
Dentingan sendok beradu di meja makan nan mewah itu.
Tiba-tiba pandangan jelita menangkap sesosok manusia yang juga di benci nya di mansion ini.
"Tuan" sapa coky dengan kepala menunduk hormat.
Davied menoleh,
'Hmm..' deheman davied.
Coky mendekat kan diri dan membisikkan sesuatu kepada davied.
Jelita yang sedari tadi memperhatikan mereka diam-diam, menatap curiga kearah dua manusia kejam itu.
Terlihat Davied meneguk tandas jus jeruk di depannya dan bangkit dari kursi.
"Mas.." panggil jelita juga ikut bangkit dari kursi.
Davied menoleh dengan wajah aneh, seperti seorang psikopat yang menyembunyikan kemarahan.
"A.. a a.." jelita tak sanggup berbicara melihat tatapan davied.
"Lanjutkan makan nya!" titah davied tegas dan langsung pergi meninggalkan dua wanita yang menatap nya bingung.
Shilla menatap jelita, namun jelita membuang pandangannya dan terduduk lagi melanjutkan makan.
Fikiran jelita traveling, sepertinya ia sudah tau apa yang akan dilakukan sih raja iblis itu bersama sekretaris nya.
Jelita mulai menyuap makanan lagi untuk menambah tenaga dari pada terus memikirkan manusia gila di mansion ini.
______________
Di ruang eksekusi davied. Ia berjalan bak seorang raja jahannam yang ditakuti. Pandangannya lurus kedepan tanpa ragu untuk melangkah.
Bau anyir darah sudah seperti parfum kebiasaan yang lazim di indra penciuman davied.
Davied berdiri tegak menantang di depan orang yang sedang terikat lemah di kursi. Mata dan bibir nya yang sudah membengkak, hidung yang tak henti-henti mengeluarkan darah, tungkai kaki sebelah kanan yang lunglai seperti patah, dan kuku-kuku jari yang sudah copot berserakan di lantai.
"ERICK GAMA" ucap davied dengan mata menajam.
Erick gama adalah seorang CEO di perusahaan Multimas Global Company di Las vegas, termasuk pembisnis muda yang juga terkenal.
Erick menoleh, walaupun kondisi nya sangatlah lemah dan memprihatinkan, tetapi ia masih bisa mendengar dengan jelas suara pria yang terkenal berhati dingin itu.
"Apa tidur mu tenang selama menipu ku?" tanya davied dingin sembari berjalan kearah peralatan mainannya.
Davied memilih mainan apa yang akan asyik digunakan untuk bersenang-senang dengan penghianat di depannya ini.
"Tuan, s.. s aya mohon..." erick gama berucap dengan terbata. "S.. s aya akan mengem.. balikan.. u uang tuan... t.. t olong le.. pas kan s.. s aya..." Sambung erick gama lagi dengan wajah mengibah.
__ADS_1
Davied menoleh, menatap erick gama sinis.
"Apa? kau akan mengembalikan uang ku?" 'hahahahh....' "Apa kau bercanda? Atau kau sekarang sedang meyombongkan kekayaanmu?" davied tergelak seperti orang yang benar-benar merasa lucu. "Bahkan jika di bandingkan dengan harta ku saja, harta mu itu tidak ada apa-apa nya dari kekayaan ku!" jelas davied telak.
Erick gama meneteskan air mata, ia tahu akan sulit berdamai dengan manusia iblis di depannya ini.
"Ambillah.. semua harta ku t.. t uan, asal kau s.. s udi mengampuni ku.." mohon erick gama dengan air mata bercampur darah yang keluar dari mata nya. "A.. a ku mohon..." sambung nya lagi.
"Aku tidak butuh harta mu yang sedikit itu" balas davied dengan berjalan ke belakang tubuh erick gama dan menjambak rambut nya sampai erick gama mendungak keatas menatap davied.
'Creeeeessssss.....' davied menyayat leher erick gama sedikit seperti ayam potong yang hendak di sembelih.
"Aku hanya butuh kesenangan" sambung davied santai menatap netra erick gama yang mulai sayup.
Davied mengencangkan jambakannya, sampai luka sayatan yang dibuat davied menjadi melebar. Dengan santai dan wajah penuh senyuman davied menggorok leher erick gama.
Cipratan-cipratan darah mengenai wajah davied, dengan tersenyum puas ia menghempaskan jambakan rambut erick gama yang sudah tak bernyawa lagi.
Coky mendekat kearah sang tuan dan memberi sapu tangan.
Davied mengelap lelehan darah di jemari dan tangannya.
"Bereskan sisanya coky" titah davied dengan mode dingin lagi.
"Baik tuan" jawab coky dengan kepala menunduk hormat.
______________
Sementara, di kamar utama jelita terus mondar-mandir tak karuan, tak bisa di pungkiri ia terus memikirkan davied.
Kecurigaannya terus menghantui isi kepala, sampai ia tak bisa untuk duduk tenang.
'Ceklek' pintu kamar utama terbuka.
Reflek jelita langsung membalikkan badan dan menatap davied yang melangkah masuk kedalam kamar.
"Kau belum tidur?" tanya davied mendekati jelita.
Jelita tak menjawab, ia terus memperhatikan dan menelisik tubuh davied.
"A.. a aku belum mengantuk" jawab jelita bohong.
Davied mendekat, ia memeluk pinggang jelita erat dan posesif. Jemari nya mengelus lembut pipi istri nya itu.
"Kau memikirkan apa?" tanya davied pelan seperti berbisik.
"A.. a.. a ku.." Jelita gugup saat ditatap menelisik oleh davied.
Namun saat di tengah kebingungan jelita,
__ADS_1
'Degg' ia melihat ada setetes cairan berwarnah merah di pelipis davied.
Tangan jelita tergerak untuk menyentuh nya, dan benar saja saat jelita lihat bekas tetesan itu di jemari telunjuk nya. 'Darah' batin jelita memucat.
"I.. i.. i ni darah?" tanya jelita gugup.
"Ya.." jawab davied seadanya dengan wajah santai tak bersalah.
Jelita mendorong tubuh davied kuat, ia mencoba melepaskan tubuh nya dari pelukan suami gila nya.
Namun nihil, tenaga nya tidaklah sebanding dengan tenaga iblis yang memeluknya erat.
Davied terseyum devil kepada jelita.
"Kau seperti ini, mirip seperti tikus yang berusaha melepaskan diri dari jeratan" ucap davied terkekeh.
"Aku bukan tikus!, lepaskan aku davied!" balas jelita marah.
"Kau tikus kecil ku" sambung davied lagi.
"Aku tidak sudi" balas jelita
Davied tak membalas, netra nya terus menatap bibir pink jelita.
"Jangan menatap bibir ku seperti itu davied" jelita meronta ingin di lepas.
"Diamlah jelita!" bentak davied tak senang karena jelita terus menolak.
Tubuh jelita membeku, ia menatap netra davied yang mulai terpancing emosi.
"Davied, kalau kau harus memilih antara aku atau obsesi membunuh mu.. siapa yang harus kau tinggalkan?" tanya jelita pelan memberanikan diri.
"Kau" jawab davied seadanya.
Jelita menghembuskan nafas kasar dan membuang pandangannya kesamping.
'Cup' davied mengecup puncak kepala jelita dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Jelita yang diam mematung hanya mampu melihat punggung suami nya itu.
'Apa sebegitu cinta nya dia dengan membunuh itu?' pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan di benak jelita, sampai beberapa menit baru lah ia tersadar dan melangkah kearah kasur.
Jelita membaringkan tubuh dan menutup penuh dengan selimut, ia sungguh malas jika harus melihat suami psikopat nya nanti.
'Tap.. tap.. tap..' langkah kaki davied yang terdengar di indra pendengaran jelita.
Dengan sigap jelita menutup mata, agar terlihat seperti sudah tidur.
bersambung 🖤🖤🖤🖤🖤
__ADS_1