Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 63


__ADS_3

Bian sampai di rumahnya, kemudian dia masuk dan melihat Grace sedang duduk di ruang tamu. Grace langsung berdiri setelah melihat Bian dan dia pergi untuk memeluknya.


"Kak Bian, aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu."


"Bagaimana kabarmu, Kak? Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Tapi tadi kau seharusnya menghubungiku agar aku bisa menjemputmu."


"Kau tidak perlu melakukannya. Sekarang kau harus senang karena adikmu sudah berada di sini. Oh iya, malam ini aku akan menginap di rumahmu. Kau tidak masalah, kan?"


"Kenapa harus menjadi masalah jika adikku ingin tidur di rumahku?"


"Oh iya, aku juga ingin menyampaikan berita bahagia kepadamu."


"Apa itu?"


"Aku sudah diterima di salah satu perusahaan ternama di Indonesia, dan besok aku bisa langsung bekerja menjadi seorang sekretaris pribadi dari CEO pemilik perusahaan itu."


"Benarkah?"


"Iya, kau tidak percaya?"


"Aku percaya denganmu. Sekarang lebih baik kita makan malam dulu, kau pasti sangat lapar."


Mereka berdua menuju meja makan dan menikmati makanan yang telah disiapkan oleh pelayan di rumah Bian.


"Kakak, ini kedua kalinya aku datang ke rumahmu dan sepertinya rumahmu dari dulu tidak pernah berubah."


"Memangnya kenapa harus berubah? Aku menyukai rumahku yang dari dulu memang seperti ini."


"Aku sangat tahu, Kakak. Kau masih sangat mencintai nona Eleanor dan kau tidak bisa menghapus wajahnya dari ingatanmu, itu sebabnya kau mengatakan jika kau menyukai rumahmu yang dari dulu memang seperti ini. Seharusnya ini menjadi rumahmu dan nona Eleanor, tapi kau juga harus tahu jika nona Eleanor tidak mungkin bisa kembali bersamamu. Dia sudah memiliki seorang suami, jadi mulai sekarang kau harus bisa melupakan dia."


Bian menggedor meja makan dengan kedua tangannya yang mengepal. Hal itupun membuat Grace terkejut dan merasa sedikit takut.


"Aku sudah pernah mengatakan hal ini kepadamu, jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan Eleanor! Dia adalah satu-satunya wanita yang sangat aku cintai, aku tidak akan bisa menghapusnya dari ingatanku!"


"Kakak, tenangkan dirimu. A-aku hanya mengatakan apa yang ada di dalam pikiranku saja. Tolong jangan membuatku merasa takut seperti itu."


"Aku juga mengatakan hal yang selalu ada di dalam pikiranku. Sampai kapanpun aku tidak akan rela jika Eleanor menjadi milik pria lain!"


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan membicarakan hal ini lagi."


"Maafkan aku karena telah bersikap seperti ini kepadamu."

__ADS_1


"Tidak, Kakak. Aku yang seharusnya meminta maaf karena aku terus membicarakan tentang hal ini."


"Sepertinya akan percuma saja jika aku mencarikan wanita untuk kak Bian. Dia pasti malah akan menyakiti hati wanita itu dengan ucapannya," batin Grace.


Bian berdiri dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan Grace di sana.


"Kau ingin pergi kemana?"


"Aku ingin pergi ke kamar. Aku sudah meminta pelayan untuk mempersiapkan kamarmu beberapa hari yang lalu. Jadi jika kau ingin tidur, kau bisa meminta pelayan untuk mengantarkanmu."


Grace terus menatap Bian yang mulai jauh dari pandangannya. Setelah punggung Bian tidak terlihat lagi, dia memegang dahinya menggunakan tangan kanannya.


"Nona Eleanor benar-benar sangat beruntung. Dia dicintai oleh pria yang sangat setia seperti kakak sepupuku. Lalu bagaimana denganku? Kapan aku akan mendapatkan pria yang tampan dan juga baik seperti kak Bian?" gumamnya.


"Nona ingin mencari calon suami?" tanya salah satu pelayan.


"K-kau mendengar ucapanku?" Grace bertanya balik.


"Iya, Nona. Nona tadi mengatakan kapan Nona akan mendapatkan pria yang tampan dan juga baik seperti tuan Bian."


"Dengar ya, kalian jangan ikut campur dengan urusanku. Kalian urus saja masalah kalian, karena di sini kalian digaji hanya untuk bekerja dan bukan mengurusi masalah orang lain."


"Maafkan saya, Nona."


"Baik, Nona."


*******


Zergan dan Eleanor menyelimuti tubuh Zico juga Daffa. Mereka tersenyum melihat kedua anak itu sekarang sudah tertidur dengan pulas.


"Ternyata seperti ini rasanya memiliki dua orang anak," ucap Zergan sambil tersenyum.


"Zergan, kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Eleanor.


"Kau pasti sudah tahu apa maksudku." Zergan menarik pinggang Eleanor.


"Sudahlah. Sekarang kita pergi ke kamar kita dan biarkan mereka berdua tidur." Eleanor menarik salah satu tangan Zergan.


Setelah Eleanor menutup pintu kamar Zico, Zergan pun langsung membopong tubuh Eleanor dan membawanya masuk ke kamar.


Zergan mendudukkan Eleanor di atas tempat tidur, kemudian dia jongkok dan memegang kedua tangan Eleanor.


"Zergan, apa yang terjadi denganmu? Kenapa dari tadi kau tersenyum, ha?"


"Kapan kita akan membuat anak lagi? Zico sangat ingin memiliki seorang adik."

__ADS_1


Eleanor kemudian tertawa melihat tingkah lucu suaminya yang seperti itu.


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu denganku?"


"Zergan, aku sangat tahu jika kau yang sangat ingin berhubungan denganku. Kenapa kau mengatakan jika Zico yang sangat memiliki seorang adik?"


"Apa yang kau katakan itu benar. Tapi kau lihat sendiri kan jika Zico selalu meminta kepada kita agar kita memberikan adik baru untuknya."


"Iya, aku tahu."


"Lalu apa sekarang?"


Eleanor sedikit mengerutkan dahinya dengan kedua matanya yang masih tertuju kepada Zergan.


"Sekarang kita harus tidur karena ini sudah malam."


Eleanor naik ke atas kasur dan menarik selimutnya, tetapi Zergan malah menarik selimut itu dan membuat Eleanor terdiam menatapnya.


Zergan tersenyum dan langsung menidurkan Eleanor. Dia melepaskan jas yang dia kenakan dan menindih tubuh Eleanor juga memegang kedua tangannya ke atas.


"Zergan, kau harus segera tidur. Besok kau juga harus pergi ke kantor untuk bekerja, aku tidak ingin kau terlambat besok."


"Baiklah. Tapi aku hanya akan tidur setelah kau--"


Belum sempat Zergan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Eleanor mendorong dada Zergan dan sekarang gantian dirinya yang menindih tubuh Zergan.


Zergan pun terdiam, karena ini pertama kalinya Eleanor menindih tubuhnya seperti itu. Eleanor perlahan membuka kancing kemeja Zergan dan menyentuh dadanya bagian tengah dari atas ke bawah.


Zergan terbujur kaku saat itu, dia tidak pernah melihat sikap Eleanor yang seperti itu kepadanya. Mata Eleanor pun naik menatap kedua mata Zergan.


Eleanor kemudian tertawa dengan puas melihat wajah suaminya yang tegang seperti itu.


"Kenapa kau tertawa?"


"Memangnya kenapa? Apa salah jika aku tertawa?"


Eleanor kemudian berbaring di samping suaminya dan memeluk dadanya.


"Zergan, sekarang tidurlah."


Zergan menoleh ke arah Eleanor dan memeluk tubuhnya, dia juga tidak lupa mencium kening Eleanor.


"Tidak masalah jika dia menolakku malam ini. Aku akan mencobanya di malam berikutnya," batin Zergan.


Zergan menarik selimut dan menyelimuti dirinya juga Eleanor. Setelah itu mereka berdua pun perlahan menutup kedua mata mereka dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2