
'Ciitttt.....' suara rem mobil yang dikendarai jelita beserta bodyguard nya.
Mereka sudah sampai di basement mall ternama di kota ini.
Dengan senang ezeel keluar dari mobil sambil terus menarik-narik tangan jelita.
"come on momm.." ajak ezeel sudah seperti cacing kepanasan yang sudah tidak sabar ingin masuk kedalam.
Jelita tersenyum lembut melihat anaknya. Tak di pungkiri, sebagai seorang ibu jelita ingin melihat anak nya terus bahagia seperti ini.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam mall besar dan terlengkap itu, dengan diikuti maid dan bodyguard utusan kepala maid riza.
Orang-orang semua memandang kearah nya. Mengagumi kecantikan jelita dan ketampanan ezeel, ditambah dengan outfit yang dikenakan nampak terlihat dari brand ternama yang hanya dikenakan segelintir orang.
"Sayang, kau mau main itu?" tunjuk jelita di permainan wahana salju.
"Yess momm.." teriak ezeel senang kegirangan.
"Baiklah, tunggu ya momm beli tiket dulu" jawab jelita dengan membungkuk guna mengelus surai lembut ezeel.
Saat jelita hendak melangkah pergi,
"Anda tidak perlu repot nyonya, biar kami yang beli tiket nya" ucap salah satu bodyguard menghentikan langkah jelita.
"Yasudah, beli sana" balas jelita yang malas ribut di depan orang ramai.
Padahal, ia sangat ingin bersenang-senang seperti orang lainnya tanpa melibatkan bodyguard.
Lima menit jelita menunggu, sedangkan ezeel diajak maid ria melihat-lihat permainan salju nya dari pembatas.
"Ini nyonya" bodyguar menyodorkan tiga tiket kepada sang nyonya.
"Apa kalian tidak ikut masuk?" sindir jelita sambil tergelak.
"Kami akan memantau nyonya dari sini" jawab bodyguard.
"Baiklah, terserah kalian" ucap jelita acuh tak acuh lalu melengos begitu saja meninggalkan bodyguard.
"ayoo sayang kita masuk" ajak jelita senang kepada ezeel yang di gendong oleh maid ria.
Dipermainan salju mereka begitu terlihat bahagia. Tak memperdulikan tatapan para pengunjung yang lain, seolah mereka hanya sibuk dengan dunia nya sendiri. 'Hanya sebentar, aku merasakan nya, aku takkan melupakan kesenangan ini' monolog jelita dalam hati sembari terus menatap bahagia ezeel yang sedang seluncuran ditaman salju.
Waktu terasa amat sangat singkat, sudah pukul 14.30 waktu setempat, mereka baru hendak mau mengisi perut.
"Momm, aku hendak makan spaghetti bolognese" ucap ezeel di gendongan maid, saat mereka berjalan mengitari caffe di dalam mall.
"Siap sayang" balas jelita penuh dengan senyuman.
"Nyonya, ini sudah lebih dari 4 jam.. lebih baik kita kembali ke mansion nyonya" bodyguard mengajak dengan sopan.
"Anak ku lapar, ingin makan, hanya sebentar" jawab jelita acuh tak acuh.
Melihat sang nyonya seperti tak perduli, dua bodyguard itu mencoba diam dan menegur lagi nanti.
45 menit jelita ezeel dan para pengikut menyelesaikan makannya. Mereka bersiap untuk pergi ke bassment untuk kembali ke neraka itu, tetapi_
"Jelita.." panggil seseorang yang sangat akrab dengan jelita.
Jelita yang saat itu tengah berjalan dengan anak dan para pengawal nya seketika langsung menoleh kesumber suara.
'Deg' mata jelita membulat kaget, tetapi senyum nya seketika merekah senang.
"Kak regar.." balas jelita senang.
'Tap.. tap.. tap..' langkah cepat regar balwie mendatangi jelita.
Regar menghembuskan nafas nya senang. Ia tak menyangka akan berjumpa dengan wanita yang selalu menghiasi pikirannya.
"Kau sedang berjalan-jalan?, tumben" tanya regar penuh dengan senyuman.
__ADS_1
Jelita menoleh melihat ke kanan dan kiri tempat dua bodyguard yang menjaga nya.
"Ehm.. Aku mendapatkan hadiah dari suamiku.. yaa diizinkan berjalan-jalan keluar mansion sebentar" jawab jelita dengan tidak enak hati.
Mau gimana lagi, kalau berbohong sudah dipastikan jelita akan malu karena ia sedari kecil memang tidak pandai berbohong.
"Hadiah?" ulang regar dengan tergelak. "Berbuhubung kamu sedang mendapatkan jackpot dari suami mu, mari jangan kita sia-siakan.. aku hendak mengajak mu kesuatu tempat, boleh?" jelas regar panjang lebar.
"A.. aku..." jelita bingung hendak menerima ajakan regar atau tidak. Rasanya sangat sayang jika di tolak, karena ini adalah pertemuan langkah. Tetapi kalau diterima pun bayang-bayang davied selalu mengisi pikirannya.
"Jelita, please.." mohon regar dengan wajah penuh harap.
Jelita bingung, ia kembali menoleh ke kanan dan kiri bodyguard nya.
"Nyonya, anda harus kembali tepat waktu.. tuan sudah berpesan" Kembali bodyguard mengingatkan jelita.
"Jelita akan kembali sebelum davied sampai mansionya!" sergah regar kepada bodyguard.
"Sebaiknya batalkan keinginan anda tuan, jangan sampai anda menyesal nanti!" ancam bodyguard lagi.
"Apa kau pikir aku takut dengan tuan mu?" Regar tak terima.
"Anda hampir mati ditangannya" Sergah bodyguard lagi.
"Aku tidak takut mati!" balas regar lagi.
Jelita menatap tajam bodyguar nya yang hendak membalas perkataan regar lagi.
"Kak, sebaiknya lain kali saja.. aku tidak bisa" jawab jelita dengan wajah penuh penyesalan.
"Jelita, aku mohon...__" belum sempat regar berbicara.
"Nyonya, ada telpon" potong bodyguard sembari memberikan ponsel kepada jelita.
Jelita menoleh dan langsung mengambil posel dari tangan bodyguard, tanpa melihat siapa yang menelepon ia langsung meletakkan nya di telinga.
"JELITA! PULANG SEKARANG!" bentak orang dari seberang telpon membuat jelita terjingkat kaget.
"Ehm.. maaf kak regar, aku tidak bisa.. mungkin lain x saja" jawab jelita dengan wajah panik bercampur takut. "Ayo maid" ajak jelita kepada maid yang menggendong ezeel dan berlalu pergi meninggalkan regar yang terdiam mematung dengan wajah kecewa.
"Tub" pintu mobil jelita tertutup.
Jelita duduk termenung di dalam mobil. Ezeel yang sejak tadi memperhatikan mommy nya langsung bersuara.
"Momm, are you okey?" tanya ezeel.
Mendengar anak semata wayang nya berbicara jelita langsung menoleh dengan mengembangkan senyum nya.
"Yes, i'm okey" jawab jelita lembut sembari mengelus surai ezeel.
sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, semua asyik dengan dunia pikirannya sendiri.
40 menit mobil yang dikendarai jelita akhirnya sampai di gerbang utama mansion gaozhan.
"Tap.. tap.. tap.." Dua bodyguard datang menghampiri mobil jelita dengan tergesa.
Saat jelita keluar mobil diikuti maid ria dan ezeel,
"Ria, pergi bawa tuan muda ke kamar" bodyguar yang tergesa tadi memerintah.
Ria mengangguk pertanda setuju dan langsung menggendong ezeel masuk kedalam mansion.
"Eh.. eh.. apa-apaan kalian!" bentak jelita tak terima dan mencoba menghalangi.
"Maaf nyonya.. yonya silahkan masuk, tuan menunggu diruang kerja nya" ucap bodyguar dengan sopan.
Jelita sudah menebak, pasti akan ada perang dunia di mansion ini.
Tanpa menjawab perkataan bodyguard jelita langsung melangkah kan kaki nya ke lantai dua tempat dimana ruang kerja davied berada.
__ADS_1
'Tok.. tok.. tok..' jelita mengetuk pintu ruangan kerja davied.
Tak ada jawaban, membuat jelita merasa was-was, tak di pungkiri jantung nya berdebar kencang karena takut.
Dengan memberanikan diri jelita membuka pintu dan masuk dengan langkah pelan.
'pprrrraaaaannnggg.... ppyyaaaarrrrr....' suara lemparan barang-barang kaca di depan jelita. Membuat nyali nya seketika menciut.
"KEMARI KAU!" bentak davied membuat jelita seketika memucat.
Dengan wajah pucat dan mata berembun jelita terus melangkah pelan dan berdiri di depan meja kerja kebanggaan suaminya, dengan pandangan takut ia menatap netra membunuh davied.
Davied menghembuskan nafas nya jengah, dadah nya naik turun pertanda saat ini ia tengah emosi.
Dengan kasar davied berdiri dari duduk nya dan memainkan pisau lipat nya diatas meja.
"Apa aku harus membunuh nya juga jelita?" tanya davied dengan penekanan dan mata memerah menatap jelita.
'Glek' melihat jiwa psikopat suaminya mulai keluar, jelita meneguk saliva nya dengan susah payah.
"Mas, maaf mas.. aku.. __" belum selesai jelita berbicara,
"Jangan banyak berkilah jelita!" bentak davied dengan urat-urat leher yang menonjol.
Tangisan tertahan jelita mulai terdengar, air matanya kini sudah jatuh kepipi.
"Aku tidak melakukan apa-apa davied" ucap jelita lagi dengan air mata yang mulai tumpah ke pipi. "Aku tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas seorang istri lakukan!" sambung jelita lagi dengan dada naik turun menahan tangis.
'Hahahahahahhhhhh...' tawa davied menggema diruangan itu. Membuat jelita seketika merinding takut.
'Tap.. tap.. tap..' langkah kaki davied turun dari singgasananya dan mendatangi jelita.
Davied mengitari jelita, dan berdiri dibelakang wanita terisak itu.
'Greb' davied memeluk tubub jelita dari belakang, tetapi tangan kananya yang memegang pisau lipat menelusuri wajah teduh jelita.
Jelita pasrah, walau sekarang tak dipungkiri tubuhnya gemetar, dengan isakan tangis yang tertahan dan mata terpejam karena takut.
"Kau salah, kau telah melanggar aturan ku" ucap davied pelan ditelinga jelita dan,
'Brruuukkkk...' tubuh jelita terjatuh ke lantai karena di dorong kuat oleh davied.
'Hiksss... hiksss... hikksss....' tangisan jelita pecah karena tak bisa ditahan lagi.
"Kau gila... kau pria gila" teriak jelita dengan frustasi.
'Hahahahahhhhh' tawa davied kembali menggema. Dengan berjalan cepat kearah jelita davied langsung menjambak kuat rambut wanita ringkih itu sampai terdungak.
"Apa kau bilang?" tanya davied dengan mata memerah seperti ingin menelan jelita hidup-hidup.
Jelita gelagapan, tangannya mencari-cari benda dilantai yang bisa digunakan untuk menyingkirkan psikopat ini dari hadapannya, tak disangka ia menyentuh pulpen, tanpa pikir panjang dengan cepat langsung menusukkan pulpen itu keperut bagian samping kiri davied.
'Cttuuusssss....' suara pulpen yang masuk menancap dipinggang davied.
Davied seketika diam, ia menatap jelita dingin tak habis pikir.
'Sreekk..' davied melepaskan kasar rambut jelita dan bergegas berdiri.
Ia melihat pinggangnya yang tertancam pulpen dengan darah yang terus mengalir. Dengan sigap davies mencabut pulpen itu, sementara tangannya dengan cepat menahan luka agar tak banyak mengeluarkan darah.
"Kau hebat jelita! dengan sekejab kau bisa menjadi pembunuh! kau dan aku tak ada bedanya!" ucap davied dengan tergelak dan menahan sakit.
"Tidak.. tidak mas maafkan aku" 'hikss.. hikss..' "Tadi, tadi semua terasa gelap dan terjadi begitu saja" jelita berusaha menjelaskan dan bangkit hendak menyentuh luka davied namun di tepis oleh davied.
"Pergilah, sebelum aku habis kesabaran" ucap davied dingin.
Jelita terdiam, dengan hati kacau ia berlari keluar dari ruangan kerja davied.
'kduuugggg... prranggg... pyyaarrrr.....' davied meninju meja kerja nya dan mencampakkan semua isi diatas nya.
__ADS_1
Dengan dadah naik turun ia berusaha menetralkan emosi nya.
bersambung 🖤🖤🖤🖤🖤