Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 46


__ADS_3

Bian dan Felix turun dari mobil dan masuk ke sebuah hotel yang sama dengan yang telah dipesan oleh Zergan.


"Felix, bawa kopernya masuk."


"Baik, Tuan."


Bian pun berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar nomor 19. Saat dia sedang membuka pintu kamarnya, tiba-tiba dia seperti mendengar suara Zico di sana.


Bian kemudian berhenti sejenak dan menoleh ke arah kirinya. Dia melihat semua kamar tertutup, kecuali kamar nomor 18.


Bian pun berjalan menuju kamar 18. Dan saat dia ingin mengetuk pintu kamar tersebut, tiba-tiba seorang pria keluar dengan membawa tempat makanan.


"Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?"


"Tidak, aku tadi seperti mendengar suara anak kecil dari kamar ini."


"Maaf jikaTuan terganggu dengan suara anak kecil di sini. Memang di hotel ini ada beberapa anak kecil yang ikut berlibur dengan orang tua mereka."


"Baiklah kalau begitu. Maaf jika aku mengganggunya."


"Tidak apa-apa, Tuan."


Felix pun datang dan menghampiri Bian yang sedang berdiri di sana.


"Tuan, apa yang sedang Tuan lakukan di sini?"


"Felix, aku tadi seperti mendengar suara anak kecil di sini."


"Tuan di sini memang banyak orang yang mengajak anak mereka untuk berlibur."


"Baiklah kalau begitu. Felix, cepat bawa koperku ke dalam kamar."


"Baik, Tuan."


Bian masuk ke kamarnya dan keluar menuju kolam renang. Tiba-tiba dia teringat dengan Eleanor.


Dulu saat mereka masih bersama, Eleanor sangat senang ketika diajak Bian ke tempat yang kolamnya langsung menjurus ke arah pantai.


"Tuan Bian, kenapa Tuan tersenyum seperti itu?"


"Aku tersenyum karena aku mengingat Eleanor. Dia sangat senang saat aku mengajaknya pergi ke tempat seperti ini."


"Tuan Bian, tapi sekarang Tuan tidak akan bisa mengajak nona Eleanor ke tempat seperti ini lagi."


"Kau benar, Felix. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan berhenti untuk mendapatkan kembali Eleanor dari tangan Zergan."


Felix pun hanya diam yang mendengar jika Bian sangat ambisius untuk mendapatkan Eleanor kembali. Dia tidak akan berhenti mengganggu kehidupan Eleanor sebelum Eleanor kembali bersamanya.


"Tuan, kalau begitu saya permisi."


"Baiklah."


Setelah Felix keluar dari kamar Bian, Zergan dan Eleanor pun keluar dari kamar mereka. Keduanya tidak tahu jika pria yang baru saja lewat adalah asisten pribadinya Bian.

__ADS_1


"Zergan, kita akan pergi kemana?"


"Bukankah kau sangat ingin pergi ke pantai? Hari ini kita akan ke sana."


"Baiklah. Tapi kita harus memanggil Zico terlebih dahulu."


"Ayah dan Zico sudah berada di pantai sejak tadi. Kau tahu sendiri kan jika Zico sangat antusias melihat pantai."


"Baiklah kalau begitu."


Mereka berdua menuruni anak tangga dan pergi menuju pantai. Tanpa mereka sadari, di kasir ada Felix yang sedang berbicara dengan seorang pria pemilik hotel tersebut.


Eleanor dan Zergan sampai di pantai, mereka melihat Zico sedang membuat istana pasir bersama ayah Yudha.


"Zico, kau sedang apa?"


"Bunda, aku sedang membuat istana pasir dengan Kakek."


"Kau membuat istana pasir sendiri?"


"Iya, Bunda. Ayah, Bunda, sekarang kalian lihat. Istana siapa yang paling bagus? Istana buatanku atau istana buatan Kakek?"


"Sudah tentu istana buatan Kakek."


"Tidak, Kakek. Ayah dan Bunda pasti akan mengatakan jika istanaku adalah yang paling bagus."


Ayah Yudha kemudian tertawa sambil menatap Zergan dan Eleanor. Zergan dan Eleanor pun tersenyum dan mengelus rambut putra mereka.


"Zico, sudah pasti istana buatan anak ayah yang paling bagus."


"Ayahmu memang mengatakan seperti itu, tapi kita belum tahu jawaban dari bundamu."


"Bunda, sekarang katakan. Istana siapa yang paling bagus? Istanaku atau istana Kakek?"


"Istana siapa ya?"


"Bunda, ayo katakan."


"Baiklah. Istana buatan Zico adalah istana yang paling bagus."


"Yeayy ... Kakek, itu artinya aku menang dan Kakek kalah. Itu artinya Kakek harus berlari mengelilingi istana ini tujuh kali sebagai hukuman."


"Zico, jangan bicara seperti itu kepada kakekmu. Kakek sudah tua, jadi kau jangan memintanya untuk berlari."


"Bunda, tapi itu adalah perjanjiannya. Kakek juga telah menyetujuinya."


"Itu benar, Menantuku. Walaupun aku sudah tua, tapi aku masih bisa berlari."


"Tapi--"


"Tidak apa-apa. Aku akan berlari agar cucuku merasa senang."


Ayah Yudha pun berlari mengelilingi istana pasir dengan senang. Zico, Zergan dan Eleanor pun tersenyum.

__ADS_1


Zergan kemudian menggandeng tangan Eleanor dan mengajaknya sedikit menjauh dari sana.


"Zergan, ada apa?"


"Aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu. Jadi lebih baik kita biarkan Zico bermain bersama Ayah di sana."


"Lalu apa yang akan kita lakukan?"


"Bagaimana jika kita bermain flyboard?"


"Tidak, Zergan. Aku takut dengan permainan itu, lebih baik kita naik jet ski saja."


"Benarkah? Kau tidak takut jika naik jet ski?"


"Tentu saja tidak. Dulu aku suka menaiki jet ski bersama--"


Eleanor kemudian menatap wajah Zergan karena dia hampir saja menyebut nama Bian di depan Zergan.


"Kau pasti ingin naik jet ski karena kau ingin mengulang masa lalumu bersama Bian."


"Zergan, aku tidak berpikir seperti itu. Aku sudah berusaha untuk tidak menyebut namanya di hadapanmu, tapi kenapa malah kau sendiri yang menyebut namanya?"


Zergan hanya diam dan terus menatap ke tengah-tengah pantai.


"Baiklah. Jika kau tidak mau naik jet ski bersamaku, aku akan naik sendirian. Tapi jangan salahkan aku jika nanti tiba-tiba aku tidak bisa kembali ke daratan dan hilang di tengah pantai. Kau pasti akan merasa sangat bersalah karena istrimu hilang dan kau tidak akan pernah melihatku lagi."


Saat Eleanor mulai meninggalkan Zergan, Zergan pun menarik tangan kiri Eleanor.


"Aku tidak akan membiarkan air pantai itu menelan mu. Selama kau bersamaku, kau akan selalu aman."


"Jadi kau mau naik jet ski?"


"Tentu saja. Aku akan naik jet ski bersama istriku."


Eleanor pun sangat senang dan segera menarik tangan Zergan.


Mereka berdua naik jet ski dan menuju tengah-tengah pantai. Zergan sangat handal dalam mengendarai jet ski.


Eleanor berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Dia sangat merindukan momen yang membuatnya merasa bebas seperti ini.


"Jangan berdiri seperti itu, kau akan jatuh nanti."


"Aku tidak akan jatuh. Suamiku sangat pandai mengendarai jet ski, jadi dia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepadaku."


"Kau ini."


Eleanor kemudian menggantungkan kedua tangannya di leher Zergan dan mencium pipinya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya mencium pipi suamiku. Lagipula kita berada di tengah-tengah pantai, orang lain tidak mungkin melihatnya."


"Jadi kau tidak mau jika orang lain melihat kau sedang menciumku?"

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku akan tetap menciummu walau ada banyak orang sekalipun, karena aku ingin mereka semua tahu jika aku sangat bahagia memilikimu di dalam hidupku."


"Aku juga sangat bahagia memilikimu di dalam hidupku, Eleanor," batin Zergan.


__ADS_2