Ikatan Rantai Besi Sang CEO

Ikatan Rantai Besi Sang CEO
Episode 76


__ADS_3

Sekarang wanita buncit itu telah duduk di kursi belakang mobil. Ia termenung melihat luar jendela yang tertutup.


'Kira-kira untuk apa ya aku di suruh ke rumah sakit?' pertanyaan-pertanyaan berkeliling keluar masuk di kepala shilla.


"Kita sudah sampai nona" ucap supir yang membangun kan shilla dari lamunan.


"Ah.. yaa.." Bergegas wanita buncit itu membuka pintu mobil dan keluar.


'Tap.. tap.. tap..'


Terdengar suara langkah higheels pendek shilla memasuki Rumah Sakit Chevani.


"Nona shilla?" tanya perawat yang sudah menunggu di teras rumah sakit besar itu.


"Ya" jawab shilla singkat.


"Silahkan masuk. Dokter brian telah menunggu" persilahkan perawat dengan sopan.


Shilla masuk mengikuti langkah perawat yang di utus dokter brian.


Sesampai nya mereka di depan pintu ruangan yang bertuliskan nama dr. Brian Ronald.


"Silahkan masuk nona" ucap perawat sopan setelah membuka kan pintu ruangan untuk shilla.


Dokter Brian yang melihat shilla telah masuk ruangan nya langsung berdiri membenarkan kacamata dan tersenyum sopan.


"Nyonya shilla. Silahkan" Sambut dokter Brian menunjuk kursi di depan nya.


Shilla membalas senyum dokter brian singkat dan terduduk di kursi yang di tunjuk dokter brian.


"Hmm.. Begini nona, ada yang mau saya sampaikan kepada nona" ucapan dokter brian yang menggantung, membuat shilla mengerutkan kening.


"Apa itu dok?" shilla bertanya bingung.


"Calon suami nona, sekretaris coky telah meninggal dunia" jawab dokter brian santai.


Perkataan dokter brian itu membuat shilla terkejut sampai membulatkan mata nya lebar.


"A.. a apaa..?" Shilla berucap tak percaya.


"Nona shilla, sebaiknya nona pergi ke ruang administrasi mengurus semua yang di perlukan, agar jenazah sekretaris coky dapat di bawa pulang" jelas dokter brian lugas.


"A.. a apaa...? Tapi... Aku bukan siapa-siapa nya. Aku tidak tahu menahu urusan itu" sergah shilla panik.


"Pergi saja nona. Nanti ada perawat yang akan membuat surat pernyataan kalau kau adalah istri nya sekretaris coky. Kau hanya perlu menandatangani itu. Setelah itu jenazah sekretaris coky akan keluar" jelas dokter brian meyakinkan.


"Tolong, permainan apalagi ini?! saya tidak mau menjadi kambing hitam atas kelakuan bejad kalian!!" bentak shilla tak terima, karena ia sudah menyadari ada kejanggalan dan permainan yang menjadikan nya sebagai umpan dan kambing hitam.


"Nona terlalu berlebihan. Saya tidak ada niatan untuk mengkambing hitamkan nona. Saya hanya memberikan solusi agar jenazah sekretaris coky dapat di kebumikan dengan segera dan baik. Apa itu sesuatu hal yang patut di curigai nona?" tanya dokter brian di ujung kalimat nya.


Shilla menatap intens netra dokter brian, tangan nya terkepal kuat. Dia sangat tahu dengan jelas bahwa ini adalah trik untuk mengumpan nya.


Dengan kesal ia bangkit dan pergi keluar ruangan dokter brian begitu saja.


'Blaamm'

__ADS_1


Bantingan pintu terdengar nyaring.


______________


Sementara davied yang sudah berada di ruangan kerja nya, memainkan laptop dengan khusyuk.


Setelan kemeja putih dengan baju bagian lengan di gulung sampai siku dan celana jeans panjang.


'Derrttt.. derrttt...'


Ponsel davied berdering di atas meja.


Wajah nya menoleh melihat layar ponsel yang bertuliskan nama shilla.


Tanpa ragu ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Hmm.." davied berdehem di balik telepon.


Membuat shilla tersenyum senang karena telepon nya di angkat davied.


"Mas, mas aku.. aku di suruh kakek dan dokter brian berpura-pura menjadi istri sekretaris coky. A.. aku di jadikan jaminan untuk mengambil mayat sekretaris coky" jelas shilla di seberang telepon dengan suara tergagap dan sedih.


"Coky, sudah mati?" tanya davied dengan pandangan menajam.


"I.. iya mas, tolong aku mas. Aku bingung harus apa, mereka memaksa ku" 'Hikss.. hikss..' tangisan shilla terdengar di balik telepon.


"Kau ikuti saja apa kata mereka, jika kau ingin aman" ucap davied santai.


"T.. tapi mas..._" belum selesai jelita berbicara.


Dengan wajah serius davied menutup laptop nya dan berjalan keluar ruangan.


Saat davied sampai di lantai bawah,


'Tap.. tap..tap..' Suara langkah tegas davied.


Kepala maid riza yang melihat tuan nya di lantai bawah langsung bergegas menghampiri.


"Tuan" Sapa kepala maid riza menunduk hormat.


"Dimana kakek?" tanya davied datar.


"Tuan besar di halaman belakang tuan, memberikan makan ikan-ikan di kolam" jelas kepala maid riza sopan.


Mendengar itu davied segera melangkah ke arah halaman belakang.


Langkah tegas nya mulai mendekati kakek tama yang berdiri di samping kolam, ekor mata kakek tama mulai melihat davied yang mulai mendekat.


"Kakek" sapa davied yang sudah berdiri kaku dengan memasukkan kedua tangan nya di saku menatap kakek tama tanpa ekspresi. "Kau telah menghabisi coky?" tanya davied lagi.


Kakek tama memutar tubuh nya menghadap cucu nya itu.


"Kau tak memerlukan nya lagi. Asisten baru mu kerja nya juga lebih bagus dari pada dia, jadi untuk apa di pertahankan" jawab kakek tama santai.


"Kalau hanya untuk di habisi juga, untuk apa bawa ke rumah sakit" sergah davied mulai gerah.

__ADS_1


"Ntah lah, itu hanya pikiran ambigu kakek" jawab kakek tama santai. "Sudahlah, tak perlu kita bahas orang yang sudah mati" sambung kakek tama lagi.


"Kenapa harus shilla yang kau kirim?" davied terus bertanya dengan pandangan mulai dingin.


Kakek tama mengerutkan kening nya.


"Kau keberatan? Kau mencintai nya?" kakek tama bertanya telak.


"Dia mengandung anakku! Sudah pasti aku harus bertanggung jawab atas diri nya" jawab davied santai.


"Oh ya? Dia akan selamat, kau tak perlu mencemas kan nya" sindir kakek tama dengan sedikit senyum.


Davied yang melihat senyum itu langsung memalingkan pandangan wajah nya dengan ekspresi malas.


"Kalau terjadi apa-apa dengan anakku, aku tak kan memaafkan mu!" ucap davied dengan penuh penekanan.


Membuat kakek tama menelan ludah nya susah payah, wajah yang tadi nya senyum berubah datar kembali.


_______________


Sementara pukul 19.15 waktu setempat, di kamar utama, jelita mulai menggeliat. Seperti nya wanita cantik itu mulai tersadar dari tidur nya.


Pandangan nya mulai menyesuaikan cahaya lampu yang sudah terpasang. Dan tubuh nya mulai terduduk dengan memegang selimut di dadah.


Di tengah-tengah pengumpulan nyawa, tiba-tiba kepala nya mulai menayangkan cuplikan-cuplikan perlakuan egois davied tadi siang.


Tanpa sadar air mata mulai tergenang di pelupuk, dengan cepat ia membuang pandangan nya untuk menguatkan agar air mata nya tak tumpah. Namun pandangan buangan nya itu tertuju ke troli di samping kasur yang sudah ada berisi makanan-makanan enak.


Kekesalan di hati mulai keluar, ia membangkit kan tubuh untuk turun dari kasur dan mendatangi troli itu.


'PRANGG...PRANGG...'


Dengan marah dan dadah naik turun ia menyingkirkan kasar semua makanan-makanan dari atas troli itu, sampai pecah berserakan di lantai.


Ia sudah tak memperdulikan lagi tubuh bugil nya yang berdiri sempoyongan sambil memegang pinggiran troli agar tak jatuh.


Batin nya sungguh menangis sekarang, ia tidak tahan dan sudah benar-benar muak.


'Ceklek'


Suara pintu yang di buka tergesa.


Menampakkan davied dengan wajah khawatir dan dadah naik turun seperti habis berlari.


Langkah lebar nya langsung mendatangi jelita yang masih berdiri tanpa busana sedang memegang troli.


"Sayang!" Davied langsung memegang kedua bahu jelita hendak menarik tubuh lemas wanita cantik itu kedalam pelukan nya.


Namun dengan kasar jelita menolak pelukan davied. Mata merah nya menatap pria di depan dengan sinis.


"Pergi kau! Aku tak mau melihat mu!!" bentak jelita seperti orang kesetanan.


Davied terdiam, ia terus melihat tubuh lemas istri nya yang tanpa busana di depan nya.


Jelita mengikuti arah pandang mata davied yang terus menelisik tubuh nya, namun ia sudah tak perduli lagi, urat malu nya seakan putus habis karena ulah suami egois di depan nya ini.

__ADS_1


Bersambung🖤🖤🖤🖤🖤


__ADS_2