
Di mansion davied, terlihat shilla yang sedang duduk termenung melihat taman bunga jelita.
Pandangan shilla saat ini nampak kosong dan lesuh. Ia ingin sekali mendapatkan perhatian tuan davied namun tak bisa.
Hidup di mansion ini sungguh hanyalah sia-sia pikir nya, tak bisa juga mendekati sang tuan.
"Nona shilla, mari masuk. Kau sudah terlalu lama diluar" peringat kepala maid riza.
Yaa, kepala maid riza memang sudah keluar dari ruang eksekusi davied. Karena pertolongan coky, akhirnya ia bisa menghirup udarah segar lagi.
"Mengapa mereka belum kembali riza?" tanya shilla dengan pandangan lurus kedepan.
"Tidak perlu seperti ini! Kau hanya perlu memikirkan anak mu saja!" balas kepala maid riza sinis.
"Ini hanyalah anak iblis sialan itu! bukan anak tuan davied. Kalau disuruh memilih, aku lebih memilih menggugurkan nya dari pada membiarkan bayi ini mengotori rahimku!" sergah shilla dengan pandangan tajam.
"Kau berbicara terlalu maju shilla! Apa kau sudah tak memikir kan ibu mu!" bentak kepala maid riza kuat.
Shilla tergelak, netra nya menatap kepala maid riza dengan pandangan jijik.
"Kalian memang benar-benar komplotan bedebah gila" ucap shilla kesal dan langsung pergi meninggalkan kepala maid riza yang juga sinis menatap nya.
_______
Selesai sesi pergulatan panas tadi, davied melangkah kan kaki nya keluar kamar dengan baju yang sudah berganti mengenakan t-shirt putih. Ia berjalan hendak menuju ruang tamu lantai bawah.
Sesampai nya disitu davied mengedarkan pandangan, kosong tak ada siapapun.
Sofa yang penuh dengan gelas tadi pun sudah bersih di bereskan.
"Hei, kau" davied menghentikan maid yang lewat.
"Tuan memanggil saya?" tanya maid dengan kepala menunduk hormat.
"Hmm.. Dimana kakek?" tanya davied menatap tajam.
"Tuan tama berada di ruang kerja nya tuan" jawab maid merinding takut melihat tatapan davied.
Davied pergi begitu saja menuju ruang kerja kakek tama.
'Tap.. tap.. tap' langkah nya terhenti.
Davied melihat ada dua penjaga di depan pintu ruang kerja kakek tama. Mata nya menyipit tajam. Ia tahu seperti ada yang di rahasiakan.
'Ekhemm' davied berdehem.
Membuat dua penjaga itu ketakutan sampai pucat pasih.
Salah satu penjaga ikut berdehem menetralisirkan kegugupan nya.
"Ada yang perlu saya bantu tuan?" tanya penjaga itu.
"Apa aku harus permisi dulu baru boleh masuk?" davied balik tanya dengan pandangan tajam.
Dua penjaga itu gelagapan, ia langsung mengetuk pintu untuk memberitahu tuan tama nya.
__ADS_1
'Tok..tok' 'Ceklek' "Permisi tuan, tuan muda davied ada di luar" ucap penjaga menyembulkan sedikit tubuh nya, dengan suara bergetar.
Kakek tama yang mendengar langsung datang menuju pintu dan membuka pintu ruangan nya lebih lebar, membuat penjaga itu mundur keluar.
"Cucuku, kenapa terus berdiri, ayo masuk" ajak kakek tama lembut.
Davied tak menjawab, ia langsung masuk melewati kakek tama.
"Tuan" sapa coky yang sudah ada di dalam, saat ini ia berdiri di dekat sofa.
Lagi-lagi davied tak menjawab, ia langsung berjalan dan mendudukkan tubuh nya di sofa depan coky.
"Kau disini juga coky?" tanya davied tak mau memendang wajah coky.
"Iya tuan, kami sedang membahas proyek besar bersama perusahaan YSL Group tuan" jawab coky sopan.
"Kakek, aku berencana akan membatalkan kerjasama dengan YSL Group, apakah kau keberatan?" tanya davied santai.
Wajah kakek tama berubah tegang, terlihat jelas suasana hati nya yang mendadak berubah dingin, namun dengan cepat ia menormalkan lagi mimik wajah nya.
"Aku percaya padamu davied, kau yang paling handal mengurus perusahaan" jawab kakek tama dengan tersenyum tipis.
Davied manggut-manggut menyetujui perkataan kakek tama.
"Coky, siapkan helicopter charter ku, aku harus kembali!" tegas davied memandang tajam coky.
"Baik tuan" jawab coky dengan wajah pucat, dan langsung keluar ruangan.
"Kau baru saja sampai, kenapa harus terburu cucuku" ucap kakek tama dengan berat hati.
"Minggu depan sempatkan lah datang kesini, kakek sudah tua, kau harus sering melihat kakek" peringat kakek hangat.
"Kalau ada waktu, aku pasti datang" balas davied santai.
15 menit kakek dan cucu itu tak megeluarkan suara, karena kakek tama tahu iblis pintar di depan nya ini sudah mulai curiga kepada dirinya dan coky. Kakek tama tak mau salah bicara yang akan membuat nya terpojok nanti, makanya lebih baik diam menyusun strategi agar rencana-rencana yang sudah di susun matang itu tidak ketahuan oleh cucu nya.
'Tok.. tok' 'Ceklek' menampakkan coky di depan pintu.
"Helicopter charter 15 menit lagi akan siap mengudara tuan" beritahu coky sopan.
Davied yang duduk langsung membangkit kan tubuh nya.
"Beritahu pada anak dan istriku agar mereka bersiap" titah davied dan berjalan tegas keluar tak memperdulikan kakek tama.
Kakek tama memandang datar ulah davied dan juga bergegas keluar mengikuti cucu nya. Tetapi pada saat kakek tama berpapasan dengan coky, netra nya menatap tajam seperti isyarat menyampaikan sesuatu.
Coky mengerti, kepala nya menunduk hormat pada kakek tama.
Saat ini davied berdiri tegak di halaman belakang mansion, dengan wajah dingin dan mata merah.
Coky dan kakek tama yang melihat itu hanya bisa pasrah seperti tidak tahu apa-apa.
Tetapi sesaat nampak jelita dan nany sindi berjalan mendekat kearah davied.
"Daddy..." teriak ezeel yang berada di gendongan jelita.
__ADS_1
Davied menoleh, melihat istri nya yang seperti kesusahan menggendong ezeel, tangan nya langsung terulur hendak mengambil ezeel.
Jelita memberikan ezeel pada davied, wajah cantik nya tersenyum manis kepada kakek tama.
"Ezeel, beri ucapan selamat tinggal pada kakek" titah jelita lembut pada ezeel.
"Selamat tinggal kek, nanti kalau daddy punya waktu kami pasti akan kesini lagi" ucap ezeel cedal dengan senyuman.
"Hmm.. kakek akan menunggu waktu senggang daddy mu" balas kakek seadanya.
Setelah selesai berpamitan pada kakek tama, mereka berjalan memasuki helicopter.
Satu jam di dalam helicopter, sekarang davied telah menapaki mansion nya.
"Keruanganku coky!" titah davied dingin.
Coky mengangguk sopan sebagai jawaban.
Davied berjalan duluan dengan langkah lebar menuju ruang kerja nya.
5 menit sudah davied menunggu dengan berdiri angkuh melihat luar jendela barulah coky menyembul.
"Tuan" sapa coky sopan.
Davied membalikkan tubuh nya melihat coky dengan wajah dingin menahan amarah.
"Katakan coky?" tanya davied dengan dadah naik turun menampakkan kemarahan.
"Maaf tuan, saya tidak mengerti" jawab coky dengan kepala menunduk.
"KATAKAN!!" bentak davied murka.
Wajah coky berubah pias, ia tak menyangkah akan secepat ini tuan nya mengetahui.
'Dugg' 'Prangg..' davied melemparkan asbak rokok ke kepala coky dan pecah berderai dilantai.
Darah segar mengalir mengenai wajah coky, namun tak membuatnya bergerak untuk menghapus lelehan itu.
Davied berjalan tegas ke meja kerja, mengambil kasar telepone dan menghubungi seseorang.
"Suruh dua bodyguard masuk!" titah coky tegas, dan langsung menutup telepone nya kuat.
'Ceklek' dua bodyguard masuk menunduk hormat.
"Seret penghianat ini keruang eksekusi!" titah davied dengan pandangan tajam.
"Baik tuan" jawab bodyguard dan mendekat kearah coky dan mengunci kedua tangan nya, lalu menyeret nya keluar seperti tahanan.
Coky pasrah, ia melangkah keluar tanpa perlawanan dan pembelaan sedikit pun.
Bersambungπ€π€π€π€π€
Mohon like dan komentar positif nya yaa teman ππ agar aku lebih semangat lagi berkarya untuk kalian πππ
Dan terimakasih untuk kalian yang sudah like, coment di novel kuπππ karena jujur, tanpa kalian para pembaca, aku tidak ada apa-apa nyaπ€π€
__ADS_1