Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 15


__ADS_3

Eleanor, Zico dan juga Lea kini telah sampai di rumah. Mereka bingung mengapa ada dua mobil Lamborghini yang terparkir di depan rumah.


Penjaga rumah Eleanor kemudian keluar dan menghampiri Eleanor.


"Apa yang terjadi? Kenapa ada dua mobil terparkir di depan rumah?"


"Nona, ada seorang pria yang memaksa masuk ke rumah. Pria itu mengatakan jika dia ingin bertemu dengan Nona dan anaknya. Tapi saya tidak tahu siapa anak yang dia maksud."


"Nona, apakah dia--"


Belum sempat Lea menyelesaikan kalimatnya, Eleanor langsung menggandeng tangan Zico dan mengajaknya masuk.


Sesampainya di dalam, Eleanor dikejutkan dengan keberadaan Zergan yang sedang duduk di atas sofa.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?"


Zergan menatap Zico yang bersembunyi di belakang Eleanor sambil memegang tangan Eleanor dengan erat.


"Siapa namanya?" Zergan menatap Zico alih-alih menatap Eleanor.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu? Ini bukanlah urusanmu, lebih baik kau pergi dari sini." Eleanor menarik tangan Zergan keluar.


Zergan menarik balik tangan Eleanor dan membuat mereka berdua sangat dekat. Zergan pun memegang kedua lengan Eleanor dengan sedikit menekannya.


"Kenapa kau sembunyikan hal ini dariku?"


"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura lagi dihadapanku! Aku tahu jika dia adalah anak kita. Kau selama ini telah berbohong kepadaku dengan mengatakan jika kau telah menggugurkan bayi yang ada di dalam kandunganmu."


"Lepaskan Bunda! Aku tidak suka melihat Bunda merasa kesakitan."


Zergan langsung melepaskan Eleanor dan memeluk Zico.


"Ini Ayah, Ayah kandungmu." Zergan memegang pundak Zico.


"Ayah?" ucap Zico sambil tersenyum.


"Tidak! Jangan dekati anakku!" Eleanor menarik Zico.


"Bunda, apa benar dia adalah ayahku?"


"Tidak, Zico. Bunda tidak mengenalnya, dia bukan ayahmu."


"Kenapa kau terus membohonginya? Apakah akan baik bagi dirinya jika dia tidak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya?"


"Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya dariku. Dia adalah anakku."


"Ayahh!"


Mereka berdua kemudian saling berpelukan untuk melepas rindu selama ini. Tapi Eleanor tidak senang dengan hal tersebut, dan dia menarik Zico dari pelukan Zergan.


"Zico, kau masuk ke kamar ya."


"Bunda, aku sangat merindukan Ayah."


"Zico, dengarkan Bunda. Jika kau menyayangi Bunda, kau harus menuruti ucapan Bunda. Kau mengerti?"


Zico menganggukkan kepalanya dan pergi menuju tangga. Tetapi belum sempat dia menginjak anak tangga, dia langsung berlari menghampiri ayahnya.


"Bunda, Zico ingin menghabiskan waktu bersama Ayah. Zico belum pernah bertemu dengan Ayah sama sekali."


"Zico, jika Bunda mengatakan kau harus pergi ke kamar, maka kau harus segera pergi ke kamar."


"Kenapa kau memaksanya untuk pergi ke kamar? Dia sangat merindukanku, apa salahnya jika kami menghabiskan waktu untuk bersama?"


"Tidak, Zergan. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Zico dariku, aku tidak akan membiarkannya."


Zergan pun sangat heran mengapa Eleanor begitu ketakutan ketika Zico bersama dengan Zergan.

__ADS_1


"Entah kenapa kau berpikir jika aku akan mengambil Zico darimu? Dia juga anakku, jadi aku juga berhak atas dirinya."


"Zico, ikut Bunda ya."


"Tidak mau. Aku ingin ikut dengan Ayah. Bunda, kenapa Bunda sangat takut saat aku bersama Ayah?"


"Zico, dengarkan Bunda. Kau harus ikut dengan Bunda."


"Aku tidak mau. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Ayah."


Eleanor kemudian mengambil vas bunga yang berada di atas meja dan memukulkannya ke meja hingga ujungnya pecah.


Eleanor kemudian mengarahkan ujung vas tersebut ke lehernya.


"Jika kau tidak mau mengembalikan Zico kepadaku, maka selamanya kau tidak akan melihatku hidup."


"Nona, apa yang Nona lakukan? Itu akan membahayakan nyawa Nona."


Zergan kemudian memberikan isyarat kepada para bodyguardnya untuk merebut vas bunga tersebut dari Eleanor.


Para bodyguard itu tidak berhasil merebut vas bunga tersebut dari Eleanor. Eleanor malah mengarahkan vas bunga itu kepada para bodyguard tersebut.


"Jika kalian berani mengambil Zico dariku, maka aku akan menghabisi kalian semua."


"Bunda ...."


"Zico, Bunda tidak ingin kehilangan Zico."


Salah satu bodyguard Zergan memukul leher bagian belakang Eleanor dan membuat Eleanor pingsan.


"Bunda!"


"Nona!"


"Ayah kenapa paman itu memukul Bunda?"


"Tapi ...."


"Zico, kau mau tinggal di rumah Ayah?"


"Apakah Ayah juga akan mengajak Bunda tinggal di sana?"


"Tentu saja. Bunda akan tinggal bersama kita."


"Ayah, aku selalu memikirkan bagaimana jika aku memiliki seorang Ayah."


"Sekarang kau sudah bersama Ayah. Ayah tidak akan membiarkanmu ataupun bundamu pergi meninggalkan Ayah."


Zergan meminta bodyguardnya untuk membawa Eleanor masuk ke mobilnya. Sedangkan Zergan menggendong Zico dan membawanya pergi dari rumah tersebut.


"Tuan, bolehkah saya ikut bersama Tuan dan juga Zico? Nona Eleanor pasti sangat membutuhkan saya nantinya."


"Kau boleh ikut. Tetapi dengan satu syarat."


"Apa itu, Tuan?"


"Kau harus memberitahuku tentang apapun yang sedang Eleanor lakukan."


"Baik, Tuan. Saya akan melakukan apa yang Tuan perintahkan."


*******


Eleanor kini terbangun dan dia merasakan sedikit sakit pada lehernya bagian belakang. Dirinya merasa asing dengan kamar yang sedang dia tempati.


Zergan kemudian datang bersama dengan Zico. Zico berlari menghampiri ibunya dan memeluknya.


"Bunda sudah bangun?"


"Zico, jangan pernah tinggalkan Bunda. Bunda tidak bisa hidup tanpamu, Sayang."

__ADS_1


"Zico tidak akan pernah meninggalkan Bunda dan juga Ayah."


"Zico--"


"El, sejak kecil Zico tidak pernah tahu tentang ayahnya. Apa kau tega memisahkan dia dari ayahnya setelah keduanya saling bertemu?"


"Bunda, Zico sangat menyayangi Bunda, tapi Zico juga menyayangi Ayah. Kita tinggal saja di rumah ini bersama Ayah."


"Bunda kenapa diam? Bunda mau kan tinggal di sini?"


"Zico ...."


"Bunda, Zico ingin kita tinggal bersama Ayah di sini. Zico tidak pernah bertemu dengan Ayah sebelumnya."


"Baiklah. Kita akan tinggal di sini, tapi dengan satu syarat kau harus selalu menuruti ucapan Bunda."


Zergan dan Zico pun tersenyum mendengar jawaban dari Eleanor. Kemudian Zico memeluk Eleanor.


"Terima kasih, Bunda. Zico berjanji akan selalu menuruti ucapan Bunda."


"Bunda akan melakukan apapun untuk Zico, asalkan Zico selalu ada bersama Bunda."


Beberapa saat kemudian, Eleanor keluar dari kamar tersebut untuk mencari Zico. Saat Eleanor menuruni anak tangga, beberapa pelayan datang menghampirinya.


"Nona, apa Nona membutuhkan sesuatu?"


"Jika Nona membutuhkan sesuatu, kami akan memberikannya untuk Nona."


"Di mana Zico?"


"Zico sedang berenang bersama Tuan."


"Pelayan, bisakah aku meminjam ponselmu?"


"Maafkan saya, Nona. Tapi jika boleh saya tahu, Nona ingin menghubungi siapa?"


"Aku hanya ingin menghubungi asisten pribadiku."


"Baiklah."


Pelayan tersebut memberikan ponselnya kepada Eleanor dan Eleanor berjalan menjauhi para pelayan tersebut.


"Halo, nomor siapa ini?"


"Lea, ini aku."


"Nona? Kau menghubungiku menggunakan nomor siapa?"


"Lea, aku meminjam ponsel pelayan Zergan. Lea, kau di mana sekarang?"


"Nona, aku sedang berada di kantor tuan Zergan."


"Apa yang kau lakukan di sana?"


"Nona, tuan Zergan akan menjadikan Nona sebagai modelnya. Tuan Zergan juga telah menutup semua kontrak modeling dari agensi lain."


"Apa-apaan ini?"


"Nona, aku hanya menjalankan perintah dari tuan Zergan."


"Lea, atasanmu adalah aku, bukan Zergan! Kenapa kau malah mengikuti perkataannya?"


"Nona, maafkan aku. Tuan Zergan mengatakan jika mulai saat ini Nona dan Zico adalah tanggung jawabnya. Tuan Zergan juga mengancam akan memecatku jika aku tidak menuruti permintaannya."


"Nona, sekali lagi maafkan aku."


"Lea, kau tidak perlu pikirkan hal itu lagi. Tapi aku ingin kau secepatnya datang ke sini."


"Baik, Nona."

__ADS_1


__ADS_2