Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 11


__ADS_3

Jakarta, Bandara Internasional Soekarno-Hatta


Eleanor bersama Putra kecilnya turun dari pesawat dengan asisten pribadinya yang membawa sebuah koper.


Eleanor mengenakan pakaian serba hitam dan juga memakai kacamata berwarna hitam. Alasannya adalah karena dia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui jika dirinya sudah kembali ke Indonesia.


Mereka kemudian masuk ke sebuah mobil yang memang sudah menunggu kedatangan mereka bertiga.


Supir tersebut tidak lain adalah orang suruhan tuan Robert. Dia diperintahkan untuk menjemput Eleanor dan putranya untuk menuju rumah baru Eleanor.


Di dalam perjalanan tidak ada dari mereka yang membuka pembicaraan, sehingga suasananya saat itu terasa sangat hening.


Kemudian tiba-tiba ponsel Eleanor berbunyi dan menunjukkan panggilan dari tuan Robert.


"Halo, Nona."


"Halo, Tuan."


"Apa Nona sudah sampai di Bandara?"


"Iya, saya sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah baru."


"Baiklah kalau begitu, Nona. Saya harus tutup teleponnya sekarang."


"Baiklah, tuan Robert."


Eleanor melihat Zico sedang tertidur dengan pulas, kemudian dia mengelus rambutnya sambil tersenyum.


"Nona, sepertinya Zico sangat kelelahan hingga dia tertidur pulas seperti ini." Lea menatap wajah Zico yang sedang tertidur.


"Perjalanan kita memang cukup jauh, Lea. Dia masih kecil dan dia pasti akan merasa mudah mengantuk," balas Eleanor sambil menatap wajah Putranya.


"Nona, kita sudah sampai sekarang." Supir tersebut menoleh ke kebelakang.


"Baiklah, tolong bawa barang-barang kami ke dalam," ucap Eleanor.


"Baik, Nona," balas supir tersebut.


Eleanor menggendong Zico dan membawanya keluar dari mobil, tapi kemudian Lea menghentikannya.


"Nona, biarkan aku saja yang menggendong Zico. Kau pasti merasa sangat lelah setelah perjalanan yang cukup jauh."


"Tidak apa-apa, Lea. Aku bisa menggendongnya dan membawanya ke kamar."


"Baiklah kalau begitu."


Rumah tersebut memang rumah baru yang telah Eleanor beli dengan harga miliaran, tetapi para asisten rumah tangga dan juga penjaga rumahnya masih tetap sama seperti yang ada di rumahnya dulu.


"Nona, Nona sudah kembali?" tanya salah seorang asisten rumah tangga.


"Iya," balas Eleanor sambil tersenyum.


"Nona, apakah dia adalah putramu?" tanya asisten rumah tangga yang lain.


"Benar."


"Dia sangat lucu. Siapa namanya, Nona?"

__ADS_1


"Kalian panggil saja dia Zico."


"Nama itu cocok sekali dengannya."


"Aku harus pergi ke kamar untuk menidurkannya. Kalian bisa bermain dengannya saat dia sudah bangun nanti."


"Baiklah, Nona. Jika Nona membutuhkan sesuatu panggil saja kami, salah satu dari kami pasti akan datang."


"Benar, Nona. Kami sangat merindukanmu, kami ingin kembali melayanimu."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah Eleanor pergi ke lantai atas, mereka semua kembali berkerumun dan membicarakan tentang Zico.


"Apakah Zico memang benar anaknya tuan Zergan?"


"Aku tidak tahu pasti tentang hal itu."


"Tapi tuan Zergan sendiri yang memberitahu jika dia memiliki anak dengan nona El."


"Entah memang benar atau tidak jika Zico adalah anak tuan Zergan dan nona El, tapi aku merasa bahagia karena sekarang nona El sekarang tidak sendirian lagi."


"Semoga setelah mereka kembali ke sini, tidak akan ada lagi masalah yang menimpa nona El ataupun putranya."


"Aku juga berharap seperti itu."


Tanpa mereka sadari, Eleanor ternyata mendengarkan pembicaraan mereka dari lantai atas dengan keadaan yang masih menggendong Zico.


"Zergan telah mengatakan kepada mereka jika dia memiliki anak bersamaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tidak akan membiarkan Zergan datang lagi ke kehidupanku dan juga putraku." Eleanor membatin.


Eleanor langsung bergegas pergi ke kamar dan menidurkan Zico di atas kasur. Dia membelai rambut putranya dan juga mencium keningnya.


"Maafkan Bunda jika Bunda harus menjauhkanmu dari Ayah kandungmu. Tapi Bunda melakukannya karena Bunda tidak ingin kehilanganmu. Bunda takut jika ayahmu mengetahui kau ada bersama Bunda, ayahmu pasti akan mengambilmu dari Bunda," sambungnya.


Eleanor kemudian mengusap air matanya yang mulai mengalir dan pergi meninggalkan kamar Zico.


Eleanor menuruni tangga dengan langkah kaki yang terlihat lemas. Kemudian Lea datang menghampirinya dengan wajah yang terlihat cemas.


"Nona, apa yang terjadi denganmu?"


"Tidak ada, Lea. Aku baik-baik saja."


"Tapi wajahmu terlihat pucat. Mengapa kau tidak beristirahat di kamarmu?"


"Lea, aku sungguh tidak apa-apa. Bisakah kau membantuku?"


"Nona, aku akan selalu siap membantumu. Apapun yang kau butuhkan, aku pasti akan menyiapkannya untukmu."


"Lea, tolong tetap rahasiakan keberadaan Zico dari publik."


"Tapi kenapa, Nona? Apa ada masalah dengan Zico?"


"Ini tentang Zergan. Aku tahu dia pasti akan melakukan apapun untuk mengambil Zico dariku jika dia tahu Zico saat ini bersamaku."


"Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Nona?"


"Bulan depan Zico akan memasuki sekolah untuk pertama kalinya."

__ADS_1


"Zico akan sekolah?"


"Lea, usianya sudah memasuki 5 tahun. Dan aku lihat dia memiliki semangat belajar yang tinggi. Aku tidak ingin menunda lagi. Jika dia ingin segera mewujudkan mimpinya, kenapa kita tidak mengabulkannya?"


"Lalu, apakah Nona akan menyekolahkan Zico di sekolah umum?"


"Aku akan menyekolahkan dia ke sekolah umum, karena aku sangat tahu jika dia berbeda dengan anak-anak lainnya. Tidak mudah baginya untuk bersosialisasi ataupun berinteraksi dengan orang lain. Jika dia bersama dengan teman-temannya, kemungkinan dia akan mudah untuk bergaul dengan orang lain.


"Nona, keputusan yang kau ambil sudah baik."


"Lea, aku melakukan semua ini demi putraku. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengambilnya dari hidupku."


"Nona, tidak ada orang lain yang pantas mengambil Zico darimu. Karena kau adalah ibu yang telah mengandung dan melahirkannya."


"Aku tidak akan membeberkan identitas Zico kepada publik. Aku pastikan rahasia Nona akan tetap aman."


"Terima kasih, Lea."


"Sama-sama, Nona."


"Lea, aku akan pergi ke depan sebentar."


"Baik, Nona."


Saat Lea ingin pergi menuju ruang tengah, tiba-tiba ponsel yang berada di dalam tasnya berbunyi. Lea pun mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, dengan nona Lea?"


"Benar, saya sendiri. Anda siapa?"


"Saya asisten tuan Robert. Saya sudah menghubungi nomor telepon nona Eleanor, tetapi nomornya tidak aktif. Jadi saya menghubungi anda."


"Nona, bisakah saya berbicara dengan nona Eleanor? Karena saya ingin menyampaikan pesan dari tuan Robert kepadanya."


"Baiklah, Tuan. Saya akan memberikan teleponnya kepada nona Eleanor."


"Terima kasih, Nona."


Lea langsung pergi ke depan dan mencari Eleanor. Dia kemudian melihat Eleanor sedang berbicara dengan penjaga rumah.


"Nona, asisten tuan Robert menelepon. Dia mengatakan jika ada hal penting yang harus disampaikan kepada Nona."


Eleanor meraih ponsel tersebut dan sedikit menjauh dari Lea dan penjaga rumahnya.


"Halo."


"Halo, Nona."


"Saya dengar anda ingin menyampaikan hal penting kepada saya. Hal penting apa itu?"


"Nona, tuan Robert meminta saya untuk memberitahukan kepada Nona jika besok Nona harus datang ke perusahaan tuan Robert."


"Tunggu dulu. Bukankah tuan Robert besok akan bertemu dengan tuan Viktor?"


"Nona, saya hanya diminta untuk menyampaikan hal tersebut kepada Nona."


"Baiklah. Besok saya akan datang."

__ADS_1


"Terima kasih, Nona."


__ADS_2