Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 34


__ADS_3

Malam itu terlihat Eleanor dengan baju tidurnya yang seksi sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam lemari. Dia tidak tahu apa yang akan Zergan lakukan saat Zergan sudah keluar dari kamar mandi.


Setelah Eleanor menutup pintu kamar mandi, dia melihat Zergan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek sambil membawa sebuah handuk.


Eleanor pun pergi melalui Zergan dan mengambil ponselnya. Kemudian Zergan menghampirinya dan merebut ponsel tersebut dari tangan Eleanor.


"Siapa yang ingin kau hubungi?" tanya Zergan dengan wajah yang datar.


"Aku tidak ingin menghubungi siapapun. Memangnya ada masalah jika aku menghubungi seseorang dengan ponselku?" balas Eleanor.


"Kau tidak akan memegang ponsel malam ini, aku akan menyimpannya," ucap Zergan.


Setelah Zergan memasukkan ponsel Eleanor ke dalam laci, dia kemudian duduk di atas kasur dan menarik tangan Eleanor.


"Kau sekarang telah menjadi istriku. Jadi malam ini kau harus melayaniku," ucap Zergan sambil tersenyum.


"Aku sangat takut jika harus melayaninya, tapi aku juga tidak bisa menolaknya," batin Eleanor.


"Kenapa kau diam? Sekarang keringkan rambut suamimu ini."


Eleanor meraih handuk yang berada di tangan Zergan, kemudian dia perlahan mengeringkan rambut Zergan menggunakan handuk tersebut.


Zergan pun merasa sangat senang karena pada akhirnya dia bisa memiliki Eleanor seutuhnya. Dia tidak akan membiarkan Bian kembali mendekati wanitanya.


Zergan menarik pinggang Eleanor karena dari tadi jarak Eleanor dengannya tidak terlalu dekat. Zergan kemudian menatap wajah Eleanor yang masih serius mengeringkan rambutnya.


Tubuh Eleanor pun ditarik oleh Zergan ke atas kasur. Eleanor melebarkan matanya dan jantungnya semakin berdetak kencang.


"Dia pasti akan menciumku. Jika aku memberontak dia akan tetap memaksaku," batin Eleanor.


"Aku mencintaimu," ucap Zergan.


"Aku harap kau juga mencintaiku," sambungnya.


Eleanor mendorong dada Zergan dengan pelan, tetapi Zergan malah semakin menindih tubuh Eleanor.


"Kita akan bermain malam ini dan aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun."


Zergan pun mencium kening Eleanor, kemudian pindah ke telinga dan juga lehernya. Saat Eleanor sudah mulai tergoda dengan bisikan-bisikan nakal dari Zergan, tiba-tiba Zico datang ke kamar mereka.


Mereka berdua pun terkejut dan langsung berdiri.


"Z-zico, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zergan.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Bunda. Aku ingin Bunda menemaniku tidur seperti biasanya," jawab Zico.


"Baiklah, Bunda akan menemanimu untuk tidur," ucap Eleanor.


Saat Eleanor dan Zico ingin keluar dari kamar itu, Zergan pun menarik tangan Eleanor.


"Zico, permainan Ayah dan Bunda belum selesai. Jadi Bunda tidak boleh meninggalkan kamar ini."


"Apa yang dia katakan? Apa dia akan mengajarkan hal seperti itu kepada Zico?" batin Eleanor.

__ADS_1


"Ayah dan Bunda bermain apa? Aku juga ingin ikut."


"Tidak, Zico. Ayahmu hanya asal bicara, kita pergi ke kamar sekarang?"


Tiba-tiba ayah Yudha mengetuk pintu dan masuk ke kamar tersebut.


"Apa Zico telah mengganggu malam kalian?" tanya ayah Yudha.


"Tidak," jawab Eleanor.


"Iya," ucap Zergan.


Eleanor dan Zergan kemudian saling bertatap muka.


"Kakek, aku ingin Bunda menemaniku tidur seperti biasanya."


"Zico, Ayah dan Bunda kan baru menikah. Jadi Zico tidak boleh mengganggu malam mereka."


"Memangnya apa yang akan Ayah dan Bunda lakukan malam ini?"


"Kami akan tidur bersama seperti suami istri biasanya."


"Bunda, aku ingin memiliki adik baru. Bunda bisa memberikannya untukku, kan? Kapan Bunda akan hamil?"


Eleanor dan Zergan pun sedikit malu mendengar ucapan dari Zico. Sedangkan ayah Yudha tertawa mendengar ucapan dari Zico.


"Kakek, kenapa Kakek tertawa?"


"Kakek, aku sangat bosan bermain di rumah sendirian. Di rumah ini tidak ada anak kecil selain aku."


"Zico, kau jangan khawatir. Ayah dan Bunda pasti akan segera memberikan adik untukmu."


"Kau dengar itu? Ayahmu bilang Ayah dan Bundamu akan segera memberikan adik untukmu, jadi kau tidak perlu bersedih."


"Ayah berjanji kan akan memberikan aku seorang adik?"


"Ayah berjanji."


"Bunda, ayo berjanji jika Bunda akan segera memberiku adik."


Eleanor pun hanya diam karena dia merasa sedikit ragu. Kemudian dia meyakinkan dirinya dan membuat janji dengan Zico.


"Baiklah, Bunda berjanji akan memberikanmu seorang adik. Sekarang kau harus tidur, Bunda akan menemanimu."


"Menantuku, kau tidak perlu menemani Zico tidur. Biar Ayah saja yang menemaninya, kau tetaplah tidur di kamar ini bersama suamimu."


"Iya, Bunda. Malam ini aku akan tidur bersama Kakek dan Bunda tidur bersama Ayah."


"Baiklah, Zico. Kita pergi ke kamar sekarang?"


"Iya."


Setelah Zico dan Kakeknya pergi, Zergan pun menutup pintu kamar dan menguncinya. Setelah itu dia menghampiri Eleanor yang sedang duduk diam di atas ranjang.

__ADS_1


"Kenapa kau tersenyum seperti itu melihatku?" tanya Eleanor dengan ketus.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh tersenyum kepada istriku sendiri?" Zergan bertanya balik.


"Aku akan tidur di atas sofa malam ini." Eleanor mengambil sebuah bantal dan guling.


"Kenapa kau ingin tidur di atas sofa? Apa kau berusaha untuk menghindar dariku?" Zergan merebut bantal dan guling tersebut dari tangan Eleanor.


Eleanor pun menelan ludahnya dan mundur dengan perlahan. Kemudian dia segera naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya sampai leher menggunakan selimut.


"Aku sangat takut melihat tatapannya yang seperti itu," batin Eleanor.


Zergan kemudian tersenyum melihat tingkah lucu Eleanor dan dia pun berbaring di samping Eleanor.


Zergan terus mendekati Eleanor dan menyentuh pinggangnya dari dalam selimut. Eleanor pun terkejut dan langsung bangun.


"Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Kenapa kau terus berusaha untuk mengajakku--"


"Mengajakmu apa? Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu?"


"Ini sudah malam, aku sangat mengantuk. Tolong jangan tidur terlalu dekat denganku."


Saat Eleanor kembali berbaring dan menutup kedua matanya, Zergan malah ikut berbaring dan memeluk tubuh Eleanor.


Eleanor benar-benar ketakutan dan tidak bisa lagi memejamkan kedua matanya. Dia takut jika Zergan menyentuh bagian tubuhnya ketika dia tertidur.


Zergan pun bersikap sangat romantis dengan menarik tangan Eleanor agar menghadap ke arahnya. Kemudian dia mengendapnya juga mencium keningnya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya malam ini. Tapi kau harus tahu jika kita harus segera memberikan adik untuk Zico."


"Apa kau mendengarkan aku?"


"Aku masih belum tidur. Aku mendengarkan ucapanmu."


"Lalu, betapa adik yang ingin kau berikan kepada Zico?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Karena kau yang akan mengandung semuanya. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya saat kau sedang mengandung, jadi aku ingin tahu berapa anak lagi yang kau inginkan."


"Aku harus menjawab apa sekarang? Dia membuatku merasa sangat malu," batin Eleanor.


"Kau tidak menjawabnya. Itu artinya semua terserah padaku."


"Jangan!"


"Kalau begitu katakan berapa anak lagi yang kau inginkan?"


"Zergan, aku tidak tahu. Aku sudah mengantuk, tolong jangan berikan aku pertanyaan lagi."


"Kalau begitu tidurlah. Kau akan tetap berada di dalam dekapanku semalaman."

__ADS_1


__ADS_2