
Di kamar nan mewah bernuansa turkey, yang memiliki ranjang king size penuh dengan ukiran. Tergeletak wanita cantik dengan wajah teduh.
Mata nya tertup rapat, pertanda ia sedang tertidur pulas akibat obat yang telah di minum nya.
Yaa, sehabis insiden penyayatan tadi, davied mentitah kepala maid riza untuk bergegas menelepon dokter brian.
Dokter brian mengingatkan agar davied tak terlalu kasar dengan jelita, karena itu akan mempengaruhi kesehatan mental wanita ringkih itu.
Namun bukan davied nama nya kalau ia mengikuti saran orang lain, terkecuali sekretaris coky.
Saat ini davied sedang berdiri memasukkan kedua tangan nya di saku celana, menatap langit sore di rofftop, mata nya menatap lekat langit kejinggaan itu, namun fikirannya berkelana ntah kemana.
Saat dikira sudah bosan, davied melangkah masuk dan menutup pintu penghubung rooftop. Netra nya teralih melihat jelita yang terbaring lemah.
'Tap.. tap.. tap' langkah davied pelan menghampiri jelita di atas ranjang.
Tangan nya terulur mengelus dan merapikan rambut-rambut halus yang mengenai wajah cantik jelita.
Beralih ke pergelangan tangan yang tertutup perban, davied ingat betul ada rasa ketakutan di hati saat jelita nekat menyayat tangan nya sendiri.
Davied benar-benar jatuh cinta pada wanita cantik di depan nya ini.
Karena sentuhan davied akhir nya jelita mulai sadar. Mata nya tergerak hendak terbuka.
Saat pandangan kabur jelita menjadi jelas, ia melihat davied yang duduk di samping nya dengan tangan yang mengelus lembut punggung tangan jelita.
'Sreeg' jelita menarik kasar tangan nya yang di elus.
Tubuh jelita bangkit hendak terduduk.
"Kau sudah bangun" bariton davied, membuat jelita menatap benci netra davied.
"Jangan terlalu banyak bergerak, tangan mu masih sakit" peringat davied lagi.
"Pergi lah!" usir jelita.
Davied menarik nafas dalam.
Karena tak ingin melihat jelita yang tertekan, ia bangkit dan melangkah pergi keluar kamar.
'Tub' pintu kamar di tutup oleh davied.
Davied berjalan tegas ke lantai dua, tempat di mana ruang kerja nya berada.
'Ceklek' pintu ruang kerja di buka davied.
Tangan nya terulur merogoh saku celana mengambil ponsel.
'Tutt..' bunyi sambungan telepon.
"Hallo tuan" sapa coky di seberang telepon.
"Bagaimana?" tanya davied singkat.
"Semua nya berjalan lancar tuan, kalau tidak ada kendala besok saya sudah akan berada di mansion, tuan" jelas coky.
"Hmm.." hanya deheman yang keluar dari bibir davied.
Davied mematikan sepihak panggilan telepone itu, dan berjalan meletakkan nya diatas meja kerja.
Saat itu dua hari yang lalu, ia mentitahkan coky untuk terbang ke Las Vegas karena ada beberapa kendala perusahaan, itu sebab nya coky tak nampak beberapa hari ini melayani nya.
Davied membawa tubuh nya untuk duduk di sofa dengan kepala bersandar, ia memejamkan mata sesaat. Baru teringat ia hampir melupakan sosok seorang kakek yang ntah bagaimana hidup di masa tua nya sekarang, walau dia tahu kakek sangat pandai menjaga diri, namun itu tidaklah di benarkan melupakan satu-satu nya anggota keluarga yang dimiliki.
Ia membuka mata dan berjalan ke meja mengambil ponsel.
Tubuh kekar nya berbalik menatap langit berbintang dari jendela luas ruangan kerja nya.
Tangan davied tergerak memencet nomor kakek tama di benda pipih itu.
__ADS_1
'Tutt..' bunyi sambungan telepone.
"Hallo kakek" sapa davied.
"Hallo cucuku davied" balas kakek dari seberang telepone.
"Bagaimana kabar kakek?" tanya davied lembut.
"Kakek sudah tua, bagaimana bisa baik-baik saja" jawab kakek..
"Maafkan aku yang sudah lama tak menanyakan kabar kakek" mohon davied dengan lembut.
"Kakek mengerti, kau sudah memeliki anak dan istri" balas kakek juga lembut.
"Aku berjanji, kalau urusan perusahaan senggang akan mengunjungi kakek di mansion" janji davied untuk menenangkan kakek.
"Kau pemilik perusahaan nya davied! tidak usah berlebihan menunggu senggang, lagian kau juga memeliki sekretaris coky yang bisa di andalkan" sergah kakek.
"Jelita sedang sakit kek, aku harus menunggu dia pulih duluh" sambung davied.
"Sakit apa menantu ku itu? kau ******jangan****** terlalu memanjakan nya davied" peringat kakek.
"Aku tahu setiap konsekuensi yang aku lakukan kek" balas davied tenang.
"Kalau begitu, kapan cucuku ini bisa datang dan melihat kakek yang sudah tua rentah ini? apa menunggu kakek sudah tidak ada baru ******kau****** mempunyai waktu?" sindir kakek.
"Kakek jangan berbicara seperti itu, baiklah lusa akan aku usahakan untuk menjenguk kakek di mansion" jawab ezeel lembut.
"Jangan lupa membawa cicit ku juga" peringat kakek lagi.
"Iya kek" balas davied singkat. "Sudah dulu kek, jaga dirimu" pamit davied.
'Tutt' panggilan diputus davied.
Pikiran davied berkeliling buana, benar juga apa yang dikatakan kakek, setidak nya ia harus memiliki sedikit waktu memperhatikan orang tua rentah itu.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat,
'Ceklek' pintu di buka oleh kepala maid riza yang menyembulkan tubuh nya di ambang pintu.
"Tuan, makan malam sudah siap" ucap kepala maid riza sopan dengan kepala menunduk hormat.
"Hmm" saut davied tanpa melihat kepala maid.
"Saya permisi tuan" pamit nya memundurkan tubuh dan kepala menunduk.
Davied masih terdiam menatap langit dan hiruk pikuk jalanan yang ramai dari lantai dua ruangan nya.
_____________
Di ruang makan, terlihat shilla berdiri angkuh di bawah tangga.
'Tap.. tap.. tap' langkah kepala maid riza menuruni tangga.
Mendengar itu shilla langsung menoleh kearah kepala maid.
Saat kepala maid riza sampai menuruni anak tangga terakhir, shilla menarik tangan kepala maid kearah pojokan bawah tangga.
"Bagaimana riza? Dia mau turun?" tanya shilla penasaran.
"Ntahlah, dia hanya berdehem" jawab kepala maid riza seadanya.
"Bagaimana bisa kau membawa informasi yang begitu tidak jelas!" kesal shilla.
"Sudahlah!, lakukan saja rencana licik mu itu. Aku rasa tuan sebentar lagi akan turun" jawab kepala maid riza dengan tak kalah kesal melihat shilla.
Shilla terdiam, 'benar juga yang dikatakan kepala maid riza. Kalau tidak sekarang, kapan lagi.. Mumpung jelita sialan itu tidak ada' batin shilla senang.
Lantas shilla langsung pergi meninggalkan kepala maid, langkah nya terhenti melihat hidangan diatas meja makan.
__ADS_1
Jujur saat ini ia tengah kebingungan dan gugup. Jantung nya berdetak kencang tak beraturan.
'Hidangan mana yang kuberi bubuk perangsang ini?' shilla bertanya dalam hati.
'Tap.. tap.. tap' langkah tegas davied mulai kedengaran di gendang telinga davied.
Tangan shilla gemetar, ia menaruh bubuk perangsang asal dimakanan yang letak nya dekat dengan davied.
Saat langkah davied sudah dekat dan sampai di meja makan, shilla langsung menyembunyikan obat itu di balik baju nya.
"Ada apa shilla? mengapa kau berdiri saja?" bariton davied bersuara.
Membuat wajah shilla pucat pasih, tubuh gemetar setengah mati.
"Duduk lah!" titah davied menelisik shilla.
Dengan hati tak tenang shilla duduk terdiam bingung hendak melakukan apa.
Sudah lima menit mereka saling diam, akhirnya shilla memberanikan diri hendak mengambilkan nasi ke piring davied namun di tahan davied.
"Ada apa tuan?" tanya shilla bingung bercampur gugup.
"Kau saja yang makan!" titah davied dingin.
"T.. tapi.. tuan kan belum makan" jelas shilla gugup dengan wajah yang di buat sedih.
"Bagaimana aku bisa makan, kalau kau menaruh sesuatu di makanan ku. Apa kau waras!!" bentak davied diakhir kalimat.
Shilla ketakutan, ia tak menyangka perbuatan nya bisa di ketahui oleh davied.
Dengan bibir bergetar shilla hendak memberi alasan, namun suara nya pun seakan sulit keluar karena melihat tatapan membunuh davied.
"T.. t tuan, ma.. ma-af tuan" mohon shilla dengan wajah pucat pasih.
'Braagg..' 'Praangg..' davied menggebrak meja dan membuang hidangan kelantai.
Membuat nyali shilla ciut tak berani bergerak.
"RIZA!!" panggil davied emosi.
Kepala maid riza yang wajah nya sudah pucat pasih itu berjalan pelan menghadap sang tuan.
"Ya.. tu-an.." jawab kepala maid menunduk.
Davied berdiri dengan berkecak pinggang melihat kepala maid riza, mata nya merah seperti ingin menelan kepala maid itu hidup-hidup.
"KENAPA KAU MEMBIARKAN WANITA SIALAN ITU MERACUNI MAKANAN KU?!" tanya davied dengan menekan setiap kalimat yang keluar.
"A-ampun tu-tuan, s.. s-aya_" belum selesai kepala maid menjelaskan.
'Ctaass..' davied menampar kuat kepala maid sampai tersungkur.
Membuat semua orang yang melihat terkejut ketakutan.
Shilla berlari menolong kepala maid riza.
"Tuan.. ampuni kami tuan" 'Hikss.. hikss' "Itu bukan racun, itu hanya obat perangsang" akui shilla dengan terisak.
Mendengar itu davied bukannya meredah, malah semakin menggila. Ia mengambil makanan di lantai dan menyuapkan paksa kedalam mulut kepala maid riza, sampai membuat wanita yang sudah lemas itu tersedak tak berdaya dan menitikkan air mata.
Satu bodyguard berlari mendekat kearah davied menyodorkan sapu tangan kepada tuan nya.
Davied mengelap tangan nya dengan pandangan jijik melihat dua wanita dibawah kaki nya.
"Bawa mereka keruang eksekusi!" titah davied.
Mendengar itu kepala maid riza panik bercampur takut, ia tahu apa yang akan di dapat nya, sangat kecil kemungkinan keluar dengan selamat kalau sudah masuk ruangan itu, kebanyakan akan mati mengenaskan di tangan tuan psikopat nya.
Dua bodyguard sigap menarik tangan kepala maid riza dan shilla yang terus memberontak, dan membawa nya keruangan eksekusi sang tuan.
__ADS_1
Bersambung🖤🖤🖤🖤🖤