
Bian memukul meja kaca yang berada di depannya karena kesal melihat berita tentang pernikahan Eleanor dan juga Zergan.
Tangannya mengeluarkan banyak darah dan membuat Felix juga para bodyguardnya khawatir.
"Tuan, apa yang Tuan lakukan?" tanya Felix.
"Tinggalkan aku sendiri di sini!" bentak Bian kepada semua orang.
"Tidak, Tuan. Tanganmu terluka, aku harus mengobatinya," balas Felix dengan lembut.
"Pelayan, tolong ambil kotak obat dan bawa kemari."
"Baik, tuan Felix."
Pelayan tersebut memberikan kotak obat yang dia bawa kepada Felix. Felix membuka kotak obat tersebut dan mulai mengobati tangan Bian.
Felix membalut luka di tangan Bian dengan sangat rapi. Kemudian Bian berdiri dari sofa dan masuk ke mobil miliknya.
"Tuan Bian, Tuan ingin pergi kemana?" tanya Felix.
"Jangan pernah mengikutiku! Jika kau berani mengikutiku, aku tidak akan segan-segan untuk memecatmu!" bentak Bian.
"Tuan Felix, kemana tuan Bian akan pergi?" tanya salah satu bodyguard Bian.
"Aku juga tidak tahu," balas Felix.
Setelah melihat siaran televisi tentang pernikahan Eleanor dan juga Zergan, Bian tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Sampai-sampai saat lampu merah dia tidak berhenti seperti pengendara lainnya.
Hal yang dilakukan Bian pun diketahui oleh polisi lalu lintas, kemudian polisi tersebut mengejar mobil Bian.
Polisi lalu lintas itupun berhasil menghentikan mobil Bian dengan menghadangnya. Polisi tersebut mengetuk kaca mobil Bian dan memintanya untuk keluar.
"Tuan, apa tadi kau tidak melihat lampu merah di jalan? Kenapa kau tidak berhenti?"
"Polisi, maafkan aku. Aku tadi tidak melihat lampu merah."
"Tuan, bagaimana kau bisa tidak melihat jika ada lampu merah?"
Bian kemudian mengambil segepok uang di dalam mobilnya dan memberikan uang tersebut kepada polisi itu.
Polisi itupun pergi dan memaafkan kesalahan Bian begitu saja.
Bian kemudian pergi ke sebuah bar minum-minum di sana. Sampai waktu malam, Bian masih berada di bar tersebut.
Felix dan Direktur Evan berusaha untuk mencari Bian ke tempat yang mungkin dia datangi, tetapi sampai malam mereka tidak juga menemukan Bian.
Bian yang sudah merasa bosan karena berada di dalam bar seharian, dia pun memutuskan untuk pulang dalam keadaan mabuk.
Dia berjalan ke arah mobilnya dengan tubuh yang sempoyongan. Dia pun terjatuh sambil tertawa dan menyebut nama Eleanor, kemudian seorang pria datang menghampirinya.
__ADS_1
"Tuan, apa yang terjadi denganmu? Apa kau sedang mabuk?"
"Siapa yang mabuk? Dia telah menikah dengan pria lain, dia telah mengkhianati cintaku."
"Tuan, siapa yang kau maksud? Apa kekasihmu?"
"Siapa kekasihku? Dia adalah calon istriku."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang. Apa kau masih ingat di mana rumahmu?"
"Rumah? Aku tidak punya rumah, tapi aku punya cinta untuknya."
"Astaga, kau terlalu banyak minum. Sampai-sampai kau mabuk berat seperti ini."
Tidak lama setelah itu, mobil Felix dan beberapa bodyguard Bian datang dan mereka semua langsung menghampiri Bian dan pria itu.
"Tuan, apa yang terjadi dengan tuan Bian?" tanya Felix.
"Maaf, Tuan. Apakah anda mengenal Tuan ini?" tanya pria tersebut kepada Felix.
"Tuan, dia adalah atasan kami. Kami mencarinya sejak tadi siang, tapi kami tidak juga menemukannya."
"Tuan, sepertinya Tuan ini mabuk berat. Aku tadi melihatnya terjatuh sambil tertawa. Saat aku bertanya di mana rumahnya, dia malah mengatakan jika dia tidak punya rumah tetapi dia punya cinta untuk calon istrinya."
"Baiklah, Tuan. Terima kasih telah menolong tuan Bian."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah pria itu pergi, Felix pun membawa Bian pergi ke rumah.
"Direktur Evan, apa anda sudah menghubungi Dokter?" tanya Felix.
"Sudah, tuan Felix. Sebentar lagi Dokter itu akan datang," balas Direktur Evan.
"Eleanor! Dia adalah calon istriku, kami akan segera menikah," ucap Bian dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Direktur Evan, saya sangat prihatin dengan kondisi tuan Bian saat ini. Tuan Bian masih sangat mencintai nona Eleanor, tetapi dia tidak bisa lagi memilikinya."
"Felix, aku juga khawatir dengan kesehatan tuan Bian jika dia terus seperti ini."
Tidak lama kemudian, sang dokter datang dan memeriksa keadaan Bian. Dokter tersebut juga memberikan suntikan agar Bian bisa tenang.
"Dokter, apa tuan Bian baik-baik saja?"
"Tuan jangan khawatir, karena tuan Bian baik-baik saja. Tuan Bian hanya terlalu banyak meminum alkohol sampai-sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri."
"Dokter, terima kasih banyak."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Dokter, biar saya antar ke depan."
__ADS_1
"Terima kasih, Direktur Evan."
Ponsel Felix pun berdering dan menunjukkan panggilan dari Lea.
"Tuan Felix, apa kau sudah menemukan tuan Bian?"
"Iya, aku sudah menemukan tuan Bian. Dokter baru saja memeriksa keadaannya."
"Bagaimana keadaan tuan Bian sekarang?"
"Tuan Bian tidak apa-apa, dia hanya terlalu banyak meminum alkohol sampai-sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Tapi sekarang dia sedang istirahat, karena dokter telah memberikan suntikan kepadanya."
"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut khawatir dengan keadaan tuan Bian. Bagaimanapun juga tuan Bian dulu sangat baik kepadaku saat dia masih dekat dengan nona Eleanor."
"Nona Lea, apakah acara pernikahan tuan Zergan dan nona Eleanor telah selesai?"
"Iya. Kami semua akan segera pulang."
"Nona Lea, apakah besok kau memiliki waktu luang? Aku ingin bertemu denganmu."
"Besok sekolah Zico libur, tuan Zergan dan nona Eleanor tidak mungkin pergi ke kantor karena mereka baru saja menikah. Aku rasa besok kita bisa bertemu."
"Sungguh?"
"Kenapa suaramu terdengar sangat senang, tuan Felix?"
"Nona Lea, aku akan mengirimkan sebuah paket untukmu besok."
"Tapi tuan Bian, barang apa yang akan kau kirimkan untukku?"
"Nona Lea, kau akan melihatnya besok. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."
"Baiklah, tuan Felix."
Setelah panggilan tersebut berakhir, Direktur Evan kemudian masuk ke kamar Bian dan melihat Felix sedang tersenyum sambil memegang ponselnya.
"Tuan Felix, kenapa kau tersenyum senang seperti itu? Siapa yang kau ajak berbicara di telepon?" tanya Direktur Evan dengan heran.
Raut wajah Felix pun berubah dan menjadi sedikit takut melihat Direktur Evan yang tiba-tiba masuk ke kamar Bian.
"Direktur, aku tidak sedang tersenyum dengan siapapun," jawab Felix dengan sedikit takut.
Direktur Evan kemudian tersenyum dan mengelus pundak Felix.
"Direktur Evan, kenapa kau malah tersenyum kepadaku?"
"Tuan Felix, aku tidak percaya jika pria sedingin dirimu sekarang sedang jatuh cinta."
"Direktur Evan, apa maksudmu? Siapa yang sedang jatuh cinta?"
"Tuan Felix, aku lebih senior darimu. Aku sangat tahu bagaimana ciri seorang pria yang sedang jatuh cinta."
__ADS_1
"Direktur Evan, kau membuatku merasa malu. Tapi sungguh, aku tidak sedang jatuh cinta."
"Baiklah, terserah kau saja. Lebih baik kita pergi dari kamar tuan Bian dan membiarkannya beristirahat."