Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 32


__ADS_3

Eleanor kemudian segera melepaskan pelukan itu dan berusaha untuk keluar dari kamar Bian. Tetapi lagi-lagi Bian menarik tangannya, sehingga dia tidak bisa pergi.


"Bian, itu adalah ciuman terakhir kita. Jika kau berpikir aku masih mencintaimu, kau salah."


"Itu tidak mungkin. Kau dan aku sangat menikmatinya. Aku yakin kau masih mencintaiku."


Bian kemudian mengambil cincin yang pernah dipakai Eleanor dulu. Bian masih menyimpannya dengan rapi bersama foto mereka berdua saat dulu.


Bian kemudian meraih tangan kanan Eleanor dan hendak memakaikan cincin tersebut ke jari manisnya, tetapi tiba-tiba Eleanor langsung menarik tangannya.


"Ini tidak benar, Bian. Kau sudah membuang waktu berhargaku di sini. Aku harus pergi dan melangsungkan pernikahan dengan Zergan.


Eleanor langsung berlari keluar dari kamar tersebut.


"Tidak, El! Eleanor!"


Eleanor dengan kesusahan berlari menuruni anak tangga. Saat dia hampir sampai di depan pintu, para bodyguard Bian menghadangnya


Bian pun segera menghampiri Eleanor dan menarik tangannya. Kemudian tiba-tiba tangan Eleanor yang satunya di tarik oleh Zergan.


"Zergan?"


"Lepaskan tangan calon istriku!"


"Dia adalah calon istriku! Kau yang seharusnya melepaskan tangannya!"


Zergan kemudian menarik Eleanor ke belakang dan memukul mundur Bian.


"Berani sekali kau menculik calon istriku? Apa yang akan kau lakukan kepadanya?" tanya Zergan sambil terus memukul wajah Bian.


"Kau yang telah merebutnya dariku! Seharusnya saat ini kami sudah menikah dan hidup bahagia. Tapi karenamu, aku harus kehilangan dirinya!" bentak Bian dengan wajahnya yang memerah.


"Kau telah memaksanya untuk melakukan semua ini. Dia tidak mencintaimu, tetapi kau memaksanya untuk menikah denganmu."


"Dia sudah mencintaiku. Dia sendiri yang mengatakannya tadi malam kepadaku."


"Kau berbohong. Dia hanya mencintaiku, bukan mencintaimu!"


Zergan kemudian menghampiri Eleanor dan membawanya ke hadapanku Bian.


"Sekarang katakan kepadaku, biarkan dia mendengarnya. Apa kau mencintaiku?"


"I-iya, aku mencintaimu."


"Kau dengar sendiri, bukan? Dia mengatakan jika dia mencintaiku."


Bian kemudian memegang kedua lengan Eleanor dan menekannya.


"El, katakan jika sebenarnya kau tidak mencintainya! Katakan!"


Zergan kemudian menjauhkan Bian dari Eleanor karena melihat Eleanor yang kesakitan karena kedua lengannya ditekan oleh Bian.


"Bian, aku sudah mengatakan kepadamu jika aku mencintai Zergan. Kami akan menikah dan memulai kehidupan yang baru."

__ADS_1


"Tidak! Ini tidak mungkin! Kau tidak mungkin melupakanku semudah itu, El!"


Zergan kemudian menggenggam tangan Eleanor dan membawanya pergi dari apartemen Bian.


Sedangkan Bian terlihat sangat stress karena wanita yang sangat dia cintai sudah tidak mencintainya lagi dan akan menikah dengan pria lain.


Bian kemudian membanting segala sesuatu yang ada di depan matanya. Dia membanting mejanya yang terbuat dari kaca dan dia juga membanting vas bunga miliknya.


Eleanor yang mendengar suara pecahan kaca dari dalam apartemen Bian pun langsung terhenti langkahnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau berhenti di sini?"


"Zergan, aku mendengar suara pecahan kaca di dalam. Aku takut jika Bian menyakiti dirinya sendiri."


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau masih terlihat peduli kepadanya? Jika kau tidak mencintainya, kau seharusnya tidak memikirkan apapun tentang dirinya."


Zergan kemudian memaksa Eleanor masuk ke mobilnya.


Mereka sampai di sebuah gedung tempat berlangsungnya pernikahan mereka. Semua orang yang terlihat khawatir sekarang menjadi senang karena melihat Zergan dan Eleanor datang.


"Menantuku, kau tidak apa-apa?"


"Ayah, aku tidak apa-apa."


"Siapa yang telah menculikmu di saat acara pernikahanmu?"


"Ayah, calon suaminya yang dulu tidak terima jika Eleanor akan menikah denganku. Dia masih sangat mencintai Eleanor, sehingga dia menculiknya agar dia tidak bisa menikah denganku."


"Zergan, kau harus segera menikahi Eleanor agar tidak ada lagi pria yang berani mendekatinya."


Para tamu undangan pun tersenyum dan memberikan tepuk tangan untuk mereka berdua.


Zergan dan Eleanor memotong kue pernikahan mereka. Kemudian keduanya saling menyuapi secara bergantian.


Lalu Zico menghampiri mereka dan meminta Eleanor untuk menyuapinya kue juga.


Setelah itu, Zergan dan Eleanor menghampiri ayah Yudha dan juga Lea.


"Selamat untuk kalian berdua. Semoga pernikahan kalian dipenuhi dengan kebahagiaan."


"Terima kasih, Ayah."


"Tuan, Nona, saya sangat senang karena hari ini kalian telah resmi menikah. Semoga kalian selalu bahagia dan segera memiliki seorang bayi."


"Iya, aku ingin sekali memiliki banyak cucu dari kalian berdua."


"Ayah, Bunda, Aku juga ingin memiliki seorang adik seperti temanku. Temannku bilang memiliki adik itu sangat menyenangkan."


"Baiklah, Zico ingin memiliki adik berapa?"


"Ayah akan memberikan berapapun adik yang aku mau?"


"Tentu saja. Tapi itu semua tergantung Bundamu."

__ADS_1


"Kalau begitu terserah Bunda saja. Berapapun adik yang Bunda berikan, aku pasti akan menjaga adikku dengan sangat baik."


"Benarkah?"


"Iya."


Semua orang pun tertawa dalam acara pernikahan tersebut.


Kemudian terlihat Anna sedang memperhatikan mereka dari kejauhan dengan raut wajah yang marah.


Saat dia hendak meninggalkan acara tersebut, tiba-tiba dia bertabrakan salah satu tamu undangan yang membawa segelas minuman.


Minuman itupun mengotori pakaian yang dikenakan oleh Anna.


"Argghh! Apa kau tidak melihatku di sini?"


"Nona, kenapa kau malah marah kepadaku? Ini semua salahmu, kau yang berjalan tidak melihat-lihat."


"Apa maksudmu? Semua ini salahmu tetapi kau malah menyalahkan aku?"


"Hey, apa terjadi di sini?"


"Suamiku, Nona ini menabrakku hingga minumanku jatuh dan mengenai pakaiannya. Tetapi dia malah menyalahkan aku."


"Nona, kau seharusnya tidak marah-marah seperti itu kepada istriku. Istriku ini sedang hamil."


"Oh, sedang hamil ya? Bagaimana jika aku mendorongnya seperti ini?"


"Nona, apa yang kau lakukan?"


"Dia sudah bersikap tidak sopan kepadaku walaupun dia sedang hamil."


"Nona, kau seharusnya tidak bersikap seperti itu kepada seorang wanita yang sedang hamil."


"Tunggu dulu. Bukankah kau adalah mantan istri dari tuan Zergan?"


"Iya, benar. Dia adalah wanita yang tidak tahu diri itu. Dia berselingkuh dengan pria lain ketika statusnya baru menjadi istri dari tuan Zergan."


"Diam kau! Kalian tidak tahu apapun tentang kehidupanku, jadi lebih baik kalian diam!"


"Nona, untuk apa kau datang ke acara pernikahan tuan Zergan dan nona Eleanor? Aku sangat yakin mereka tidak mungkin mengundangmu ke acara ini."


"Benar. Tuan Yudha juga tidak menyukaimu, kau pasti sedang merencanakan sesuatu."


"Kalian semua terlalu banyak bicara!"


Saat Anna hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba salah satu dari tamu undangan menarik tangannya.


Dia pun langsung menampar wajah tamu undangan tersebut.


"Dengar ya! Jika kau berani lagi menghinaku atau mempermalukan diriku, aku tidak segan-segan untuk menjebloskanmu ke dalam penjara."


"Jika kau mengancamku seperti itu, aku juga bisa mengancammu karena kau telah sengaja mendorong wanita yang sedang hamil. Semua orang di sini juga melihatnya."

__ADS_1


"Jika aku terus di tempat ini, tidak lama Zergan dan juga Eleanor pasti akan melihatku," batin Anna.


__ADS_2