
Zico duduk di bangkunya sambil memainkan mainan yang telah diberikan oleh Zergan kepadanya. Lalu tiba-tiba Daffa datang menghampirinya.
"Zico, apa itu mainan barumu?"
Zico hanya diam dan menatap ke arah Daffa dengan wajah yang datar. Tatapannya persis seperti tatapan Zergan.
"Zico, apa kau masih marah kepadaku karena aku telah mengambil mainanmu kemarin?"
Zico menggelengkan kepalanya sambil memainkan mainan miliknya.
"Lalu kenapa kau tidak mau berbicara dan menatapku?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin terlalu banyak bicara."
Daffa mengeluarkan sebuah mainan dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Zico.
"Ini untukmu."
"Kenapa kau memberikan aku sebuah mainan?"
"Aku merasa bersalah kepadamu dan juga ibumu. Jadi aku sengaja membeli mainan ini untuk menggantikan mainan milikmu yang kemarin."
"Zico, tolong kau jangan marah lagi kepadaku."
Zico meraih mainan pemberian dari Daffa dan melihat-lihatnya.
"Mainan ini bagus."
"Kau menyukai mainan pemberian dariku?"
"Iya, aku menyukai mainan ini."
"Itu artinya, apakah kita bisa menjadi teman sekarang?"
"Teman?"
"Iya, Zico. Apa kau tidak tahu apa itu teman?"
"Daffa, sebenarnya aku tidak pernah memiliki seorang teman sebelumnya."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menjadi teman pertamamu di sekolah ini. Kita akan selalu bermain bersama."
"Tapi Bunda tidak akan mengizinkanku untuk terus bermain. Kita juga harus belajar supaya kita pintar."
"Tapi aku tidak suka belajar. Aku pergi ke sekolah karena aku tidak mau dimarahi oleh ibuku. Kau tahu sendiri kan jika kemarin ibuku memarahi ibumu sampai seperti itu? Aku sendiri sangat takut melihat ibuku marah-marah seperti itu."
"Tidak apa-apa, Daffa jika kau tidak suka belajar. Tapi mulai sekarang kau akan menyukai hal itu, karena sekarang kau adalah temanku."
"Zico, kenapa kau sangat suka belajar?"
"Daffa, aku ingin sekali menjadi orang yang pintar. Aku ingin memiliki rumah yang besar dan juga mobil yang bagus seperti milik Ayahku."
"Tapi aku tidak pernah melihat ayahmu datang ke sekolah ini. Aku juga tidak pernah melihat ayahmu pergi mengantarkanmu."
"Ayahku sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ayahku punya perusahaan yang besar, apakah ayahmu juga punya?"
"Ayahku juga punya perusahaan yang besar. Aku pernah diajak Ayah pergi ke sana."
"Sekarang Ayahku pasti sedang bekerja di perusahaannya bersama Bunda."
"Zico, apa aku boleh bertemu dengan ayahmu?"
"Tentu saja. Tapi Ayahku sangat sibuk, kau bisa bertemu dengannya setelah membuat janji."
__ADS_1
"Tapi bagaimana aku membuat janji dengan ayahmu?"
"Aku akan meminta bibi Lea untuk menelepon ayahku. Dan aku akan mengatakan jika kau ingin bertemu dengannya."
Zico langsung meninggalkan Daffa dan keluar kelas menghampiri Lea.
"Bibi Lea, bolehkah aku meminjam ponsel Bibi?"
"Tapi untuk apa? Anak sekolah tidak boleh bermain ponsel."
"Aku tidak ingin bermain ponsel, Bibi. Tapi aku ingin memberitahu Ayah kalau Daffa ingin sekali bertemu dengannya."
"Daffa yang telah mengambil mainan milikmu itu?"
"Iya. Dia sekarang adalah temanku."
"Baiklah. Bibi akan menghubungi ayahmu."
Panggilan tersebut telah terhubung dan Lea memberikan ponselnya kepada Zico.
"Halo, Ayah."
"Zico? Kenapa kau menelepon? Apa ada masalah di sekolahmu?"
"Tidak, Ayah. Aku hanya ingin memberitahu Ayah."
"Apa yang ingin kau beritahukan kepada Ayah?"
"Ayah, aku punya teman baru di sekolah. Dia bernama Daffa, dan dia ingin sekali bertemu dengan Ayah karena dia tidak pernah melihat Ayah sebelumnya. Apa Ayah mau bertemu dengannya?"
"Tentu saja, Zico. Ayah pasti akan bertemu dengannya."
"Terima kasih, Ayah."
"Sama-sama. Apa kau sudah makan siang?"
"Anak Ayah memang sangat pintar."
"Ayah, apa Ayah sedang bersama Bunda?"
"Tidak, Zico. Ayah sudah meminta orang untuk mengantarkan Bundamu pulang."
"Tapi kenapa?"
"Tidak apa-apa. Bunda hanya sedikit tidak enak badan."
"Zico, Ayah tutup dulu ya teleponnya. Ayah masih harus melanjutkan pekerjaan Ayah. Nanti malam Ayah akan pulang dan bertemu dengan Zico juga Daffa."
"Baik, Ayah.".
"Love you, Zico."
"I love you too, Ayah."
Zico langsung memberikan ponsel tersebut kepada Lea.
"Bibi terima kasih telah meminjamkanku ponsel."
"Sama-sama, Zico."
"Bibi, aku masuk ke kelas dulu ya."
"Iya."
__ADS_1
Zico kembali menghampiri Daffa dan mengatakan jika Ayahnya mau bertemu dengan Daffa.
"Sungguh? Ayahmu tidak marah jika aku pergi ke rumahmu?"
"Tentu saja tidak. Ayahku bilang kau boleh pergi ke rumahku dan bertemu dengannya."
"Baiklah. Tapi aku harus meminta izin kepada ibuku dulu."
"Tapi bagaimana jika ibumu tidak mengizinkanmu pergi ke rumahku? Kemarin kan ibumu dan ibuku bertengkar dengan hebat karena kita."
"Aku juga takut jika ibu memarahiku. Dia pastinya juga akan memarahimu."
"Aku tahu."
"Apa yang kau tahu?"
"Aku akan meminta bibi Lea untuk berbicara dengan ibumu. Ibumu pasti akan mengizinkannya."
"Itu ide yang bagus."
Waktu pulang sekolah kini telah tiba. Zico sedang berdiri bersama Daffa dan juga Lea untuk menunggu kedatangan ibunya Daffa.
"Daffa, ayo kita pulang sekarang."
"Ibu, bolehkah aku pergi ke rumah Zico sekarang?"
"Untuk apa kau pergi ke rumahnya? Untuk mengambil mainannya lagi?"
"Tidak, Ibu. Sekarang Zico adalah temanku dan aku ingin pergi bermain ke rumah temannku."
"Nyonya Alma, besok adalah hari Minggu. Daffa ingin sekali pergi ke rumah Zico. Tolong Nyonya izinkan Daffa untuk menginap satu malam di rumah Zico."
"Saya berjanji akan menjadi Daffa dengan baik. Saya pastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi kepada Daffa."
"Ibu, bibi Lea benar. Aku hanya ingin menginap di sana satu malam. Aku ingin sekali bertemu dengan ayahnya Zico."
"Baiklah. Tapi kau harus benar-benar menjaga anakku. Jika sampai terjadi hal yang buruk kepadanya, aku tidak akan memaafkanmu."
"Nyonya tidak perlu khawatir. Saya pasti akan menjaga mereka berdua dengan sangat baik. Terima kasih karena Nyonya telah mempercayai saya."
"Daffa, kau hanya akan menginap di rumah Zico satu malam. Setelah itu Ibu akan menjemputmu, oke?"
"Oke."
"Dengarkan kata bibi Lea ya. Jangan nakal di sana."
"Iya, Ibu."
Nyonya Alma langsung mengecup kening anaknya dan pergi dari sekolah tersebut.
"Bibi, terima kasih karena Bibi telah membantu kami."
"Sama-sama. Kalau begitu kita masuk ke mobil sekarang ya."
"Ayo."
Zico dan Daffa sangat senang karena malam ini mereka berdua akan bertemu dengan Zergan dan menghabiskan waktu bersama.
"Zico, apa kolam renang di rumahmu sangat luas? Saat ayahku di rumah, kami sering sekali berenang bersama."
"Kau akan sangat senang saat melihat rumahku nanti. Kita akan berenang bersama di kolam renang. Aku juga memiliki kolam ikan yang besar, ayahku yang membuatnya untukku."
"Aku semakin tidak sabar untuk melihat rumahmu."
__ADS_1
"Daffa, kau tenang saja ya. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah Zico."
"Iya, Bibi."