
Bian menuruni anak tangga bersama dengan Felix di kantor. Bian melihat sangat terburu-buru untuk bertemu dengan investornya di Bali.
Hari ini Bian dan Eleanor memang sama-sama pergi ke Bali, tetapi dengan tujuan yang berbeda.
Zergan kemudian masuk ke mobil dan segera menuju ke bandara bersama seorang supir pribadinya.
Saat dalam perjalanan, Bian menelepon Direktur Evan untuk menanyakan kesiapan tempatnya di Bali.
"Halo, tuan Bian."
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?"
"Sudah, Tuan. Saya sudah menyiapkan semuanya."
"Kalau begitu terima kasih, Direktur Evan."
"Sama-sama, Tuan."
Bian menutup panggilan tersebut dan fokus memperhatikan jalan ke depan.
*******
Zergan dan sekeluarga kini telah sampai di bandara. Zergan menggenggam tangan Eleanor selama mereka hendak masuk ke dalam pesawat.
"Ayah, itu pesawatnya. Aku tidak sabar untuk naik dan sampai di Bali," ucap Zico.
"Sabar, Zico. Kita pasti akan sampai di Bali, setelah itu Zico bisa bersenang-senang di sana," balas Lea.
Mereka semua langsung pergi menuju pesawat. Kemudian tidak lama setelah itu Bian datang dan Felix membawakan kopernya.
Mereka berdua dengan segera pergi menuju pesawat dan masuk ke dalamnya.
Saat Eleanor hendak duduk di tempatnya, dia seperti melihat Bian ada di dalam pesawat tersebut, kemudian dia melihatnya kembali dan ternyata tidak ada Bian.
"Apa aku telah salah lihat? Aku tadi seperti melihat Bian berada di sini," batinnya.
"Sayang, apa yang kau pikirkan?" tanya Zergan.
"Aku tidak mungkin mengatakan kepada Zergan jika tadi aku melihat Bian. Dia pasti akan berpikir jika aku masih mencintainya." Eleanor membatin.
"Kenapa kau tidak menjawabku? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak, Zergan. Aku tidak apa-apa."
"Sungguh?"
"Iya. Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Aku berpikir jika kau sedang berbohong kepadaku."
"Zergan, aku tidak berbohong. Kenapa kau berpikir jika aku berbohong?"
"Zergan, Eleanor, apa kalian nyaman dengan tempat duduk kalian?"
"Iya, Ayah. Aku nyaman dengan tempat dudukku, tapi sepertinya Eleanor tidak nyaman di sini."
"Tidak, Ayah. Zergan kenapa kau berbicara seperti itu?"
Zergan kemudian tersenyum dan mengelus-elus rambut istrinya dengan gemas.
__ADS_1
"Zergan!"
"Kenapa kau terbawa perasaan seperti ini? Aku hanya bercanda, Sayang."
"Ayah, Bunda, kapan kita akan sampai di Bali?"
"Zico, sepertinya kau sangat tidak sabar untuk sampai di Bali."
"Iya, Kakek. Aku sangat tidak sabar untuk sampai di Bali."
"Kakek tahu, tapi kau harus bersabar."
Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di Bali. Zergan sengaja memilih hotel yang dekat dengan pantai, karena Zico dan Eleanor sangat menyukai pantai.
"Yeayy ... kita sekarang sudah sampai di Bali," ucap Zico dengan bersemangat.
"Zico, jangan berlarian seperti itu ya. Nanti kau akan terjatuh dan terluka. Jika hal itu terjadi kau tidak akan bisa bermain di pantai," ucap Eleanor.
"Baik, Bunda," balas Zico.
Mereka semua pun pergi menuju kamar mereka masing-masing. Eleanor berada di kamar yang sama dengan Zergan, yaitu kamar nomor 18. Sedangkan Zico bersama ayah Yudha di kamar nomor 9 dan Lea malam ini akan tidur di kamar sendirian di kamar nomor 7.
Zergan membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Eleanor untuk masuk.
Di dalam terlihat banyak sekali bunga mawar yang menghiasi kamar mereka. Mulai dari vas yang berisi bunga mawar, tanaman bunga mawar dan juga kasur yang di atasnya ditaburi dengan bunga mawar.
"Zergan, ini ...."
"Iya. Aku yang telah meminta agar mereka menghiasi kamar kita dengan bunga mawar."
Eleanor langsung memeluk Zergan dengan erat, Zergan pun tersenyum.
"Zergan, terima kasih. Apa kau tahu? Hari ini aku merasa sangat senang karenamu."
"Tok ... tok ... tok ...."
"Zergan, siapa yang mengetuk pintu?"
"Aku akan membukanya."
Zergan pun membuka pintunya dan ternyata yang mengetuk adalah seseorang pria yang membawakan beberapa makanan yang telah dipesan oleh Zergan.
Zergan pun mempersilahkan pria tersebut untuk masuk dan menghidangkan makanannya di meja yang luar kamar yang berhadapan langsung dengan kolam dan pantai.
"Tuan, Nona, jika kalian membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi kami."
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."
Eleanor pun keluar dari kamar dan menuju ke pinggiran kolam. Dia sangat senang karena bisa merasakan tinggal di kamar yang berhadapan langsung dengan air pantai.
"Kau menyukainya?" tanya Zergan dengan suara yang halus.
"Zergan, aku sangat menyukai ini. Terima kasih untuk semuanya," balas Eleanor.
Zergan berjalan mendekati Eleanor dan menyisihkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kau adalah istriku, satu-satunya wanita yang sangat aku cintai. Aku akan berusaha untuk membuatmu selalu tersenyum bahagia seperti ini."
__ADS_1
"Kata-katamu sangat manis, Zergan. Tapi bagaimana aku bisa percaya kepadamu?"
Eleanor sedikit meledek Zergan, kemudian Zergan tersenyum gemas.
"Jadi kau tidak percaya jika aku benar-benar hanya mencintaimu?"
Eleanor menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Ya sudah, kalau begitu malam ini aku akan tidur di kamar lain saja."
"Zergan, jangan seperti itu. Aku hanya bercanda denganmu."
"Baiklah. Kalau begitu kita makan sekarang, aku telah memesan makanan kesukaanmu."
Zergan membuka hidangannya satu persatu dan mulai menyuapi Eleanor. Eleanor merasa sedikit malu saat dirinya disuapi oleh Zergan.
"Zergan, sekarang giliran mu. Aku akan menyuapimu."
"Baiklah. Sekarang istriku akan menyuapiku."
Eleanor menyuapi Zergan dengan perlahan, keduanya juga saling tertawa dengan bahagia.
"Kehidupan seperti ini yang aku inginkan. Aku sangat senang karena memiliki Zergan sebagai suamiku, dia adalah bagian dari hidupku." Eleanor membatin.
"Walaupun dulu kita tidak saling mengenal dan aku juga sempat membencinya, tapi ternyata dia adalah mencipta kebahagiaan di dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak bertemu dengan dirinya saat itu," batin Eleanor.
"Sekarang aku akan menyuapimu lagi," ucap Zergan.
"Tidak, Zergan. Aku sudah tidak ingin makan," balas Eleanor.
"Zergan, sekali lagi terima kasih."
"Kenapa dari tadi kau terus mengucapkan terima kasih kepadaku? Apa tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan selain terima kasih?"
"Aku mencintaimu."
"Selain itu?"
"Aku sangat mencintaimu."
"Aku sangat sangat sangat mencintaimu, Zergan."
"Zergan, kau telah menciptakan kebahagiaan bagi diriku. Maaf jika dulu aku sempat benci kepadamu."
"Tidak perlu meminta maaf. Aku sudah pernah mengatakan kepadamu jika aku pasti akan membuatmu jatuh cinta kepadaku, dan sekarang kau benar-benar sudah jatuh cinta kepadaku."
"Kau benar. Kau telah berhasil membuatku jatuh cinta kepadamu."
Zergan kemudian memeluk Eleanor dari belakang dan mereka berdua menghadap ke arah pantai.
"Kau lihat itu? Airnya sangat jernih, sama seperti dirimu."
"Apa maksudmu dengan mengatakan aku jernih seperti air itu?"
"Istriku, maksudku dirimu itu sangat jernih yang artinya sama dengan bersih. Kau tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun."
"Suamiku, aku juga ingin hatimu jernih seperti air itu. Jangan sampai kau menyimpan dendam kepada siapapun, termasuk kepada orang yang paling kau benci sekalipun."
"Semua itu tergantung."
__ADS_1
"Tergantung apa?"
"Tidak ada. Kita nikmati saja momen ini."