Ikatan Rantai Besi Sang CEO

Ikatan Rantai Besi Sang CEO
episode 29


__ADS_3

'ckkiiittt..' bunyi rem mobil Rolls Royce Phantom terparkir disebuah taman kota.


karena ini tidak hari libur, maka taman kota saat ini nampak lenggang dari pengunjung, hanya terlihat beberapa keluarga saja yang sedang menikmati keindahan taman kota ini.


ada yang duduk berkemah dengan keluarga kecil nya, ada juga yang membawa anak nya bermain ditempat permainan anak-anak.


Jelita menoleh kesamping, saat ia menggandeng Ezeel keluar dari mobil, tampak senyum ezeel yang tak luntur bagai matahari terbit.


"mommy, apa daddy tidak marah kalau tahu kita keluar mansion?" tanya ezeel polos. ia mendungak, menatap mommy nya dengan serius.


jelita terdiam sebentar, memandang sendu netra ezeel. lalu ia jongkok menyamai tinggi nya dengan putra sematawayang nya.


"kita hanya jalan-jalan sebentar, daddy tidak akan marah" jawab jelita lembut dengan mengelus surai ezeel.


nampak senyum ezeel kembali terbit.


"benarkah... kalau begitu, ayoo momm buruan kita kesana.. " ucap ezeel dengan semangat, sembari berlari dan menarik jemari jelita untuk masuk kedalam taman kota.


mereka berdua terus berjalan dengan gembira nya menuju tempat permainan anak-anak.


terlihat jelita dan ezeel tertawa lepas saat mereka berdua bermain ayunan. sungguh pemandangan yang membuat siapa saja dapat melihat, bahwa untuk beberapa saat mereka dapat melupakan kepahitan yang datang setiap hari dan setiap saat didalam diri.


mereka yang saat ini, bukanlah mereka yang terlihat angkuh untuk menutupi ketidakberdayaan ditempat tinggalnya sendiri. tempat tinggal yang amat sangat ingin dilupakan, tidak ingin dikenang dan diingat, bahkan mereka berharap tempat tinggal mereka itu hanyalah mimpi! tidak ada mansion terkutuk yang selalu mengurung nya, tidak ada pemilik mansion yang sudah seperti raja iblis.


'tess.. ' air mata jelita jatuh kepipih.


"mommy menangis ?" tanya ezeel cemas sembari memegang jemari jelita.


"momm..." panggil ezeel lagi karena tak dapat respon dari jelita.


"eehhh...." jelita tersentak dari lamunannnya.

__ADS_1


"sayang, ada apa?" tanya jelita lembut, sambil membelai surai lembut ezeel.


"mommy menangis..?" tanya ezeel dengan wajah sedih.


"menangis..? tentu tidak sayang.. mommy bahagia saat melihat mu bahagia" jawab jelita, dengan menoel pelan hidung mancung ezeel.


ezeel hanya tersenyum dan kembali duduk di ayunan nya.


disaat netra jelita terus memperhatikan sekeliling taman kota.


'deeg..' jelita melihat sosok yang sangat familiar dan paling dicari selama ini.


"kak regar" ucap jelita pelan.


jelita terus menatap sesosok itu, yang sedang berdiri berbicara ditelepone dengan serius.


"sayang, ayoo ikut mommy sebentar" ajak jelita kepada ezeel.


jelita berhenti tepat dihadapan regar balwie, menatap sendu wajah regar balwie. begitupun regar, ia menghentikan panggilan telepone nya karena sadar ditatap oleh wanita yang juga amat sangat dirindui nya.


"jelita.." suara bariton yang selama ini yang dicari nya menyeruak masuk keindra pendengaran jelita.


jelita tak kuasa menahan air mata yang langsung luruh kepipi, ia amat sangat menyesali kejadian tiga tahun silam.


'brruuppp..' jelita langsung memeluk tubuh regar. ia menangis menumpahkan segala kekesalannya di dadah bidang regar.


dengan erat regar juga membalas pelukan jelita, meresapi dan merasai kenyamanan yang selama ini hilang didalam dirinya.


regar mengelus lembut surai jelita, menghirup dalam-dalam aroma wanita yang selama ini dirindui namun tak tergapai.


regar melonggarkan pelukannya, menghapus air mata dipipi jelita dengan ibu jari nya.

__ADS_1


"sudah, wanita cantik tidak boleh menangis.." ucap regar pelan, menatap netra jelita.


jelita pun mendungak, menatap netra regar dengan dengan sendu.


"kak, selama ini kakak kemana saja ?, aku khawatir sama kakak dan putri.. aku takut kalian kenapa-napa.." ucap jelita dengan suara sendu.


regar tersenyum, bukan karena perkataan jelita, melainkan karena suara serak habis nangis jelita yang membuat bulu kuduk nya merinding.


regar menatap gemas wajah jelita yang memelas.


"kakak baik-baik saja, putri pun baik.." jawab regar sembari mengelus lembut pipi jelita. "jelita tidak perlu khawatir yaa" sambung regar lagi.


netra regar teralihkan kepada anak kecil tampan yang sedari tadi menatap dengan bingung.


"lelaki tampan ini anak kamu?" tanya regar lagi, yang sudah jongkok menyamai tinggi nya dengan ezeel.


" yaa kak" jawab jelita.


"anak yang tampan" puji regar.


"nama kamu siapa sayang?" tanya regar lagi dengan lembut kepada ezeel.


"alfarezeel uncle" jawab ezeel singkat.


regar tersenyum, ia menoel hidung mancung ezeel dengan gemas.


bersambung..


🖤🖤🖤🖤


🖤🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2