
Bian mendekati Eleanor, tetapi Eleanor malah menyodorkan pisau tersebut ke arahnya.
"Jangan berani mendekatiku, atau aku akan menghabisi nyawaku sendiri." Eleanor mengarahkan ujung lancip pisau tersebut ke arah lehernya.
"El, jangan lakukan hal yang akan membahayakan dirimu sendiri!"
"Tidak, Bian. Aku pikir kau benar-benar mencintaiku, tapi ternyata kau ingin membunuh calon bayiku."
"Aku sangat mencintaimu. Tapi aku tidak ingin jika kau melahirkan bayi dari pria lain."
"Tapi aku tidak ingin menggugurkan kandunganku, Bian. Bayi ini tidak bersalah, aku tidak ingin menyakitinya."
"Nona, kau bisa memiliki bayi dengan tuan Bian nantinya. Kau harus mau menggugurkan bayi itu."
"Bukankah kau adalah seorang wanita? Kau pasti telah memiliki seorang anak. Bagaimana perasaanmu jika bayimu direnggut paksa oleh orang lain? Apa kau tidak takut?"
"Nona, mengertilah. Ini semua--"
"Kau yang seharusnya mengerti, Dokter! Aku tidak ingin menggugurkan bayi ini!"
"Jika kau tidak ingin menggugurkan bayi di dalam kandunganmu, itu artinya kau mencintai pria yang telah menghamilimu."
"Bian, aku tidak pernah mencintai pria selain dirimu. Bahkan pikiran seperti itu tidak pernah terlintas di dalam benakku."
"Lalu kenapa kau tidak mau menggugurkan kandunganmu? Jika kau benar-benar mencintaiku, kau harus mau menggugurkan bayi itu!"
"Aku sudah berkali-kali mengatakannya kepadamu, Bian. Sampai kapanpun aku tidak akan menggugurkan bayi yang ada di dalam kandunganku. Dia adalah bayiku, aku tidak ingin menyakitinya."
Beberapa bodyguard lainnya datang dari arah belakang Eleanor. Kemudian Bian memberikan kode kepada mereka untuk mengambil pisau itu dari Eleanor.
Tapi Eleanor tidak sebodoh itu. Eleanor menoleh ke arah belakang dan kembali menyodorkan pisau tersebut ke lehernya. Dia menatap semua orang yang berada di sana saat itu.
"Baiklah, jika kalian benar-benar menginginkan aku mati. Aku akan mati di depan kalian semua."
"Tidak! Jangan lakukan itu!"
"Nona, jangan bersikap seperti itu! Kami semua hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Menginginkan yang terbaik untukku?"
Eleanor berjalan pelan dan berusaha untuk keluar dari kamar tersebut. Dia berlari sekuat yang dia bisa, tapi lagi-lagi ada bodyguard yang menghadangnya.
Tetapi untungnya Eleanor berhasil melewati para bodyguard tersebut. Eleanor berlari ke tengah jalan raya, sampai akhirnya dia hampir ditabrak oleh pengendara yang lewat.
"Eleanor!" teriak Bian.
"Aku tidak mau Bian membawaku untuk melakukan aborsi. Aku akan tetap melindungi bayi yang ada di dalam perutku," batin Eleanor.
"Tit ... tit ...."
"Hey, Nona. Kenapa kau berdiri di tengah seperti itu?" tanya seorang supir taksi.
"Pak, tolong bawa saya pergi jauh dari tempat ini." Eleanor segera masuk ke taksi tersebut.
Saat para bodyguard itu sampai di tengah jalan, mereka sudah tidak lagi melihat Eleanor di sana.
"Pak, bolehkah saya meminjam ponsel Bapak? Ponsel saya tertinggal di dalam mobil," ucap Eleanor dengan suara yang gemetaran.
__ADS_1
"Silakan, Nona." Supir taksi itu memberikan ponselnya kepada Eleanor.
"Halo, Lea."
"Nona? Apa ini nona El?"
"Lea, kecilkan suaramu. Jangan biarkan orang lain mendengar pembicaraan kita."
"Nona, Nona sekarang ada di mana?"
"Aku sedang naik taksi, Lea. Bian memintaku untuk mengaborsi bayi ini, tapi aku tidak mau melakukannya."
"Lalu apa yang akan Nona lakukan?"
"Lea, kau sudah lama bekerja denganku dan aku sudah sangat mempercayaimu. Aku ingin kau membantuku."
"Apa yang harus aku lakukan untukmu, Nona?"
"Pesankan aku tiket pesawat secepatnya."
"Tiket pesawat? Nona ingin pergi kemana?"
"Aku akan pergi ke Paris. Aku ingin melindungi diriku dan juga bayiku."
"Tapi bagaimana dengan karier Nona dan juga aku? Apakah Nona akan meninggalkanku di sini?"
"Aku tidak peduli jika manager memecatku. Dan jika kau ingin ikut bersamaku, kemasi barang-barangmu dan temui aku di bandara secepatnya."
"Baiklah, Nona. Aku akan ikut dengan Nona, karena hanya Nona yang selalu ada untuk untukku."
"Baik, Nona. Aku mengerti."
Setelah Eleanor mengembalikan ponsel tersebut kepada supir, dia melihat jika supir tersebut hendak menghubungi seseorang.
Kemudian Eleanor yang masih membawa pisau di dalam mobil, dia langsung menyodorkan pisau itu ke leher sang supir.
"Apa anda mendengar apa yang saya bicarakan di telepon?"
"Nona, saya hanya mendengar jika Nona akan pergi ke luar negeri. Itu saja, Nona."
"Anda tidak berbohong?"
"Saya tidak berbohong, Nona."
"Lalu nomor siapa yang ingin anda hubungi tadi?"
"Semua supir taksi diperintahkan tuan Zergan untuk memberitahukan keberadaan Nona jika mereka bertemu dengan Nona."
"Zergan?"
"Berapa uang yang Zergan berikan untuk anda?"
"1 miliar, Nona."
"Saya akan memberikan anda uang 5 miliar jika anda mau diam dan tidak memberitahu Zergan tentang hal ini."
"Tapi, Nona. Saya takut tuan Zergan akan melakukan hal yang buruk kepada keluarga saya."
__ADS_1
"Anda hanya perlu diam. Jika anda bicara, maka Zergan akan memarahi anda karena tidak membawa saya kepadanya."
Supir itupun terlihat sangat bingung dengan pilihan tersebut.
"Kenapa anda terlalu lama berpikir?"
"Baiklah, Nona. Saya akan membantu Nona."
"Terima kasih."
"Kita akan kemana sekarang, Nona?"
"Kita harus secepatnya pergi ke bandara."
"Baik, Nona."
Sesampainya di bandara, Lea langsung menghampiri taksi yang dinaiki oleh Eleanor.
"Nona, apa Nona baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Lea. Apa kau membawa uang yang aku minta?"
"Tentu, Nona."
Lea memberikan sebuah tas yang berisi uang 5 miliar kepada Eleanor. Kemudian Eleanor memberikan uang tersebut kepada supir.
"Ini adalah uang 5 miliar yang telah saya siapkan untuk anda. Anda sudah berjanji tidak akan memberitahukan kepada orang lain jika saya akan pergi ke luar negeri."
"Baik, Nona. Saya berjanji tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun."
"Kalau begitu saya harus segera pergi."
"Nona, terima kasih banyak. Semoga Nona dimudahkan dalam segala urusan."
"Terima kasih."
Eleanor dan Lea segera pergi menuju pesawat, karena beberapa menit lagi pesawat akan segera terbang.
"Bian, aku sangat mencintaimu. Tapi sayangnya kau membenci bayi yang ada di dalam perutku.
Bayi ini tidak bersalah, Bian. Tapi aku yang bersalah, karena aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik.
Sekarang aku akan pergi jauh dari hidupmu. Kau tidak akan melihatku ataupun bayi ini sampai kami kembali.
Aku akan selalu mengingat kebaikanmu dan juga hari-hari indah yang pernah kita lalui bersama.
Aku kembalikan cincin ini kepadamu. Dengan begitu, tidak ada lagi ikatan diantara kita.
Kau bebas melakukan hal apapun yang kau mau, asalkan jangan lagi mencariku.
Masih banyak wanita di sekitarmu yang lebih baik darikku dan juga mencintaimu.
Terima kasih atas semua cinta yang telah kau berikan kepadaku. Aku mencintaimu, Abian Adelart." Eleanor menuliskan surat tersebut sambil menangis.
Dia memasukkan cincin yang telah diberikan oleh Bian untuknya ke dalam sebuah amplop bersama dengan surat yang telah dia tulis.
Kemudian dia memberikan amplop tersebut kepada pramugari, agar pramugari tersebut memberikannya kepada Bian.
__ADS_1