Ikatan Rantai Besi Sang CEO

Ikatan Rantai Besi Sang CEO
Episode 60


__ADS_3

Selepas sarapan tadi, jelita langsung bergegas ke kamar ezeel, melihat tubuh mungil yang tertunduk lesu diatas ranjang.


"Kau baru bangun sayang?" tanya jelita lembut, sembari mengelus surai ezeel.


"Kenapa daddy jahat dengan mommy? ezeel tidak suka melihat nya" sergah ezeel dengan wajah murung tak menatap jelita.


Mendengar penuturan ezeel jelita kaget, hati nya seketika menciut tak bisa berkata apa-apa.


"Ezeel sayang, dengar mommy ya nak" jelita menjeddah ucapannya dan menghembuskan nafas dalam. "Daddy itu__" belum sempat jelita menjelaskan,


'Ceklek' pintu kamar ezeel terbuka.


Jelita menangkap sosok suami dingin nya dan dokter brian masuk, membuat ia seketika bangkit memberikan ruang untuk dokter brian memeriksa.


"Hai tuan muda tampan" sapa dokter brian ramah. "Kenapa ini? kok murung sekali?" tanya dokter brian sembari duduk dan mengeluarkan stetoskop nya.


Ezeel membuang wajah nya malas menanggapi dokter brian.


'Mirip sekali dengan daddy nya' monolog dokter brian yang melihat tingkah ezeel.


Tak butuh waktu lama dokter brian menyelesaikan pemeriksa di tubuh ezeel.


"Tuan muda baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan" ucap dokter brian sembari membereskan stetoskop. "Nanti saya akan berikan obat pada kepala maid, dan harus di minum ya tuan muda" jelas dokter brian ramah.


Ezeel tak menanggapi, ia memandang lesu kearah lain.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, nyonya" pamit dokter brian bangkit sembari mengangguk sopan kearah davied dan jelita, lalu melenggang keluar kamar.


Davied berjalan menggantikan tempat duduk dokter brian tadi, tangan nya terulur merasakan panas di kening ezeel.


"Cepat lah sembuh, anak laki-laki tidak boleh lemah" ucap davied lembut, beralih memegang erat jemari ezeel.


"Apakah daddy sedang musuhan dengan mommy?" tanya ezeel menelisik.


'Haaa..' Davied ternganga mendengar pertanyaan ezeel. "Daddy tidak pernah musuhan dengan mommy" jelas davied.


"Tetapi tadi daddy begitu kasar dengan mommy, apa salah mommy dadd? tanya ezeel lagi dengan wajah cemberut.


"Sudahlah, kau tak perlu memikirkan hal seperti itu" sergah davied.


"Tapi aku tidak suka dadd" bantah ezeel dengan mata menajam menatap davied.


Melihat keras kepala ezeel, davied pun bangkit dari kursi dengan kasar dan pergi keluar.


Jelita yang masih berdiri disitu, langsung menghampiri ezeel, memeluk nya dengan erat sembari mengusap punggung anak semata wayang nya yang menampakkan wajah sedih.


_________________


Davied berjalan tegas menuju ruang kerja nya, namun terlihat shilla yang sudah berdiri di depan pintu ruangan kerja davied.


"Tuan.." sapa shilla.


Davied tak menanggapi, ia masuk keruang kerja dengan melewati shilla begitu saja.


"T.. tuan" panggil shilla lagi yang ikut masuk.


Davied duduk di kursi kerja nya.


"Ada apa?" tanya davied dingin tak melihat shilla.


Shilla melihat davied yang begitu sibuk memeriksa berkas-berkas di atas meja nya.


"Tuan, aku sedari tadi mencari mu" jawab shilla lembut.


"Iya, ada apa?" tanya davied sekali lagi dengan wajah tak acuh.

__ADS_1


Shilla memberanikan diri melangkah kearah davied, dan berdiri di samping lelaki dingin itu.


"Anak tuan ingin bersama daddy nya" jawab shilla pelan, sembari mengelus perut yang mulai kelihatan buncit itu.


Davied melirik, menatap shilla dingin.


'Greeb' davied menarik tangan shilla sampai ia terduduk di pangkuan davied.


"Baby itu yang mau dengan daddy nya, atau kau?" davied berbicara pelan di telingah shilla.


Shilla menatap netra tajam davied, lanjut menelisik bibir davied, wangi paper mint terasa segar di indra penciuman shilla.


Tanpa aba-aba shilla mengalungkan tangan nya di leher kokoh davied.


Wajah nya mendekat, menyatukan bibir, mulai mensesap dan menggigit bibir davied.


Tak ada penolakan dari davied, membuat shilla tersenyum menang sembari terus menghisap dan membelit lidah davied.


_______________


Di dapur, jelita berjalan dengan kebingungan.


"Riza" panggil jelita saat kepala maid itu hendak kedapur.


"Iya nyonya, ada yang nyonya butuhkan?" tanya kepala maid riza sopan.


"Kau melihat suamiku?" tanya jelita datar.


Kepala maid riza tersenyum sedikit namun tampak ketara.


"Ada apa? kenapa kau tersenyum seperti itu?!" bentak jelita di akhir kalimat.


"Tuan berada di ruang kerja nya" jawab kepala maid seadanya.


Saat sampai di depan ruang kerja davied, jelita membuka handle pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Iya melangkah masuk dengan pelan, netra nya menelisik isi ruangan kerja davied. Samar-samar ia mendengar suara decapan di telingah nya.


Mengikuti arah suara jelita melangkah pelan dan,


'Degg' mata nya membulat penuh.


Ia tak menyangka akan melihat adegan panas suami dengan simpanan nya secara live.


Davied yang sedang mencumbu habis wanita di pangkuannya itu, seolah hasrat mereka berdua sudah terbakar oleh gelorah.


Kancing baju shilla sudah terbuka, memperlihatkan dua benda privasi itu.


'Gduugg..' 'Praanggg..' Jelita menghempaskan pajangan kaca mengenai meja kerja barulah pecah beraerakan di lantai.


Membuat kedua insan yang bercumbu itu menghentikan kegiatan liar nya.


Shilla gelagapan mengancing baju nya yang sudah terbuka, sementara davied menatap tajam jelita.


"Waoow, sungguh disayangkan adegan live panas ini harus terhenti" ucap jelita tergelak. "Lain kali kunci lah pintu, kalau mau melakukan hal menjijikkan itu" sambung jelita dengan wajah jijik.


"Mau apa kau kemari?" bariton davied bersuara.


"Aku? mau apa?" 'hahahh' lagi-lagi jelita tergelak, namun tak bisa disembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. "Anak mu sakit, dia terus mencari daddy nya, itulah yang membuatku datang kesini davied!" sambung jelita dengan menekan setiap kalimat.


"Ini sudah seperti membuat harga diriku benar-benar tidak ada, aku terlalu berharap kau menunjukkan sikap mu sebagai seorang daddy, tapi ternyata.." jelita tak sanggup berbicara air mata nya mulai luluh ke pipi. "Tetapi ternyata tidak! bahkan binatang pun tak akan melakukan yang seperti kau lakukan ini!" ucap jelita lagi dengan pandangan benci.


Tanpa mendengar balasan perkataan davied, jelita langsung bergegas pergi keluar dengan langkah cepat.


'Tubbb!" bantingan pintu yang terdengar kuat.


Membuat davied menggenggam kuat tangannya diatas meja, dengan dadah naik turun.

__ADS_1


Jelita terus berjalan tergesa, melewati para maid yang menatap nya menelisik.


Sampai di kamar, ia bergegas mengeluarkan koper dan menyusun beberapa baju. Tidak banyak baju yang dibawa, hanya untuk baju ganti nya untuk sehari saja.


Lanjut, tangan mungilnya mengacak-acak laci untuk mengambil buku tabungan, passport, dan hal-hal penting lainnya.


Sudah lama ia menunggu keberanian ini datang, inilah saat nya, dengan hati yang mantap ia harus keluar dari mansion neraka ini.


Dengan cekatan jelita menyusun berkas-berkas yang hendak di bawa. Tidak butuh waktu lama ia siap dan mengancing koper.


Jelita berjalan sembari menyeret koper yang ukuran nya tak begitu besar, hendak membuka pintu, namun..


'Ceklek' pintu kamar sudah dibuka duluan oleh davied.


Di ambang pintu davied menatap jelita dan koper di tangannya.


'Tap.. tap.. tap..' langkah cepat davied.


'Sreggg' davied merampas koper dari tangan jelita.


'Bruugggg' membuang koper jauh mengenai dinding kamar.


Davied mencekik leher jenjang jelita sampai tubub nya terhuyung dan jatuh telentang ke ranjang.


Dengan menaikkan kaki diatas ranjang, dan menghimpit tubuh jelita, davied mengencangkan cekikan nya.


"JANGAN PERNAH BERFIKIR UNTUK KELUAR DARI MANSION INI" suara davied berbisik dengan menekan setiap kata yang keluar.


'Iblis! biadab! gila!' maki jelita dalam hati, sembari tangannya terus berusaha melepaskan cekikan davied.


Saat wajah jelita berubah merah, barulah davied melepas kasar cekikannya, dan bangkit dari atas tubuh jelita.


'Hos.. hos.. hos..' jelita ngos-ngosan mengambil nafas.


Mata jelita memerah, dadah nya begitu terasa sesak dan sakit.


'Hiks.. hikss.. hikkss..' tangisan jelita tak bisa lagi di tahan. Ia menyembunyikan wajah nya dibalik telapak tangan mungil nya.


Saat ini hati dan perasaan nya benar-benar hancur dibuat suami gila nya, sampai ia benar-benar tak mau untuk hidup lagi di dunia yang kejam ini, pikir nya.


Dengan tertatih jelita bangkit dan berjalan kearah nakas, mengambil pisau buah yang ada disitu.


"Letakkan itu jelita!!" bariton davied yang emosi, membuat wajah nya pun memerah.


Jelita tak mendengarkan, bahkan ia sudah sangat muak terus menuruti perintah iblis di depannya.


'Creeesss....' jelita menyayat pergelangan tangannya, membuat darah keluar dan menitik kelantai.


Melihat itu netra davied membulat, nafas nya tersengal tak habis pikir dengan kenekatan istri nya.


Davied berjalan cepat dan menampar jelita yang hendak menyayat pergelangan tangan nya lagi sampai tersungkur ke lantai.


Jelita tersungkur di lantai, dengan nafas yang mulai lemah, dan pandangan yang semakin lama semakin mengabur, dan mata nya tertutub.


Membuat davied panik gelagapan, terduduk memangku tubuh tak sadarkan diri jelita.


"Jelita bangun jelita.. jelita" davied menepuk-nepuk pelan pipi istri nya.


Wajah nya sangat panik, mata nya menyiratkan rasa penyesalan, dengan genangan air di pelupuk mata.


bersambungπŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Mohon like dan komentar positif nya yaa teman 😊😊 agar aku lebih semangat lagi berkarya untuk kalian 😘😘😘


Dan terimakasih untuk kalian yang sudah like, coment di novel ku😘😘😍 karena jujur, tanpa kalian para pembaca, aku tidak ada apa-apa nyaπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2