Ikatan Rantai Besi Sang CEO

Ikatan Rantai Besi Sang CEO
Episode 71


__ADS_3

Di dalam kamar utama jelita mengubrak-abrik laci nakas di samping kasur.


"Dimana ponsel ku" gumam wanita cantik itu sendiri.


"Ah.. ini dia" senyum jelita mengembang setelah mendapatkan ponsel nya yang berada di laci ke tiga nakas.


Tetapi seketika kening jelita mengkerut mendapatkan ponsel nya ada 5 panggilan tak terjawab dari orang tak dikenali.


Karena tak mau penasaran jelita menelepon balik orang itu.


"Hallo.." Sapa jelita saat panggilan nya diangkat.


"Hallo, jelita. Ini aku putri" jawab orang di balik telepon.


"Putri.. Putri balwie?" tanya jelita antusias.


"Bisakah kita bertemu sekarang di cafe buble? Ada yang ingin aku bicarakan" Jawab putri datar.


"Ahh.. iya, oke oke" jelita menerima tawaran putri antusias.


"Put_..." Saat jelita hendak berbicara lagi tiba-tiba panggilan nya terputus sepihak.


Wanita cantik itu menatap layar ponsel sedikit bingung namun di tepis nya.


Dengan hati yang gembira ia langsung menyambar tas dan melangkah keluar kamar.


Namun saat tangan nya hendak membuka pintu, tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


Ia hampir saja melupakan suami gila nya. Belum tentu davied mengijinkan jelita keluar dari mansion terkutuk ini.


"Hallo mas.." Jelita menelepon davied.


"Hmm.." Hanya deheman yang terdengar di seberang telepon.


"Aku mau minta izin" ucap jelita dengan pelan.


"Maksud nya?" tanya davied.


Saat ini terlihat davied sangat sibuk dengan berkas yang di tanda tangani nya.


"Maksud nya apa ? Izin apa ?" Davied menegaskan lagi.


"A.. aku mau keluar, mau ketemu teman" mohon jelita pelan.


"Teman siapa? Dimana? Apa tidak bisa kau berbicara detail?" Davied mulai kesal.


"Teman-teman wanita mas. Di buble cafee. Aku janji tidak akan lama" pujuk jelita lagi.


"Jelita, setiap kau keluar pasti selalu melanggar aturan ku. Apa kau pikir sekarang aku mengizinkan?!" Serga davied tajam.


"Mas jahat! Mas tidak pernah mau mendengar keinginanku! Aku hanya ingin bertemu temanku sebentar, kenapa harus serumit ini!" balas jelita hendak menangis.

__ADS_1


Terdengar davied menghembuskan nafas nya kasar di seberang telepon.


"Minta riza mengatur supir untuk mu dan bodyguard! Dan ingat, jangan bertingkah di luar!" Tegas davied.


"Mas mengizinkan ku?" mata jelita nampak berbinar.


"Hmm" Jawab davied singkat.


"Terimakasih ya mas.." ucap jelita bahagia dan langsung menutup panggilan nya.


Dengan hati senang ia melangkah kan kaki nya keluar kamar.


Saat sampai di lantai bawah, sudah ada kepala maid riza yang berdiri menunggu nyonya.


"Nyonya, kau hendak pergi kemana?" tanya kepala maid riza menghentikan langkah angkuh jelita.


"Apa kau belum di beritahu? Atau aku harus memberitahu mu dulu baru bisa pergi?" jawab jelita kesal.


"Keselamatan nyonya adalah tanggung jawab saya" balas kepala maid riza.


Membuat jelita tergelak lucu.


"Tidak usah mengada. Kau terlalu membual" Jelita tergelak.


"Nyonya, kembali lah sebelum tuan tiba di mansion. Tolong jangan membuat ulah" Peringat kepala maid riza lagi.


"Perkataan mu ku anggap keberanian. Kau selalu seolah lupa diri kalau berbicara padaku" sergah jelita.


Tanpa menunggu jawaban kepala maid riza, jelita langsung pergi dari hadapan wanita paruh baya itu.


Membuat jelita berhenti lagi dan menghembuskan nafas jengah. Ia tahu siapa yang memanggil nya sekarang, sih tua bangka lupa diri yang suka daun mudah.


"Kakek" jawab jelita setelah membalik tubuh nya menghadap kakek yang berkecak pinggang.


"Kau mau kemana? Apa seperti ini kelakuan mu?! Sungguh istri menjijikkan!" Hina kakek tama dengan pandangan menajam.


Mendengar hinaan kakek tama membuat darah jelita mendidih, tangan nya terkepal kuat sampai kuku-kuku panjang menancap di telapak tangan.


"Kek, sebenarnya aku terus berusaha untuk tidak melawan mu. Aku menyadari kau adalah kakek dari suami ku yang harus ku hormati. Tetapi, perkataan mu barusan membuat aku bertekad tidak akan pernah mencegah mulut ku lagi untuk menghina mu tua bangka!" Sergah jelita panjang lebar.


"Kau benar-benar menantu kurang ajar. Seperti keluarga mu!" kakek tama berapi-api.


"Keluarga ku? kau bilang keluarga ku kurang ajar?! Perlu ku beritahu kalau sifat mu lebih dari hanya kata kurang ajar" jelita mengatakan dengan pandangan menajam. "Kau sekolompok pembunuh berdarah dingin yang menjijikkan!" sambung jelita lagi.


"KAUU!!!" Kakek tama kalap mata.


Badan kakek tama menegang sembari menunjuk jelita emosi.


"Aku sungguh benar-benar membenci mu wanita sialan!. Akan ku pastikan kau menderita disini seumur hidup mu!!. Maki kakek tama.


Mendengar itu buliran bening tak dapat lagi di tahan. Air mata terjun bebas ke pipi jelita yang mulus.

__ADS_1


Tak mau menanggapi hinaan kakek tama jelita segera pergi dan memasuki mobil.


Selama perjalanan jelita terus melihat keluar jendela mobil. Wajah nya menampakkan kesedihan yang mendalam. Rasanya tak sanggup lagi harus berada di tengah-tengah sekelompok toxic, membuat nya seperti orang gila sekarang.


"Kita sudah sampai nyonya" supir bersuara.


Membuat jelita tersadar dan keluar dari mobil.


Langkah nya benar-benar anggun, banyak pasang mata yang melihat serta berdecak kagum menatap kecantikan jelita, seperti boneka hidup.


"Nyonya jelita" sapa pelayan cafee ramah.


"Ya.." jawab jelita lembut seadanya.


"Meja anda sudah di pesan, ruangan private 03. Mari saya antar" ajak pelayan sopan.


Jelita berjalan mengikuti pelayan sampai di depan pintu ruangan nya.


"Silahkan nyonya" ucap pelayan lagi membukakan pintu.


Pandangan jelita mengedar melihat teman lama nya sedang duduk termenung melihat jendela luar.


"Putri.." jelita antusias dan mendudukkan diri nya di kursi depan putri.


Wanita cantik itu melihat tatapan kosong teman lama nya namun penuh dengan amarah.


"Putri, ini aku. Aku mencari mu selama ini. Syukurlah kau baik-baik saja" jelas jelita sendu.


"Kau benar-benar tega jelita" putri bersuara serak namun tak mau melihat jelita.


"Apa salah keluarga ku padamu? APA JELITA?!!" putri berteriak frustasi dan menggeprak meja.


Jelita mengkerutkan kening nya bingung.


"Maksud kamu apa put? Aku salah apa?" tanya jelita pelan.


Ia benar-benar tidak tahu apa salah nya.


"Dimana kak regar? Dimana kakaku JELITAAA!!" 'Hikss..' 'Hikss..' putri menangis dan menyembunyikan wajah frustasi nya di atas meja.


Jelita mengerti. Membuat ia tak bisa berkata apa-apa.


Tangan nya terulur hendak mengusap lembut bahu yang sedang bergetar karena tangis itu, namun dengan cepat di tepis putri kasar.


Putri bangkit dari kursi nya dan menampar kuat pipi kanan jelita.


'CTAASSS..'


"Aku berharap kau bertanggung jawab atas semua ini! Kalau tidak, aku akan buat hidup mu tidak tenang jelita!" peringat putri tajam seperti setan.


"Maafkan aku putri. Aku mohon_.." jelita berdiri hendak memegang tangan putri namun cepat di tepis lagi.

__ADS_1


"Sampai mati pun aku tidak akan memaafkan mu sialan!!" maki putri dan berjalan keluar ruangan meninggalkan jelita yang mematung.


Bersambung🖤🖤🖤🖤🖤


__ADS_2