
Mereka bertiga kini pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ternyata Anna sudah menunggu mereka dari tadi.
"Zergan, dari mana saja kau? Kau pergi kemana bersama mereka?" tanya Anna dengan perasaan kesal.
"Bibi, apa Bibi tahu? Aku, Ayah dan Bunda baru saja pergi ke taman bermain," ucap Zico.
"Zergan, kau tidak mengatakan jika kau pergi ke sana bersama mereka. Kenapa kau tidak memberitahuku?" Anna kembali bertanya.
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Zergan ...."
Anna berpura-pura memegang kepalanya, dia berpura-pura merasakan sakit agar Zergan peduli kepadanya.
Eleanor pun memberi kode kepada Zergan agar membantu Anna.
"Anna, kau kenapa?"
"Zergan, kepalaku sangat sakit. Aku tidak suka jika kau membentak ku seperti itu."
"Anna sekali lagi maafkan aku. Lain kali aku akan berbicara dengan lembut kepadamu."
Eleanor dan Zico pun saling menatap dan tersenyum. Zico sekarang sudah tahu tentang rencana ayah dan bundanya.
Zico juga berencana untuk membantu mereka menyingkirkan Anna dari rumah itu dengan bantuan Daffa.
Tapi Zico sengaja tidak memberitahu kedua orang tuanya, karena Eleanor dan Zergan pasti tidak akan membiarkannya ikut dalam masalah mereka.
"Zico, kau tunggu di sini ya. Bunda akan membuatkan secangkir teh untuk bibi Anna."
"Baik, Bunda."
Eleanor pun masuk ke dapur dan membuat teh untuk Anna. Bukan tiba-tiba dia menjadi baik kepada Anna, tapi karena dia sedang merencanakan sesuatu untuk Anna.
"Nona Eleanor, apa yang Nona lakukan di dapur?"
"Aku akan membuatkan teh untuk nona Anna."
"Nona, Nona tidak perlu melakukan semua itu. Biarkan kami saja yang membuatkan teh untuk nona Anna."
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Aku ingin memberinya pelajaran agar dia tahu dengan siapa dia sedang memainkan peran jahatnya."
Eleanor dengan sengaja memasukkan garam ke teh tersebut dan bukannya gula.
"Lihat saja, Anna. Apa yang bisa kau lakukan di rumahku sekarang? Kau yang memulai permainan ini, dan aku akan mengikuti permainanmu dengan sangat baik," gumam Eleanor.
"Nona, Nona telah memasukkan garam ke dalam teh itu."
"Aku memang sengaja melakukannya, karena aku ingin memberikan pelajaran kepada wanita itu."
"Tapi bagaimana jika nona Anna--"
__ADS_1
"Apa sekarang kau lebih berpihak kepada Anna? Kau akan membelanya dan melupakan aku?"
"Bukan begitu, Nona. Saya pasti akan selalu mendukung keputusan Nona."
"Benar, Nona. Kami juga tidak menyukai nona Anna dan kami ingin nona Anna segera pergi dari rumah ini."
"Baguslah kalau begitu. Aku harus segera mengantarkan teh manis ini untuk nona Anna."
"Nona, semoga rencana Nona berhasil. Kami akan selalu mendukung Nona dan tuan Zergan."
"Terima kasih."
Eleanor pun membawa secangkir teh tersebut dan memberikannya kepada Anna.
"Nona Anna, minumlah teh manis ini. Setelah meminumnya, sakit kepalamu pasti akan segera berkurang."
Anna dengan segera meraih teh manis tersebut tanpa memikirkan apa yang ada di dalamnya. Anna meminum teh tersebut, namun tiba-tiba dia menyemburkannya.
"Nona Anna, apa yang terjadi? Kenapa kau menyemburkannya?"
"Nona Eleanor, kau bertanya kenapa aku menyemburkan teh buatanmu ini? Apa kau tahu? Teh ini rasanya sangat asin, kau pasti telah sengaja memasukkan garam dan bukannya gula ke dalam minumanku ini."
"Nona Anna, kau pasti telah salah. Aku tidak mungkin melakukannya."
"Anna, sepupuku Eleanor tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu kepadamu. Memangnya apa tujuan dia melakukan semua itu?"
"Zergan, tapi dia benar-benar melakukannya. Jika kau tidak percaya, cobalah untuk minum teh ini. Rasanya sangat asin."
Zergan pun menatap Eleanor dan Eleanor tersenyum kepadanya.
"Anna, teh ini rasanya sangat manis. Kenapa kau mengatakan jika tehnya rasanya asin?"
Anna kemudian meminum kembali teh tersebut, tapi lagi-lagi yang dia rasakan adalah rasa asin dari teh tersebut.
"Zergan, teh ini rasanya sangat asin. Kenapa kau mengatakan jika tehnya manis?"
"Sudahlah, Anna. Kenapa kau terlihat tidak menyukai sepupuku dan kau ingin membuatnya terlihat buruk di mataku?"
"Zergan, sepertinya istrimu memang tidak menyukaiku. Zico, kita masuk ke kamar saja ya."
"Iya, Bunda."
Eleanor kemudian tersenyum kepada Anna dan Anna menatap Eleanor dengan wajah yang sangat kesal.
Zergan berjalan melalui Anna, tapi Anna menarik tangannya.
"Zergan, kau ingin pergi kemana?"
"Aku sangat kecewa denganmu. Kau tidak menghargai sepupuku sama sekali. Dia telah membuatkan teh dengan tujuan agar sakit di kepalamu hilang, tapi kau malah marah-marah dan mengatakan jika tehnya asin."
"Zergan, jangan marah seperti ini kepadaku."
__ADS_1
"Jika lau tidak ingin aku marah kepadamu, hargailah teh buatan Eleanor. Kau harus meminumnya sampai habis."
"Meminumnya sampai habis?"
"Iya, kenapa? Apa kau akan berpura-pura mengatakan jika tehnya terasa asin? Baiklah, jika kau tidak mau meminumnya tidak apa-apa."
"Tunggu, Zergan! Aku tidak ingin kau marah kepadaku. Aku akan meminum teh itu sampai habis di depanmu."
Anna meraih cangkir yang berisi teh tersebut lalu meminumnya sampai habis. Walaupun hanya rasa asin yang dia rasakan, dia tetap meminumnya agar Zergan tidak marah kepadanya.
"Zergan, aku sudah meminum teh ini sampai habis."
"Kau adalah istri yang sangat pintar. Aku sangat senang jika kau menghargai hasil kerja keras orang lain."
"Anna, aku harus pergi ke kamar dulu."
"Baiklah."
Di lantai atas, Zergan bertemu dengan Eleanor yang sedang memperhatikan Anna dari tadi.
"Zergan, kau membuat Anna benar-benar menghabiskan teh buatanku."
"Tapi aku tidak pernah berpikir jika kau benar-benar memasukkan garam ke dalam tehnya."
"Zergan, maafkan aku. Kau tadi juga meminum teh itu, rasanya pasti sangat asin."
"Tenanglah, aku tidak meminumnya. Aku hanya menempelkan bibirku ke teh itu."
"Di mana Zico?"
"Aku memintanya untuk pergi ke kamar. Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini, Zergan? Aku sudah muak dengan keberadaan wanita itu di dalam rumah ini. Walaupun belum ada satu hari, tapi rasanya aku selalu ingin marah saat bertemu dengannya."
"Kau tetap terlihat cantik meskipun sedang kesal seperti itu."
"Zergan, jangan menggodaku seperti itu. Aku benar-benar kesal dengan Anna. Aku berharap kita bisa membongkar kebohongannya itu di depan semua orang dan membuatnya sangat malu."
"Kau tidak perlu khawatir, Sayang. Selama kita bersama, kita pasti bisa membongkar kebohongan Anna secepatnya."
"Zergan, apa malam ini kita akan berpisah ranjang?"
"Kau tidak ingin berpisah ranjang denganku?"
"Tentu saja tidak. Aku ingin tidur bersamamu."
"Aku akan mencari alasan agar malam ini aku bisa tidur bersamamu di kamar kita."
"Baiklah."
"Jangan bersedih. Semuanya pasti akan segera berakhir. Kita melakukan semua ini agar Anna benar-benar sadar dan tidak lagi mengganggu kehidupan kita."
"Aku mengerti, Zergan."
__ADS_1