bandingkan dengan simpanan suami nya.


"Iya kek" jawab jelita pelan, karena masih menghargai kakek tama.


"Jangan hanya iya iya saja! Tapi di lakukan! Kau harus mengikuti shilla mulai sekarang" sinis kakek tama lagi.


"Aku akan mengajari jelita mulai sekarang kek. Benar kan mas?" tanya shilla menatap netra dingin davied.


Shilla menyadari aurah dingin davied, namun di acuh kan nya karena ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk batu loncatan agar kakek tama menyukai nya.


"Ambil kan sayur ku jelita" titah davied mengacuhkan pertanyaan shilla.


"Aku yang ambilkan sayur nya ya mas" pinta shilla bersemangat dan langsung menyendokkan sayuran kepiring davied.


"Aku janji akan terus menjadi istri mu yang berguna nanti nya" sambung shilla lagi dengan percaya diri.


Saat ini jelita rasanya hendak menghilang saja ntah kemana, tak enak jika terus-terusan di sindir dan di hina seperti ini.


Namun seketika mata jelita membulat sempurnah melihat davied mencampakkan piring nya kearah shilla.


'PRAANGGGG'


Suara pecahan piring mengenai dinding, untung tak mengenai wajah wanita hamil yang terkaget itu.


"Masuk ke kamar mu jelita!" titah davied, menatap dingin shilla yang bergetar takut.


Jelita pasrah, ia membangkit kan tubuh nya pelan dan keluar meninggalkan ruang makan.


Suasana di ruang makan menjadi panas, tak ada yang berani bersuara kala melihat davied mengamuk.


Sementara jelita terus berjalan pelan meninggalkan ruang makan, namun dengan samar ia mendengar suara tamparan dan ringisan shilla, juga ada suara kakek tama yang membela shilla dengan alasan kehamilan.


"SEKALI KAU MEMBUAT NYA RENDAH LAGI, KAU AKAN MENYESAL!!" Suara davied memekak kan telingah seisi ruangan itu.


"Tidak tahu diri!" Sinis davied lagi.


"Davied! Dia sedang hamil, jaga omongan mu!" bentak kakek tama.


"Sebaik nya besok kau pulang kek. Aku sedang tidak ingin melihat mu!" Sergah davied dingin.


"Kau mengusir ku karena nya?!" tanya kakek tama dingin.


"YA!" jawab davied menantang.


"Ini lah alasan nya kenapa aku tidak menyukai istri mu itu!" balas kakek tama.


"Kau tidak perlu menyukai nya. Hanya aku yang boleh menyukai istriku!" ucap david dingin.


Jelita terdiam, ia tidak menyangka davied akan membelanya.


Dengan berlari jelita memasuki lift karena mendengar hentakan kaki seseorang hendak keluar ruang makan.


BersambungπŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€

__ADS_1


Mohon like dan komentar positif nya yaa teman 😊😊 agar aku lebih semangat lagi berkarya untuk kalian 😘😘😘


Dan terimakasih untuk kalian yang sudah like, coment di novel ku😘😘😍 karena jujur, tanpa kalian para pembaca, aku tidak ada apa-apa nyaπŸ€—πŸ€—


__ADS_2