
Keesokkan paginya, Eleanor terbangun dan menyadari jika semalaman dia tidur di dekapan Zergan.
Eleanor menyentuh bibir Zergan dan memainkannya menggunakan satu tangan. Eleanor tersenyum kemudian tiba-tiba Zergan ikut tersenyum dan mencium hidung Eleanor.
"Apa kau sudah bangun dari tadi?"
"Ya, pagi ini aku bangun lebih dulu darimu."
"Kalau begitu pergilah mandi, karena kau harus pergi ke kantor."
"Apa kau lupa dengan hari ini?"
"Apa?"
"Kita baru menikah kemarin. Kenapa kau memintaku untuk bekerja? Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan istri cantikku."
"Kau tahu saat pertama kali aku melihatmu pada malam itu? Aku langsung melupakan segala hal di dunia ini dan aku hanya terus memikirkanmu."
"Zergan, kenapa kau masih membicarakan hal di masa lalu?"
"Apa kau masih kesal denganku karena masa lalu itu?"
"Aku tidak kesal. Justru karenamu aku memiliki Zico di dalam hidupku. Aku tidak pernah menyesali apapun yang sudah terjadi, karena jika memang terjadi itu semua karena takdir."
"Apa sekarang kau sudah mulai mencintaiku?"
"Sampai saat ini aku masih belum bisa mencintaimu. Tapi kau jangan khawatir, aku tidak akan mengingkari janjiku kepadamu. Aku akan berusaha agar aku bisa mencintaimu secepatnya."
"Kau akan secepatnya jatuh cinta denganku jika kau terus bersamaku."
Setelah pembicaraan singkat itu, mereka berdua langsung mandi dan pergi ke bawah untuk sarapan bersama.
Mereka berdua menuruni anak tangga secara bersamaan. Sedangkan Zico dan kakeknya sudah menunggu mereka di meja makan.
"Selamat pagi, Bunda."
"Selamat pagi, Ayah."
"Selamat pagi, Zico."
"Selamat pagi, Sayang. Tidak biasanya kau mengucapkan selamat pagi kepada Ayah dan Bunda. Kau pasti sedang menginginkan sesuatu."
"Bunda, sebenarnya aku ingin pergi berlibur. Aku kan tidak pernah pergi berlibur bersama Ayah dan juga Kakek."
"Itu benar, Menantuku. Ayah juga ingin saat kita berlibur nanti, kalian juga akan berbulan madu."
"Tapi, Ayah--"
"Kita akan akan segera pergi untuk berlibur."
"Zergan, kita tidak bisa berlibur. Zico harus sekolah, karena sebentar lagi dia akan ada ulangan."
"Bunda, aku bisa mengatur waktu untuk belajar saat kita sedang berlibur. Jadi Bunda tidak perlu khawatir. Aku pasti akan tetap mendapatkan nilai yang bagus."
"Kau dengar itu? Anak kita sudah sangat pintar. Dia akan membagi waktunya dengan baik agar dia bisa tetap belajar saat sedang berlibur."
"Menantu, kau terlalu mengkhawatirkan tentang pendidikan Zico. Kau dan Zergan itu sangat pandai, bukan? Kepandaian kalian pasti akan menular kepada anak kalian."
"Kakek benar sekali. Bunda memang terlalu menghawatirkan tentang pendidikanku. Aku kan anak Ayah dan Bunda, aku pasti bisa mendapatkan nilai bagus walaupun aku tidak belajar."
__ADS_1
"Zico, kau jangan berbicara seperti itu. Kau harus tetap belajar walaupun kau sedang berlibur. Belajar itu sangat penting untuk masa depanmu, kau mengerti?"
"Itu artinya kita akan berlibur bersama. Yeayy ...."
"Iya. Tetapi kau harus berjanji untuk tetap belajar agar kau bisa mengerjakan soal ulangan dengan mudah."
"Baiklah. Tapi kapan kita akan pergi berlibur?"
"Bagaimana jika besok?"
"Ayah setuju."
"Aku juga setuju."
"Sayang, bagaimana denganmu?"
"Aku ikut saja."
"Baiklah. Kalau begitu besok kita akan berangkat untuk berlibur."
Tidak lama setelah itu, ponsel Eleanor berdering dan menunjukkan panggilan dari nomor seseorang yang tidak dikenal.
Eleanor pun mengangkat panggilan tersebut di depan Zergan, Zico dan ayah mertuanya.
"Halo.
"Nona Eleanor, ini saya Direktur Evan. Apakah ada orang lain di dekat Nona?"
"Iya."
"Bisakah Nona menjauh dari orang-orang di dekat Nona?"
"Baiklah."
"Ini Ibu Gurunya Zico. Aku harus pergi keluar sebentar."
Zergan memperhatikan Eleanor dengan tatapan yang tajam. Eleanor kini pun berdiri di samping kolam renang.
"Direktur Evan, apa yang terjadi? Kenapa anda menghubungi saya? Jika Zergan tahu tentang hal ini, dia pasti akan sangat marah."
"Nona, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Nona. Ini tentang tuan Bian."
"Direktur Evan, saya mohon. Saya sudah tidak ingin memiliki urusan dengan Bian. Sekarang saya sudah menikah dengan Zergan, saya tidak ingin Bian terkena masalah jika tahu saya sedang berbicara dengan anda."
"Tapi saat ini tuan Bian sangat membutuhkan Nona. Tuan Bian sakit karena terlalu banyak meminum alkohol kemarin. Sejak kemarin tuan Bian tidak mau meminum obatnya. Tuan Bian hanya akan meminum obatnya jika Nona mau bertemu dengannya."
"Direktur Evan, bagaimana bisa dia meminum banyak alkohol?"
"Itu karena tuan Bian tidak terima jika Nona menikah dengan tuan Zergan."
"Nona, saya mohon kepada Nona. Nona tolong datang ke ke rumah tuan Bian dan bujuk tuan Bian agar mau meminum obatnya. Saya sedih melihat kondisi tuan Bian saat ini."
"Direktur Evan, Zergan tidak mungkin mengizinkan saya untuk pergi ke rumah Bian. Dia pasti akan memarahi saya dan melakukan hal yang buruk kepada Bian."
"Nona, Nona berikan saja alasan kepada tuan Zergan. Saya akan meminta supir tuan Bian untuk menjemput anda."
"Baiklah. Saya akan berusaha untuk meyakinkan Zergan agar saya bisa keluar dari rumah."
"Terima kasih, Nona."
__ADS_1
Saat Eleanor hendak kembali ke meja makan, tiba-tiba Zergan datang dan membuat Eleanor menghentikan langkahnya.
"K-kau? Sejak kapan kau berada di sini?"
"Siapa yang sedang berbicara denganmu?"
"Zergan, aku sudah mengatakan jika Bu Guru Zico menghubungiku."
"Lalu apa yang dia katakan?"
"Eee ... dia ingin aku bertemu dengannya."
"Kenapa tidak bertemu di rumah ini? Memangnya apa yang ingin kalian bicarakan? Aku akan berbicara dengannya."
"Zergan, tidak perlu."
"Aku memang ingin bertemu dengan Bu Gurunya Zico agar aku bisa menjelaskan secara langsung tentang Zico yang akan berlibur selama beberapa hari."
"Zergan, tolong izinkan aku pergi. Aku tidak akan lama bertemu dengan Bu Guru."
"Kalau begitu aku akan pergi menemanimu."
"Zergan, apa kau akan pergi dan mengganggu dua orang wanita sedang berbicara? Para wanita menghabiskan sebagian waktu mereka untuk membahas banyak hal."
"Tapi aku tahu jika kau bukan wanita yang seperti itu."
"Zergan, tolong izinkan aku pergi. Aku sengaja meminta izin kepadamu agar kau tidak marah kepadaku. Dan aku berharap kau akan mengizinkanku pergi tanpa merasa kesal ataupun marah."
"Baiklah. Memangnya apa yang akan kau berikan jika aku mengizinkanmu pergi?"
"Zergan, apa maksudmu?"
"Aku tidak mungkin memberikan sesuatu tanpa mendapatkan imbalan."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
Zergan kemudian menyentuh pipi kirinya dan meminta Eleanor untuk menciumnya.
"Kau harus menciumku."
"Zergan--"
"Kenapa? Apa kau ingin aku mengurungmu di kamar dan tidak membiarkanmu keluar?"
"Baiklah, aku akan menciummu. Kau selalu saja mengancamku."
Eleanor mendekatkan wajahnya ke pipi Eleanor, tetapi tiba-tiba Zergan dengan sengaja menoleh dan membuat Eleanor mencium bibir Zergan dan bukan pipinya.
Eleanor pun terkejut, sedangkan Zergan tersenyum bahagia dan mencium pipi Eleanor.
"Sekarang kau mengizinkan aku pergi?"
"Tapi kau harus ingat. Jangan terlalu lama berada di luar rumah sendirian. Atau bagaimana jika aku meminta bodyguard untuk menjagamu?"
"Tidak perlu, Zergan. Aku bisa menjaga diriku sendiri, lagipula aku juga tidak akan lama."
"Baiklah kalau begitu. Kau harus cepat kembali, karena aku tidak ingin jauh-jauh dari istri cantikku."
"Baiklah."
__ADS_1