Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 69


__ADS_3

Eleanor melepaskan pelukan itu dan meletakkan bantalnya di lantai. Eleanor hendak tidur di atas lantai, tapi Zergan mencegahnya.


"Apa yang kau lakukan? Aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai seperti itu. Bagaimana jika nanti kau sakit karena kedinginan?"


"Memangnya apa pedulimu? Bukankah kau sudah tidak peduli lagi denganku?"


"Apa maksudmu? Aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai seperti itu."


"Jika kau berani menghalangiku untuk tidur di lantai, maka aku akan keluar dari kamar ini dan kau tidak akan pernah melihatku tidur di kamar ini lagi!"


Eleanor langsung berbaring di lantai, lalu dia memejamkan kedua matanya karena tidak ingin berbicara lagi dengan Zergan.


"Eleanor, dengarkan aku. Kau akan kedinginan dan sakit jika kau tidur di lantai."


Eleanor tetap memejamkan kedua matanya dan tidak menghiraukan ucapan dari Zergan. Zergan pun mengambil sebuah bantal dan ikut tidur di lantai bersama Eleanor.


Zergan berbaring di depan Eleanor dan dia memeluk tubuh Eleanor. Eleanor langsung membuka kedua matanya dan mendorong tubuh Zergan dengan keras.


"Kenapa kau ikut denganku tidur di lantai?"


"Aku minta maaf kepadamu. Aku berjanji tidak peduli dengan wanita lain, walaupun aku merasa kasihan kepadanya. Aku merasa duniaku hancur jika tidak melihat senyuman di wajahmu."


"Baiklah kalau begitu. Jika kau ingin tidur di lantai, maka tidurlah. Aku akan tidur di atas kasur dan aku tidak ingin kau menyusulku. Jika kau sampai berani mendekatiku, maka akan aku pastikan kita akan pisah kamar dalam waktu yang lama."


Zergan pun terdiam, sedangkan Eleanor naik ke atas kasur dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Zergan pun tidak bisa melakukan apapun.


Dia harus tetap tidur di lantai untuk membuktikan jika dia benar-benar hanya mencintai Eleanor dan dia tidak ingin berpisah kamar dengan Eleanor.


Zergan menutup kedua matanya sambil menahan rasa dingin di lantai. Beberapa saat setelah itu, Eleanor pun membuka selimutnya dan melihat keadaan Zergan di bawah dengan pelan.


Dia tidak tega melihat suami yang dia cintai kedinginan seperti itu. Dia kemudian turun dengan perlahan untuk memastikan jika Zergan benar-benar sudah tidur.


Saat Eleanor ingin kembali tidur, tiba-tiba matanya tertuju pada kerah kemeja Zergan. Di sana dia melihat ada bekas lipstik.


Eleanor pun terdiam seketika. Awalnya dia ingin berusaha untuk percaya kepada suaminya. Tapi setelah melihat bekas lipstik itu, Eleanor semakin tidak percaya dengan Zergan.


Dia pun segera keluar dari kamar dan pergi ke kamar Zico. Eleanor mencium kening putranya sambil menangis.


Tanpa dia sadari, air matanya menetes di wajah putranya dan membuatnya terbangun.


"Bunda, kenapa Bunda menangis?"

__ADS_1


Eleanor langsung mengusap air matanya dan mengelus wajah Zico dengan lembut.


"Zico, Bunda telah membangunkanmu ya? Maafkan Bunda."


"Bunda, jawab aku. Kenapa Bunda menangis? Apa Ayah masih belum pulang?"


"Ayahmu sudah pulang dan sekarang dia sedang tidur karena lelah."


"Lalu kenapa Bunda menangis? Bunda tidak mau cerita denganku?"


"Sayang, Bunda tidak menangis. Lihatlah, tidak ada air mata kan di wajah Bunda?"


"Bunda kenapa berbohong? Usiaku memang masih sangat muda, tapi aku tahu jika Bunda sebenarnya sedang bersedih. Bunda cerita saja kepadaku, siapa yang telah menyakiti hati Bunda?"


"Tidak ada, Zico. Sekarang kau kembali tidur ya, Bunda akan menemanimu dan juga Daffa di sini."


"Kenapa Bunda tidur di sini? Ayah kan sudah pulang. Seharusnya Bunda tidur di kamar bersama Ayah."


"Iya, tapi malam ini Bunda ingin tidur di sini. Tidak masalah, kan?"


"Sebenarnya aku sangat senang jika Bunda tidur di sini bersamaku, tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bunda tadi menangis dan tidak mau tidur di kamarnya bersama Ayah," batin Zico.


"Zico, apa kau keberatan jika Bunda tidur di sini malam ini?"


"Kenapa?"


"Bunda pasti sedang ada masalah kan dengan Ayah. Itu sebabnya Bunda ingin tidur di sini untuk menghindar dari Ayah."


"Bunda dan Ayah kan sudah dewasa, kenapa tidak saling memaafkan saja?"


"Zico--"


"Bunda, aku ingin memiliki orang tua yang selalu menyayangiku dengan sepenuh hati. Aku tidak ingin Ayah dan Bunda bertengkar. Jika memang kalian sedang ada masalah, kalian seharusnya menyelesaikan masalah itu."


"Tapi kau tidak tahu tentang masalah itu, Sayang."


"Kalau begitu beritahu aku. Aku akan membantu Ayah dan Bunda baikan lagi."


"Zico, sekarang tidurlah. Bunda akan tidur di kamar tamu saja."


"Jangan, Bunda. Bunda harus tidur di kamar bersama Ayah. Aku tidak mau Ayah dan Bunda menjadi jauh hanya karena masalah kalian."

__ADS_1


Zico segera turun dari atas kasur dan menarik tangan ibunya. Zico membawa ibunya masuk ke kamar dan dia terkejut melihat ayahnya tidur di lantai saat itu.


"Bunda, kenapa Bunda membiarkan Ayah tidur di lantai?"


Eleanor tidak menjawab pertanyaan dari Zico. Kemudian Zico membangunkan Zergan, Zergan langsung bangun dan berdiri.


"Ayah, kenapa Ayah tidur di lantai? Apa yang menyebabkan Ayah dan Bunda bertengkar?"


"Zico, Ayah dan Bunda tidak bertengkar. Malam ini Ayah memang ingin tidur di lantai karena udaranya sangat panas."


"Tapi di sini udaranya sangat dingin. Kenapa Ayah dan Bunda berbohong kepadaku? Ayah dan Bunda harus tidur bersama malam ini. Orang dewasa seharusnya membicarakan masalah mereka dengan baik, bukan saling mendiamkan seperti ini."


"Jika Ayah dan Bunda tidak tidur bersama di atas kasur, aku tidak akan makan dan juga keluar dari kamar."


"Zico, jangan bersikap seperti itu. Bunda tidak mau terjadi sesuatu denganmu."


"Aku juga tidak ingin melihat Ayah dan Bunda seperti ini. Aku sangat menyayangi kalian, aku tidak ingin melihat kalian bertengkar dan saling menjauh seperti ini."


"Jika memang Ayah dan Bunda sangat menyayangiku, berjanjilah jika kalian akan tidur bersama dan menyelesaikan masalah kalian."


"Ayah berjanji."


"Bagaimana dengan Bunda?"


"Bunda berjanji."


"Kalau begitu aku harus kembali tidur di kamarku. Selamat malam Ayah dan Bunda."


"Selamat malam, Sayang."


"Selamat malam, Zico."


Setelah Zico keluar dan menutup pintu kamar mereka. Eleanor langsung membaringkan dirinya di atas kasur, kemudian Zergan juga mengikutinya.


Zergan terus menatap Eleanor yang dari tadi hanya diam dan menatap ke arah dinding. Zergan hendak berbicara dengan Eleanor, tapi Eleanor dengan sengaja membelakangi Zergan karena tidak ingin berbicara dengannya.


"El, aku minta maaf kepadamu. Aku sungguh tidak melakukan apapun dengan Grace. Jangan bersikap seperti anak kecil seperti ini."


"Ini bukan sikap anak kecil, Zergan. Wanita lain juga akan melakukan hal yang sama jika mereka berada di posisiku."


"Tapi kau harus percaya kepadaku, aku benar-benar tidak berselingkuh dengan Grace."

__ADS_1


Eleanor masih diam, kemudian Zergan mendekati dan memeluknya. Tapi Eleanor dengan keras melepaskan pelukan itu.


Zergan pun terlihat sedih dan dia tidur menghadap ke arah Eleanor tanpa menyentuhnya.


__ADS_2