
Sore ini Zergan memutuskan untuk pulang awal, karena dia ingin memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan juga Eleanor.
Setelah dia masuk ke mobil dan ingin pulang, dia melihat Grace yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu sebuah taksi.
Zergan langsung mengendarai mobilnya dengan pelan dan menghampiri Grace. Dia membuka kaca mobilnya tepat di depan Grace.
"Tuan Zergan, apa yang Tuan lakukan di sini?"
"Kenapa kau belum juga pulang? Aku sudah memintamu untuk pulang dari tadi."
"Saya sedang menunggu taksi yang lewat, Tuan."
"Kenapa kau tidak membawa mobil?"
"Sebenarnya tadi pagi mobil saya mogok saat dalam perjalanan menuju kantor, jadi saya pergi ke kantor dengan menaiki taksi."
"Kalau begitu masuklah. Hari ini aku akan mengantarkanmu pulang."
"Sungguh? Tuan ingin mengantarkan saya pulang?"
"Cepat masuk."
"Baik, Tuan."
Grace langsung masuk ke mobil Zergan dan duduk di kursi depan di samping Zergan. Di dalam perjalanan, Grace terlihat sangat bahagia dan tersenyum sendiri karena akhirnya dia bisa duduk satu mobil dengan Zergan.
"Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu?"
"Tuan, saya tersenyum karena saya merasa bahagia bisa diantar Tuan pulang."
"Aku hanya mengantarkanmu pulang karena aku tidak tega melihat mu berdiri lama menunggu taksi, jadi jangan memikirkan hal yang macam-macam."
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Grace. Grace membuka pintu mobil Zergan, tapi dia terdiam sejenak.
"Ada apa? Apa barangmu ada yang tertinggal?"
"Tidak, Tuan. Maukah Tuan mampir ke rumah saya sebentar? Saya akan membuatkan teh hangat untuk Tuan."
"Tidak perlu, aku harus segera pulang."
"Tuan, saya mohon. Mampirlah ke rumah saya, ini tidak akan lama. Saya ingin mengucapkan terima kasih dengan membuatkan Tuan teh di rumah saya."
"Baiklah."
Grace pun tersenyum dan Zergan segera keluar dari mobilnya. Grace membukakan pintu untuk Zergan dan mereka berdua masuk ke rumah itu.
Zergan masuk dengan melihat ke sekelilingnya, dia tidak memiliki pikiran yang buruk sama sekali tentang Grace saat itu.
"Tuan Zergan, duduklah di sini. Saya akan membuatkan teh untuk anda."
Grace segera pergi ke dapur dan membuatkan secangkir teh untuk Zergan. Tapi ternyata Grace juga memasukkan obat tidur ke dalam teh tersebut, kemudian dia pergi ke ruang tamu menyusul Zergan.
"Tuan Zergan, ini teh anda. Minumlah selagi masih hangat."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
Zergan meraih secangkir teh tersebut dan mendiamkannya sebentar, lalu meminumnya. Zergan menatap ke arah lantai atas rumah Grace.
__ADS_1
"Apa kau tinggal di rumah ini sendiri?"
"Benar, Tuan. Kedua orang tua saya sudah tidak ada, jadi tidak ada orang yang menemani saya di rumah ini."
"Lalu kenapa kau tidak menikah?"
"Menikah?"
"Iya. Jika kau menikah, kau tidak akan sendirian lagi di rumah ini."
"Tapi bagaimana bisa saya menikah, sedangkan pria yang saya cintai telah memiliki keluarga kecil?"
"Apa maksudmu?"
"Emmm ... maksud saya, saya akan menikah jika saya sudah siap nanti. Karena saat ini saya masih belum siap untuk menikah."
"Apa kau memiliki seorang kekasih?"
"Tidak. Saya sudah lama tidak menjalin hubungan asmara dengan pria setelah saya dan kekasih saya dulu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami."
"Tuan Zergan, habiskan tehnya. Jika Tuan ingin lagi, saya akan membuatkannya untuk Tuan."
"Tidak perlu."
"Apa tehnya enak?"
"Iya. Tapi aku tidak tahu kenapa tiba-tiba kepalaku terasa sedikit pusing."
"Itu mungkin karena Tuan terlalu lelah bekerja. Tuan sejak tadi pagi juga tidak beristirahat di kantor."
Tidak lama kemudian, obat tidur itu bekerja dan membuat Zergan pingsan di atas sofa. Grace mendekati Zergan dan menepuk pipinya dengan pelan.
Grace pun segera membawa Zergan ke kamarnya meskipun dengan sedikit kesusahan. Sesampainya di kamar, Grace langsung menidurkan Zergan di atas kasur dan Grace membuka sepatu, dasi, juga jas milik Zergan.
"Nona Eleanor, maaf karena aku meminjam suamimu untuk malam ini," batinnya.
Grace kemudian naik ke atas kasur dan membuka kancing bajunya. Dia sengaja menurunkan lengan bajunya dan juga membuka kancing kemeja Zergan satu persatu.
Grace lalu berbaring di samping Zergan dan memotret diri mereka hingga beberapa kali. Grace tersenyum karena mendapatkan hasil yang bagus, kemudian dia mengancingkan kembali bajunya dan juga kemeja Zergan.
Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan meninggalkan Zergan yang tertidur di sana.
*******
Eleanor sedang berdiri dan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia terus menggigit jarinya alih-alih mengecek ponsel miliknya.
Dia sedang menunggu panggilan dari Zergan, tapi Zergan tidak juga menghubunginya.
"Kenapa dia tidak menghubungiku? Seharusnya dia sudah pulang malam ini, atau jika tidak dia seharusnya menghubungiku seperti biasanya," ucapnya.
"Apa dia masih marah karena masalah tadi siang? Atau aku saja yang menghubunginya?" sambungnya.
"Tapi bagaimana jika saat ini dia masih di kantor dan dia sangat sibuk? Aku takut akan mengganggunya nanti."
"Tapi aku tidak bisa seperti ini. Lebih baik aku yang menghubunginya dan meminta maaf atas masalah tadi siang."
Saat Eleanor hendak menghubungi Zergan, tiba-tiba Zico dan Daffa datang menghampirinya.
"Bunda!"
__ADS_1
"Bibi!"
"Zico, Daffa, ada apa?"
"Bunda, Bunda harus melihat ini?"
"Apa itu?"
Zico menunjukkan ikan mas miliknya dan juga ayahnya kepada Eleanor. Ikan mas itu terlihat sudah bertambah banyak karena induknya telah melahirkan.
"Bunda, ikan mas milikku dan juga Ayah sudah semakin banyak sekarang karena induknya telah melahirkan."
"Itu bagus sekali. Kau pasti sangat menyukainya, bukan?"
"Iya, Bunda. Aku sangat menyukainya."
"Kalau begitu sekarang kau dan Daffa pergi belajar ya, Bunda ingin menghubungi ayahmu sebentar."
"Baik, Bunda."
Setelah Zico dan Daffa keluar, Eleanor langsung menghubungi nomor suaminya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi."
"Kenapa nomor Zergan tidak bisa dihubungi?"
"Lebih baik aku tanya kepada Ayah saja."
Saat Eleanor hendak menghubungi ayah mertuanya, tiba-tiba dia mendengar Zico memanggil nama kakeknya.
Eleanor pun berpikir jika Zergan dan ayah mertuanya telah pulang. Eleanor kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
Dia melihat ayah mertuanya sedang berbicara dengan Zico dan Daffa, tapi dia tidak melihat Zergan di sana.
"Ayah, dimana Zergan? Kenapa dia tidak pulang bersama Ayah?"
"Bukankah Zergan sudah pulang dari kantornya sejak tadi sore?"
"Tadi sore?"
"Iya. Dia mengatakan kepada Ayah jika dia ingin pulang cepat karena ingin menyelesaikan kesalahpahaman denganmu tadi siang."
"Ayah, tapi sampai sekarang Zergan belum juga pulang."
"Sebenarnya kemana dia pergi?"
"Aku juga tidak tahu."
"Bunda, Ayah pergi kemana? Kenapa Ayah tidak pulang bersama Kakek?"
"Zico, Bunda juga tidak tahu kemana ayahmu pergi."
"Menantu, Ayah akan pergi untuk mencari Zergan."
"Ayah, aku ikut."
"Tidak, El. Kau harus tetap di rumah untuk menemani Zico dan Daffa."
"Iya, Bunda."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."