Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 44


__ADS_3

Eleanor datang ke kolam renang dengan membawa sebuah jus untuk Zergan. Zergan terlihat sedang berenang dan sengaja tidak menoleh ke arah Eleanor yang sedang berada di pinggir kolam.


"Zergan, aku membawakan jus jeruk untukmu. Kemarilah dan minum jus jeruk ini," ucap Eleanor.


Matanya terus memperhatikan Zergan yang dari tadi mengambangkan dirinya di tengah kolam.


Eleanor kemudian duduk dan menunggu Zergan selesai berenang, tetapi sudah cukup lama Zergan tidak juga merubah posisinya.


Eleanor pun berdiri dan menuju pinggir kolam renang.


"Zergan!"


"Zergan, kenapa kau tidak bergerak sama sekali dari tadi?"


"Zergan!"


Eleanor pun sangat panik dan menceburkan dirinya ke dalam kolam. Walaupun dia sedikit kesulitan menyusul Zergan karena dia tidak bisa berenang, tetapi dia berusaha keras untuk bisa menyusul Zergan.


Setelah dia sampai di tempat Zergan, Eleanor langsung menepuk-nepuk wajahnya dengan pelan. Kemudian Zergan membuka kedua matanya.


Ternyata dari tadi Zergan tertidur sebentar, kemudian dia terkejut melihat Eleanor yang tidak bisa berenang tiba-tiba berada di depannya.


Tanpa banyak bicara, Zergan pun membopong Eleanor dan membawanya ke tepi kolam.


"Kenapa kau pergi menyusulku di tengah kolam? Kau tidak bisa berenang, bagaimana jika tadi kau tenggelam dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya?"


"Zergan, aku berpikir jika sedang terjadi sesuatu denganmu. Karena tadi aku melihatmu tidak bergerak dalam waktu yang lama."


Zergan kemudian tidak membalas ucapan Eleanor dan pergi meninggalkan kolam renang tersebut.


"Zergan, aku sudah membawakan jus jeruk untukmu. Setidaknya minumlah jus jeruk itu sedikit."


"Aku tidak akan meminumnya."


Eleanor kemudian menundukkan pandangannya, sedangkan Zergan menoleh ke arah Eleanor. Dia tidak tega jika melihat Eleanor seperti itu, tetapi dia ingin Eleanor belajar dari kesalahannya agar dia tidak mengulanginya kembali.


Eleanor masuk ke dalam dan duduk di atas sofa dan menunggu Zergan turun.


"Nona, apa yang Nona lakukan di sini?"


"Tidak ada, Lea. Aku hanya sedang menunggu Zergan turun."


"Tapi kenapa Nona tidak menyusul tuan Zergan seperti biasanya? Apa Nona dan tuan Zergan sedang ada masalah?"


"Lea, sebenarnya aku telah melakukan sebuah kesalahan."


"Kesalahan apa?"


"Kemarin aku berbohong kepada Zergan jika aku ingin bertemu dengan Bu Gurunya Zico. Tapi sebenarnya aku pergi untuk menemui Bian di rumahnya."


"Nona, apa yang Nona lakukan ke rumah tuan Bian?"


"Lea, aku hanya membantunya. Dia tidak mau makan dan minum obat sama sekali. Tapi setelah aku datang ke rumahnya, dia mau makan dan meminum obatnya."


"Nona, kau adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh tuan Bian. Tetapi Nona sekarang adalah istri dari tuan Zergan."


Tidak lama setelah itu, Zergan turun sambil berbicara dengan seseorang melalui teleponnya.

__ADS_1


Eleanor terus menatap Zergan yang berjalan melaluinya begitu saja.


"Nona, aku harus pergi ke kantor tuan Zergan. Karena Direktur Farhan sedang membutuhkan aku."


"Baiklah, Lea."


Eleanor menghampiri Zergan yang sedang berdiri di dekat jendela yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.


"Baiklah, Tuan. Setelah aku pulang dari tempat liburan, aku akan langsung pergi untuk menemuimu."


"Baik, tuan Zergan."


Setelah panggilan tersebut berakhir, Zergan langsung melalui Eleanor begitu saja. Lalu Eleanor menarik tangan Zergan.


"Zergan, apa kau masih marah kepadaku tentang masalah tadi?" tanya Eleanor dengan wajah yang sedih.


"Zergan, jangan diam seperti ini. Bicaralah denganku," sambungnya sambil menggoyangkan salah satu tangan Eleanor.


"Zergan ...." lirihnya.


Eleanor pun bingung bagaimana caranya agar dia bisa membuat Zergan mau bicara kembali dengannya.


"Zergan, aku minta maaf kepadamu. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, aku berjanji."


"Zergan, tolong jangan bersikap seperti ini kepadaku."


"Zergan, jika kau masih marah dan tidak mau berbicara denganku, malam ini aku dan seterusnya aku akan tidur bersama Zico. Kau tidak akan melihat wajahku jika kau tidak menginginkannya."


Eleanor membalikkan tubuhnya dan mulai meninggalkan Zergan. Dia berharap Zergan akan menghentikannya dan memeluk dirinya, tetapi Zergan tidak melakukan hal itu.


Eleanor terlihat sedih dan benar-benar meninggalkan Zergan di sana.


"Ayah, ada apa? Kenapa Bunda tadi terlihat sedih?"


"Ayah juga tidak tahu."


"Ada apa dengan Ayah dan Bunda? Ayah pasti telah berbohong kepadaku. Lebih baik aku tanyakan langsung saja kepada Bunda," batin Zico.


Zico meninggalkan Zergan dan menyusul Eleanor di luar.


"Bunda!"


"Iya, Sayang? Apa yang kau lakukan di sini?"


"Bunda, katakan kepadaku. Kenapa Bunda bersedih?"


"Tidak, Zico. Bunda tidak bersedih."


"Benarkah? Tapi Bunda terlihat sangat sedih, Bunda pasti sedang berbohong kepadaku."


"Bunda, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Apa Bunda sedang ada masalah dengan Ayah?"


"Zico ...."


"Bunda, ayo katakan."


"Zico, sebenarnya Bunda memang ada masalah dengan Ayah. Tapi itu hanyalah masalah kecil, kau tidak perlu memikirkannya."

__ADS_1


"Bunda, aku tidak bisa tidak memikirkan masalah itu. Bunda bersedih karena masalah Bunda dengan Ayah. Aku akan bicara dengan Ayah sekarang."


"Tidak, Zico. Kau jangan lakukan hal itu."


"Tapi kenapa?"


"Zico, dengarkan Bunda. Ini adalah masalah antara Bunda dan Ayah, jadi orang lain tidak boleh ikut campur termasuk kau."


"Tapi, Bunda ...."


"Sudah, sekarang kau pergi bermain di dalam."


"Baiklah."


*******


Malam itu terlihat semuanya sedang makan malam bersama. Eleanor terus menatap Zergan yang sejak tadi hanya diam tanpa berbicara ataupun menatapnya.


"Ayah, kenapa malam ini Ayah terlihat berbeda?" tanya Zico.


"Berbeda bagaimana maksudmu?" Zergan bertanya balik.


"Biasanya setiap kita makan malam, Ayah selalu tersenyum kepada Bunda. Tapi kenapa malam ini tidak?"


"Zico, Ayah hanya sedikit lelah. Jadi Ayah tidak tersenyum kepada siapapun."


Ayah Yudha pun merasa aneh dengan sikap Zergan kepada Eleanor malam itu.


Setelah makan malam selesai, Zergan langsung menuju ke kolam renang. Eleanor pun menyusulnya karena ingin membujuk Zergan.


"Zergan, kenapa kau bersikap seperti ini? Aku sudah berkali-kali meminta maaf kepadamu."


"Zergan ...."


Eleanor kemudian memegang kedua tangan Zergan yang sedang dilipat di dada, kemudian Eleanor memeluknya.


"Zergan, aku sangat sedih melihatmu bersikap seperti ini kepadaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?"


"Zergan, jawablah aku. Aku tidak suka kau diamkan seperti ini."


Zergan yang tidak tega melihat istrinya bersedih seperti itu, diapun membalas pelukan Eleanor dan mengelus rambutnya.


"Zergan, apa kau sudah memaafkan aku?"


Zergan hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Eleanor, kemudian Eleanor menghadap ke arah wajah Zergan.


"Aku sudah memaafkanmu. Tapi mulai sekarang kau harus berjanji, jangan pernah pergi sebelum kau meminta izin dariku."


"Aku berjanji. Aku akan selalu meminta izin kepadamu sebelum aku pergi keluar rumah."


Zergan kembali memeluk Eleanor dan juga mencium rambutnya. Tidak lama kemudian ayah Yudha datang dan memergoki mereka berdua sedang berpelukan.


"Ekhemm ...."


"Ayah?"


"Ayah?"

__ADS_1


"Kalian memang seharusnya baikan seperti ini. Ayah ingin melihat kalian selalu bahagia. Kalau begitu Ayah masuk dulu, Ayah tidak ingin mengganggu kalian."


__ADS_2